Syahadat itu Bukan untuk Allah

Quraish Shihab

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Para orangtua sejak dahulu mengajarkan anak-anaknya untuk melafalkan dua kalimat syahadat. Asyhadu anlaa ilaaha ilallaah wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullah, aku bersaksi bahwa sesungguhnya tiada tuhan kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad utusan Allah. Namun, para orangtua kita dahulu tidak semata mengajarkan kalimatnya saja, melainkan juga mengajarkan tentang maknanya.

Sayang, para orangtua di zaman ini nampaknya tidak lagi mengajarkan itu. Salah satu indikatornya adalah ada orang-orang yang mau menikah, manakala disuruh untuk mengucapkan dua kalimat syahadat saat prosesi akad nikah itu masih terbata-bata. Itu menjadi tanda bahwa jangankan memahami makna, mengucapkan kalimatnya pun masih tertatih-tatih. Fenomena seperti ini sudah bukan rahasia lagi, banyak terjadi.

Dalam konteks rukun iman dan rukun islam, adalah hal yang menarik manakala syahadat disebut sebagai poin pertama dalam rukun Islam. Demikian juga dalam rukun iman, hal pertama yang disebutkan adalah tentang keesaan Allah Ta’ala.

Saudaraku, manusia kerap kali terpaku pada kata-kata, atau pada kalimat, tanpa mendalami apa intisari atau substansi dari kalimat itu. Ketika seseorang mendengar hadits Nabi Saw. tentang agama yang terbangun oleh lima perkara yang salah satunya dan nomor pertamanya adalah syahadat, maka orang itu menyimpulkan bahwa kelima hal itulah Islam. Padahal sebenarnya, saya seringkali mengutarakan bahwa intisari dari ajaran Islam adalah akhlak.

Oleh karena itu, kita membaca dalam surat Al Ma’un di mana Allah Swt. menjelaskan bahwa orang yang mendustakan agama adalah orang yang menghardik anak yatim, yang tidak memberikan makanan kepada fakir miskin. Artinya apa, artinya cukuplah seseorang disebut berdusta saat dia menyatakan dirinya sebagai muslim sementara dia berakhlak buruk terhadap anak yatim dan fakir miskin. Keislaman kita, terimplementasikan dalam akhlak kita. Akhlak yang mulia merupakan pancaran dari keimanan yang kokoh kepada Allah Ta’ala.

Sekarang, apa korelasi antara kedudukan syahadat dalam rukun Islam dengan keimanan kepada Allah dalam rukun iman. Yaitu, syahadat dalam rukun Islam merupakan urusan lisan dan perbuatan, sedangkan keimanan kepada Allah dalam rukun iman adalah persoalan keyakinan di dalam hati.

Allah tentu Maha Mengetahui keyakinan kita kepada-Nya yang tersimpan di dalam hati meskipun kita tidak mengucapkannya. Akan tetapi, kita tidak akan dikenal sebagai seorang muslim oleh orang lain kecuali jika kita mengucapkan dua kalimat syahadat.

Jadi, sebenarnya ucapan dua kalimat syahadat adalah untuk kepentingan kita sendiri supaya kita mendapat hak kita sebagai muslim. Sebagai contoh, seorang muslim meninggal dunia, maka dia berhak untuk jenazahnya dishalatkan oleh kaum muslimin. Tapi, jika dia bukan muslim, jika dia kafir, maka dia tidak memiliki hak untuk dishalatkan jenazahnya.

Dengan mengucapkan dua kalimat syahadat yang menjadi bagian dari rukun Islam, maka kita sudah diakui sebagai muslim. Terlepas apakah kita meyakini di dalam hati apa yang kita ucapkan itu. Terlepas dari apakah kita menunaikan shalat atau tidak, orang lain sudah mengakui bahwa kita adalah seorang muslim. Data di KTP kita pun akan ditulis beragama Islam.

Mari kita buka lagi lembaran sejarah. Paman Nabi yang bernama Abu Thalib adalah sosok yang selalu terdepan membela keponakannya yaitu Muhammad Saw. dari rongrongan kaum kafir Quraisy di Mekkah kala itu. Diam-diam Abu Thalib sebenarnya menyadari bahwa keponakannya itu membawa kebenaran. Akan tetapi, di dalam hatinya ada rasa enggan kehilangan kedudukan di mata kaumnya sehingga membuat dia pantang mengucapkan dua kalimat syahadat. Jika saja Abu Thalib mengucapkan kalimat itu, maka kaumnya pun tahu bahwa dia telah berpaling dari agama nenek moyang kepada agama Islam.

Jadi saudaraku, dua kalimat syahadat yang kita ucapkan kepentingannya bukanlah untuk Allah, melainkan untuk diri kita sendiri. Sebagai bentuk deklarasi di hadapan orang lain bahwasanya kita ini muslim. Namun meski begitu, dua kalimat syahadat ini pun tentu memiliki substansi yang berkaitan dengan keyakinan kita kepada Allah sebagai Dzat satu-satunya yang wajib disembah.

