Syekh Azhar: Cara Termudah Selesaikan Masalah Dunia, Hentikan Perang dan Ujaran Kebencian

Wasathiyyah.com, Kairo — Syekh Al-Azhar Al-Sharif Prof. Dr. Ahmed Al-Tayeb menerima kunjungan pelaksana tugas Kepala Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) John Barsa, Rabu (7/10/2020) beserta delegasi.

John mengaku pihaknya merasa senang bisa bertemu dengan Imam Besar, meskipun kunjungannya itu berlangsung singkat. Alasannya, kata dia, lantaran upaya besar dan penting yang dilakukan Ahmad Tayeb dan yayasan Al-Azhar dalam menebar kebaikan dan perdamaian di antara orang-orang.

“Dan melawan semua bentuk kekerasan, intoleransi dan ujaran kebencian,” kata John dalam pertemuan tersebut, dikutip dari laman resmi Al-Azhar.

Ia menyatakan, USAID ingin bekerja sama dengan Al-Azhar untuk membahas dan memecahkan masalah pembangunan ekonomi, kebebasan beragama, memberantas akar kebencian dan terorisme di dunia,

“Dan Al-Azhar adalah lembaga keagamaan dengan reputasi besar yang menghasilkan para duta yang tersebar di seluruh dunia. Kegiatan yang dilakukan Al-Azhar tidak hanya terbatas untuk umat muslim Mesir, tapi juga Islam pada umumnya” ujarnya.

Sementara itu, Imam Besar Syekh Azhar Ahmad Tayeb menegaskan bahwa untuk mengatasi permasalahan di dunia dengan cara menghentikan perang dan ujaran kebencian

“Cara termudah untuk menyelesaikan masalah pembangunan ekonomi di dunia adalah dengan menghentikan perang dan ujaran kebencian, memerangi ekstremisme dan terorisme dengan serius, memerangi ekstremis terlepas dari afiliasi agama mereka dan bukan melawan agama,” pesan Grand Syekh.

Menurutnya, solusi itu harus dilandasi dengan ketulusan dan objektivitas sertamenjadikan perlindungan manusia sebagai tujuan tertinggi di atas semua pertimbangan.

“Al-Azhar adalah hati nurani bangsa, dan yang pertama memperhatikan bahaya ekstremisme dan terorisme serta berupaya untuk menangkalnya,” tutup mantan Rektor Universitas Al-Azhar itu. (WST/YN/azhar.eg)

Syekh Al-Azhar Kecam Istilah Terorisme Islam

Wasathiyyah.com, Kairo – Imam Besar Al Azhar Syekh Ahmed El Tayyeb mengecam sejumlah pejabat Barat yang menggunakan istilah terorisme Islam. Ia mengatakan istilah tersebut menyinggung Islam dan umat Muslim.

Seperti dilansir Ahram Online, Jumat (2/10/2020), ungkapan istilah itu selain memalukan juga menandakan ketidaktahuan para pejabat itu tentang syariah dan prinsip-prinsip hukum Islam yang justru sangat memiliki perhatian besar terhadap hak asasi manusia, kebebasan, dan saling menghormati.

Menurutnya, menyematkan kejahatan terorisme pada Islam atau agama lainnya adalah sebuah kekeliruan berpikir sebab agama turun untuk kebahagiaan umat manusia.

El Tayyeb pun mendesak para pejabat Barat menahan diri dari menggunakan istilah yang menyesatkan. Itilah tersebut menurutnya hanya akan meningkatkan kebencian dan radikalisasi serta mencemarkan prinsip-prinsip agama damai yang mendorong hidup berdampingan.

“Mereka yang bersikeras menggunakan istilah kebencian ini tidak menyadari mereka mengurangi peluang dialog yang bermanfaat antara Timur dan Barat dan meningkatkan ujaran kebencian di antara masyarakat,” ujar mantan Rektor Universitas Al-Azhar tersebut. (WST/YN/republika.co.id)

Baru Berdiri Akhir Juli, MES Australia Dipimpin ‘Azhary’

Wasathiyyah.com, Jakarta — Kabar gembira tengah menaungi Masyarakat Ekonomi Syariah (MES). Pasalnya, pada 29 Juli 2020 lalu telah berdiri MES cabang Australia. MES yang baru berdiri di Negeri Kangguru itu dipimpin soerang alumnus Universitas Al-Azhar Mesir (Azhary), Shaifurrokhman Mahfudz.

