Percepatan Pembangunan Daerah, YWA Lampung Undang TGB

Wasathiyyah.com, Krui—Sebagai kabupaten termuda di provinsi Lampung, Pesisir Barat sedang membangun di berbagai bidang. Hanya saja pembangunan di bidang pendidikan, keagamaan dan sosial, Pesisir Barat belum melakukan secara maksimal dan optimal. Oleh sebab itu, Yayasan Warotsatul Anbiya (YWA) Lampung berperan aktif membantu Pemda dalam melakukan percepatan pembangunan dengan mengundang mantan gubernur TGB 2 periode, Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Majdi.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Pembina YWA Lampung, Buya Yamin Majdi, ketika menghadiri acara Pembentukan Panitia Tabligh Akbar dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW bersama TGB M. Zainul Majdi di masjid Babuttaqwa tadi malam (Rabu, 13/10).

Dalam usia hampir sepuluh tahun—sejak disahkan UU Republik Indonesia nomor 32 tanggal 17 November 2012, kata Buya Yamin Majdi, kabupaten berslogan “Negeri Para Saibatin dan Ulama” ini, harus kerja keras lagi dalam membangun, baik secara fisik maupun secara moril. Menurutnya, pembangun fisik ini domain pemerintah, sedangkan pembangunan moril ini bisa dibantu oleh basis civil society.

“Kita bagi-bagi tugas, Pemda bagian pembangun fisik, sedangkan kita berperan aktif membangun moril Pesisir Barat,” kata pengasuh Pesantren Maqwa Krui itu.

Putra daerah asal Banjar Agung kecamatan Way Krui menceritakan bersamaan dengan pemekaran Pesisir Barat dari Lampung Barat itu, YWA Lampung berusaha melakukan percepatan pembangunan daerah di bidang pendidikan. Sejak tahun 2012, YWA Lampung membuat program Beasiswa Anak Soleh dan Beasiswa AitamA dengan mengirim putra-putra daerah Pesisir Barat belajar di Jawa Barat, bahkan di Mesir dan Sudan.

Dua tahun terakhir ini, YWA Lampung mendirikan Sekolah Tahfiz Balita & Anak Markaz Maqwa Krui dan SD Quran Maqwa. Ini dalam rangka persiapan untuk mendirikan sekolah sistim asrama atau boarding jenjang SMP-SMA, bernama Ma’had Quran Warotsatul Anbiya, disingkat MAQWA. Sekolah atau pesantren dalam upaya melahirkan lembaga pendidikan yang berkualitas, terpadu, dan mampu menjawab tantangan zaman.

Begitu juga di bidang keagamaan, YWA Lampung melalui unit Lembaga Zakat Infaq Sedekah dan Wakaf (Laziswaf) Maqwa menggulirkan 17 program bidang ZIS dan 9 program bidang wakaf. Di bidang ZIS, salah satu programnya Safari Dakwah Nusantara, yaitu mengundang para ulama alumni Universitas Al-Azhar Mesir untuk berdakwah di Pesisir Barat.

“Di Laziswaf Maqwa, kita memiliki 17 program ZIS dan 9 program wakaf. Diantara program ZIS di bidang sosial dan dakwah, kita ada program Safari Dakwah Nusantara. Kita undang TGB untuk mengawali program ini,” pencetus berdirinya Laziswaf Maqwa itu.

Karena kehadiran TGB tanggal 22-24 Oktober 2021 bertepatan dengan bulan Rabi-ul Awwal dan mitra kerjasama mencari da’I nasional untuk mengisi acara Maulid Nabi Muhammad SAW, maka lahirlah ide Tabligh Akbar Maulid Nabi.

Tak hanya di bidang pendidikan dan keagamaan saja, kehadiran TGB juga akan membantu percepatan Pesisir Barat di bidang wisata, sebab TGB telah sukses menghadirkan wajah Islam melalui Wisata Halal di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Tahun 2014, selaku Gubernur TGB bertemu dengan Menteri Pariwisata Arif Yahya. Dalam forum kepala daerah tersebut, menteri melemparkan pertanyaan, siapa yang siap memulai Wisata Halal di daerahnya. Waktu itu TGB menyanggupi dan mendeklarasikan provinsi pertama sebagai destinasi Halal Tourism.

Sejak wisata halal digulirkan di NTB, khususnya Lombok, data kualitatif dan kuantitif menunjukan peningkatan pengunjung wisata, naik 190 persen dan segmen halal tourism ini memberikan kontribusi 70 persen.

“TGB tidak hanya dikenal sebagai ketua OIAA cabang Indonesia, melainkan juga sebagai gubernur termuda dan pertama menggulirkan ide Wisata Halal. Nah, kita di Pesisir Barat ini, baik pemerintah maupun masyarakatnya, bisa berdiskusi kepada beliau tentang konsep dan penerapan wisata halal,” pungkas Udo Yamin Majdi. (WST/YNF)

 

Masyarakat Krui, Sambut TGB dengan Antusias

Wasathiyyah.com, Krui—Kabupaten Pesisir Barat berslogan “Negeri Para Saibatin dan Ulama”, akan kedatangan sosok ulama alumnus Universitas Al-Azhar Cairo, Dr. M. Zainul Majdi, MA. Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) cabang Indonesia ini, akan berkunjung ke Krui tanggal 22-24 Oktober 2021 untuk mengisi beberapa acara.

Kehadiran Gubernur NTB periode 2008-2018 itu disambut oleh masyarakat Krui dengan antusias. Sekitar 50 orang hadir dalam Rapat Pembentukan Panitia Tabligh Akbar, hari ini (Rabu, 13/10) di masjid Babuttaqwa Rawas.