Oleh karenanya, akan menjadi rancu jika ada seseorang mengaku dirinya muslim, namun di tengah pesta dia ikut menenggak minuman keras yang mana itu adalah hal yang diharamkan oleh Allah Ta’ala. Akan menjadi rancu jika seseorang mengaku dirinya muslim di hadapan orang lain, tapi dia korupsi, dia mencuri, dia mengambil harta yang bukan haknya. Maka, ucapan dua kalimat syahadatnya hanya menjadi formalitas semata di hadapan manusia. Sementara di hadapan Allah ucapannya itu tiada bernilai.

Dua kalimat syahadat akan berdampak pada datangnya pengakuan dari orang lain. Dan, dua kalimat syahadat yang diiringi dengan keyakinan di dalam hati akan membuahkan kemuliaan akhlak dan menjadikan pengucapnya itu mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat. []

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=WzwslDxuuZU

Seribu Jalan Menuju Tanah Suci

Oleh : Quraish Shihab

Bismillahirrahmanirrahim. 

Ada orang yang sudah menabung sekian lama demi bisa menunaikan umrah, namun tidak jadi karena rupanya ia menjadi korban dari penipuan bisnis travel umrah. Ada juga pedagang kecil yang sudah menyisihkan sedikit demi sedikit dari keuntungannya demi bisa ibadah haji tahun ini, tapi batal karena pandemi.

Saudaraku, berbagai cara dilakukan oleh banyak orang untuk melunasi kerinduannya kepada tanah suci, baik dengan cara berumrah maupun berhaji, atau keduanya.

Ketika dahulu Nabi Ibrahim as. membangun Ka’bah, saat itu Mekkah belum banyak dikunjungi orang. Ia hanya lembah tandus yang menjadi sekedar tempat singgah sebentar saja bagi orang yang melakukan perjalanan. Bahkan saat itu belum ada air, sampai kemudian nanti ditemukan sumber air Zamzam dalam peristiwa Siti Hajar dan bayinya, nabi Ismail as.

Salah satu doa nabi Ibrahim adalah, “..Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah rezeki mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim [52] : 37)

Dan, doa ini makbul, dikabulkan oleh Allah Ta’ala.

Doa nabi Ibrahim yang lain adalah, “Ya Tuhanku jadikanlah negeri Mekkah ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian.” (QS. Al Baqarah [2] : 126)

Doa inipun dikabulkan oleh Allah Ta’ala. Sampai sekarang, di Mekkah maupun Madinah, meskipun dikelilingi padang pasir, tapi aneka buah-buahan dapat ditemukan di sana. Meski pohonnya tidak tumbuh di sana, tapi buah-buahan tersedia melimpah.

Jadi, kerinduan orang-orang untuk berziarah ke Mekkah dan Madinah salah satunya adalah berkat doa nabi Ibrahim.

Kedua, bahwa di sana ada ‘rumah’ Allah. Baitullah. Orang yang mencintai seseorang misalkan, maka ia akan cenderung untuk datang berkunjung kepada orang yang dicintainya. Bahkan berkali-kali. Bahkan jauhpun tidak apa.

Maka, sangatlah rugi jika ada orang yang mengunjungi rumah kekasihnya, bahkan menempuh jarak yang jauh. Tapi, sesampainya di sana ia hanya mendapati bangunan rumahnya saja, sementara tidak bertemu dengan kekasihnya.

Inilah gambaran tentang betapa ruginya seseorang yang berangkat umrah atau haji ke tanah suci, ke Baitullah. Tetapi di sana ia hanya bertemu dengan bangunan rumah Allah-nya saja. Sedangkan, dengan Allah, dia tidak ‘bertemu’.

Maka, ada ungkapan, “Jika anda tidak dapat berkunjung ke rumah kekasih. Maka, undanglah kekasih untuk berkunjung ke rumah anda.”

Ini menjadi gambaran betapa seseorang sangat merindukan kekasihnya sehingga ingin bertemu. Demikianlah kerinduan seseorang kepada Allah. Meskipun kedekatan dengan Allah bisa dilakukan di mana saja, termasuk di rumahnya sendiri dengan menunaikan amalan ibadah. Namun, Baitullah bagaikan sebuah meeting poin yang sangat spesial. Sehingga orang sangat rindu ‘bertemu’ dengan Allah di sana. Di rumah-Nya. Di Baitullah.

Saudaraku, pada hakikatnya setiap muslim itu sudah terpanggil atau dipanggil oleh Allah untuk berkunjung ke rumah-Nya. Karena Allah Ta’ala berfirman, “..Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.” (QS. Ali Imran [3] : 97)

Setiap orang yang mampu, mengupayakan diri untuk mampu, sudah terpanggil untuk berziarah ke Baitullah. Cukup satu kali seumur hidup.

