El Moutawakel, Wanita Muslim Juara Olimpiade Penakluk Dogma

Wasathiyyah.com, Jakarta — Wanita arab dikenal dunia luar sebagai pribadi yang tertutup dan tak akan tampil unjuk gigi di muka umum, terlebih di ajang Olimpiade. Nawal El Moutawakel mematahkan dogma tersebut sekaligus menjawabnya dengan medali emas.

Tampil di final lari gawang 400 meter, El Moutawakel terlihat rileks dan terus melakukan pemanasan kecil di titik start sambil menunggu pertandingan dimulai.

El Moutawakel berdiri di line ketiga. Dalam perlombaan tersebut, El Moutawakel tampil meyakinkan dan akhirnya jadi pelari pertama yang masuk garis finis dengan catatan waktu 54,62 detik.

Sebelum garis finis, ia sudah merentangkan tangannya dan ia langsung mendapatkan pelukan hangat dari para pesaing ketika ia dipastikan tampil sebagai pemenang.

Catatan waktu tersebut bukan hanya sekadar mengantarnya meraih medali emas melainkan juga membuatnya memecahkan rekor Olimpiade.

El Moutawakel mengambil bendera Maroko dan setelah itu ia makin tak kuasa menahan air mata jatuh dari pipinya.

El Moutawakel adalah sosok fenomenal di Olimpiade 1984 yang berlangsung di Los Angeles. Dia jadi sosok wanita jazirah Arab pertama yang tampil di Olimpiade.

Kehadiran El Moutawakel sendiri sudah merupakan sebuah sensasi karena selama ini belum ada perwakilan wanita Arab yang tampil di multi event tertinggi di dunia tersebut.

Kemenangan El Moutawakel disambut dengan decak kagum, bukan hanya karena kecepatan lari yang ia tunjukkan, melainkan karena seolah-olah Maroko berasal dari negara antah-berantah dan wanita muslim berada dalam dogma tidak diperbolehkan ikut kompetisi.

“Dari Maroko ke arab Saudi, budaya kami sama. Kami semua Arab. Islam adalah agama dan kami adalah muslim Arab. Mungkin reporter saat itu tidak terbiasa melihat wanita berkompetisi di level tinggi.”

“Setelah saya menang medali emas, saya tak siap untuk tampil di konferensi pers. Saya terkejut dengan sejumlah pertanyaan semisal, ‘Apakah kamu yakin negaramu menonton dari TV? Bagi mereka Maroko mungkin seperti terdiri dari gurun dan unta. Ya tentu saja saat itu kami punya TV, dan bukan hanya sekadar punya unta. Ingat, saat itu google belum ada,” kata El Moutawakel dalam wawancara dengan Womens Running.

El Moutawakel lahir dari keluarga yang menyukai olahraga. Ia selalu didukung oleh ayahnya yang seorang pejudo dan ibunya yang merupakan guru olahraga.

“Keluarga kami memiliki lima orang anak dan semua menekuni olahraga atletik. Saya ada di lingkungan yang sangat mendukung dan tidak pernah mendapatkan penolakan,” ujar El Moutawakel.

Salah satu hal yang menyedihkan dari kisah El Moutawakel adalah sang ayah tidak bisa menyaksikan kemenangan di Olimpiade 1984. Sang ayah meninggal dunia dalam kecelakaan sepekan setelah El Moutawakel tiba di Amerika Serikat untuk kuliah sekaligus persiapan intensif menuju Olimpiade.

Kematian sang ayah tidak langsung dikabari ke El Moutawakel. Keluarga mengutus saudara laki-laki untuk memberi tahu El Moutawakel bahwa sang ayah sudah tiada dan mengajaknya pulang ke Maroko.

El Moutawakel sudah bersiap untuk kembali ke Maroko sebelum akhirnya ia membatalkan keputusan tersebut.

“Ayah saya sudah pergi. Dia mengirim saya ke sini untuk meningkatkan kualitas dan menuntut ilmu. Saya akhirnya bertahan di Amerika Serikat karena saya ingin mewujudkan impian ayah terhadap saya,” tutur El Moutawakel dalam wawancara dengan LA Times.

Kemenangan yang Mengubah Dunia

Ketika Nawal El Moutawakel berhasil meraih emas Olimpiade 1984, Raja Maroko, Raja Hassan II menelepon untuk memberikan selamat sekaligus menyatakan seluruh anak perempuan yang lahir di hari kemenangan bakal diberi nama seperti nama dirinya. Sebuah penghargaan besar atas kemenangan tersebut.

Kemenangan El Moutawakel menjadi berita besar. Bukan hanya dianugerahi penghormatan berupa namanya menyertai bayi yang lahir di hari itu, kemenangan El Moutawakel juga jadi inspirasi bagi atlet-atlet di generasi berikutnya.

“Saya mempertimbangkan diri jadi anutan bersama juara Olimpiade lainnya ketika kembali ke Maroko. Saya bisa saja menghabiskan sisa hidup saya menikmati kemenangan di Olimpiade 1984 namun langkah tersebut merupakan kesalahan.”

“54 detik [catatan waktu di final] membuat saya pergi dari gelap menuju terang, dari nol menjadi pahlawan. Saya ingin berbagi setiap momen ini kepada generasi yang lebih muda,” kata El Moutawakel dikutip dari Arab Weekly.

Bagi El Moutawakel, tidak ada yang salah dalam pilihan wanita untuk ikut berkompetisi.

“Dalam agama saya, tidak ada larangan bagi wanita untuk berkompetisi. Nabi Muhammad terbiasa lomba lari lawan istri dan biasanya sang istri mengalahkan Nabi Muhammad sampai akhirnya Nabi Muhammad menang ketika istrinya ada dalam kondisi hamil.”

“Ajari anakmu lari, menunggang kuda, dan juga berenang. Ini yang ada dalam agama kami. Tidak pernah ada kata ‘anak laki-laki’ atau anak perempuan’ [dalam perintah itu]. Perintah menyebutkan ‘ajari anakmu’ yang berarti tentu anak laki-laki dan anak perempuan,” tutur El Moutawakel.

Peran El Moutawakel terus berlanjut setelah ia gantung sepatu. El Moutawakel aktif sebagai anggota IOC sejak 1998 dan akhirnya terpilih sebagai Wakil Ketua IOC pada 2018. (WST/YN/cnnindonesia.com)

Muhammad Marmaduke Pickthall, Sang Mualaf Penerjemah Alquran

Wasathiyyah.com — Muhammad Marmaduke Pickthall adalah seorang intelektual Muslim Barat yang terkenal dengan karya terjemahan Alqurannya yang puitis dan akurat dalam bahasa Inggris. Ia merupakan pemeluk Kristen Anglikan yang kemudian berpindah agama memeluk Islam. Sosoknya juga dikenal sebagai seorang novelis, jurnalis, kepala sekolah serta pemimpin politik dan agama.

Terlahir dengan nama William Pickthall pada tanggal 7 April tahun 1875. Dia berasal dari keluarga kelas menengah di Suffolk, Inggris. Ayahnya Charles Grayson Pickthall adalah seorang Pendeta Anglikan. Karenanya tak mengherankan jika William tumbuh dan dibesarkan di tengah keluarga penganut Kristen Anglikan yang taat.

Ketika usianya menginjak lima tahun, sang ayah meninggal. Tak lama berselang keluarganya pun memutuskan untuk menjual tempat tinggal mereka di Suffolk dan pindah ke kota London. Kepindahan tersebut sempat membuat William depresi dan sakit-sakitan. Sifat pemalu yang ada pada dirinya, membuat dia sulit untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya. Terlebih lagi ketika ibunya Mary O’Brien memasukannya ke Harrow, sebuah sekolah swasta elite khusus bagi murid laki-laki. Satu-satunya yang menjadi teman penghiburnya saat menimba ilmu di Harrow adalah Winston Churchill.

Saat di Harrow, William mulai menunjukkan ketertarikannya terhadap ilmu bahasa. Selepas tamat dari Harrow, ia mulai mempelajari sejumlah bahasa, di antaranya Gaelik (bahasa orang Skotlandia) dan Welsh (bahasa orang Wales). Karena kemahirannya dalam penguasaan kedua bahasa ini, maka salah seorang gurunya di Harrow mendaftarkan  William untuk mengikuti ujian seleksi penerimaan pegawai di Departemen Luar Negeri. Namun ia gagal dalam ujian.

