Setelah Kematian Al Baghdadi, Apa Selanjutnya?

Setelah invasi Amerika Serikat ke Irak pada 2003, teroris Al-Qaeda mulai runtuh dan lenyap. Dua tahun kemudian, ISI (Islam State in Iraq) lahir dari ideologi ekstremis Al-Qaeda. Dipimpin oleh Abu Ayyub al Masri hingga 2006, kelompok itu beralih di bawah kepemimpinan Abu Bakar Al-Baghdadi sejak saat itu. Namun, kelompok ini masih belum aktif sampai saat meletusnya Arab Spring di mana ia mengambil kesempatan untuk menyerang Suriah. Sejak saat itu, kelompok teroris ini dikenal sebagai ISIS. Pada 2013, ISIS mengumumkan pendirian Khilafah yang diklaimnya, dengan demikian mengubah namanya menjadi ISIL (Islamic State Iraq and Levant) atau NIIS (Negara Islam Irak dan Syam)

Kelompok teroris ini kemudian mulai melakukan beberapa kekejaman paling kejam terhadap kemanusiaan, termasuk membunuh, membantai, dan membakar orang hidup-hidup, dan lain sebagainya, dengan tujuan menyampaikan pesan kepada seluruh dunia bahwa “ISIS adalah kelompok yang tidak memiliki belas kasihan”. Insiden pilot Yordania, Muath al-Kaseasbeh, yang dibakar hidup-hidup oleh kelompok teroris ini di depan kamera, merupakan contoh kasusnya.

Teror semacam itu memprovokasi seluruh dunia untuk mengambil langkah bersama melawan kelompok teroris haus darah itu. Dengan dukungan AS, koalisi internasional dibentuk untuk melawannya. Berbagai serangan udara dan serangan darat terhadap ISIS dan para pejuangnya berhasil melemahkan dan merusak fondasi militernya, sehingga pasukan koalisi dengan demikian mendapatkan kembali kendali atas tanah-tanah yang sebelumnya direbut oleh kelompok teroris itu. Sampai kemudian pada akhir 2018, Presiden AS Donald Trump mengumumkan kekalahan ISIS.

Setelah merayakan kekalahan teroris ISIS, banyak yang mempertanyakan nasib pemimpin kelompok Al-Baghdadi, yang tampaknya absen dari peristiwa yang sedang berlangsung. Al-Baghdadi kemudian tiba-tiba muncul dengan cara yang sangat tidak disukai setelah serangan teroris terhadap gereja di Sri Lanka. Melalui serangan itu  dia ingin memberi tahu dunia bahwa ISIS masih ada dan terus merekrut pejuang baru. Dan juga untuk mengkonfirmasi kepada dunia bahwa dia masih hidup dan bertanggungjawab meski ada berbagai klaim tentang kematiannya. Penampilan visual dirinya juga bertujuan untuk menggalang dan meminta afiliasi-afiliasinya di seluruh dunia untuk melancarkan serangan dan melanjutkan perjuangan demi Ad Daulah yang mereka klaim.

Banyak ahli bertanya-tanya apakah kekalahan teritorial ISIS berarti bahwa kelompok itu telah berakhir selamanya, atau akankah itu hanya masa pemulihan bagi para pejuang yang tersebar untuk berkumpul kembali, mengatur kembali strategi dan memulihkan kembali kekuatan mereka. Dengan semua pertanyaan yang sedang berlangsung tentang masa depan para pejuang ISIS, istri dan anak-anak mereka, presiden AS Trump membuat pidato ucapan selamat kepada dunia bahwa Al-Baghdadi benar-benar telah terbunuh. Akhirnya, dunia telah menyingkirkan satu dari penjahat paling berdarah yang pernah ada. Ini memang berita ucapan selamat; namun sejauh mana dunia akan gembira dan lega? Membunuh Al-Baghdadi sama sekali tidak berarti bahwa ideologi ekstremis ISIS juga telah berakhir dengan sendirinya, juga tidak berarti bahwa pejuang ISIS, baik pria dan wanita, akan meninggalkan ideologi ekstremis mereka atau tidak akan mencoba merencanakan untuk meluncurkan serangan baru.

Sebaliknya, kematian Al-Baghdadi bisa saja ternyata membangkitkan antusiasme para pejuang ISIS untuk melancarkan lebih banyak dan lebih banyak lagi serangan paling mematikan dan paling berdarah. Itulah sebabnya mengapa seluruh dunia harus siap menghadapi kemungkinan serangan yang tentu tidak diharapkan itu. Lembaga-lembaga yang memiliki perhatian terhadap pemikiran dan ideologi ekstremis sangat perlu menyusun rencana untuk membantu mereka yang akan meninggalkan kelompok teroris setelah kematian pemimpinnya, supaya mereka tidak menghimpun kekuatan atau membentuk kelompok teroris lainnya. (WST/RS/azhareg/observer)

Kacaunya Timbangan Prioritas pada Umat

Apabila kita memperhatikan kehidupan kita dari berbagai sisinya –baik dari segi material maupun spiritual, dari segi pemikiran, sosial, ekonomi, politik ataupun yang lainnya– maka kita akan menemukan bahwa timbangan prioritas pada umat sudah tidak seimbang lagi.