Bahwa ada orang yang berhaji berkali-kali ke Baitullah, sebagai wujud kerinduan kepada Allah, maka itu diperbolehkan. Hanya saja dalam hal hubungan kemanusiaan, di mana begitu banyak orang di dunia ini yang sama-sama merindukan Baitullah, maka kemudian pemerintah Arab Saudi maupun pemerintah di berbagai negara menetapkan kuota dan membatasi orang secara giliran.

Pemerintah Arab Saudi sendiri membatasi warganya untuk berhaji satu kali saja dalam lima tahun untuk memberikan kesempatan kepada orang lain yang belum berhaji.

Jika ada orang yang menghalalkan berbagai cara agar bisa berhaji untuk kesekian kalinya sehingga mengakibatkan jatah orang lain terambil, maka ia sudah melakukan kezhaliman. Kecuali bagi orang-orang yang memang karena panggilan tugas membuat ia perlu berhaji lebih dari satu kali maka itu tidak menjadi masalah.

Dalam hal batalnya berangkat haji atau umrah padahal persiapan sudah dilakukan, dan batalnya haji ini boleh jadi karena faktor eksternal seperti pandemi, penipuan atau sebab lainnya, dan boleh jadi karena faktor internal misalnya tiba-tiba ada kebutuhan dana yang cukup besar dan mendadak seperti orangtua masuk rumah sakit yang mengakibatkan dana umrah atau haji harus terpakai, maka pada prinsipnya mendahulukan yang butuh itu lebih baik daripada mendahulukan yang tidak butuh.

Umrah dan haji bukanlah satu-satunya kewajiban. Umrah dan haji menjadi wajib jika memang kita sudah memiliki kemampuan lebih baik secara finansial maupun lainnya.

Sedangkan jika orangtua membutuhkan bantuan kita, keadaannya sedang kritis, dan dana kita pas-pasan. Maka, menunda umrah atau haji demi membantu orangtua maka itu jauh lebih utama. Apalagi jika umrah dan hajinya itu untuk kedua atau kesekiankalinya.

Saudaraku, jangan pula berangkat umrah atau haji dengan cara berhutang. Karena itu artina kita belum terkategori mampu secara finansial. Apa jaminannya jika sepulang kita dari tanah suci kemudian kita masih ada umur untuk melunasinya? Jangan sampai kita malah membebani keluarga.

Berupaya untuk mampu umrah dan haji, itu harus. Maka menabunglah. Jangan memaksakan diri dengan cara berhutang. Karena jika kita sungguh-sungguh ikhlas berniat umrah dan haji, kemudian berupaya menabung, namun tidak kesampaian karena faktor kesehatan atau usia yang tidak sampai. Maka, Allah akan memberi kita pahala yang nilainya setara dengan amalan umrah atau haji tersebut.

Allah Ta’ala berfirman, “..Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nisa [4] : 100)

Saudaraku, sungguh Allah Maha Tahu dengan kerinduan yang terpendam di hati kita kepada Baitullah. Dan, Allah Maha Tahu atas upaya yang kita lakukan untuk merealisasikan kerinduan kita itu.

Dalam proses kita mempersiapkan diri, iringilah upaya kita tersebut dengan amalan-amalan yang ganjarannya setara dengan ibadha umrah dan haji. Apa saja?

Pertama, shalat berjamaah di awal waktu di masjid dan shalat Dhuha. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Saw., “Siapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan suci untuk menunaikan shalat fardhu akan diberikan pahala ibadah haji. Sementara orang yang keluar rumah untuk mengerjakan shalat dhuha dan tidak ada tujuan lain selain itu, maka akan diberikan pahala umrah,” (HR Abu Daud).

Kedua, berdzikir selepas shalat Subuh berjamaah di awal waktu hingga waktu terbit matahari. Karena Rasulullah Saw. bersabda, “Siapa yang mengerjakan shalat subuh berjemaah, kemudian dia tetap duduk sambil dzikir sampai terbit matahari dan setelah itu mengerjakan shalat dua rakaat, maka akan diberikan pahala haji dan umrah.” (HR. Tirmidzi)

Ketiga, pergi ke masjid untuk menimba ilmu atau mengajarkan ilmu. Rasulullah Saw. bersabda, “Siapa yang berangkat ke masjid hanya untuk belajar kebaikan atau mengajarkannya, diberikan pahala seperti pahala ibadah haji yang sempurna hajinya.” (HR Thabrani)

Saudaraku, bisa menunaikan umrah dan haji adalah dambaan setiap orang, meski kenyataannya tidak setiap orang dapat meraih apa yang didambakannya itu. Namun, janganlah berkecil hati. Berdo’a dan berupayalah terus, karena sesungguhnya do’a dan upaya kita itu akan tercatat sebagai amal shalih di hadapan Allah Ta’ala.