Dalam sambutannya, Ketua DKM masjid Babuttaqwa Agus Syafiri mengungkapkan bahwa sudah lama mereka merindukan ada tokoh nasional mengisi Tablig Akbar di sana. Bahkan, mereka sempat mengundang Syaikh Ali Jaber, namun taqdir berkata lain, ulama asal Madinah itu belum bisa hadir hingga beliau wafat.

“Dari dulu, sangat ingin mengundang tokoh nasional, namun belum ada kesempatan. Kita sempat mengundang Syaikh Ali Jaber, namun belum berjodoh,” ujar Agus Syafiri.

Dengan kehadiran TGB –singkatan dari Tuan Guru Bajang, nama panggilan Dr. M. Zainul Majdi, MA.—nanti, menurutnya, kerinduan masyarakat terhadap ulama tingkat nasional akan terobati.

Setelah sambutan DKM, pembawa acara mempersilahkan ketua pembina Yayasan Warotsatul Anbiya (YWA) Lampung, Buya Yamin Majdi, untuk memberikan sambutan sekaligus menyampaikan informasi tentang kehadiran TGB ke Krui.

Di dampingi oleh penasehat YWA Lampung, Fadli Ahmadi Idrus, A,Md., dan ketua YWA Lampung, Syahrir, A.Md., Buya Yamin Majdi, memperkenalkan diri sekaligus menyampaikan perkembangan Pesantren Maqwa Krui.

Selanjutnya, pengasuh Pesantren Maqwa Krui itu, mengungkapkan bahwa kehadiran TGB selain untuk menghadiri acara YWA Lampung dan Ikatan Alumni Mesir (IKAM) Lampung, juga untuk membantu pemerintah Pesisir Barat dalam mewujudkan slogan Negeri Para Ulama dan mempercepat pembangunan daerah dalam bidang pendidikan, keagamaan, dan wisata.

Dalam bidang pendidikan, TGB akan menghadiri Wisuda Sekolah Tahfiz Balita & Anak Markaz Maqwa Krui, Peletakan Batu Pertama Pesantren Maqwa sekaligus Launching Maqwa Green Waqf. Dalam bidang keagamaan, TGB akan mengisi acara Safari Dakwah Nusantara atau Tabligh Akbar Maulid Nabi Muhammad SAW dan Silaturahim Tokoh Agama Pesisir Barat. Dan dalam bidang wisata, TGB sebagai pencetus Halal Taurism itu, akan diperkenalkan budidaya repong damar dan wisata bahari.

“Kehadiran TGB ke Krui, bukan hanya untuk Yayasan Warotsatul Anbiya dan IKAM Lampung, melainkan upaya kita untuk merealisasikan slogan Pesisir Barat, Negeri Para Ulama, sekaligus membantu pemda dalam melakukan percepatan pembangunan dalam bidang pendidikan, keagamaan dan wisata,” kata Ustaz Muda yang baru beberapa bulan pindah dari Garut ke Krui itu.

Rapat Pembentukan Panitia membentuk tim formatur dan terpilih sebagai ketua Panitia Pelaksana Tabligh Akbar Maulid Nabi Muhammad SAW 1442 kerjasama antara YWA Lampung dan Masjid Babuttaqwa, yaitu Nasib Mulyadi.

Mantan Peratin Rawas itu, mengajak seluruh panitia, jama’ah masjid Babuttaqwa, dan masyarakat Pekon Rawas untuk menyukseskan acara Tabligh Akbar bersama TGB. Menurutnya, kedatangan TGB ke Pesisir Barat, khususnya ke Rawas, ini merupakan anugerah.

“Saya mengajak semua yang hadir, para jamaah masjid dan masyarakat Pekon Rawas, untuk saling bahu-membahu dan bekerjasama agar acara Tabligh Akbar kondusif, aman, dan sukses,” kata Nasib Mulyadi.

Tampak hadir dalam rapat tersebut, peratin Pekon Rawas, para tokoh agama, tokoh masyakat, DPRD Pesisir Barat, Remaja Islam Masjid, dan perwakilan dari Ma’had Quran Warotsatul Anbiya (MAQWA) atau Pesantren Maqwa Krui.

Acara Rapat Pembentukan Panitia Tabligh Akbar bakda Isya itu, berjalan sukses dan akan ditindaklanjuti dengan rapat berikutnya untuk membicarakan teknis kegiatan.  (WST/YNF)

Jadwal dan Agenda TGB Selama di Krui

Wasathiyyah.com, Krui–Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) cabang Indonesia Dr. Muhammad Zainul Majdi, MA., akan berkunjung ke Krui kabupaten Pesisir Barat. Gubernur NTB 2 periode (2008-2018) itu memenuhi undangan Yayasan Warotsatul Anbiya Lampung untuk menghadiri beberapa acara.

Ketua Pembina Yayasan Warotsatul Anbiya (YWA) Lampung, Buya Yamin Majdi, menjelaskan bahwa tujuan utama lahirnya YWA Lampung, untuk mendirikan Pesantren Maqwa Krui.

“Tujuan utama Yayasan Warotsatul Anbiya Lampung, untuk mendirikan pondok pesantren,” ujar Buya Yamin hari ini (Sabtu, 9/10) di Pasar Kota Pesisir Tengah Krui.

Secara program, upaya mendirikan pesantren ini, kata Buya Yamin, sudah berlangsung sejak tahun 2012 dengan membebaskan tanah wakaf seluas 3 hektar, mengirim putra-putri daerah Pesisir Barat ke Jawa Barat dan setamatnya mereka belajar nanti akan mengelola pesantren, serta mendirikan Sekolah Tahfiz Balita & Anak Markaz Maqwa Krui dan SD Quran Maqwa.