Kegagalan tersebut tidak membuat William patah arang. Ia kemudian menghabiskan waktunya untuk mempelajari bahasa Arab dengan harapan suatu saat ia bisa memperoleh pekerjaan sebagai seorang konsuler di Palestina. Di usianya yang belum genap 18 tahun, ia memutuskan untuk berlayar ke Port Said, sebuah kota pelabuhan yang berada di kawasan timur laut Mesir.

Pembela Muslim

Perjalanan ke Port Said ini menjadi awal mula petualangannya ke negara-negara muslim di kawasan Timur Tengah dan Turki. Keahliannya dalam berbahasa Arab telah memikat penguasa Ottoman (Turki Usmaniyah). Atas undangan dari pihak Kesultanan Ottoman, William yang kala itu belum menjadi seorang Muslim, mendapat tawaran untuk belajar mengenai kebudayaan Timur.

Selama masa Perang Dunia I tahun 1914-1918, William banyak menulis surat dukungan terhadap Turki Usmaniyah. Saat propaganda perang dikumandangkan tahun 1915 yang mengakibatkan pembantaian di Armenia, dia secara terang-terangan menentangnya dan menyatakan bahwa kesalahan tidak bisa ditimpakan kepada pemerintah Turki atas kejadian tersebut. Pada saat banyak imigran Muslim asal India di London dibujuk oleh Kementerian Luar Negeri untuk menyediakan bahan-bahan propaganda dukungan terhadap Inggris dalam perang melawan Turki, ia tidak bergeming. Ia tetap tegas dengan pendiriannya guna membela saudaranya sesama Muslim.

Begitu juga saat komunitas Muslim di Inggris diberikan pilihan apakah setia terhadap sekutu (Inggris dan Prancis) atau justru mendukung Jerman dan Turki, jawaban yang diberikan William cukup mengejutkan. Dia  tetap pada pendiriannya tidak akan mendukung negaranya itu.

Perjalanan ke negara-negara Islam dan Turki ini, telah membuat William banyak bersentuhan langsung dengan agama Islam. Dari situ kemudian mulai muncul rasa ketertarikan terhadap ajaran Islam. Maka, di tahun 1917 dia memutuskan untuk memeluk Islam dan mengganti namanya menjadi Muhammad Marmaduke Pickthall. Bahkan sebelumnya William sempat menjadi pembicara pada diskusi yang diadakan Muslim Literary Society bertajuk ‘Islam and Progress’ tanggal 29 Nopember 1917 di Notting Hill, London Barat.

Setelah memeluk Islam, William banyak berkecimpung dalam berbagai kegiatan yang terkait dengan syiar Islam. Tahun 1919, ia aktif di Biro Informasi Islam yang berkedudukan di London serta beberapa usaha penerbitan media Islam lainnya seperti Muslim Outlook. Usai merampungkan novelnya berjudul Early Hours tahun 1920, dia mendapat penugasan di India sebagai editor di surat kabar Bombay Chronicle. Kemudian di tahun 1927 William pindah ke penerbitan jurnal tiga bulanan Islamic Culture selaku editor yang berkantor di Hyderabad.

Ada satu lagi sumbangsihnya selama tinggal di Hyderabad terkait dengan upaya menegakkan syiar Islam. Tahun 1925, Pickthall diundang oleh Komite Umat Muslim di Madras untuk memberikan kuliah umum tentang segala aspek mengenai Islam. Koleksi dari bahan-bahan kuliahnya ini sudah dipublikasikan tahun 1927 dengan harapan agar kalangan non-Muslim lainnya dapat mengerti apa itu agama Islam.

Awal 1935 Pickthall kembali ke Inggris. Tahun 1936 ia berpindah ke St Ives dan meninggal di kota kecil itu pada tanggal 19 Mei 1936. Ia dimakamkan di pemakaman Muslim di Brookwood, Surrey (dekat Woking, Inggris) empat hari kemudian. Oleh kaum Muslim Inggris, Pickthall dijuluki sebagai “pejuang agama” dan “pelayan Islam sejati”.

Menerjemahkan Alquran

Sebenarnya sudah sejak lama saat baru masuk Islam, William mempunyai obsesi menerjemahkan kitab suci Alquran ke dalam bahasa Inggris. Dia merasa adalah tanggungjawab semua umat Muslim untuk memahami Alquran dengan sebenar-benarnya. Namun obsesinya ini baru terealisasi pada tahun 1928, setelah ia berhasil menyelesaikan proyeknya dalam menerjemahkan Alquran.

Hasil kerja kerasnya ini kemudian ia terbitkan pada tahun 1930 dan diberi judul ‘The Meaning of the Glorious Koran’. Ribuan umat Muslim pun segera mendapat manfaat dari karya Muhammad Marmaduke Pickthall yang lantas dianggap oleh banyak kalangan sebagai karya monumental. Tak hanya itu, umat Muslim pun kemudian menyadari bahwa The Meaning of Glorious Koran diselesaikan di kota Nizamate, Hyderabad, sebuah kawasan yang di Selatan India yang didominasi umat Islam.

Seperti ilmuwan Muslim lainnya, ia tidak menerjemahkan kata Allah SWT dalam Alquran. Ia menulis dalam kata pengantarnya, ”Quran tidak bisa diterjemahkan.” Jadi, terjemahannya tetap berdampingan dengan teks asli Alquran dalam bahasa Arab.

Dalam kata pengantar dalam karyanya ini Pickthall juga menulis mengenai keutamaan Alquran dibandingkan kitab-kitab yang lainnya, “Sebelum memulai mempelajari Alquran, seseorang haruslah menyadari bahwa tidak seperti bahan bacaan lain, ini merupakan sebuah buku yang unik dan berasal dari Yang Mahatinggi, pesan-pesan abadi serta universal. Kandungan isinya tidak merujuk pada tema atau gaya tertentu, melainkan fondasi dari seluruh sistem kehidupan, mencakup segala spektrum permasalahan, yang cakupannya mulai dari ayat-ayat kepercayaan maupun perintah serta sumber pengajaran, kewajiban, hukuman bagi yang melanggar, hukum umum dan pribadi, serta solusi terhadap persoalan pribadi maupun sosial kemasyarakatan..cerita kaum di masa lampau teriring apa-apa yang dapat dipetik pelajaran darinya.”

Karya Pickthall ini menjadi karya pertama penulisan makna Alquran dalam bahasa Inggris oleh orang Inggris asli. Selain itu, tulisan Pickthall juga menjadi salah satu dari dua karya terjemahan Alquran dalam bahasa Inggris yang sangat populer. Karya lainnya ditulis oleh Abdullah Yusuf Ali. (WST/YN/republika.co.id)

Shalat Jumat Termegah Saat Penaklukkan Konstantinopel

Wasathiyyah.com, Jakarta — Pada 23 Maret 1453, Sultan Mehmet II yang juga dikenal secara luas dengan Muhammad al-Fatih  berangkat dari Edirne dengan penuh kemegahan bersama seluruh pasukannya, prajurit kavaleri, dan prajurit infantri.

Dalam Buku berjudul “1453: Detik-Detik Jatuhnya Konstantinopel ke Tangan Muslim”, Roger Crowley menjelaskan, hari itu adalah hari Jumat, hari yang mulia bagi umat Islam. Hari Jumat memang sengaja dipilih untuk menambah kesakralan penyerangan ke Konstantinopel.

Saat berangkat menuju konstantinopel, Sultan Mehmet II ditemani ulama, syekh dan para habib. Para tokoh agama Islam tersebut membaca doa berulang-ulang, bergerak maju bersama pasukan yang lain, dan berkuda.

Saat hendak melakukan melaklukkan Konstantinopel, puluhan ribu umat Islam pun melaksanakan shalat Jumat yang bisa dikatakan sebagai shalat Jumat termegah dan terpanjang yang pernah terjadi pada 1453.

