Home Akhlaq Adab, Pilar Utama

Adab, Pilar Utama

254
0
SHARE
adab pilar utama

Oleh: Riyan Muhamad Ridwan *)

Melihat terhadap banyak situasi yang terjadi hari ini, tidak menutup kemungkinan untuk kita berkata bahwa adab dari banyak penuntut ilmu telah hilang begitu saja. Bagaimana tidak? Bahkan telah banyak beredar berita mengenai penganiayaan terhadap guru-guru yang berjasa namun tak berharga di mata para penikmat dunia. Ini merupakan indikasi bahwa adab yang merupakan pondasi dalam menuntut ilmu tak lagi diperdulikan adanya. Ibarat supir yang tak tahu sama sekali tentang bagaimana aturan menyupir maka pastilah dia akan banyak merugikan para pengguna jalan. Ini tak bisa dibiarkan begitu saja, karena jika semakin banyak supir yang tak mengerti aturan maka akan semakin banyak pula terjadi kecelakaan yang merugikan.

Jika disebutkan kata adab, maka sudah tidak asing lagi di telinga kita para penuntut ilmu. Adab merupakan pilar utama dalam menunaikan berbagai hak dan kewajiban, karena adab ini dapat menjauhkan kita dari sifat-sifat yang tak layak dikonsumsi bagi seorang muslim khususnya. Namun sayangnya banyak sekali manusia yang telah melupakan adab, oleh sebab itu perlu rasanya mengenai adab ini agar dikaji kembali, setidaknya untuk mengingatkan mengenai pentingnya adab terutama kaitannya dengan ilmu.

Dalam kamus at-ta’riifat, adab didefinisikan sebagai berikut:

الأدب : عبارة عن معرفة ما يحترز به من جميع أنواع الخطأ

“Adab adalah pengetahuan tentang cara menjaga diri dari segala macam kesalahan.”

Menurut pengertian di atas, adab mengajarkan kita mengenai cara agar terhindar dari kesalahan. Tentu ini sedikit bertentangan dengan karakteristik alami manusia yaitu bersalah. Namun agar lebih jelasnya mari kita simak apa yang dituliskan dalam kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim, sebagai berikut :

و الأدب هو الدين كله, فإن ستر العورة من الأدب, و الوضوء, و غسل الجنابة من الأدب, و التطهر من الخبث من الأدب, حتى يقف بين يدي الله طاهرا, و لهذا كانوا يستحبون أن يتجمل الرجل في صلاته للوقوف بين يدي ربه.

“Dan adab adalah agama secara keseluruhan, karena sesungguhnya menutup aurat merupakan adab, dan begitu juga wudhu, membersihkan kotoran merupakan adab, sehingga dapat menghadap Allah dalam keadaan bersih. oleh karena itu, disunnahkan agar laki-laki untuk memperindah dalam shalat ketika menghadap tuhannya.”

Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa menutup aurat, berwudhu, dan membersihkan kotoran merupakan bagian dari sahnya shalat. Ketiga hal tersebut juga bisa dikatakan sebagai adab, mengapa demikian? Karena ketika ketiganya tidak terlaksana maka shalat menjadi tidak sah sebagaimana yang telah disepakati jumhur ulama, dan ketidak sahan shalat merupakan sebuah kesalahan. Maka hal ini sejalan dengan definisi yang disebutkan diatas. Namun yang dimaksud kesalahan sebagaimana disebutkan dalam definisi merupakan kesalahan pilihan, artinya kesalahan ini bisa saja dilakukan atau tidak. Maka adab bertugas sebagai penjaga diri kita dari melakukan kesalahan tersebut.

Syeikh Islam Ibnu Taimiyah berkata : “dan adapun adab bersama makhluk adalah muamalah atau interaksi mereka diatas berbagai macam martabat yang melekat pada diri-diri mereka, maka pada setiap tingkatan martabat ada adab, dan pada beberapa tingkatan ada adab yang khusus, seperti kepada orang tua itu memiliki adab yang khusus, dan kepada ayah ada adab yang khusus untuk nya”. Ini menunjukkan bahwa adab memiliki macamnya yang disesuaikan dengan keadaan manusia itu sendiri.

Kemudian syeikh Islam melanjutkan perkataannya, “…maka pada segala sesuatu ada adab; untuk makan ada adab, minum ada adab, berkendara, masuk, keluar, safar, tinggal (mukim), tidur ada adab, berbicara ada adab, diam dan bahkan mendengar ada adabnya”.

Maka bisa kita tarik kesimpulan bahwa adab ini tidak pandang bulu, siapa saja manusia yang mengaku sebagai muslim, maka harus baginya memiliki adab. Adab ini merupakan pedoman hidup, karena dengan adab hidup akan terarah. Lalu bagaimana bisa manusia hidup tanpa pedoman? Jika seperti itu maka sudah dipastikan akan banyak kerusakan terjadi di muka bumi.

Lalu syeikh Islam Ibnu Taimiyah berkata: “…dan adab seseorang menunjukkan kebahagiannya. Sedangkan sedikitnya adab seseorang menunjukkan kebinasaan dan kecelakaan. Maka tidak ada sesuatupun yang dapat mendatangkan kebaikan dunia dan akhirat seperti adab, dan tidak ada sesuatupun yang dapat mendatangkan nasib buruk dunia seperti sedikitnya adab.” Adab bukan sebatas adab, namun juga dapat mendatangkan kebahagiaan dunia akhirat.

Imam Malik pernah bercerita bahwa dulu ibu beliau berkata kepadanya: “pergilah engkau ke Rabi’ah ar-Ro’yi, lalu pelajarilah adabnya sebelum engkau mempelajari ilmu al-quran, hadits dan fiqihnya secara teori.” Cukuplah perkataan ibu Imam Malik menjadi pengingat bagi kita untuk senantiasa mendahulukan adab diatas segala perkara.

Oleh karena itu, sudah sepantasnya bagi kita selaku seorang muslim untuk belajar adab, lalu mengamalkannya. Hal ini sangatlah penting untuk dilakukan mengingat semakin langkanya adab di kalangan manusia. Andai suatu saat adab telah hilang dari muka bumi maka pasti kekacauan tak akan terbendung lagi datangnya.

*) Alumni Pesantren Persatuan Islam (PPI) 110 Manbaul Huda Bandung dan sekarang belajar di Darul Lughah Cairo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.