Adanya amalan yang nilai ganjarannya setara umrah dan haji bukan berarti membuat kita merasa tidak perlu berupaya agar mampu berangkat umrah dan haji. Sebaliknya, harus semakin membuat kita semangat untuk dapat menggapainya.

Boleh jadi, Allah takdirkan kita berangkat umrah dan haji justru bukan dengan tabungan kita, bukan dengan uang kita, tapi Allah mudahkan jalan lain bagi kita untuk sampai di Baitullah. Hal seperti ini sudah banyak dialami oleh orang-orang di dunia ini. Tidak ada yang mustahil bagi Allah.

Kuncinya adalah tetap berdo’a, berikhtiar, sabar, berbaik sangka kepada Allah. Niscaya Allah mudahkan bagi kita jalan untuk dapat bersujud kepada Allah di rumah-Nya yang penuh keberkahan. Aamiin yaa Allah yaa Rabbal’aalamiin.

 

*) Disarikan dari https://www.youtube.com/watch?v=V3UY1gfiPoA

 

 

Ketahanan Pangan dalam Pandangan Islam

Oleh : TGB. Muhammad Zainul Majdi

Bismillaahirrahmaanirrahiim. 

Islam adalah agama yang sempurna. Kesempurnaannya meliputi segala urusan dari ibadah mahdhah hingga ghair mahdhah, mencakupi urusan ibadah yang privat dan sangat personal hingga urusan ibadah yang memiliki dimensi sosial.

Dan, salah satu aspek yang mendapatkan perhatian cukup besar dalam ajaran Islam adalah aspek ketahanan pangan. Karena, urusan ini memiliki keterkaitan erat dengan hajat hidup orang banyak dan berdampak pada kualitas kehidupan manusia.

Terdapat beberapa hal yang fundamental dalam Islam terkait ketahanan pangan ini.

Pertama, urusan pangan dalam Islam tidak hanya urusan biologis semata, melainkan urusan yang sangat spiritual.

Rasulullah Saw. pernah menyampaikan dalam satu hadits, “Sesungguhnya Allah itu Maha baik dan tidak menerima, kecuali sesuatu yang baik. Dan, sesungguhnya Allah telah memerintahkan kaum Mukminin dengan perintah yang Allah gunakan untuk memerintahkan para rasul. Maka Allah berfirman,”Wahai para rasul, makanlah segala sesuatu yang baik dan beramal shalihlah (Al Mukminun : 41).” Dan Allah juga berfirman,”Wahai orang-orang yang beriman, makanlah segala sesuatu yang baik, yang telah kami berikan kepada kalian (Al Baqarah : 172).”

Kemudian Rasulullah menyebutkan tentang seseorang yang melakukan perjalanan panjang, kusut rambutnya, kemudian mengangkat tangannya dan mengatakan : “Wahai Rabb-ku, Wahai Rabb-ku”, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, perutnya diisi dengan sesuatu yang haram, maka bagaimana Kami mengabulkan doanya?” (HR. Muslim)

Kandungan dalam hadits ini menunjukkan kepada kita bahwa urusan pangan bisa berdampak kepada diterima atau ditolaknya suatu amal ibadah oleh Allah Swt. Seperti gambaran seseorang yang melakukan perjalanan jauh dan melelahkan untuk bisa sampai di depan Ka’bah dan bersujud kepada Allah, sementara selama ini ia mengkonsumsi makanan yang haram, pakaiannya pun didapat dari jalan yang haram.

Maka, terhadap orang seperti ini Rasulullah menyampaikan pertanyaan retoris bahwa bagaimana mungkin ibadah dari orang yang seperti demikian ini akan diterima oleh Allah Swt.

Suatu ketika, salah satu sahabat yaitu Saad bin Abi Waqash datang kepada Rasulullah Saw. dan mengadu kepadanya. “Ya Rasulullah, rasanya sudah banyak aku berdoa kepada Allah tapi rasanya belum ada yang dikabulkan?” tanya Saad. Lantas Rasulullah Saw. menyampaikan, “Wahai Saad, perbaiki sumber makananmu. Pastikan dari sesuatu yang baik, diperoleh dengan jalan yang baik, dikonsumsi dengan baik. NIscaya doamu akan dikabulkan.”

Jadi, pangan itu sangat spiritual, menentukan diterima atau tidaknya amal kita, menentukan dikabul atau tidaknya doa kita. Bahkan, hingga menentukan bagaimana keadaan kita kelak di akhirat.