Karena, shalat Jumat itu dilakukan di jalan menuju Konstatinopel dengan jamaah yang membentang sepanjang 4 kilometer dari Pantai Marmara hingga Selat Golden Horn di utara. Shalat Jumat tesebut dilakukan di depan benteng Konstantinopel dengan jarak 1,5 kilometer.

Selama lebih dari seribu tahun, Konstantinopel adalah pusat dunia Barat sekaligus pertahanan Kristen terhadap Islam. Kota ini tak pernah lepas dari ancaman dan selalu selamat dari penyerangan yang rata-rata muncul setiap empat puluh tahun.

Namun, Muhammad Al-Fatih dengan bala tentaranya yang sangat besar akhirnya berhasil melewati tembok pertahanan kota itu. Berbekal pesenjataan baru yang canggih, pada April 1453, sebanyak 80 ribu pasukan Muslim mulai menyerang delapan ribu pasukan Kristen di bawah pimpinan Konstantin XI, Kaisar Byzantium ke-57.

Hingga akhirnya Konstantinopel jatuh ke tangan umat Islam. Penaklukan yang dipimpin panglima muda berusia 23 tahun tersebut membuktikan hadits nabi yang menyatakan bahwa Konstantinopel nantinya akan jatuh ke tangan umat Islam.

“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (HR. Ahmad). (WST/YN/republika.co,id)

Surga Tersembunyi di Oman

Muhammad Iman Sastra Mihajat/Balqis Az Zahra

Wasathiyyah.com–Kami ingin mengawali cerita tentang Oman ini dari satu hadits yang sangat terkenal sekali. Bahkan hadits ini terpampang di dinding bandara ketika kita menginjakkan kaki pertama kali di Oman. Hadits ini menceritakan tentang seorang sahabat yang diutus oleh Rasulullah untuk berdakwah ke suatu tempat, lalu mereka mendapatkan perlakuan yang tidak baik, mereka di pukuli, dihina, dan diusir dari kampung tersebut, lalu mereka mengadu ke Rasulullah SAW, dan beliau bersabda:

أبو برزة رضي الله عنه فيقول: بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا إِلَى حَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ ، فَسَبُّوهُ وَضَرَبُوهُ ، فَجَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : “لَوْ أَنَّ أَهْلَ عُمَانَ أَتَيْتَ مَا سَبُّوكَ وَلَا ضَرَبُوكَ”  رواه مسلم (رقم/2544)

Abu Barzah mengatakan, “Bahwasanya Rasulullah SAW mengutus seseorang ke salah satu kota di Arab, kemudian ia dicaci maki dan dipukuli, lalu ia mendatangi Rasulullah untuk mengadukan hal ini, lalu Rasulullah SAW berkata, ‘Seandainya yang kalian datangi itu adalah orang Oman, tentu mereka tidak akan menghinamu dan tidak juga memukulimu.'”

Dari hadits ini, kita akan mengetahui, bagaimana baiknya orang Oman dalam bermuamalah. Dan betul sekali, selama hampir genap 5 tahun tinggal merantau di Oman, kami sangat merasakan kenyamanan dan kenikmatan yang luar biasa. Negara yang dipimpin oleh seorang Sultan (karena Negara ini menganut konsep kesultanan) yang sangat dicintai oleh Rakyatnya, yang bernama Sultan Qaboos bin Said Al Said. Dan sebagai expat di sini, sebagai pendatang, kami pun sangat menghormati Sultan mereka.

Baiknya lagi, Sultan mereka pun sangat perhatian kepada rakyatnya. Jadi kita akan melihat dan merasakan sendiri bagaimana aura seseorang pemimpin yang sangat mencintai rakyatnya dan rakyatnya pun begitu mencintai pemimpinnya. Bahkan saking hormatnya, kami belum pernah menemukan orang Oman yang menyebut nama Sultan mereka secara langsung, akan tetapi mereka menyebutnya dengan ‘Yang Mulia, atau Sohibul Jalaalah, atau His Highness.’ Dari penyebutan ini saja kita bisa sangat memahami, bagaimana pemimpin mereka sangat diagungkan dan dicintai oleh rakyatnya.

Mungkin inilah yang dimaksud sebuah hadits, ‘Sebaik-baik pemimpin adalah kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian, kalian mendoakan kebaikan terhadap mereka dan mereka pun melakukan yang sama.’ Sebagaimana sebuah hadist dibawah ini yang diriwayatkan oleh ‘Auf bin Malik:

حديث عوف بن مالك قال: سمعت رسول الله ﷺ يقول: خيار أئمتكم الذين تحبونهم ويحبونكم، وتصلون عليهم ويصلون عليكم (رواه مسلم)

“Sebaik-baiknya pemimpin kamu adalah mereka yang kamu cintai dan mereka pun mencintamu, kamu menghormati mereka dan merekapun menghormati kamu.”(HR Muslim)

Sebagaimana negara teluk lainnya, Oman adalah negara Arab yang penghasilan utama negaranya adalah minyak dan gas. Akan tetapi, Oman sangat berbeda dengan negara teluk lainnya, karena Oman adalah negara terbesar di Timur Tengah setelah Saudi Arabia. Oman memiliki tempat-tempat wisata yang sangat unik dibandingkan negara teluk lainnya seperti ketika musim panas tiba, ada satu kota di Oman yang malah kebalikan dibandingkan kota-kota lainnya, yaitu kota Salalah. Kota ini berada diperbatasan Yaman. Kotanya sangat hijau dan dingin ketika musim panas, berbeda dengan di kota-kota lain. Maka dari itu, banyak sekali wisatawan dalam negeri dan luar negeri yang berkunjung ke sini, di sana juga ada wadi atau danau yang sangat indah dan jernih ketika musim panas tiba. Turis yang berkunjung kebanyakan membawa kendaraan pribadi langsung dari negara mereka, seperti Saudi Arabia, Bahrain, Qatar, Kuwait dan negara tetangga, UAE.

Ketika saya pertama kali datang ke kota ini, kemudian saya publish fotonya di media sosial, orang kebanyakan tidak percaya kalau ini adalah di Oman. Beberapa dari teman bilang kalau ini adalah Garut, ada yang bilang ini di Sumatera, dan lain lain. Karena memang kotanya hijau, banyak yang jualan buah-buahan di pinggir jalan seperti di Indonesia. Harga-harga penginapan baik hotel atau apartment pada musim ini juga biasanya naik 100% lebih dari biasanya karena ini adalah peak season, tepatnya mulai di bulan Juni, Juli, dan Agustus.

Di Oman, banyak juga syurga tersembunyi seperti pulau-pulau kecil indah yang sangat tepat untuk diving dan snorkeling, karena banyak ikan-ikan indah di dalamnya. Bagi yang hobi mancing, ada banyak spot yang bisa digunakan untuk memancing dan tentunya banyak sekali ikannya. Itu baru dipinggir laut, kalau ke tengah laut otomatis ikan-ikan besar itulah target kita.

Selain itu, bagi yang suka danau selain di Salalah, banyak spot yang bagus, diantaranya Wadi Bani Khalid, Wadi Arbaeen, dan banyak lagi wadi-wadi yang bagus untuk spot berpetualang. Ada juga sink hole, tempat yang indah banget untuk berenang dan terjun bagi yang suka berenang. Bagi penggemar off-road, ini jangan sampai ketinggalan, bisa dicoba mobil-mobil offroad yang ada, mulai dari Landcruiser, mobil ini banyak sekali dipakai disini, karena harganya hanya setengah dari harga di Indonesia. Bagi yang suka jeep Rubicon, bisa di pake disini, atau mobil offroad lainnya, ada VW Touareg, Hyundai SantaFe, LC Prado, dan lain lain. Bagi yang suka sejarah, Oman juga menyiapkan satu museum Oman yang menceritakan sejarah-sejarah Oman. Bagi yang suka dengan pertunjukan, ada Oman Opera House. Untuk oleh-oleh, jangan lupa mampir ke Souq Matrah, disini semua oleh-oleh tentang Oman ada dengan harga yang kompetitif. Tapi baiknya tanya-tanya dulu ke orang Indonesia yang tinggal disini supaya ga kemahalan belinya hehehe. Disini juga kotanya sangat tertib lalu lintas, bersih, dan tertata rapi.