Ia menyampaikan rasa syukur dan ucapan terima kasih atas pengesahan MES perwakilan Australia.

“Secara umum Australia adalah masyarakat yang stabil multikultural dan demokratis. Meskipun minoritas tetapi secara umum Islam di Australia adalah agama yang paling cepat perkembangannya,” kata dia kepada redaksi wasathiyyah.com, Rabu (5/8/2020).

Selain di Australia, MES juga membuka cabang baru di Aljazair melalui Surat Keputusan Pengurus Pusat MES Nomor : 018/SK/MES-PST/VII/2020 dan 019/SK/MES-PST/VII/2020. Dengan terbentuknya di dua negara ini, MES telah berdiri di 8 (delapan) negara.

 

Shaifurrokhman menuturkan bahwa kaum muslimin Indonesia juga sangat dinamis, terbukti ada berbagai macam kegiatan keagamaan dan sosial yang cukup semarak.

“Ini juga menjadi sebuah optimisme karena adanya tingkat kesadaran masyarakat yang semakin tinggi sebagai muslim dan termasuk kesadaran sebagai warga bangsa Indonesia,” terangnya.

Seiring dengan kesadaran keislaman yang tinggi tersebut, sambungnya, maka aktifitas penguatan literasi ekonomi syariah pun mendapatkan respons cukup baik selama ini.

“Karena itu kita berharap mudah-mudahan nilai-nilai ekonomi syariah di Australia dapat diterapkan secara optimal dalam spektrum yang luas dan universal dan mudah-mudahan juga kehadiran MES menjadi wasilah perwujudan harapan masyarakat untuk dapat berinteraksi ekonomi dan keuangan secara islami,” harap dia.

“Selamat mengemban amanah kepada Pengurus Wilayah Khusus MES Australia dan Aljazair, semoga memberikan kemanfaatan untuk umat dan bangsa Indonesia,” tutupnya. (WST/YN)

Video Perdebatan Grand Syaikh Al-Azhar dengan Rektor Universitas Kairo

Jawaban Grand Syaikh Al-Azhar Prof. Dr. Ahmad Thayyib atas kritikan Rektor Universitas Kairo Prof. Dr. Muhammad Khusyt terhadap aqidah dan keyakinan madzhab Asy’ariyah.

Diskusi yang sangat menarik ini hadir dalam kesempatan forum terbuka yang diinisiasi lembaga Al-Azhar pada Konferensi Internasional Al-Azhar dalam rangka memperbaharui pemikiran – pemikiran Islam pada tanggal 27-28 Januari 2020.

Dalam kesempatan ini juga hadir beberapa ulama dunia yang diundang Al-Azhar salah satunya, Prof. Dr. Quraish Shihab.

Sumber video: SANAD MEDIA

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=ABNtFFJFS6Y]

UAS Dianugerahi Profesor Tamu dari UNISSA Brunei Darussalam

Wasathiyyah.com, Bandar Seri Begawan — Dai kondang Ustadz Abdul Somad (UAS) mendapatkan anugerah gelar “Profesor Kunjungan” atau Visitor Professor dari Universitas Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA), Brunei Darussalam.

“Dengan penuh hormat sukacita memaklumkan bahawa Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA) telah bersetuju bagi Yang Mulia Profesor Dr. untuk dilantik sebagai Profesor Kunjungan di Fakulti Usuluddin, UNISSA bagi tempoh dua (2) tahun bermula pada 01 Januari 2020M sehingga 31 Desember 2021M di Fakulti Usuluddin, UNISSA,” demikian keterangan yang tertulis dari pihak kampus yang diunggah di akun UAS, Selasa (28/1/2020).

Pihak UNISSA sangat berharap UAS dapat memberikan sumbangsih berupa tenaga dan pikiran demi ikut memajukan dan mewujudkan kecemerlangan khususnya di Fakultas Usuluddin.