Rasulullah Saw. pernah bersabda kepada Ka’ab bin Ujrah, “Sesungguhnya tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari makanan haram.” (HR. Ibnu Hibban)

Dalam riwayat lain redaksinya sedikit berbeda namun memiliki substansi yang sama, Rasulullah Saw. bersabda, “Wahai Ka’ab bin Ujrah, tidaklah daging manusia tumbuh dari makanan haram kecuali neraka lebih utama atasnya.” (HR. Tirmidzi)

Setiap secuil daging yang tumbuh di dalam tubuh seseorang maka akan dibersihkan terlebih dahulu dengan panasnya api neraka. Na’udzubillaahi mindzalik, semoga kita dilindungi oleh Allah Swt.

Di bulan Ramadhan yang istimewa ini, kita disyariatkan untuk menunaikan ibadah puasa. Salah satu hikmah agung dari pelaksanaan puasa kita adalah semakin terpeliharanya urusan pangan yang masuk ke dalam tubuh kita. Jika di bulan-bulan yang lain kita lebih bebas untuk makan dan minum ketika berada di luar rumah sehingga seringkali kita luput untuk disiplin memperhatikan ada kandungan apa sebenarnya dalam makanan dan minuman yang kita konsumsi. Jangan-jangan ada zat haram atau syubhat yang luput dari perhatian kita.

Sedangkan di bulan Ramadan, kita lebin terpelihara dari semua itu karena kita hanya makan pada saat sahur dan berbuka, dan itu biasanya kita lakukan di rumah yang mana kualitas makanan dan minuman menjadi lebih terjaga kehalalannya.

Selain itu, puasa yang kita lakukan selama bulan Ramadhan juga akan mengikis habis daging-daging di dalam tubuh kita yang tumbuh dari harta haram dan syubhat. Sehingga yang tersisa di dalam diri kita adalah daging yang bersih dan akan selamat dari panasnya api neraka, insyaaAllah!

Fundamental yang Keduabahwa Allah Swt. telah menjamin rezeki seluruh makhluk-Nya (QS. Hud [11] : 6)

Kita tahu bahwa risalah Islam di dalam kehidupan kita itu menghadirkan nur atau cahaya. Kalau dalam bahasa Al Quran terdapat kalimat yang artinya, “Al Qur`an mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju terang benderang” (QS. Ibrahim [14]:1)

Implementasi yang riil dari Nur adalah kota Madinah Al Munawwarah, kota atau negeri yang menjadi cahaya, penerang, mercusuar kebaikan, teladan bagi negeri-negeri yang lain. Inilah negeri yang dibangun oleh Rasulullah Saw.

Bahwa risalah Islam membawa Nur dalam kehidupan manusia, hal ini dirangkum dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 201,

وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

“Dan, di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.

Dalam kerangka mewujudkan Fiddunya hasanah, Allah Swt. memberikan panduan kepada kita, tentang bagaimana agar kehidupan ini bisa berjalan dengan baik. Hal-hal yang terpenting seperti pangan dalam kehidupan dapat terpenuhi dan tercukupi. 

Jika kita buka Al Quran, dan kita tafakuri bentangan kandungan Al Quran, maka kita bisa menemukan bahwa ternyata Al Quran memberikan perhatian luar biasa besar porsinya untuk aspek ketahanan pangan. Panduan Al Quran mengenai ketahanan pangan bagi manusia dimulai dari satu prinsip yang utama, yaitu bahwa seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini sudah dijamin rezekinya oleh Allah Swt.

Pada dasarnya Allah telah siapkan jatah rezeki setiap individu. Bahkan hingga binatang yang paling kecil pun, Allah sudah jamin rezekinya.

Salah satu kebiasaan buruk orang Arab di masa lalu adalah tidak menyukai anak perempuan karena dianggap sebagai beban keluarga dan beban sosial. Mereka menganggap bahwa anak perempuan tidak bisa diandalkan untuk menjadi sumber rezeki keluarga, mereka tidak bisa berniaga ke negeri-negeri jauh, tidak bisa berperang. Maka Allah Swt. turunkan ayat ini kepada Rasulullah Saw.,

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami-lah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” (QS. Al Isra [17] : 31)

Saking tidak sukanya kaum Arab jahiliyah di waktu itu terhadap anak perempuan, sampai-sampai mereka tega membunuhnya. Maka, turunlah ayat ini. Dan, ayat ini sangat menarik, karena Allah berjanji mencukupi rezeki anak-anak perempuan khususnya, dan setiap orang pada umumnya, meskipun mereka belum lahir ke dunia.

Dan, jaminan rezeki dari Allah tidak hanya ditujukan untuk manusia dan hewan, melainkan bagi bumi itu sendiri.