Untuk masalah visa? Tenang guys, passport Indonesia punya bargaining power. Jadi kita bisa dapet visa on arrival, untuk traveling seminggu disini biayanya OMR 5 atau sekitar Rp 182.500/@36.500. Kalau sebulan hanya OMR 20 atau sekitar Rp 730.000. Atau bisa langsung apply online ke link ini : https://evisa.rop.gov.om/ bayarnya pake kartu kredit Visa atau MasterCard, jadi kurang dari 24 jam, visannya sudah dikirim ke email kamu.

Untuk musim, di Oman sebenarnya hanya ada 2 musim, yakni musim panas dan musim dingin. Jika sedang puncaknya musim panas pada bulan Mei-Augustus, kadang temperature mobil kita bisa menyentuh angka hingga 50°C. Namun menurut pemerintah Oman, angka tersebut kurang valid, yang valid adalah yang ada di pemerintah setempat. Karena kalau benar  sampai 50°, berdasarkan undang undang disini, maka sekolah dan kantor akan diliburkan. Sedangkan ketika musim dingin, dinginnya di Oman enak pakai banget hehehe seperti di Puncak, Bogor saja kalau di Indonesia, masih diatas 10°C. Jadi nggak perlu pake jaket super tebel agar terlindungi dari dingin. Puncak winter di Oman pada bulan November-Februari, dimana pantai dan taman akan penuh hingga malam hari, terlebih di waktu weekend dimana banyak orang menghabiskan waktu bersama keluarga untuk BBQ hingga kemping, dan rata-rata free biaya masuknya.

Oh ya kemarin ketika bulan November, ada salju turun di Jabal Syam, sekitar 248 KM dari Muscat. Kalau naik mobil memakan waktu sekitar 3 jam. Berhubung jalan di sini bagus banget dan CV mobilnya gede-gede sampai 5000-6000 CC, maka perjalanan 140-160KM per jam pun nggak akan begitu terasa. Apalagi mobil bagus sekelas Lexus LX atau GX atau GMC Yukon dan Chevrolet Tahoe atau Cadillac Escalade. Tapi kita harus ingat, di sepanjang jalan ada banyak kamera pengintai yang jarang terlihat, jadi maksimum 135 KM per jam saja, usahakan jangan lebih, lumayan isi kantongnya kalau buat bayar denda kelebihan kecepatan mobil. Kalau lebihnya di atas 15 KM sekitar OMR 10, tapi kalau 15-30 KM/jam bisa sampai OMR 30.

Untuk belanja barang elektronik, baju, dan sepatu, enaknya ketika musim diskon, disini diskonnya beneran, jadi dari harga aslinya yang asli itu lah didiskon, nggal dinaikin dulu harganya baru didiskon seperti di beberapa tempat di negara lain.

And the last, bagi kalian yang dapat tawaran kerja di Oman, di okein aja guys, selain karena alasan-alasan yang sudah kami tulis diatas, nggak dipungkiri mata uang mereka ini besar sekali, jadi kalau dikonversi ke rupiah, gaji bulanan lumayan bisa nabung buat rumah dan investasi di Indonesia. Tapi disini biaya hidup agak mahal, sewa apartment bisa menyentuh 10-20 juta per bulannya. Kalau rumah, disini mereka menyebutnya villa, sewa bulanannya bisa di atas 20juta, tergantung lokasi dan kemewahan interiornya. Untuk biaya hidup kalau biasa berhemat bisa 7-10 juta per bulan. Tapi itu semua tergantung kita, mau gaya hidup yang bagaimana.

So guys, masih penasaran dengan cerita-cerita seru disini, yuk kunjungi Oman. (WST/YNF)

 

 

Ustaz Ali, Nelayan yang Sanggup Sekolahkan 9 Anak ke Mesir

Kalau ada yang khawatir punya banyak anak akan memusingkan orangtua, terutama dari sisi pendidikan, tanyalah resepnya pada Muhammad Ali Alhamidy. Pria paroh baya ini dianugerahi banyak anak. Jumlahnya pas untuk satu tim sepakbola. Hebatnya, sembilan anaknya menuntut ilmu ke Mesir.

Kehidupan Ustaz Ali sangat berwarna. Dia dikenal sebagai dai. Kerap diundang di berbagai majelis di Kaltim. Juga, menjadi khatib saat salat Id. Bekerja sebagai nelayan. Tinggal di sebuah kecamatan yang jauh dari pusat kota. Di hulu. Kecamatan Muara Muntai, Kutai Kartanegara (Kukar). Yang paling menarik serta menginspirasi adalah yang ini; dari 11 anaknya, sembilan di antaranya dia sekolahkan di Mesir. Salah satu negara impian para pelajar muslim untuk menuntut ilmu.

Menariknya lagi, tiga anaknya yang terakhir dikirim ke Mesir saat baru lulus SD di Muara Muntai. Anak pertama, Maryam Jamilah, kuliah di Fakultas Syariah, Universitas Al Azhar. Anak kedua, Shibghatullah Ahmad, kini menempuh S-2 di Fakultas Tafsir, Universitas Al Azhar. Anak ketiga, Rahmad Rasyidah, kuliah di Fakultas Fitologi (Cabang Biologi), Universitas Kairo. Sementara itu, anak keempat dan kelima, Saudah dan Salma Syakirah, masing-masing menempuh pendidikan di Fakultas Syariah dan S-2 Fakultas Tafsir di Universitas Al-Azhar.

Empat anaknya yang lain dikirim untuk mondok di Mesir. Yakni, Nawrah Nabilah, Hilwah Habibah, Ridlwan Rabbani, dan Athiya Ulya. Mereka tengah menuntut ilmu di Makhad Al Azhar. Dua anak terakhir, Zainullah Zulfa dan Zainur Rahman saat ini bersekolah di Madrasah Ibtidayah (MI) Nurul Huda, Muara Muntai. “Alhamdulillah, saat ini dua anak saya yang sedang S-2 juga sudah hampir selesai dan masuk tugas akhir. Saya mendorong kembali (ke Mesir) agar dia bisa sampai S-3 di sana,” ujar Ustaz Ali saat bincang dengan Kaltim Post di Masjid Al-Ihsan, Jalan Dahlia, Samarinda, Jumat (8/9).

Saat itu, dia baru selesai mengisi ceramah di sebuah majelis taklim. Jamaahnya ramai. Selepas salat Asar, Ustaz Ali meluangkan waktu untuk wawancara. Bercerita seputar aktivitasnya. Dan tentu yang utama tentang keberhasilannya mengirim anak-anaknya berkuliah ke luar negeri. Bukan satu-dua. Tapi sembilan. Sebelum bincang, ustaz yang saat itu mengenakan jubah putih menenggak sebuah vitamin. Demi menjaga kebugaran tubuh. Maklum, dalam seminggu, 70 persen waktunya digunakan untuk berdakwah.

Di banyak tempat. Kebanyakan jauh dari rumahnya di Desa Muara Muntai Ilir, Kecamatan Muara Muntai. Mulai Kukar, Kutai Barat (Kubar), hingga Samarinda. Yang menarik, perjalanan dakwa yang dilakukan dari satu daerah ke daerah lain tak menggunakan kendaraan pribadi. Kebanyakan menumpang angkutan umum. Dalam kondisi tertentu, dia biasanya dijemput oleh pihak jamaah. “Rata-rata sepekan, saya hanya berada di rumah dua hari. Sisanya saya ada di perjalanan atau sedang menjalankan aktivitas dakwah saja,” ujarnya.

Ketika di rumah, dia beraktivitas sebagaimana awamnya warga setempat. Nelayan. Dia menyebut tak ada hal yang berbeda antara keseharian yang ia jalankan dengan orang lain. Penghasilan sebagai nelayan serta pemilik keramba, cukup untuk membiayai setengah dari biaya pendidikan anak-anaknya di Mesir.

Ustaz Ali adalah alumnus Pondok Pesantren (ponpes) Persis, Bangil, Jawa Timur. Lulus pada 1985. Sejak saat itu, dia langsung melakukan dakwah dengan membuka pengajian ke berbagai tempat. Selama 15 tahun aktivitas dakwah yang dilakukannya hanya fokus di seputaran Kubar dan Kukar. “Alhamdulillah setelah 15 tahun fokus berdakwah di Kubar dan Kukar, ternyata kebutuhan dakwah warga Samarinda begitu besar. Di Samarinda, saya akhirnya juga mengisi beberapa pengajian rutin hingga sekarang,” terangnya.