Adapun pembangun secara fisik, sudah berjalan mulai dari pembangunan gorong-gorong jalan, land clearing, pembuat sumur bor, pembangunan tandon air, dan sekarang proses pembangunan kelas, serta kedatangan TGB akan melakukan peletakan batu pertama masjid Pesantren Maqwa Krui.

Lebih lanjut, Ustaz muda alumnus Pesantren Persis Tarogong dan pernah menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar Mesir itu, mengatakan bahwa kurikulum yang dipakai di Pesantren Maqwa Krui adalah kurikulum Al-Azhar Mesir.

Hal tersebut, menjadi alasan utama pihak YWA Lampung mengundang TGB. Kehadiran doktor alumnus Al-Azhar Mesir itu, ingin meneguhkan bahwa Pesantren Maqwa Krui merupakan bagian dari pesantren atau lembaga yang menggunakan kurikulum Al-Azhar, bermanhaj Al-Azhar dan mengusung wasathiyyatul Islam.

“Kami mengundang TGB ke Maqwa, untuk menegaskan diri bahwa Pesantren Maqwa Krui berkiblat ke Al-Azhar Mesir,” tegas penulis buku Quranic Quotient, Cara Melejitkan Potensi Diri dengan Al-Quran itu.

TGB rencana di Krui Pesisir Barat selama 2 hari, mulai hari Sabtu-Ahad, tanggal 23-24 Oktober 2021, sedangkan sehari sebelum dan sesudahnya, TGB dalam perjalanan datang dan pulang dari Krui. Sehingga TGB berada di Lampung selama 4 hari, 22-25 Oktober 2021.

Buya Yamin Majdi memberitahukan bahwa ada 6 acara yang akan dihadiri TGB selama di Krui, yaitu Wisuda Sekolah Tahfiz Balita & Anak Markaz Maqwa Krui, Peletakan Batu Pertama Masjid Pesantren Maqwa Krui, Launching Green Waqf Laziswaf Maqwa, Safari Dakwah Nusantra, Temu Tokoh Agama dan Masyarakat Pebar, dan mengukuh Pengurus IKAM Lampung Periode 2021-2024 sekaligus Silaturahim Alumni Al-Azhar Mesir dari berbagai kota di Pulau Sumatera-Jawa.

Rangkain acara bertemakan “Mengokohkan Wasathiyyatul Islam dan Membangun Sinergitas dalam Membina Umat dan Bangsa” itu, akan dilakukan di beberapa tempat, terutama di tempat penginapan TGB, yaitu Hotel Sunset Beach 2 Way Redak.

Buya Yamin Majdi mengajak seluruh komponen Pesisir Barat, baik pemerintah maupun masyarakat, untuk bersama-sama menyambut TGB, sebab beliau bukan sekedar ketua OIAA cabang Indonesia, melainkan juga sebagai ulama sekaligus umara. Dan sekarang, TGB menjabat Wakil Komisaris Utama (Wakomut) Bank Syariah Indonesia.

“Mari kita sambut TGB dengan baik. Kita buktikan, bahwa slogan Negeri Para Ulama terwujud dalam memuliakan kedatangan seorang ulama,” ajak Buya Yamin Majdi. (WST/YNF)

 

 

TGB Luncurkan Buku “Dakwah Nusantara” Seri Pertama

Wasathiyyah.com, Mataram—Dr. Muhammad Zainul Majdi, atau lebih dikenal dengan sebutan Tuan Guru Bajang (TGB), hari ini (Sabtu, 16/1) meresmikan peluncuran buku “Buku Dakwah Nusantara Tuan Guru Bajang-Islam Wasathiyah Vol 1 yang ditulis Febrian Putra di Ballroom Islamic Center, Mataram.

Acara peluncuran buku ini mendapat sambutan hangat dari sahabat dan sejawat TGB dari berbagai tempat, ada Kepala Badan Nasional  Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol. Boy Rafli Amar, Pengasuh Ponpes Al Hidayat, Lasem KH. Zaim Ahmad yang merupakan cucu KH. Ma’shum Lasem sahabat dari Maulanasyaikh TGKH. M Zainuddin Abdul Madjid, kemudian Direktur Madrasah Muallimin Muhammadiyah, Yogyakarta KH. Aly Aulia, Rektor IAIN Madura Dr. Muhammad Kosim, serta Pengasuh Ponpes Al-Aziziyah Jombang, KH. Muiz Aziz yang juga cicit dari KH. Bisri Syansuri.

Kiai Zaim dalam sambutannya mengatakan, pesan-pesan dakwah yang disampaikan TGB kuat dengan nilai wasathiyah, di Nahdlatul Ulama biasa dikenal tawasuth, tasamuh, dan tawazun.

“Saya memang belum sepenuhnya membaca buku itu. Tapi sosok dari TGB yang saya kenal adalah pendakwah yang menyampaikan nilai Islam yang ramah,” katanya.

“Saya dengan TGB memiliki hubungan panjang, kakek kami bersahabat,” sambungnya.

Sementara itu, KH Aly Aulia menyebut, dakwah-dakwah cucu Pendiri Nahdlatul Wathan Almaghfurlah TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid ini memang layak untuk dibukukan. Pesan yang disampaikan dalam setiap dakwahnya layak disebarluaskan.

“Beberapa waktu lalu kami sudah mengundang beliau. Selain ke sekolah, beliau berjumpa dengan KH Syafii Maarif di kediamannya. Disana TGB juga diminta memberi ceramah di masjid Nogososro,” ucapnya.

“Ini menunjukkan kuatnya pesan-pesan dakwah dari TGB,” tandasnya.