Untuk bumi yang kita tinggali ini Allah Swt. sudah menciptakannya sedemikian rupa secara lengkap dan menjadi tempat yang paling representatif untuk ditinggali oleh segala makhluk yang berada di dalamnya. Banyak sekali ayat Al Quran yang menerangkan tentang hal ini, bagaimana Allah cukupi kebutuhan makhluk akan air dengan diaturnya curah hujan, pergantian malam dan siang, peredaran matahari dan bulan dan lain sebagainya.

Kita bersyukur tinggal di Indonesia yang Allah anugerahi dengan kekayaan alam sangat berlimpah. Sekitar 1,2 juta km persegi dan lautan sekitar 3,25 juta km persegi, dengan keanekaragaman hayati yang dikandungnya. Ini adalah potensi pangan kita yang luar biasa berlimpah. Pertaniannya, perkebunannya, perikanannya, peternakannya, semua luar biasa.

Kata kunci untuk semua potensi itu adalah memanfaatkan dengan penuh tanggung jawab. Kata kunci ini penting kita pegang setiap kita mengkaji ketahanan pangan dalam sudut pandang Islam.

Ketiga, pemanfaatan secara adil dan seimbang.

Di dalam Al Quran, Allah memperkenalkan satu kosa kata yang pada masa awal turunnya Al Quran, kosa kata ini belum akrab dikenal oleh orang Arab. Kosa kata ini ada tapi sangat jarang dipakai. Kosa kata itu adalah Al Mizan. Mari kita renungkan firman Allah berikut ini,        

 “Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan, agar kamu jangan merusak keseimbangan itu, dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu. Dan, bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk (-Nya)” (QS. Ar Rahman [55] : 7 – 10)

Luar biasa kandungan ayat-ayat ini. Kita dapat membaca bahwa Allah menghendaki keseimbangan yang terjaga. Al Mizan itu artinya bisa timbangan, keseimbangan, keadilan. Arti atau maknanya bermacam-macam yang dapat diterapkan sesuai dengan konteks ayatnya. Namun, ada satu benang merah dari semua arti tersebut yaitu sikap pertengahan, proporsionalitas, moderasi.

Signifikansi dari ayat-ayat tadi adalah bahwa ternyata Allah mengawali segala ciptaan-Nya dengan keseimbangan, Al Mizan. Seperti bunyi ayat-ayat tersebut tadi, berulang kali Allah menyebutkan Al Mizan, baru kemudian disusul dengan menyebutkan bumi sebagai tempat yang diperuntukkan bagi makhluk-makhluk-Nya.

Ketika kita berbicara ketahanan pangan, maka kita sedang berbicara tentang sustainabilitas atau keberlanjutan. Bahwa segala potensi yang ada di alam ini tidak boleh kita manfaatkan secara eksploitatif destruktif, melainkan harus dalam pola keseimbangan dan tidak berlebihan.

Ada sebuah ilustrasi ringan namun mencerminkan Islam sebagai ajaran yang sangat menghormati sumber daya yang ada, tidak menyukai pemborosan. Dulu ketika Rasulullah Saw. melihat ada seorang sahabat, yaitu Saad, sedang berwudhu.

Rasulullah Saw. berkata, “Hai Saad, jangan berlebihan memakai air saat berwudhu.” Lantas, Saad bertanya, “Ya Rasulullah, memang ada bentuk berlebihan dalam menggunakan air?”

Rasulullah Saw. Pun mengiyakan dan bersabda, “Walaupun engkau sedang berada di tepi sungai yang airnya berlimpah dan mengalir deras.”

Betapa indah ilustrasi ini, karena sungai yang airnya mengalir deras tidak ada di kota Mekkah di zaman itu. Namun, dalam sabdanya ini Rasulullah ingin menegaskan bahwa segala perilaku yang mengarah kepada sikap berlebihan, mubadzir, pemborosan, itu semua sangat bertentangan dengan tuntunan Islam.

Sehingga menggunakan air dalam keadaan air sedang banyak pun tetaplah harus sesuai dengan ukuran yang cukup untuk memenuhi kebutuhan.

Menyempurnakan bahasan Al Mizan dalam surat Ar Rahman tadi, Allah Swt. bersabda,

اَللّٰهُ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ وَالْمِيْزَانَ

“Allah yang menurunkan Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran dan neraca (keadilan)..” (QS. Asy Syura [42] : 17)

Allah memberikan penjelasan melalui ayat ini bahwa Al Quran itu isinya dua : Kebenaran dan Al Mizan (timbangan, keadilan, keseimbangan).

Keempat, kebijakan politik ekonomi untuk pangan. Kebijakan pemerintah yang adil dalam urusan pangan akan berpengaruh besar terhadap ketahanan pangan.

Rasulullah Saw. dalam kapasitasnya sebagai seorang pemimpin telah membangun ekonomi yang berkeadilan. Ketika Rasulullah berhijrah dari Mekkah ke Madinah, di Madinah itu sudah ada pasar umum. Namun, pasar di Madinah ini tidak sehat.