Meski hanya lulusan aliah atau SMA, namun tekad serta semangat belajar Ali muda begitu besar. Sejumlah ulama dia datangi untuk berguru berbagai ilmu pengetahuan. Sang ayah bernama Sulaiman, merupakan perantauan asal Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara (Sulteng). Perantauan ayahnya saat akhir penjajahan Belanda. Semangat berdakwah juga dipengaruhi sang ayah yang juga pendakwah. Ayahnya juga tercatat pernah berguru dengan ulama ternama saat itu Abdullah Marisie, setelah sebelumnya berkenalan dengan seorang tokoh asal Samarinda. “Ayah saya dulu juga sempat sebagai Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) di Sebulu,” ungkapnya.

Awalnya, kata dia, sebenarnya tak ada niat khusus untuk menyekolahkan anak di luar negeri. Namun, harapan itu selalu muncul. Sang ustaz pun mencoba berikhtiar. Diawali dari yang paling sederhana. Memberikan motivasi kepada sang anak. Tak luput juga berdoa. Dia pun mulai menyekolahkan tiga anaknya, Shibghatullah Ahmad, Rahmad Rasyidah, dan Maryam Jamilah di Makhad Al Ittihad Al Islami Camplong, Sampang, Madura. Lulus dari pondok pesantren itu (ponpes), tiga anaknya lolos dalam seleksi masuk kuliah di Universitas Al Azhar pada tahun yang berbeda.

“Ketiga anak saya ini lolos untuk kuliah gratis di sana. Jadi tidak ada sama sekali biaya yang dipungut. Tinggal kita memikirkan biaya hidup mereka. Ternyata di sana juga lebih mahal biaya tempat tinggal daripada kebutuhan makan sehari-hari,” terangnya.

Dari ketiga anaknya itulah, diperoleh sejumlah informasi terkait biaya masuk pendidikan di Mesir yang gratis. Mereka juga yang memberikan jalan kepada adik-adiknya untuk menempuh pendidikan di Mesir. Semangat seluruh anak-anaknya pun sejak kecil memang sudah tertanam untuk menempuh pendidikan di luar negeri. Bahkan, empat anaknya yang terakhir menempuh pendidikan di Mesir dari tingkat SD dan SMP.

“Ternyata di Mesir itu banyak sekali peluang sekolah dan kuliah gratis. Bahkan, jumlahnya ribuan kuota. Hanya mungkin banyak yang tidak tahu. Makanya, dari kakak-kakaknya inilah yang memberi jalan kepada adik-adiknya. Saya bahkan berharap semua anak saya sekolah sampai S-3 di sana,” tambahnya.

Berdasarkan informasi yang dia peroleh, beasiswa serta pendanaan memang banyak dari donatur ke sejumlah sekolah dan perguruan tinggi. Syaratnya pun relatif mudah. Yang penting kemampuan berbahasa Arab. Untuk sekolah dengan jurusan pendalaman agama, banyak yang gratis. Bahkan mulai SD hingga perguruan tinggi (PT).

“Alhamdulillah sudah ada beberapa yang saya bantu untuk masuk ke Al Azhar Mesir. Yang terpenting selain bisa bahasa Arab, keinginan dari orangtua serta si anak harus kuat. Karena jika salah satunya ragu biasanya akan sulit dijalani. Di satu sisi saya cukup salut dengan kondisi keuangan Al Azhar yang sangat bagus,” imbuhnya.

Selama di Mesir, anak-anaknya menyewa tempat tinggal. Yang satu dihuni oleh anak-anaknya yang perempuan, sedangkan yang lain untuk anaknya yang laki-laki. Untuk biaya hidup selama di sana, dalam sebulannya dia mengirimkan Rp 1 juta per orang. Jika pun lebih, jumlahnya tak begitu besar. Dia teringat uang administrasi yang diminta anak pertamanya untuk mengurus masuk kuliah hanya Rp 140 ribu. Sedangkan untuk pendidikan S-2 hanya Rp 2,2 juta. Selanjutnya, dia mengaku tak pernah dimintai anaknya uang kebutuhan perkuliahan.

“Sisanya paling untuk makan serta biaya tempat tinggal. Bisa juga biaya fotokopi atau yang lainnya. Tapi, khusus untuk permintaan dana dari kampus tidak pernah ada,” bebernya.

Pengalaman yang paling mengesankan adalah saat keberangkatan anak pertamanya kuliah di luar negeri. Dengan keterbatasan komunikasi saat itu, keluarga kesulitan menghubungi sang anak. Selain tak begitu paham tentang penggunaan media sosial. Dia juga ketika itu tak memiliki smartphone dengan berbagai aplikasi yang canggih.

“Saya pernah selama empat tahun menahan rindu dengan anak saya yang kuliah di sana. Dia memang jarang pulang. Saat itu, saya tidak mengerti menggunakan berbagai aplikasi yang menunjang video call. Saat sudah tahu bisa begitu, istri saya langsung menangis karena terharu bisa melihat wajah anak saya yang berada di luar negeri,” katanya.

Selama di luar negeri, dua anaknya yang kini sedang menempuh pendidikan S-2 juga kerap diminta melakukan bimbingan kepada calon mahasiswa dari negara-negara Asia. Yang paling banyak dari Malaysia. Selain percepatan adaptasi, bimbingan ini juga untuk memudahkan calon mahasiswa baru mengetahui berbagai kebutuhan selama di sana. Apalagi, menurut dia, di Malaysia tidak ada pesantren seperti di Indonesia.

Soal motivasinya menyekolahkan anak-anak ke Mesir, dia menaruh harapan kepada anak-anaknya bisa membangun Kaltim dari sisi religius. Terutama kalangan elite yang bisa dia jangkau dengan mudah dengan status pendidikan dan kemampuan yang lebih matang. Dia juga menyampaikan, anak keduanya Shibgatullah Ahmad baru-baru ini sempat datang ke Samarinda karena diminta menjadi khatib salat Iduladha. “Saya berharap, jangkauan dakwah anak saya ini bisa menjangkau lebih luas lagi daripada saya. Tentunya dengan status pendidikan yang lebih matang ini,” imbuhnya.

Ustaz Ali juga sempat membeberkan jika sebenarnya tidak anti dengan program keluarga berencana (KB). Bahkan, saat istrinya melahirkan anak kelima, dia sempat melakukan program KB dengan berkonsultasi di puskesmas. Namun, belakangan istrinya tidak merasa nyaman. Akhirnya, dia tak lagi melanjutkan program KB. Di sisi lain, garis keturunan dia dan istrinya juga termasuk subur. Untuk keluarga seayah, dia mengaku memiliki sembilan saudara. Sedangkan untuk saudara seayah dan seibu, memiliki enam orang saudara.

“Saya pun bersyukur kepada Allah karena telah menghilangkan kecemasan terkait kebutuhan ekonomi jika anak banyak. Sebagai dai, saya juga menepis khawatir akan mengganggu gerak dakwah saya dengan banyak anak. Apa yang dikhawatirkan dengan ekonomi jika anak banyak, hal itu sebenarnya tidak benar,” ungkapnya.

Suami Asmiati itu juga memiliki sejumlah pengalaman lain saat berdakwah. Dua tahun lalu, dia sempat mengalami kecelakaan tunggal saat menumpangi sebuah mobil yang hendak menuju Kubar. Mobil yang hilang kendali sempat berputar sebanyak tiga kali. Beruntung, dia tak mengalami luka sedikit pun. Jamaah pengajian Ustaz Ali pun terbilang beragam. Mulai masyarakat biasa hingga sejumlah tokoh serta pejabat publik. Di antaranya merupakan kepala daerah di Kaltim serta anggota legislatif.

“Pada intinya, saya ingin sekali menyampaikan berbagai pesan moral untuk perbaikan moral itu sendiri. Makanya, ada beberapa pejabat yang sering meminta masukan saya saat mengambil kebijakan. Mereka pun akhirnya juga jauh dari sorotan ketika berprinsip pada perbaikan moral tersebut. Karena untuk membangun bangsa ini, memang perlu orang-orang yang bermoral,” tutur pria kelahiran 1966 itu.(kaltim.prokal.co)

Ini Anak Istimewa!