Sementara itu, KH Muiz Aziz berhalangan menyampaikan langsung secara virtual peluncuran buku. Penyampaian virtual ditutup oleh Komjen Pol Boy Rafli Amar.

Jendral bintang tiga ini mengapresiasi undangan peluncuran dan bedah buku dari TGB. Perjalanan Dakwah Nusantara tergambar di dalam buku ini,  mulai dari pondok pesantren, universitas, dan organisasi masyarakat lintas agama.

“Di dalam dakwah beliau menyambung silaturahmi, menguatkan persatuan dan persatuan. Dan terus mengingatkan menjaga adab di ruang publik,” katanya.

Boy yang beberapa waktu berjumpa TGB berharap buku ini disebarluaskan di masyarakat khususnya generasi muda. Pesan selain harus berilmu dan memiliki keluhuran ahlak merupakan pesan kuat.

“Selamat atas diluncurkannya buku ini. Terima kasih atas segala kiprah dan dedikasi yang diberikan oleh TGB bagi bangsa dan negara,” tambahnya.

 

Pada acara yang menghadirkan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi NTB mulai Wakil Gubernur NTB Dr Hj Sitti Rohmi Djalilah, Kapolda NTB Irjen Moh Iqbal, serta Danrem 162 Wira Bhakti Brigjen TNI Ahmad Rizal Ramdani turut memberi kesempatan kepada Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama NTB Prof Masnun Tahir dan Ketua Pengurus Wilayah Muhammadiyah Dr Falahuddin.

Prof Masnun menyebut, buku ini telah menunjukkan jika sesungguhnya TGB HM Zainul Majdi bukan hanya milik Nahdlatul Wathan dan NTB semata, TGB merupakan milik Indonesia.

“Ini catatan-catatan yang menunjukkan kiprah dakwah dari TGB,” katanya.

Sudah sepatutnya, sambung guru besar UIN Mataram ini, sebanyak mungkin disebarkan kepada masyarakat luas mengenai Dakwah Nusantara TGB.

“Ada Pak Irzani ini, kalau hizib dicetak 10 ribu dan disebarkan. Buku ini juga begitu Pak Irzani disebarkan sebanyak mungkin,” kelakarnya.

Penyampaian dari Prof Masnun ini diaminkan oleh Dr Falahuddin, setelah buku ini diluncurkan dari Muhammadiyah bersedia untuk membedahnya.

“Ini akan kita sampaikan ke pengurus pusat,” ucapnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur NTB Dr Hj Sitti Rohmi Djalilah berharap lahirnya buku itu dapat memberikan inspirasi bukan hanya bagi masyarakat NTB saja, tetapi juga Indonesia dan dunia. Buku ini dihajatkan agar masyarakat bisa mengambil isi dari dakwah TGB tidak hanya hadir pada saat beliau dakwah, tetapi seluruh masyarakat juga bisa membaca buku ini dan juga dari generasi ke generasi.

“Insya Allah akan memberikan manfaat yang jauh lebih besar,” tuturnya.

Di penghujung acara, TGB HM Zainul Majdi memberikan kata sambutan sekaligus meluncurkan buku, TGB memulai dari kisah dimulainya Dakwah Nusantara. Saat undangan berdatangan, ia masih menjadi Gubernur NTB. Saat itu, belum terpikir memenuhi undangan.

“Sampai Ummi saya menyampaikan, penuhi saja. Dan ternyata benar, seandainya saat itu tidak saya mulai. Berturut-turut ada gempa dan pandemi Covid, kalau saat itu tidak dimulai, tentu belum bisa berkeliling Nusantara sampai saat ini,” katanya.

Dengan berkeliling saat Dakwah Nusantara, TGB merasakan keragaman di Indonesia, berjumpa banyak tokoh yang jauh dari publikasi namun setia menjaga warga. Potensi-potensi besar Indonesia begitu luar biasa ketika melihat di semua sudut.

“Tentu saja ini bukan karena saya sendiri. Ada sahabat-sahabat saya yang menemani, inilah kolaborasi. Tanpa sahabat-sahabat saya tentu Dakwah Nusantara tidak terjadi,” sambungnya.

Gubernur NTB periode 2008-2018 sekaligus ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) cabang Indonesia ini melanjutkan, dengan berkeliling Indonesia, ia membuktikan Islam datang tidak di ruang hampa. Islam datang ke tempat yang sudah mapan budaya lokal bahkan umur peradabannya jauh lebih tua.  Islam jadi pendatang dan  tugasnya adalah menyirami kebaikan yang sudah tumbuh.

“Seperti inilah Islam ajaran nabi kita, selalu mengapresiasi kebaikan,” tandasnya.

“Bismillahirrahmanirrahim, saya luncurkan Buku Dakwah Nusantara Tuan Guru Bajang-Islam Wasathiyah seri pertama,” tambahnya.

Sementara itu, Penulis Buku Dakwah Nusantara, Febrian Putra mengatakan, buku ini bagian dari cara menjaga dakwah TGB HM Zainul Majdi. Ia yang kerap membersamai TGB menilai masyarakat luas perlu mengetahui detail perjalanan dakwah ulama lulusan Al Azhar, Mesir ini.

“Beliau guru dan panutan bagi saya. Sudah sepatutnya cita-cita besar beliau dirawat oleh segenap murid-muridnya. Semoga Allah terus jaga beliau,” katanya. (WST/YNF)

TGB Ajak Masyarakat Tetap Optimis

Wasathiyyah.com, Mataram — Setelah beberapa kali Shalat Jumat tidak digelar, akhirnya Masjid Hubbul Wathan Islamic Center menggelar Salat Jumat, kemarin 5 Juni 2020. Masjid kebanggaan warga NTB tersebut sempat ditutup karena merebaknya Virus Corona-19.