Usai pelantikan, ia kemudian memberikan Kuliah Umum di hadapan Rektor, para Dekan, Professor dan para mahasiswa.

Sebelumnya, UAS meraih gelar Doktor Jurusan Hadits di World Research and Studies Institute (IWRSI) Omdurman Islamic University, Sudan, dengan judul disertasi “Kontribusi Hadratussyaikh Muhammad Hasyim Ashari (1871-1947) dalam Penyebaran Hadits di Indonesia” dengan nilai cumlaude pada Desember lalu, di Khartoum. (WST/YN)

Jebolan Al Azhar Kairo ini Lebih Kaya dari Donald Trump dan George Soros

Wasathiyyah.com, Garut – Belum lama ini, muncul kabar yang menyebutkan bahwa orang terkaya di Afrika telah memborong 10 ribu unit mobil buatan Indonesia AMMDes. Pengusaha kaya itu bernama Aliko Dangote, pengusaha kenamaan asal Nigeria.

Alat Mekanis Multiguna Pedesaan (AMMDes) adalah karya dari PT Kreasi Mandiri Wintor Indonesia. Kabarnya, 73 persen komponen dari mobil ini memang berasal dari Tanah Air.

Dilihat dari bentuknya, jelas sekali bahwa AMMDes ini memang ditujukan untuk keperluan usaha.

Kali ini, kita tidak akan bahas lebih lanjut tentang AMMDesnya. Namun, kita justru akan membahas siapa Aliko Dangote yang memborong mobil-mobil ini.

1. Kekayaannya Rp 123 triliun

Sebagai orang terkaya di seantero Afrika versi Forbes, Aliko Dangote mengantongi total aset senilai U$ 8,9 miliar atau setara dengan Rp 123 triliun. Namun untuk jajaran miliuner terkaya di dunia, CEO Dangote Group ini menduduki posisi ke-136.

2. Lahir dari keluarga Muslim kaya di Nigeria

Usut punya usut, Dangote berasal dari keluarga yang sangat terpandang. Jebolan Universitas Al-Azhar Kairo ini adalah cicit dari Haji Alhassan Dantata, seorang pengusaha top yang pernah meraih gelar orang terkaya di Afrika bagian barat.

Meski lahir kaya, Dangote bukanlah seorang anak yang mengandalkan harta orangtua semata. Kejeniusannya dalam bisnis sudah terlihat sejak masih kecil.

“Saat masih SD, saya ingat bahwa saya membeli satu dus permen dan kemudian saya pun menjual permen-permen itu kepada orang lain. Sejak kecil saya memang sudah tertarik dengan bisnis,” ujar Dangote seperti yang tertera dalam informasinya di Wikipedia.

Di Al Azhar Kairo, Dangote lulus dari fakultas Bisnis dan Administrasi. Sangat kentara, passionnya di dunia wirausaha memang tidak main-main.

3. Berbisnis semen

Di tahun 1970-an, Dangote memulai bisnisnya dengan mendirikan sebuah perusahaan trading yang akhirnya direlokasi ke Lagos. Namun sekarang, Dangote Group itu sendiri sudah beroperasi di Benin, Ghana, Nigeria, Zambia dan Togo.

Menurut informasi dari Forbes, sumber kekayaan Dangote yang terbesar berasal dari semen (Dangote Cement). Kepemilikan saham Aliko Dangote di perusahaan semennya adalah sebesar 85 persen.

Konon kabarnya, Dangote Cement sanggup memproduksi 45,6 metrik ton semen dalam setahun lho. Semen-semen itupun diekspor ke 10 negara di Afrika.

Tidak hanya semen, Dangote Group juga memiliki bisnis lain. Beberapa di antaranya bergerak di bidang makanan dan minuman. Mereka pun menguasai pasar perdagangan gula terbesar di negaranya, serta memiliki pabrik tepung dan garam raksasa di Nigeria.

4. Punya investasi di berbagai bidang

Namanya juga perusahaan raksasa, tentu saja anak perusahaannya juga banyak. Dangote Group tercatat memiliki investasi di bidang properti, perbankan, transportasi, hingga migas. Jumlah pegawai di perusahaan itu juga mencapai 11 ribu orang!