Oleh: Udo Yamin Majdi

Wasathiyyah.com–Hati saya berkata, “Ini anak istimewa.”

Suara nurani itu muncul, saat kedua mata saya memandang seorang anak berumur 14 tahun.

“Assalamu’alaikum…, mohon maaf lahir-batin, minal aidin wal faaizin.” Dia berkata sambil masuk ruang Markaz Maqwa Krui.

Dia datang bersama ibunya. Dia menunggu ibunya mengisi daftar hadir dan formulir interview. Dia duduk bersila. Dia memainkan jemari kedua tangannya.

Dia dan ibunya masuk ke ruang kantor sekaligus tempat interview.

“Panggilan saya, Ustaz atau bapak ya?” Dia bertanya.

Saya tersenyum, lalu menjawab, “Panggil saja Buya.”

Di Markaz Maqwa Krui, saya akan membangun suasana keluarga. Terinspirasi dari hadits Nabi bahwa para penghapal Quran adalah keluarga Allah di bumi dan orang-orang spesial-Nya.

Oleh sebab itu, saya akan membiasakan para santri memanggil para asatiz dengan sebutan dalam keluarga. Mereka memanggil saya seperti keempat anak saya, yaitu Buya. Sedangkan para fasilitator mereka panggil Kakak.

“Panggil aja Buya.” Kata saya sembari tersenyum.

* * *

Ibunya mulai cerita, bahwa anaknya termasuk ABK, anak berkebutuhan khusus. Umur kronologis, memang sudah 14 tahun, namun secara psikologis, baru memasuki fase perkembangan anak usia 6 tahun.

Waktu pendaftaran, memang ada yang bertanya, apakah Markaz Maqwa Krui menerima anak berkebutuhan khusus?

Secara pribadi, saya langsung menerima. Namun saya juga memahami penanganan akan ekstra, oleh sebab itu saya musyawarahkan kepada pengasuh yang akan menghadapi santri sehari-hari. Alhamdulillah mereka siap.

“Yakinlah Bu, Allah sedang menyayangi dan meninggikan derajat ibu. Anak istimewa akan dititipkan Allah kepada orang tua luar biasa.” Saya meneguhkan hati itu anak istimewa itu.

Tiba-tiba kisah Fajar, anak Penderita Cerebral Palsy Spastik yang Hafal Al-Quran 30 juz.

Saya bertanya, “Ibu pernah dengar ada kisah anak lumpuh otak dan cacat fisik, tapi hafal Quran 30 juz?”

“Iya Ustaz, saya pernah nonton videonya. Ini salah satu yang memotivasi saya.” Jawabnya.

Saya kembali memberikan dukungan dan motivasi, “Kita harus yakin, Quran itu mukjizat, bisa dihapal oleh siapapun, termasuk oleh anak ibu. Bahkan, kita berharap, sebagaimana namanya, Asy-Syifa, semoga Quran menjadi obat bagi anak ibu.”

Dia mengangguk. Kami diam. Saya tidak tahu apa yang dalam benak ibu itu. Sedangkan saya, mengingat kisah Fajar.

* * *

Fajar Abdurokhim Wahyudiono. Lahirkan 2 Oktober 2003. Berat 1,6 kilogram. Dia dirawat di ruang khusus. Pisah dari ibunya, Heny.

Suatu ketika, saat mengantar ASI untuk sang bayi di ruang NICU, ibunya mendengar suara musik mengalun di ruangan khusus tersebut. Ia merasa tidak nyaman dengan suara itu. Bayi yang baru lahir saja ada anjuran untuk memperdengarkan suara adzan dan iqamah di telinganya, ini menandakan pentingnya menyeleksi suara yang masuk ke telinga bayi. Karena itu pasti akan berpengaruh terhadap kejiwaan bayi sampai masa tumbuh kembang nantinya.

Dengan keyakinan itu, Heny meminta izin kepada dokter dan perawat untuk memperdengarkan murottal (bacaan) Al-Quran di telinga si buah hati. Alhamdulillah permintaan itu bisa disetujui. Satu keyakinan mereka, Al-Quran sebagai syifa (obat), penyembuh segala penyakit. Berharap semoga ada kebaikan dengan langkah spiritual tersebut.

Pulang dari rumah sakit, dengan penuh kasih sayang, mereka berkomitmen untuk terus memperdengarkan murottal Al-Quran tiada henti-hentinya. Mereka pun memutuskan untuk tidak memiliki televisi dan tidak memperdengarkan musik di rumah. Heny menyampaikan, “Anak harus diperdengarkan yang baik-baik. Apa yang keluar dari Quran kan kebaikan. Itulah yang terbaik.”

Memasuki usia tahun ketiga, saat Fajar mulai tertarik dengan gambar, Heny membelikan Compact Disk (CD) interaktif Al-Quran yang bisa disetel di laptop. Suatu ketika Heny terkesima saat Fajar bisa menirukan akhir ayat dari Murottal Al-Quran yang diperdengarkan. Nyaris hampir setiap ayat bisa ditirukan. Berselang waktu, mulai bisa menirukan awal dan akhir ayat dan kemudian bisa menirukan secara utuh seluruh ayat.

* * *

Di usia Fajar 5 tahun, Heny memanggil guru Al-Quran untuk memastikan apakah benar Fajar sudah hafal Al-Quran. Setelah enam bulan dibimbing, guru Al-Qur’an menyampaikan bahwa Fajar sudah hafal 80 – 90 % isi Al-Quran, tetapi belum bisa runut. Ia merekomendasikan agar Fajar terus menerus dibimbing sampai bisa hafal dengan urut.

Setelah berganti beberapa guru, pada bulan Desember 2012, di usianya yang kesembilan, Fajar benar-benar hafal Al-Quran dengan runut. Subhanallah! Ternyata anak yang mengalami keterbatasan karena cerebral palsy spastik, mampu menghafalkan seluruh Al-Qur’an.

Bukan sekedar hafal Al-Q!ur’an, Fajar paling suka bila diajak bermain tebak-tebakan ayat, ia bisa melanjutkan setiap penggalan ayat dan bisa menyebutkan nama surahnya. Yang juga menakjubkan, saat usia tiga tahun, diotak Fajar ada gelombang kejang. Juga ada rongganya. Biasanya, orang yang demikian akan mengalami hydrocephalus –yaitu kondisi dimana otak membengkak akibat tumpukan cairan, yang berakibat pada besarnya kepala penderita. Namun saat dilakukan tes Magnetic Resonance Imaging (MRI), semua itu sudah hilang. Semoga ini barokah dari Al-Quran.

* * *

Semoga anak ibu yang menitipkan anaknya ke Markaz Maqwa Krui, hapal Quran 30 juz.

Setidaknya, ada 3 anak istimewa yang ikut Sekolah Tahfiz Balita dan Anak yang kami kelola.

Tidak saya salah, kalau saya menyebut Rumah Quran Markaz Maqwa Krui, termasuk sekolah inklusi, yaitu sistem layanan pendidikan yang melayani para difabel seperti anak normal.

Semoga Allah memberi kami kekuatan.

Krui, 10 Desember 2019

 

Dari Mana Mobil Jemputan itu?

Udo Yamin Majdi

Wasathiyyah.com–“Gimana solusinya, Ustaz?” Ibu itu bertanya sekaligus meminta kepastian.

Saya mengambil napas. Lalu, saya menghembuskannya perlahan-lahan. Kepala tertunduk. Kedua mata menatap formulir pendaftaran Santri Sekolah Tahfiz Balita dan Anak Markaz Maqwa Krui.

Saya diam. Mencari jawaban.

Sebelumnya, ada beberapa ibu yang saya interview menanyakan hal yang sama. Satu sisi, mereka sangat ingin anak mereka masuk Sekolah Tahfiz Balita dan Anak, namun di sisi lain, jarak cukup jauh, kendaraan tidak ada dan tidak ada angkutan umum.