Pasar tersebut didominasi oleh sekelompok kecil yaitu Yahudi. Ada Kaab bin Asyraf dan lainnya dari kelompok kecil Yahudi yang mengendalikan denyut nadi pasar Madinah.

Rasulullah Saw. ketika itu sudah menjadi seorang pemimpin di Madinah. Namun meski begitu, Rasulullah tidak memaksakan diri dengan kekuasaannya untuk menghapus dominasi Yahudi di pasar tersebut dengan seketika. Rasulullah juga tidak membubarkan pasar tersebut secara paksa.

Yang Rasulullah lakukan adalah membuka pasar alternatif. Rasulullah mencari lahan baru untuk dibuka sebagai pasar dan di pasar yang baru inilah Rasulullah membangun visi misi ekonomi yang berkeadilan.

Melalui pasar ini Rasulullah ingin mengimplementasikan pesan-pesan Allah di dalam Al Quran untuk membangun ekonomi yang berkeadilan. Bagaimana caranya agar tidak terjadi monopoli sumber ekonomi, tidak terjadi pemusatan sumber daya hanya pada segelintir orang kaya saja yang bisa mempengaruhi secara kurang baik bagi kesejahteraan rakyat banyak.

Diriwayatkan bahwa ketika Rasulullah memulai membuka pasar alternatif ini, saat beliau mendirikan tenda, ada seorang Yahudi yang merobohkannya. Namun, Rasulullah tetap fokus pada visi misinya, tidak terpancing dengan tindakan provokatif dari Yahudi itu. Lantas Rasulullah berpindah ke tempat lain dengan tujuan yang sama : membangun pasar.

Di pasar yang baru inilah Rasulullah Saw. memperkenalkan cara baru dalam berekonomi. Beliau hapuskan monopoli seraya terus mensyiarkan bahwa monopoli itu dosa besar. Demikain juga dengan transaksi riba, ditiadakan oleh Rasulullah di pasar ini, beliau ganti dengan fair trade, perdagangan yang fair.

Setelah pasar itu berdiri, Rasulullah tidak lantas membiarkannya begitu saja, melainkan beliau secara berkala mendatangi pasar tersebut. Sesekali beliau melakukan inspeksi kepada para pedagang, sehingga dalam satu riwayat disebut bahwa beliau pernah memasukan tangannya ke dalam karung yang berisi gandung dan ternyata gandung di bagian dalam agak basah yang mana ini bisa menyebabkan bobotnya menjadi lebih berat saat ditimbang.

Tindakan-tindakan Rasulullah ini dimaksudkan untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat mengenai jual beli yang halal dan baik, selamat dari kecurangan.

وَأَوْفُوا الْكَيْلَ إِذَا كِلْتُمْ وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya.” (QS. Al Isrâ`[17]:35).

Rasulullah memberikan perhatian khusus di pasar tersebut kepada komoditas pangan. Bahkan dalam sebuat riwayat disebutkan bahwa beliau sampai mengangkat orang yang khusus bertugas memantau arus pangan yang masuk dan keluar di pasar itu. Salah satu sumber pangan di pasar Madinah itu adalah pangan yang berasal dari ladang Khaibar di mana terdapat perkebunan gandum dan kurma cukup luas di sana.

Rasulullah menugaskan sahabat Hudzaifah bin Al Yaman untuk mencatat angka produktifitas pangan di Khaibar setiap musimnya beserta seberapa besar volume yang masuk ke pasar Madinah dan yang keluar dari sana.

Hal ini menjadi indikasi bahwa Rasulullah sebagai seorang pemimpin memiliki kebijakan politik ekonomi terkait ketahanan pangan untuk memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi dengan baik dan menghindarkan kenaikan harga yang ekstrim yang menyebabkan masyarakat tidak dapat membelinya.

Di dalam Al Quran surat Yusuf kita juga dapat belajar bagaimana Nabi Yusuf as. memperkenalkan satu pola ketahanan pangan dengan membangun satu sistem cadangan pangan strategis. Nabi Yusuf dalam hal ini berposisi sebagai pemegang kebijakan dan menggunakan wewenangnya untuk memastikan ketahanan pangan masyarakatnya.

قَالَ تَزْرَعُوْنَ سَبْعَ سِنِيْنَ دَاَبًاۚ فَمَا حَصَدْتُّمْ فَذَرُوْهُ فِيْ سُنْۢبُلِهٖٓ اِلَّا قَلِيْلًا مِّمَّا تَأْكُلُوْنَ

“Dia (Yusuf) berkata, “Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun (berturut-turut) sebagaimana biasa; kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di tangkainya kecuali sedikit untuk kamu makan.” (QS. Yusuf [12] : 47)

Sebagai penutup, ketahanan pangan bukanlah urusan individual, melainkan urusan dan tanggungjawab kolektif. Berbicara ketahanan pangan maka kita tidak sedang berbicara dalam skup kecil sebuah keluarga, akan tetapi ini adalah wacana kolektif. Maka, Rasulullah Saw. banyak sekali mewasiatkan tentang pentingnya sikap empati terhadap tetangga yang berada dalam keadaan kurang beruntung.