Di sektor telekomunikasi, Dangote Group membangun jaringan fiber optik sepanjang 14 ribu km di sepanjang Afrika.

5. Ahli warisnya banyak

Tidak cuma bisnisnya yang banyak, ahli waris Aliko Dangote juga luar biasa banyak. Pria yang berdomisili Lagos ini kabarnya pernah menikah empat kali, namun pernikahan itu harus berakhir karena perceraian. Dari seluruh pernikahannya, Dangote dikaruniai 15 orang anak!

Ada empat orang anak Dangote yang namanya cukup dikenal baik oleh publik. Namun, meski terkenal, mereka tetap low profile dan menjauhi media. Tiga di antaranya adalah anak kandung, dan satu lagi adalah anak angkat.

Mereka adalah, Mariya Dangote, Fatima Dangote, Halima Dangote, dan Abdulrahman Fasasi. Fasasi adalah putra angkat Dangote yang kerap disebut-sebut bakal jadi pewaris kekayaan Aliko.

Itulah sekilas informasi mengenai Aliko Dangote, orang terkaya di Afrika. Dengan menduduki posisi ke-136 dalam daftar orang terkaya sejagat, Dangote jelas lebih kaya ketimbang George Soros yang ada di peringkat 178 dan Donald Trump yang bertengger di urutan 715. (WST/RS/moneysmartid)

Tujuh Fakta Luar Biasa Grand Syaikh Ahmad Thayyib

Wasathiyyah.com, Kairo–Muhammad Ahmad Thayyib tidak pernah membayangkan anaknya menjadi Grand Syaikh Al-Azhar Mesir. Ketika mendengar jabang bayi keluar dari Rahim isterinya pada 6 Januari 1946 di Kampung Qornah Luxor itu, alim Azhari itu memberi nama anaknya Ahmad.

Meskipun tidak pernah membayangkan putranya menjadi sang imam besar ke-48 Al-Azhar Al-Syarif, namun alumnus Al-Azhar tetap berharap kedua anaknya –Ahmad dan kakaknya—menjadi dua ulama Azhari yang akan membangun kampung halamannya yang terletak di tengah pegunungan di Sha’id Mesir. Oleh sebab itu, agar impian ini terwujud, sang bapak memasukan anaknnya ke Ma’had al-Azhar.

Selama di sekolah, Ahmad kecil menampakkan kecerdasannya. Dia selalu unggul dalam setiap jenjang pendidikan. Saat masuk Fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar di Kairo, hingga meraih magister dan doktoral, dia berprestasi. Akhirnya dia melanjutkan postdoctoralnya menuju Universitas Sourbone Prancis.

Berkat kecerdasan dan profesionalitas, karir dan jabatan yang dilakoni putra pedalaman Mesir (Sha’id) itu terus melejit, hingga menduduki jabatan Mufti Agung Republik Arab Mesir, yang kemudian jabatan itu dia lepas, karena ditunjuk menjadi Rektor Universitas Al-Azhar. Puncaknya, pada 19 Maret 2010, terbit Kepres menunjuk pengikut Madzhab Maliki dangan Thariqah Khalwatiyyah itu, menjadi Grand Syekh Al-Azhar menggantikan Grand Syekh yang wafat, Muhammad Sayyid Thanthawi.

Hampir genap sepuluh tahun sudah beliau mendapatkan kemuliaan berkhidmah untuk lembaga keagamaan dan pendidikan yang terkemuka di dunia itu, dan banyak pencapaian-pencapaian serta kemajuan yang beliau raih.

Bertepatan dengan peringatan ulang tahun yang ke-74, kali ini Portal Wasathiyyah menyuguhkan 7 fakta unik tentang Grand Syekh al-Azhar Ahmad Thayyib, mungkin belum banyak yang mengetahuinya.

Berikut tujuh di antaranya:

  1. Tinggal Sendirian di Sebuah Flat

Walaupun memegang posisi-posisi top leader pada lembaga yang mengayomi jutaan manusia ini, Grand Syekh memilih menjalani kehidupan sederhana. Beliau tinggal dan mengurus keperluannya sendiri di sebuah flat di Kairo, sedangkan keluarganya di kampung halamannya. Beliau rutin pulang kampung dari Kairo ke Luxor setiap dua pekan, dan menetap tiga hari bersama keluarga dan masyarakat kampung halamannya agar hubungan tetap terjalin kuat.