Kita dapat menemukan di setiap negara Arab dan Islam berbagai perbedaan yang sangat dahsyat, yaitu perkara-perkara yang berkenaan dengan dunia seni dan hiburan senantiasa diprioritaskan dan didahulukan atas persoalan yang menyangkut ilmu pengetahuan dan pendidikan. Dalam aktivitas pemudanya kita menemukan bahwa perhatian terhadap olahraga lebih diutamakan atas olah akal pikiran, sehingga makna pembinaan remaja itu lebih berat kepada pembinaan sisi jasmaniah mereka dan bukan pada sisi yang lainnya. Lalu, apakah manusia itu hanya badan saja, akal pikiran saja, ataukah jiwa saja?

Mungkin di antara kita ada yang mengenal kasidah Abu al-Fath al-Bisti yang sangat terkenal. Yaitu puisi (qashidah) berikut ini:
“Wahai orang yang menjadi budak badan, sampai kapan engkau hendak mempersembahian perkhidmatan kepadanya. Apakah engkau hendak memperoleh keuntungan dari sesuatu yang mengandung kerugian? Berkhidmatlah pula kepada jiwa, dan carilah berbagai keutamaan padanya, Karena engkau dianggap sebagai manusia itu dengan jiwa dan bukan dengan badan”

Zuhair ibn Abi Salma dalam Mu’allaqat-nya mengatakan:
“Lidah seorang pemuda itu setengah harga dirinya, dan setengah lagi adalah hatinya. Jika keduanya tidak ada pada dirinya, maka dia tiada lain hanya segumpal daging dan darah.”

Akan tetapi, kita sekarang ini menyaksikan bahwa manusia dianggap sebagai manusia dengan badan dan otot-ototnya, sebelum menimbang segala sesuatunya. Sebagian dari kita, terkadang perhatiannya terhadap perbincangan di seputar kontrak bursa jual-beli bintang sepak bola. Harga pemain semakin meninggi bila ada tawar-menawar antara beberapa klub sepak bola hingga mencapai jutaan dollar.

Jarang sekali mereka yang mengikuti perkembangan dunia olahraga yang bermanfaat bagi manusia dalam kehidupan sehari-hari. Mereka hanya menumpukan perhatian terhadap pertandingan olahraga, khususnya sepak bola yang hanya dimainkan beberapa orang, sedangkan yang lainnya hanya menjadi penonton. Hingga pada akhirnya, bintang masyarakat, dan nama mereka yang paling cemerlang bukanlah ulama atau ilmuwan, bukan pemikir atau juru da’wah; akan tetapi mereka adalah apa yang kita sebut sekarang dengan para aktor dan aktris, pemain sepak bola, dan sebagainya.

Surat kabar dan majalah, televisi dan radio, hanya memperbincangkan kehidupan (gosip), tingkah laku, popularitas, petualangan, dan berita di sekitar mereka, walaupun tidak berharga. Sedangkan orang-orang selain mereka tidak pernah diliput, dan bahkan hampir dikesampingkan atau dilupakan. Apabila ada seorang seniman yang meninggal dunia, seluruh dunia gempar karena kematiannya, dan semua surat kabar berbicara tentang kematiannya. Namun apabila ada seorang ulama, ilmuwan, atau seorang profesor yang meninggal dunia, seakan-akan tidak ada seorang pun yang membicarakannya.

Kalau dilihat dari segi material, perhatian mereka kepada dunia olahraga dan seni memakan biaya yang sangat tinggi; yaitu untuk membiayai publikasi, sarana, dan kebutuhan lainnya. Mengapa semua itu bisa terjadi? Padahal tidak jarang pertandingan sepak bola mengakibatkan permusuhan, perusakan, dan kerusuhan hingga memakan korban.

Sementara itu, pada saat yang sama, lapangan dunia pendidikan, kesehatan, agama, dan perkhidmatan umum, sangat sedikit mendapat dukungan dana; dengan alasan tidak mampu atau untuk melakukan penghematan, terutama apabila ada sebagian orang yang meminta kepada mereka sumbangan untuk melakukan peningkatan sumber daya manusia dalam rangka menghadapi perkembangan zaman.

Persoalannya adalah seperti yang dikatakan orang: “Penghematan di satu sisi, tetapi di sisi lain terjadi pemborosan”; sebagaimana yang pernah dikatakan Ibn al-Muqaffa,: “Aku tidak melihat suatu pemborosan terjadi kecuali di sampingnya ada hak yang dirampas oleh orang yang melakukan pemborosan itu.” Atau melalui istilah yang populer disebut zero sum game.

Kesimpulan:
Kesalahan berpikir atau logical fallacy dalam perkembangan umat manusia semakin kuat menjadi sebuah nilai kebenaran. Praktik kehidupan sehari-hari lebih menekankan kemenangan daripada kebenaran. Kemenangan untuk mendapatkan sesuatu yang dilandasi oleh kompetensi yang salah tanpa memperhatikan keseimbangan lahir dan bathin, lingkungan dan masyarakat, serta dunia dan akhirat. Oleh karena itu, sangat diperlukannya pemahaman prioritas dalam kehidupan umat manusia untuk keberlangsungan bersama secara seimbang. Mana yang harus didahulukan, dan mana yang harus diakhirkan. Kami tidak menyalahkan nilai-niali dari olahraga dan bisnis. Hanya prioritas yang kami tinjau sebagai bagian dari proses pengembangan sumber daya manusia secara tepat dan benar.
Wallahu ‘alamu bishowab.

*Artikel ini disunting dan diadaptasi dari Kebutuhan Umat Kita Sekarang akan Fikih Prioritas, Bab I.B. Fikih Prioritas, Dr. Yusuf Al Qardhawy. Robbani Press, Jakarta, Cetakan pertama, Rajab 1416 H/Desember 1996 M.