Shalat Jumat digelar setelah lebih dari dua bulan masjid ini ditutup. Ibadah berjalan dengan protokol Covid-19. Jamaah yang datang ke masjid harus melalui pemeriksaan suhu tubuh. Jamaah harus cuci tangan dan menggunakan hand sanitizer.

Di dalam masjid sendiri, shaf diatur dengan detil. Berjarak satu meter. Sebagai penanda antar individu ada lembaran pembatas putih.

 

Khutbah perdana ini diisi oleh Ketua Umum Tanfidzyah Nahdlatul Wathan (NW) TGB. M Zainul Majdi.

“Shalat Jumat kita vakum karena ada kedaruratan,” katanya di awal khutbah.

Kesyukuran oleh para jamaah, lanjut TGB, harus tetap diiringi dengan kewaspadaan. Saat ini masih berada masih pada situasi yang belum normal.

“Ada beberapa hal yang al khatib ingin sampaikan,” sambung Ketua Organisasi Internasional Alumni Al Azhar (OIAA) cabang Indonesia ini.

Pertama, hubungan dengan Allah, wahuwa khaliqul mudabbir. Allah Sang Pencipta dan Pemelihara. Keselamatan, keafiatan, kesembuhan, dan perlindungan berasal dari Allah. Semua perkara di dunia kembali kepada Allah.

“Maka dalam situasi yang tidak biasa ini, al khatib mengajak menambah doa-doa kita. Mari kita bermunajat, berdoa dengan penuh keikhlasan,” urainya.

“Berdoa untuk keselamatan diri, seluruh umat Islam, dan seluruh bangsa kita,” sambungnya.

Lebih lanjut, Rasulullah Muhammad SAW bersabda, man aslakha ma bainahu wa bainallah, aslakhallah ma bainahu wa bainannas. Siapa saja yang terus memperbaiki hubungannya dengan Allah dengan jalan melaksanakan tuntunan agama dengan ikhlas, sebaik-baiknya, semaksimal kemampuan. Maka Allah akan memperbaiki kehidupannya.

Setelah vakum beberapa waktu akibat Virus Korona. Jumat 5 Juni 2020 Masjid Hubbul Wathan Islamic Center Mataram kembali menggelar Shalat Jumat.

“Kedua, al khatib mengajak untuk terus mengokohkan optimisme,” urainya.

Allah di dalam Alquran, kata TGB, berbicara orang beriman dengan optimisme yang penuh. Dalam Surat Fath, Allah menyampaikan sifat orang beriman diantaranya ialah yabtaghuna fadlam minallah. Selalu berharap yang baik. Berharap ada karunia Allah.

“Jika saat ini ada pandemi. Kita yakin pasti ada akhirnya. Dan orang yang sampai pada akhir dalam keadaan sehat wal afiat adalah orang yang sanggup menjaga optimisme dalam dirinya,” kata TGB.

Allah sampaikan sebagai pengingat, sayaj’alullahu bakda usri yusro, Allah akan menjadikan kemudahan setelah kesulitan. Dalam firmannya Allah menyampaikan.

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

Wa lanabluwannakum bisyai`im minal-khaufi wal-jụ’i wa naqṣim minal-amwāli wal-anfusi waṡ-ṡamarāt, wa basysyiriṣ-ṣābirīn. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Al Baqarah Ayat 155. Ayat ini bukan hanya berbicara rentetan musibah, ayat ini menjadi petunjuk untuk selalu bersifat optimis.

Ayat ini diawali dengan sungguh manusia itu akan diuji dengan rasa takut, rasa lapar, atau berkurangnya rizki. Bahkan hingga kematian. Seperti yang dirasakan saat ini.

“Ada saudara yang wafat karena wabah. Tapi, perhatikan bagaimana Allah menutup ayat ini wabassirishobirin. Diawali dengan ibtilak, ada cobaan dan ada masalah dalam kehidupan. Diakhir ayat ditegaskan dengan kabar gembira bagi mereka yang sabar,” jelasnya.

TGB mengajak memelihara optimisme. Menebarkan kabar baik. Saling mendoakan. Mengurangi mengkonsumsi berita yang membuat gundah. Para ulama menyampaikan, saat musibah seorang mukmin itu hendaknya mendahulukan sifat Roja’, sifat pengharapan. Penuh optimisme. Sebaliknya ketika mendapat nikmat, maka harus mendahulukan sikap Khouf. Harus waspada dan hati-hati. Muhasabah diri.

“Ini menjadi rem supaya kita mengontrol diri,” ucap TGB.

Ketiga, dalam keadaan seperti ini, TGB mengajak mengamalkan hadis rasul, orang beriman terikat dengan aturan yang disepakati. Dalam kehidupan sosial ada panduan pemerintah itu harus dijalankan. Kecuali menghalalkan yang haram, atau mengharamkan yang halal. Selama panduan itu untuk keselamatan dan kebaikan, wajib ditaati.

“Jangan dimaknakan memakai masker ketika keluar rumah sekadar menunaikan kewajiban. Ada makna ibadah di dalamnya menjalankan protokol kesehatan,” urainya.

“Ketika anda mengabaikan protokol kesehatan, maka anda akan memudharatkan orang lain,” sambungnya.(WST/YNF/Febri)

Catatan TGB dalam Kebab Azhary, Bersinergi di Era New Normal

Wasathiyyah.com, Zoom Meeting–Alumni Universitas Al-Azhar Mesir yang tergabung di Organisasi International Alumni Al-Azhar (OIAA) cabang Indonesia, hari ini (Ahad, 31/5) menggelar acara KEBAB (KEtemu AhBAB) AZHARY dalam rangka Halal bi Halal Idul Fitri 1441 H. Di puncak acara online yang dihadiri oleh M Quraish Shihab dan Gusmus serta lebih dari 500 partisipan ini, ketua umum OIAA cabang Indonesia, TGB Dr. M. Zainul Majdi, menyampaikan 4 catatan.