  1. Sahah al-Thayyib yang Melayani Berbagai Kebutuhan

Grand Syekh memiliki dua anak. Seorang putra bernama Muhandis Mahmud dan seorang putri bernama Zainab. Mereka tinggal di Luxor sekaligus mengawasi eksistensi Shahah al-Thayyib milik marga al-Thayyib yang terpandang di kawasan Sha’id Mesir. Kedermawanan dan kemuliaan keluarga al-Thayyib disalurkan melalui sahah ini. Kerapkali sahah itu menjadi tempat perkumpulan hangat orang-orang kampung, masyarakat kampung sekitarnya, menjamu dengan hidangan makanan siapapun tamu yang datang, baik dari daerah-daerah di Mesir maupun turis mancanegara dari berbagai latar belakang dan agama yang datang ke Luxor sebagai salah satu ikon destinasi pariwisata Mesir.

Setiap pulang kampung, Grand Syekh mengambil peran menjadi hakim untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang diadukan masyarakat.

Tersedia juga milik keluarga besar al-Thayyib yayasan sosial Jam’iyyah Khairiyyah yang bergerak memenuhi berbagai keperluan, termasuk melunaskan bayaran untuk orang-orang yang terlilit hutang, menyantuni fakir miskin, anak yatim, serta membiayai pendidikan mereka.

  1. Tidak menerima gaji dan tidak menikmati fasilitas

Imam Akbar tidak mengambil gaji yang menjadi haknya selama menjabat sebagai Grand Syekh. Dengan alasan beliau menunaikan tugas ini murni karena amanah berkhidmat untuk Islam, maka menurutnya, tidak berhak mengambil imbalan kecuali dari Allah.

Beliau juga tidak menikmati fasilitas-fasilitas dinas yang disediakan. Semua gaji dan fasilitas itu beliau alokasikan untuk membantu orang-orang yang berkebutuhan mendesak, membangun rumah sakit, dispensasi untuk korban terorisme dan kecelakaan. Beliau banyak sekali menghadiahkan haji dan umrah untuk para keluarga korban.

  1. Rahasia mengapa dipilih oleh Husni Mubarak sebagai Grand Syekh

Ketika wafatnya Grand Syekh Muhammad Sayyid Tantawi, ada lima nama kandidat Grand Syekh yang diajukan sebagai opsi oleh Dewan Senior Ulama al-Azhar untuk ditunjuk Presiden Husni Mubarok. Saat itu, sistem penunjukan Grand Syekh bersifat aklamatis, sebelum dikembalikan lagi dengan sistem musyawarah Dewan Senior Ulama Al-Azhar.

Kendati nama-nama selain beliau dapat dikatakan lebih mumpuni dari segi keilmuan dan kapabilitas, pertimbangan yang diambil oleh Husni Mubarok -yang saat itu sedang dirawat di Jerman karena mengidap kanker pankareas- memilih Syekh Ahmad al-Thayyib adalah karena penguasaan beliau yang baik pada Bahasa Inggris dan Bahasa Prancis, dengan harapan akan lebih menampilkan keindahan Islam kepada Barat dan lebih open minded.

  1. Sudah Dikaderisasikan oleh Grand Syekh Muhammad Thantawi

Ketika beliau menanggalkan jabatan Mufti Agung dan memilih menerima jabatan rektor Universitas al-Azhar, banyak yang menyangkal keputusan beliau tersebut, padahal jabatan mufti lebih prestisius daripada rektorat dan akan memuluskan jalannya menjadi Grand Syekh.

Syekh Ahmad Thayyib sendiri mengungkapkan kepada wartawan al-arabiya.net, bahwa dalang di balik pengangkatan beliau itu adalah Syekh Thantawi. Syekh Ahmad Thayyib dicintai dan diberikan kepercayaan lebih oleh Syekh Thantawi, dan mengatakan kepadanya bahwa jabatan rektor adalah jalur tepat untuk melanggeng kepada jabatan Grand Syekh.