Markaz Maqwa Krui, membuka kelas pagi dan kelas sore untuk menghapal Quran metode Tabarak Mesir. Yang pagi, mungkin tidak terlalu bermasalah, ada ojek. Namun yang sore, ada sedikit kendala.

Kelas sore, masuk sholat Asar berjamaah dan pulang setelah Isya berjamaah. Anak kecil pulang malam naik ojek ke daerah Tanumbang Krui Selatan dari Simpang Kerbang, cukup riskan.

Bukan hanya masalah jarak, melainkan masalah keamanan dan kenyamanan. Apalagi selama saya di Krui, hampir setiap sore dan malam hujan.

Dalam benak saya, harus ada mobil antar-jemput. Andaikan saya punya mobil, tentu tanpa berpikir panjang, akan saya jadikan mobil antar-jemput para penghapal Quran.

Ini peluang bagi saya. Sebab, ketika saya membantu 40 penghapal Quran, maka pahala 40 penghapal Quran itu akan saya terima, tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka. Sungguh ini sebuah keberuntungan luar biasa.

“Jadi…, gimana solusinya, Ustaz?” Ibu itu bertanya kembali, membuyarkan lamunan saya.

Saya menelan ludah. Saya tersenyum. Lalu, menjawab, “Solusinya, insya Allah kita sediakan mobil jemputan. Semoga Allah memberikan kemudahan mewujudkannya.”

Saya melihat kedua mata ibu itu berbinar. Wajahnya cerah. Dia tersenyum.

Saat ibu itu keluar dari ruang interview, saya bertanya dalam hati, “bagaimana saya mewujudkan mobil antar-jemput para penghapal Quran itu?”

Saya melirik dinding. Dia diam. Begitu pun saya.

Krui, 9 Desember 2019

 

Anak ini Milik Siapa?

Oleh: Udo Yamin Majdi

Wathiyyah.com–Dia terisak-isak. Kepalanya tertunduk. Air mata membasahi pipi. Menangis. Tanpa suara.

Saya tidak tahu, mengapa perempuan berkerudung putih itu menangis. Yang jelas, saya yang duduk di depannya, ikut terharu. Tenggorokanku terasa kering.

Mungkinkah itu gara-gara pertanyaan saya?

* * *

Selama bulan November 2019, kami membuka pendaftaran calon Sekolah Tahfiz Balita dan Anak. Alhamdulillah, ada 43 calon santri mendaftar.

Sebagai mudir Markaz Maqwa, saya mewajibkan ortu menemani anaknya, untuk saya wawancarai setelah mereka terdaftar. Saya membagi mereka dalam 6 gelombang.

Dalam interview hari Jumat dan Sabtu itu, saya menanyakan sejauh mana informasi ortu terhadap metode Tabarak dan lembaga Markaz Maqwa Krui.

Bagi saya, interview adalah sarana untuk mengenal calon santri dan ortu mereka. Sebaliknya, bagi mereka, untuk mengenal saya, metode dan lembaga.

Lebih utama lagi, interview adalah momentum akad atau “serah-terima” antara orang tua dan saya untuk bersama-sama mendidik dan mengasuh anak mereka.

* * *

“Maaf ya Bu, menurut Ibu, pemilik anak ibu ini siapa ya?” Saya mewawancarai calon santri Sekolah Tahfiz Balita dan Anak.

Ibu itu tersenyum. Dia diam. Berpikir.

Tak berapa lama dia menjawab, “Allah Subhanahu Ta’ala, Ustaz.”

“Benarkah pemilik anak ibu adalah Allah?” Saya meminta keyakinan.

Dia menjawab, “Betul Ustaz, Pemiliknya Allah. Saya dan suami hanya menerima titipan saja.”

“Sepakat anak adalah titipan Allah SWT?”

“Iya Ustaz.”

Ini kesempatan saya menggugah pikiran dan perasaan ibu itu.

Saya mengambil HP di atas meja di depan kami, lalu berkata, “Bu, ini hp milik saya, saya titip ke ibu. Lalu, tanpa sepengetahuan saya, ibu titipkan lagi ke orang lain. Menurut ibu apakah itu baik?”

“Tidak baik Ustaz, harus ngasih tahu pemiliknya dulu.” Jawabnya.

Saya mulai mengajak ibu itu berpikir dan merenung, saya bertanya, “Allah menitipkan anak ke ibu dan suami, nah…, sudahkah ibu dan suami ibu memberitahu Allah bahwa titipan itu akan kalian titipkan kepada kami di Markaz Maqwa?”

Ibu itu diam. Dia menggeleng. Lalu berkata lirih, “Belum Ustaz.”

Saya menjelaskan urgensi sholat istikharah. Setelah itu, saya meminta ibu dan suaminya, agar “memberitahu” Allah akan menitipkan anak mereka kepada kami di Markaz Maqwa Krui melalui sholat.

Menurut saya, ini sangat penting. Melibatkan Allah dalam mendidik dan mengasuh anak adalah sebuah keniscayaan.

Saya bercerita tentang kisah ibu Nabi Musa, ibu Nabi Ismail dan ibu Nabi Isa.

Saya pun menjelaskan bahwa sebagai ortu, pasti akan ditanya Allah atas titipan-Nya. Allah akan meminta pertanggungjawaban atas anak.

“Apa jawaban ibu saat Allah bertanya tentang anak ibu?” Saya bertanya setelah menjelaskan hari ketika mulut terkunci, tangan berbicara dan kaki bersaksi.

Ibu itu menangis.

* * *

Yang menangis, bukan satu-dua. Di hari Jumat, hari pertama saya interview, lebih setengah dari ortu yang saya wawancara tentang anak adalah titipan Allah, mereka menangis. Begitu juga hari Sabtu.

Ada apakah gerangan mereka menangis?

Krui, 8 Desember 2019

 

Jauhi Phubbing!

“Afwan, sebelum kita ngobrol, HP kita kumpulkan dulu ya,” kata seorang teman saat kami kumpul di sebuah Cafe di Bandung.

Kami semua tertawa. Kesannya seperti lelucon, namun ini serius. Kami mengumpulkan hp di tengah meja tempat kami berkumpul.

Tindakan acuh tak acuh seseorang di dalam sebuah lingkungan karena lebih fokus pada gadged dari pada membangun sebuah percakapan, ini kita sebut dengan istilah phubbing.

Kami ingin menikmati quality time tanpa ada gangguan dari smartphone. Selama ini, setiap hari kami terhubung dengan gadged, terutama di group WA. Namun pertemuan langsung atau kopi darat, sangat jarang, sebab kami memiliki kesibukan masing-masing. Apalagi ada teman baru pulang dari Mesir.

Kami pun menghindari phubbing.

* * *

Apa itu phubbing?

Phubbing singkatan dari phone snubbing, artinya “takada”, yang merupakan penggabungan antara kata “tak” (tidak) dan “ada”.  Istilah ini dipopulerkan oleh Dr James Roberts dan Dr Meredith David dari Baylor University di Texas, setelah mereka melakukan studi tentang phubbing ini.

Dari 143 individu yang diujicobakan, ternyata 70% tidak bisa lepas dari telepon genggam dan melakukan phubbing. Sedangkan 450 responden yang menjadi korban phubbing, 46% nyata-nyata menjadi korban dari pasangannya sendiri dan sisanya langsung mengomel.

Phubbing jika dilakukan sekali dua kali mungkin masih bisa ditolerir bagi pasangan atau teman, namun jika konsisten dilakukan berisiko merusak kualitas hubungan.

Efek jangka panjangnya adalah hal tersebut menjadi biasa dan dimaklumi, komunikasi pun dirasa tidak perlu dilakukan. Hal terburuk adalah seseorang akan dijauhi dan tidak akan diikutsertakan lagi.

Menurut Julie Hart, pakar hubungan sosial dari The Hart Centre, Australia, ada tiga faktor hubungan sosial yang menjadi tumpul karena phubbing.

Pertama adalah akses informasi, di mana kemampuan mendengar dan membuka diri akan informasi dari lawan bicara.

Kedua adalah respon, yakni usaha untuk memahami apa yang disampaikan lawan bicara dan mengerti maksud yang disampaikan. Ketiga adalah keterlibatan, yakni saat dua faktor sebelumnya diabaikan, seseorang tidak akan terlibat dari wacana yang dilontarkan dan hanya mengiyakan saja. Lawan bicara pun akan tersinggung dan yang terburuk malas bicara lagi.