Doktor Tafsir alumnus Universitas Al-Azhar Cairo itu mengungkapkan bahwa berorganisasi dalam situasi sudah memiliki peran dan kiprah di lingkungan masing-masing, terkadang muncul egoisme (ananiyah), merasa lebih dari yang lainnya. Di sinilah perlu kesiapan untuk menerima orang lain.

“Yang pertama, saya memberikan catatan, bahwa kita ini, ber-OIAA di Indonesia ini, dalam keadaan kita sudah jadi semua. Ada perbedaan jam’iyyah, perbedaan kiprah, dan perbedaan profesi. Susah sekali memang, menyatukan orang-orang pintar. Tapi ini tantangan tersendiri bagi kita semua,” ungkap mantan Gubernur NTB dua periode itu.

Penerima penghargaan dari Grand Syaikh Al-Azhar Prof Dr. Ahmed El Tayeb ini menyampaikan catatan keduanya. Wasathiyyat al-Islam, kata TGB, sudah didefinitifkan oleh Al-Azhar. Misalnya, dalam bidang aqidah, menerima aqidah Asy’ariyah dan Maturidiyah. Manakala terjadi deviasi-deviasi dalam keyakinan ini, selama tidak terlalu jauh, maka harus saling berlapang dada dan siap menerima perbedaan.

“Deviasi-deviasi lima atau sepuluh persen dari keyakinan kita, masih bisa kita tolerir. Kita saling melapangkan hati, untuk bekerja dalam hal-hal yang kita sepakati bersama,” kata Ketua Umum Dewan Tanfidziyah PBNW itu.

Selanjutnya, catatan ketiga, TGB menegaskan tentang sinergi antar alumni Al-Azhar. Semangat saling membantu dan saling memberi ruang, harus ditumbuhkan oleh seluruh alumni di Indonesia.

“Sedapat mungkin, antar alumni saling menyayangi, saling menjaga, saling membantu, dan saling memfasilitasi, sehingga bisa maju secara bersama-sama,” ungkap suami Erica L Panjaitan itu.

Dalam bersinergi ini, TGB mengucapkan terima kasih kepada seluruh alumni yang selama ini membantunya dalam menjalankan roda organisasi. Tanpa sokongan dari semua alumni, menurutnya, akan sulit untuk melakukan perkhidmahan.

Terakhir, TGB menyinggung The New Normal. Menurutnya, The New Normal tidak sesederhana tulisan-tulisan atau flyer-flyer di media sosial. Perubahan pasca Covid-19 ini memiliki implikasi sangat luas dalam kehidupan, termasuk dalam ranah keagamaan. Oleh sebab itu, TGB mengajak seluruh Azhary lebih khusus dan serius lagi berkontribusi, baik dalam bentuk pemikiran maupun program untuk masyarakat, negara dan bangsa.

“Saya juga melihat jauh ke depan, bahwa proses perubahan luar biasa, kita beri nama The New Normal, perlu kita pikir secara serius. Kita harus berkotribusi, baik secara pemikiran maupun program,” pungkas cucu Pahlawan Nasional TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid itu. (WST/YNF)

Arahan TGB, Azhary Tetap Berkontribusi

Wasathiyyah.com–Wabah Covid-19 membuat penduduk bumi berdiam diri di rumah masing-masing. Tak terkecuali, para alumni Al-Azhar Mesir. Selama hampir 2 bulan melakukan at home dan social distancing, membuat para Azhary saling merindukan. Inilah alasan diselenggarakan acara Silaturahim tadi malam (Rabu, 29/4) di Zoom Meeting.

Silaturahim virtual Azhary yang dimoderatori oleh Mohamad Maher Soleh itu, bukan hanya mengobati rasa rindu, melainkan juga sarana untuk saling berbagi ilmu, pengalaman, informasi, ide, dan terutama untuk saling menguatkan antar sesama alumni Al-Azhar.

Dalam acara silaturahim tersebut, ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) cabang Indonesia, Tuan Guru Bajang (TGB), Dr. M. Zainul Majdi mengatakan bahwa melalui kemajuan bidang IT, para alumni Azhar dapat mendiskusikan banyak hal, terutama dalam membina umat.

“Alhamdulillah, malam ini, kita tidak hanya bertukar huruf-huruf sebagaimana di group WA, tapi bisa juga saling bertatap wajah,” kata TGB dari Nusa Tenggara Barat (NTB).

Lebih lanjut, mantan Gubernur NTB dua periode itu, menegaskan bahwa Azhary memiliki kepentingan dan keperluan untuk membangun dan membantu sesama secara ril. Azhary harus tetap berkontribusi, baik dalam keadaan suka maupun duka. Bantuan itu tidak hanya berbentuk uang atau sembako, tetapi bisa juga dalam bentuk dakwah yang menenangkan masyarakat dan berdoa secara tulus agar wabah Covid-19 segera berlalu.

“Kita harus tetap berkontribusi, baik dalam keadaan senang maupun susah. Kita bisa membantu dengan harta kita. Dengan ilmu kita. Banyak tulisan-tulisan professor, doktor dan para ahli, yang merefleksikan kelas menengah ke atas. Nah, kita sebagai Azhary, perlu lebih banyak lagi, tulisan atau wejangan yang menyentuh masyarakat. Hal ini tidak terlambat. Kita lakukan secara bersama-sama,” ujar TGB.