  1. Pernah bergabung di partai politik

Di antara sikap yang menimbulkan kontroversi dan perdebatan dari Syekh Ahmad Thayyib adalah keputusan beliau bergabung pada partai politik, yaitu komisi strategi Partai el-Wathan pada masa Presiden Husni Mubarok.

Usut punya usut, alasan beliau bergabung ini ternyata bukan sembarangan. Ketika dimintai klarifikasi, beliau membeberkan bahwa Komisi Strategis Partai al-Wathan yang diketuai kala itu oleh Jamal Mubarok itu dialah sebagai eksekutor pemerintahan Mesir yang sesungguhnya, ketika pergerakan Husni Mubarok sedikit dilumpuhkan oleh sakit yang diidap. Maka kehadiran Syekh Ahmad Thayyib untuk menjadi bagian dari sistem adalah untuk mengawal dan menjaga kebijakan pemerintah seorang Jamal yang belum terlalu matang, yang ditakutkan dapat merongrong al-Azhar sebagai menara kegamaan yang telah berdiri ribuan tahun ini.

Itu terbukti, ketika faktor tersebur kembali stabil, Syekh Ahmad Thayyib langsung melepaskan koalisinya dari partai tersebut.

  1. Menjadi Jalan Hidayah Masuk Islam bagi Banyak Orang Eropa

Ketika beliau mengenyam pendidikan di Paris, banyak dari orang Barat yang memeluk agama Islam, termasuk semua anggota keluarga pemilik rumah tempat beliau menetap selama di Paris karena melihat keindahan akhlak dan toleransi yang beliau tampilkan dalam sehari-hari.

Semoga Grand Syaikh Ahmad Thayyib Panjang umur, sehat dan senantiasa mendapat bimbingan Allah SWT. (WST/YNF/ppmi.id)

 

Mengangkat Tokoh Hasyim Asy’ari dalam Disertasinya, UAS Lulus Cum Laude di Sudan

Wasathiyyah.com, Khartoum – Setelah menjalani masa pendidikan 2 tahun dan di tengah aktifitas dakwah yang padat, Ustadz Abdul Somad (UAS) berhasil menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Omdurman Islamic University (OIU), Sudan, Selasa (24/12).

Dalam sidang promosi doktor yang bertempat di ruang sidang kantor Lembaga Riset OIU tersebut UAS berhasil lulus dengan predikat mumtaz atau cum laude.

Dalam disertasinya UAS mengangkat tokoh Hasyim Asy’ari dan kiprah dakwahnya di Nusantara. Disertasi UAS ini berjudul, “Kontribusi Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dalam Penyebaran Hadits di Indonesia”.

Bertindak selaku supervisor adalah Syekh Dr Omar al-Ma’ruf Ali. Sedangkan, penguji dari kalangan eksternal adalah Syaikh Dr Haidar Idrus Ali, selaku Ketua jurusan Hadits di International University of Africa). Sementara, penguji dari kalangan internal adalah Syekh Dr Iwadh al-Karim Husain Miraf. Dia adalah guru besar Hadits Oumdurman Islamic University.

Melalui akun instagramnya, UAS menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan membantunya dalam proses pendidikan ini. Salah satunya adalah Duta Besar RI di Sudan Rossalis Rusman Adnan.

“Lalu Dr. KH. Muhammad Afifuddin Dimyathi yang telah mengirimkan kitab-kitab Hadratussyaikh Muhammad Hasyim Asyari, Dr. Zul Ikromi dan Budi yang mengurus pendaftaran ke Sudan, Ustaz Zulkifli yang membantu urusan selama di Sudan, dan sahabat-sahabat yang tidak bisa disebut satu per satu,” tulis UAS. (WST/RS)

 

 

Rektor UIN Jakarta Terima Dua Penghargaan MURI

Wasathiyyah.com, Jakarta — Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Amany Lubis menerima penghargaan Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai Rektor Perempuan Pertama UIN di Indonesia sekaligus Penceramah Perempuan Pertama di Hadapan Raja Maroko. Penghargaan diberikan langsung oleh Pendiri MURI, Jaya Suprana.