* * *

Tak terasa, jarum jam menunjukan pukul 23.00 WIB. Kami pun bubar. Selain membahas tentang penulisan buku wasathiyyah, kami juga membahas perkembangan Mesir dan mahasiswa Indonesia Mesir. Tak lupa, membicarakan isu-isu yang berkaitan dengan dunia pendidikan dan dakwah yang kami geluti.

“Jangan lupa, HPnya. Hati-hati tertukar.” Kata teman saya sembari bercanda.

Alhamdulillah quality time tanpa phubbing itu berjalan lancar. Yang dekat tetap dekat, sedangkan jauh tetap jauh. Bukan mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat.

Sekali lagi, hindari phubbing!

Ramadhan di Damaskus

Oleh : Dadan Ali Murdani

Ramadhan kali ini di Suriah terlihat lebih tenang dan damai dibandingkan dengan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya pasca meletusnya Arab Spring delapan tahun lalu yang telah memporak-porandakan Suriah dengan perang sipilnya. Perang itu telah melumpuhkan keamanan dan ekonomi masyarakat setempat yang efeknya masih terus terasa bahkan hingga memasuki bulan Ramadhan seperti sekarang. Sehingga masyarakat Suriah pun tidak dapat memaksimalkan perayaan Ramadhannya sebagaimana umat muslim pada umumnya di belahan dunia lain.

Padahal beragam tradisi dan ritual ke ramadhanan sudah mendarah daging bagi masyarakat Arab lebih khusus lagi Suriah, sampai-sampai wilayah Syam ini dikenal dengan ‘kota yang tidak pernah tidur’ kala Ramadhan menjemputnya. Akan tetapi, itu semua kini tinggal cerita.

Suriah dengan ibu kotanya Damasksus tidak seperti dulu lagi. Tidak seramai dahulu kala. Bukan karena mereka enggan keluar dengan alasan faktor keamanan, namun mereka memang ‘dipaksa’ tidak keluar karena alasan ekonomi yang tak kunjung memihak.

Jalanan kota yang lebarnya lebih besar dari jalan-jalan di ibu kota kita, hanya menyisakan aspal panas yang sesekali saja digilas ban mobil. Ya, alat-alat transportasi sudah jarang terlihat, mengingat bahan bakar yang semakin langka dan mahal. Tidak aneh jika satu SPBU bisa di kerumuni oleh banyak mobil yang mengular sampai tiga kilo meter jauhnya.

Saat ini, Suriah juga mulai memasuki musim panas di mana waktu siangnya jauh lebih lama dibandingkan waktu malam. Artinya, penduduk di sini harus rela menahan lapar dari pukul 04:00 subuh sampai adzan Maghrib berkumandang pukul 20:00 waktu setempat. Namun meski demikian, masyarakat di sini sudah terbiasa menjalani puasa di tengah terik mentari yang semakin panas dengan tempo waktu siangnya yang semakin lama. Untuk yang tinggal di kawasan Damaskus mungkin sedikit lebih beruntung karena cuaca di kota ini terbilang cukup sejuk.

Guna menyemarakkan ramadhan di sini, pihak KBRI Damaskus selalu mengadakan  buka puasa bersama WNI dan mahasiswa setiap Kamis selama bulan Ramadan. Acara tersebut sudah menjadi tradisi di kedutaan yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi. Adapun mengenai pelaksanaannya hari Kamis, dikarenakan Kamis di Suriah dan juga dunia Arab lainnya merupakan akhir pekan sehingga bisa dimanfaatkan untuk bersilaturahmi antar sesama warga perantauan.

Setiap Kamis staff  KBRI bergantian menjadi panitia untuk acara buka bersama. Kehangatan suasana di KBRI setiap Kamis sejenak dapat mengobati pada suasana berbuka puasa di kampung halaman mereka di mana menu yang dihidangkan pun khas nusantara, sebut saja bakso, opor, gulai dan lain-lain.

Suriah juga cukup kaya dengan aneka kulinernya  seperti baba ganoush,  fattoush, sawarmma ful, madams kabab bil karraz hummus dan lainnya. Mungkin nama-nama ini masih asing di telinga Indonesia, untuk bisa membayangkannya,  sedikit kami berikan gambarannya. Baba Ganoush adalah campuran terong panggang yang dimasak bersama dengan minyak zaitun dan dibumbui tomat. Makanan ini biasanya digunakan untuk sambal roti. Sedangkan Sawarma, sejenis sandwich yang dilengkapi dengan irisan ayam atau daging kambing lalu dilumuri salad mayones dan mukhalal, sejenis acar, atau disebut tursi bagi orang mesir.

Yang berbeda dari kebiasaan masyarakat Suriah menjelang takjil adalah tidak ditemukannya tradisi buka puasa di jalanan. Tidak seperti negara-negara Arab lainnya semisal Mesir yang kerap kali menyediakan maidaturrahman (jamuan Tuhan) yang bisa  didapati di jalanan umum mana saja dengan tenda-tenda besar dan meja makan yg berjejer panjang. Di Suriah tradisi ini hanya dilakukan di dalam masjid saja.

Pun dengan ritual Tarawihnya. Di Suriah lebih khusus lagi di Damaskus, rakaat Tarawih diseragamkan sesuai dengan anjuran mayoritas ulama di negara ini yakni 23 rakaat. Sedang bagi yang ingin menjalankan 8 rakaat saja mereka diperbolehkan untuk meninggalkan barisan shalat lebih dulu.

Betapapun, Damaskus di kala Ramadhan tetaplah menjadi kota yang indah, kota penuh bersejarah yang jejaknya masih nampak hingga sekarang. Kota yang pernah menjadi panggung kolosal tentang perdamaian dan persaudaraan antar umat manusia.

Salah satu jejak tersebut bernama Al Jami Al Umawi atau masjid Umawiyah. Dahulunya, bangunan ini merupakan tempat peribadatan bangsa Aram dalam menyembah dewa Haddad. Kemudian, ketika agama Nasrani berkembang di Damaskus pada abad ke 4 Masehi, bangunan ini berubah menjadi gereja yang bernama gereja St. John the Baptist Basilica.

Berikutnya, saat Islam masuk ke Damaskus, untuk menjaga kerukunan hidup beragama, umat Nasrani membagi tempat ibadah mereka ini menjadi dua bagian, yang sebelah timur untuk gereja dan sebelah barat menjadi berfungsi sebagai masjid. Oleh karenanya, kedua menara di masjid ini tidak sama pada umumnya. Dua umat beragama beribadah di tempat yang sama, hanya dibatasi dinding pemisah saja.

Dari bangunan yang sama inilah umat Islam mengumandangkan adzan sebagai panggilan shalat, dan umat Nasrani membunyikan lonceng sebagai panggilan ibadah mereka. Hal ini berlangsung kurang lebih selama 70 tahun. Maka, tidak heran jika sampai sekarang umat Nasrani dari berbagai penjuru negara masih ada yang berdatangan ke masjid Umawi ini untuk berziarah. Di salah satu sudut masjid Umawi ini terdapat satu menara putih yang diyakini oleh sebagian umat Nasrani bahwa Almasih selaku juru selamat akan turun kembali ke dunia melalui menara tersebut pada akhir zaman. Hal yang mana diyakini pula oleh kaum muslimin bahwa nabi Isa as. akan turun kembali ke bumi sebagaimana disampaikan oleh nabi Muhamad Saw. dalam salah satu haditsnya.

Belum lama Suriah dilanda perah saudara yang begitu menyakitkan, sudah tidak terhitung lagi berapa korban yang berjatuhan karenanya. Perang memang tidak menyisakan apa-apa selain tangis pilu kesedihan. Namun, Ramadhan datang membawa secercah kesejukan di tengah sahara. Semakin hari, Suriah, khususnya Damaskus semakin terasa tenang dan aman. Masyarakat semakin merasa leluasa beraktifitas. Semoga Ramadhan tahun ini membawa hawa perdamaian bagi Suriah dan juga bagi negara-negara yang sedang berkonflik pada umumnya.[]