TGB juga menyinggung tentang Hari Al-Azhar 1080 dan insya Allah akan dilakukan Webinar. Dalam pertemuan kedua memperingati Hari Al Azhar tersebut, TGB mengharapkan kepada Azhary untuk menggunakan pakaian bagian atas rapi dan memakai penutup kepala. Tidak pakai kaus. Bahkan lebih bagus lagi, memakai jubah Al-Azhar dan mendokumentasikannya secara baik dan dserahkan kepada serahkan ke Al-Azhar di Cairo.

“Kita sepakat Sabtu Malam ketemu lagi ya. Hari Al-Azhar ke 1080.
Pakaian bagian atas rapi ya. Pakai penutup kepala, tidak pakai kaus. Takriman.” Pesan TGB.

Terkait Hari Al Azhar pada Sabtu Malam (2/5) itu, sekretaris jenderal OIAA cabang Indonesia, Dr. Muchlis Hanafi, mengamini usulan TGB dan akan mempersiapkan semaksimal mungkin.

Muchlis menceritakan bahwa beliau telah berkomunikasi dengan OIAA Pusat di Mesir dan Grand Syeikh Al Azhar memberikan arahan kepada alumni Azhar untuk memanfaatkan IT dalam berdakwah, diantaranya melakukan Daurah Duat secara online. Ada dua negara diminta menyelenggarakan Daurah Duat Berbasis Digital/Pelatihan itu, dengan nara sumber dari Cairo diantaranya Mufti Mesir. Indonesia diminta sebagai angkatan percontohan. Harapannya 10 Mei 2020 sudah dimulai.

“Saya sudah berkomunikasi dengan rabithah pusat, agar di masa wabah Covid-19 ini, kita menggunakan IT sebagai sarana kita dakwah, insya Allah kita akan adakan Daurah Duat secara online,” kata Muchlis di hadapan puluhan participants Zoom Meeting. (WST/YNF)

TGB: Ngaji Kitab dan Pengajian Umum Sama Pentingnya

Wasathiyyah.com, Lombok – Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) cabang Indonesia TGB Dr. Zainul Majdi MA., ikut menanggapi “curhat Gus Baha”. Menurut beliau, kedua pendekatan sama pentingnya. Keduanya saling melengkapi, bukan menafikan.

Tanggal 23 Januari 2020 lalu, transkrip cerama berjudul “Curhat Gus Baha’: Kembalilah Ke Tradisi Ulama, Indonesia Itu Sekarang Jadi Kiblat.” Tulisan ini melanglang-buana di medsos. Tentu saja pro-kotra, termasuk di group WA beranggotakan alumni Al-Azhar Mesir.

“Menurut saya, kedua pendekatan sama pentingnya. Ngaji kitab ala Gus Baha penting. Pengajian umum juga perlu.” Kata TGB saat merespon postingan Editorial Portal Wasathiyyah berjudul “Bukan Hanya Kegelisahan Gus Baha.”

Lebih lanjut, doktor tafsir alumnus Universitas Al-Azhar Cairo itu menegaskan bahwa objek atau peserta Ngaji Kitab dan Pengajian Umum memang berbeda. Yang pertama khusus para ulama mematang ilmu, sedangkan yang kedua untuk masyarakat umum. Ngaji kitab juga boleh untuk masyarakat umum dengan kadar yang disesuaikan.

“Ngaji kitab itu wajib. Di majelis khusus para ulama untuk mematangkan ilmu, saling mengisi dan merawat sanad. Ngaji kitab juga untuk masyarakat umum dengan kadar yg disesuaikan. Pengajian umum tidak kalah pentingnya, karena banyak umat yang tidak terbiasa mengaji kitab. Yang terpenting menurut saya adalah substansi. Dalam pengajian kitab, substansi kekinian bisa diselipkan. Dalam pengajian umum, nalar kitab bisa diuraikan. Kedua pendekatan saling melengkapi, bukan menafikan.” Tegas mantan Gubernur NTB dua periode yang tidak pernah meninggalkan dakwah keliling di sela-sela kesibukannya.

TGB pun menceritakan tentang kakek beliau, Tuan Guru Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Keliling dari kampung ke kampung dari pagi hingga petang memberi pengajian umum. Setiap Jumat Maulana Syekh, kata TGB, mengajar Ihya di Al-Abror untuk santri dan masyarakat. Setiap Ahad pagi mengajar Bukhari untuk Thullab Ma’had. Bahkan sampai akhir 70-an, Beliau mengajar Al-Futuhaatul Makkiyyah untuk para masyayikh. Tertutup. Di loteng Mu’allimin.

“Saya ingat, Beliau mengajar untuk mengucapkan salam yang benar sampai tiga tahun lamanya. Padahal kealiman Beliau luar biasa. Beliau satu-satunya lulusan Madrasah Shaulatiyyab yang ijazahnya ditulis tangan dan diberi bintang karena semua pelajaran mendapat nilai terbaik.” Cerita TGB.

Syekh Salim Ramatullah, lanjut, TGB mengatakan,

ما يلزم ان يكون للصولتية طلاب كثير يكفي واحد و لكن مثل زين الدين

Syekh Sayyid Amin Al-Kutbi menulis syair memuji Beliau :

لله زين الدين في فضله #في مجده السامي و في نبله له يد بيضاء دلت على #جوهرة المكنون في أصله

له تآليف كزهر الربا#قد ضمت الشكل إلى شكله

في ساحة العلم له معهد#لا يبرح الطلاب في ظله

Dan seterusnya.