Pemberian penghargaan berlangsung dalam acara Seminar Nasional Perempuan dan Pendidikan bertajuk ‘Dengan Semangat Hari Ibu Kita Tingkatkan Prestasi Perempuan’ di Auditorium Harun Nasution UIN Jakarta, Jumat (20/12/2019). Dalam seminar ini juga dilakukan Peluncuran dan Bedah Buku ‘Autobiografi Amany

“Alhamdulillah saya bersyukur dan berterimakasih atas penghargaan ini. Momen Hari Ibu memiliki makna tersendiri bagi saya karena bertepatan dengan hari ulang tahun saya (22 Desember 1963). Pada momentum ini saya juga bersyukur karena telah menyelesaikan buku autobiografi yang sebelumnya terbengkalai selama tiga tahun,” kata Amany.

Baca juga: Mengenal Amany Lubis, Rektor Perempuan Pertama UIN Jakarta

Menurutnya, Indonesia bisa menjadi jaya seperti sekarang tidak terlepas dari perhatian besar kalangan perempuan. Ia menilai, semua perempuan mempunyai peran penting untuk membangun bangsa untuk lebih maju.

“Kita membangun negeri ini dengan ikhlas, dengan lapang dada. Capaian ini tentu karena banyak pihak. Saya berhutang budi pada ibu saya, kepada almamater UIN, 28 ormas yang saya ikuti. Terimakasih rekan-rekan, para guru, keluarga dan teman-teman. Semoga Allah akan membalas,” ucapnya.

Sementara itu, Jaya Suparna menyampaikan selamat kepada Amany Lubis atas segala capaian yang telah diraih. Ia menilai, terpilihnya Amany sebagai Rektor UIN menjadi penegasan bahwa di Indonesia tidak ada diskriminasi gender terhadap perempuan.

“Indonesia layak menjadi teladan bagi seluruh dunia terkait gender. Bahwa perempuan Indonesia bisa berkarya di mana saja. Dan saya merasa sekarang memberi anugerah untuk mendapat kehormatan. Saya kira ini bukan lagi rekor di tingkat Indonesia, tapi rekor dunia yang membanggakan. Selamat, Prof Amany,” tutur Jaya Suprana.

Turut hadir dalam acara ini, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, Menteri Agama RI 2014-2019, Lukman Hakim Saifuddin, Wakil Menteri Agama RI, Zainut Tauhid, dan para Guru Besar UIN Jakarta seperti Prof. Nabilah Lubis dan Prof. Azyumardi Azra. (WST/YN/gomuslim.co.id)

TGB Ajak Sukses Dunia untuk Kehidupan Akhirat

Wasathiyyah.com, Penang – Permai Utara Malaysia menggelar Dialog Kebangsaan Wawasan Nusantara, Indonesia-Malaysia dengan pembicara dari Indonesia TGB HM Zainul Majdi, Ketua Ikatan Alumni Al Azhar Indonesia (OIAA) dan Prof. Dr. Mohammed Reevany Bustami dari University Science Malaysia (USM), pada Jumat (29/11).

Dialog yang menghadirkan paguyuban Indonesia di Penang, Malaysia mengambil tema konsep wasathiyah dan perannya dalam membangun bangsa perspektif sekarang dan akan datang.
Ketua Umum Permai Utara Malaysia Ahmad Rofi’i mengatakan, berbagai paguyuban di Penang, Malaysia hadir.
“Kerinduan cukup lama, biasa melihat TGB hanya lewat dari media sosial atau media massa,” katanya.
Terkait tema acara, Prof. Mohammed Reevany menjelaskan, pertama, konsep wasathiyyah merupakan perjalanan seimbang menuju kecemerlangan. Kedua, mengangkat keadilan, meletakkan hak pada tempatnya. Ketiga, wasathiyyah bukan di tengah kemudian menghadirkan hal baru yang mudah. Wasathiyyah tetap bertonggakkan prinsip, ikut rukun Islam secara penuh.
“Ikuti standar Islam secara utuh. Lembut dan tegas, itu wasathiyyah. Islam bukan lembek. Kadang lembut kadang juga keras,” terangnya.
Sementara itu, TGB mengungkapkan, acara Permai Utara, Malaysia bagian dari silaturahim. Ini menjadi instrumen paling utama membangun kekuatan umat. Saat ini masyarakat memiliki smartphone, bukan mendekatkan yang jauh, sebaliknya malah menjauhkan yang dekat.
“Ada anak justru sibuk bermain handphone saat berjumpa dengan orang tua,” katanya.
Dijelaskan, banyak hal kontraproduktif dengan cita-cita awal agama Islam. Ajaran Allah berlaku kepada semua nabi, diturunkan pada setiap masa adalah silaturahim.
“Ada berlaku untuk semua, ada yang beda-beda. Silaturahim menguatkan persaudaraan,” sambungnya.
Ketua Ikatan Alumni Al Azhar Indonesia ini mengurai, majelis taklim di negara Islam lain tak mudah untuk menggelar acara keagamaan. Di Indonesia mudahnya majelis taklim bagian dari yang disyukuri. Bisa tumbuh subur. Sanggup membangun kohesifitas sosial.
“Ini salah satu indikator wasathiyyah dalam keseharian. Bagaimana kita bisa hidup membangun nilai agama bersama nilai budaya dengan baik,” sambungnya.
TGB menyebut, dahulu ada paradigma orang yang saleh itu miskin, sementara orang kaya selalu identik dengan jahat. Itu anggapan tak benar. Sahabat nabi menghimpun kekayaan untuk kepentingan orang banyak.
Ada yang memahami zuhud itu tak punya apa-apa. Padahal, menguji zuhud sesungguhnya setelah memiliki harta. Ketahanan ketika punya sesuatu kemudian sanggup menahan diri. Kata ulama, cari harta sebanyak mungkin letakkan di tangan bukan di hati.
“Bukan hanya soal harta. Termasuk berpolitik, jangan sampai masuk ke hati cukup di kepala. Ketika yang diusung kalah tak sakit hati, kalau terpaksa diletakkan cukup di kepala,” bebernya.
TGB menyebut, ikhtiar dunia jangan sampai melalaikan yang lain. Mencari urusan dunia tidak sampai meninggalkan akhirat.
“Silahkan mencari rezeki profesional, tapi jangan sampai mengabaikan shalat. Keseimbangan ini bukan sekadar menunaikan sesuatu, tapi juga memberikan yang terbaik dengan tanpa melalaikan beribadah,” urainya.
Dikisahkan, ada tiga sahabat datang kepada istri Nabi Muhammad Saw. Mereka menanyakan ibadah Nabi. Dari cerita istri Nabi, ternyata ibadah Nabi tak sebanyak yang mereka pikir. Mereka mengira bahwa Nabi beribadah terus-menerus. Sampai kemudian satu sahabat mengatakan, mulai saat itu akan puasa penuh, satu sahabat lagi menyebut akan salat sepanjang malam tanpa tidur, satu lagi tak mau menggauli perempuan.
Nabi kemudian mendengar kesepakatan tiga sahabat ini.
“Menurutmu siapa paling bertakwa?” tanya Nabi Saw.
“Engkau ya rasul,” jawab sahabat.
Rasul kemudian mengatakan, tak pernah puasa terus menerus. Malam hari juga tidur, shalat malam kemudian tidur lagi dan Salat Subuh. Nabi pun menggauli istri dengan baik.
“Siapa yang menyelisihi cara saya ini maka dia telah keluar dari sunnah saya. Puasa setiap hari bukan bagian dari sunnah saya, beribadah sepanjang malam pun bukan sunnah saya. Termasuk mengabaikan istrinya, bukan yang ikuti sunnah saya,” urainya.
Doktor tafsir Al Quran dari Al Azhar ini menyebut, ada yang menganggap dunia ini rumah selamanya, orientasinya dunia saja. Kemudian bersenang-senang semaunya.
“Tobatnya menunggu tua. Dia pikir akan sampai tua, padahal banyak yang mati muda,” ucapnya.
TGB menyebut, menganggap dunia segalanya salah, bukan berarti dunia tak penting. Justru dunia ini satu-satunya kendaraan menuju akhirat.
“Yang perlu dilakukan adalah bagaimana kebaikan di dunia bisa bermanfaat dan bisa manfaatnya dirasakan lebih banyak orang,” imbuhnya. (WST/RS/HNM)