Di akhir ceritanya, TGB menulis, “Menurut saya, ketika para masyayikh yang alim membuka pengajian umum, itu semacam

نزول الى مراتب الأمة تلبية لرغبتهم و شفقة لهم

رحمه الله و رحم علماءنا رحمة واسعة

Komentar TGB itu mendapatkan sambutan baik dari sahabat-sahabat TGB, para alumni Universitas Al-Azhar lintas generasi. (WST/YNF)

Gus Sholah di Mata TGB

Wasathiyyah.com, Lombok – Wafatnya tokoh bangsa Dr. (HC). Ir. KH. Salahudin Wahid membuat banyak berduka, termasuk Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) cabang Indonesia TGB Dr. M. Zainul Majdi, MA. Bagaimana pandangan TGB terhadap Gus Sholah?

“Kita berduka. Semalam, seorang tokoh bangsa Dr. (HC). Ir. KH. Salahudin Wahid, Gus Sholah, wafat. Setelah menjalani kehidupan yang penuh berkah. Beliau adalah seorang negarawan, intelektual dan pejuang kemanusiaan. Kita sungguh kehilangan.” Tulis TGB tadi pagi (Senin, 3/2) di Instagramnya.

TGB menceritakan pengalamannya saat bersilaturahim secara khusus kepada Gus Sholah di Pondok Pesantren  Tebuireng Jombang Jawa Timur.

“Beberapa waktu lalu, saya silaturahim. Saya mendapati Gus Sholah, sosok bersehaja. Kecerdasan beliau dihiasi dengan kerendahan hati.” Kisah TGB.

Selanjutnya TGB menyampaikan kesan beliau terhadap Gus Sholah. Menurut TGB, cucu Hadlrastus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari itu, memiliki karakter seorang pemimpin baik, yaitu mau mendengarkan lawan bicara, meskipun lebih muda, lebih sedikit ilmu dan lebih sedikit pengalaman.

“Telinganya lebar. Penanda kecerdasan dan kemauan mendengar. Selalu tersenyum dan tenang menyimak lawan bicaranya yang lebih muda, lebih sedikit ilmu dan lebih sedikit pengalaman seperti saya. Karakter seorang pemimpin yang baik.” Tulis TGB. (WST/YNF/TGB)

 

 

 

 

TGB: Madrasah Muallimin Yogya Tetap Eksis, Sebab keikhlasan Pendirinya

Wasathiyyah.com, Jogyakarta–Ketua Organisasi Internasional Alumni Al Azhar (OIAA) cabang Indonesia TGB Dr. M Zainul Majdi mengisi acara Tabligh Akbar Milad Sinar Kaum Muhammadiyah ke-95 yang digelar oleh Madrasah Muallimin Yogyakarta, Sabtu malam (1/2).

Acara yang digagas oleh santri Madrasah Muallimin dan dihadiri ribuan orang, baik santri ataupun warga sekitar ini, disambut langsung oleh Mudir Madrasah Muallimin Muhammadiyah Ustad H Aly Aulia.

Dalam sambutannya, Ustad Aly Aulia mengatakan, Madrasah Muallimin Muhammadiyah sebagai institusi pendidikan tingkat menengah yang unggul dalam pencetak kader pemimpin  kader ulama, dan ulama untuk gerak perserikatan.

“Kader pendidik, pemimpin, dan ulama ada pada tuan guru. Bagaimana kita bisa melihat sosok pemimpin yang ulama, ulama yang pemimpin,” katanya. Lalu beliau lanjutkan, “Bahkan beliau seorang terdidik yang mau mendidik, Alhamdulillah kami civitas Muhammadiyah menyambut baik.”

Dalam Tabligh Akbar, TGB `M Zainul Majdi menguraikan beberapa hal. Madrasah Muallimin Muhammadiyah dari foto para mudirnya,  foto pertama adalah Almaghfurlah KH Ahmad Dahlan, pendiri perserikatan.

“Beliau meniatkan tempat ini untuk mendidik para kader terhebat dari perserikatan. Saya bersyukur bisa bersilaturahim,”  kata mantan Gubernur NTB dua periode itu.

 

Ketua Umum Tanfidziyah Nahdlatul Wathan itu mengungkapkan bahwa tidak banyak sekolah menengah yang usianya lebih dari satu abad, terlebih sekolah itu bukan dari pemerintah.

“Maka adik-adik, saya berharap di dada kalian tidak ada ucapan lain selain syukur kepada Allah. Apa yang diniatkan karena Allah, maka Allah akan menjaganya,” sambungnya.

Di saat banyak sekolah kesulitan murid, sambung TGB, Madrasah Muallimin kelebihan murid. Setiap tahun 800 siswa ingin masuk di madrasah ini. Namun, hanya setengahnya bisa diterima.

“Maka di depan saya ini putra-putra pilihan,” katanya.

Cucu Pahlawan Nasional TGKH M Zainuddin Abdul Madjid ini kepada para santri mengatakan, bila ingin dihargai, maka seseorang harus terlebih dahulu menghargai dirinya sendiri. Para pelajar Madrasah Muallimin harus menggunakan kesehariannya untuk hal bermanfaat.

“Sehingga adik-adik bisa menyinari seluruh dunia, bukan daerah atau negaranya saja,” ucapnya.

Kiai Ahmad Dahlan, kata TGB, membuktikan keikhlasan dalam mendirikan madrasah. Disaat banyak madrasah sudah tutup, justru Madrasah Muallimin bersiap membangun kampus baru. Itu bukan hanya karena sumber daya untuk membangun, ini juga karena keikhlasan pendiri madrasah.

“Orang yang ikhlas itu mau dipuji atau dihina sama saja. Kalian bisa uji dengan diri kalian, ketika belajar karena ingin dipuji tandanya belum ikhlas,” tandasnya. (WST/YNF/FP)