Seperti sabda Rasulullah Saw., “Tidaklah sempurna iman seseorang yang ia tidur dalam keadaan kenyang sedangkan disampingnya ada tetangga yang kelaparan sedangkan dia mengetahuinya.” (HR. Thabrani dan Al Bazzar)

Bahkan dalam ibadah yang sangat privat atau personal antara seorang hamba dengan Allah Swt., terdapat satu mekanisme atau cara mendapatkan ampunan dari Allah Ta’ala yaitu berupa menyantuni orang lain yang kekurangan pangan.

Satu contoh, jika ada pasangan suami istri yang melakukan ‘hubungan’ di siang hari bulan Ramadhan, maka untuk menebus kesalahannya syariat Islam mengharuskan mereka untuk memberi makan 60 orang miskin. Sementara bagi orang yang berhalangan puasa karena udzur syar’i yang berat seperti sakit yang tidak dapat diharapkan kesembuhannya, atau karena faktor usia yang sudah tua dan lemah, maka tebusannya adalah fidyah, yaitu memberi makan fakir miskin.

Maka, sekali lagi, ketahanan pangan adalah urusan kolektif. Bukan urusan individual atau domestik keluarga saja, melainkan memiliki dimensi sosial.

Dalam kondisi pandemi Covid 19 saat ini, banyak sekali orang yang terdampak secara ekonomi sehingga mengancam ketahanan pangan mereka. Maka, kita tidak bisa menyerahkan sepenuhnya kondisi kepada pemerintah karena pemerintah pun memiliki daya jangkau yang terbatas. Dan, tidak juga kita membiarkan masalah ini sebagai masalah masing-masing tanpa ada saling peduli dan empati satu sama lain.

Kondisi pandemi seperti sekarang inilah saatnya kita mengamalkan ajaran Rasulullah Saw. bahwa tidaklah sempurna iman kita jikalau tidak memiliki empati terhadap sesama yang membutuhkan bantuan.

Ketahanan pangan dalam Islam merupakan hal yang spiritual dan diupayakan dengan langkah-langkah sosial. Wallaahua’lam bishawab.[]

*) Disarikan dari https://www.youtube.com/watch?v=K_J4zwtXxHM&t=1572s

Corona Untuk Muhasabah

Oleh: Amirullah Kandu

Sejak mewabahnya virus terbaru ini sejak Desember 2018 di Kota Wuhan China, ratusan ribu jiwa telah menjadi korban atas serangan mahluk super kecil ini. Terbukti, tidak ada satu negara pun yang sanggup menghentikan wabah ini setidaknya sampai detik ini. Bahkan sekelas negara adidaya Amerika Serikat dibuat tidak berkutik oleh serangan wabah ini.

Apa yang tidak dimiliki oleh sebuah negara Amerika Serikat? Kekuatan ekonomi, kecanggihan teknologi, peralatan perang paling mutakhir, dan hak veto yang sanggup mengendalikan politik dunia.

Ternyata sederet kelebihan tersebut, tidak bisa dijadikan tolak ukur akan kekuatan makhluk bila dihadapkan dengan kekuatan Allah SWT. Makhluk kecil ini hanya salah satu di antara ciptaan Allah untuk menegur siapapun yang berlagak sombong di muka bumi ini.  “Janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong dan merasa paling besar. Karena meskipun kamu melakukan kesombongan itu, sekerar-kerasnya hentakan kakimu tetap tidak akan bisa menembus bumi. Demikian pula, kendatipun kamu tinggikan dirimu tanda kesombongan, ketinggianmu itu tetap tidak akan sampai menyejajari tingginya puncak gunung.” (QS. Al-Israa’ [17]: 37)

Coronavirus tiba-tiba menjadi momok yang sangat menakutkan bagi manusia sejagad raya ini. Bagi mereka yang menganut prinsip hidup hedonis dan materialistis, tentu “shock” dan kelabakan, karena tiba-tiba kenikmatan yang selama ini dirasakan hilang seketika. Prinsip hidup materialistis nan hedonis tidak hanya dianut oleh orang-orang Eropa yang mayoritas non-Muslim. Namun, celakanya, prinsip ini sudah menjangkiti gaya hidup sebagian besar umat Islam yang notabene memiliki prinsip-prinsip hidup yang sangat luhur berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Hadits Rasulullah SAW yang artinya “tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai dia mencintai apa yang dicintai saudaranya,” hanya menjadi jargon dan retorika belaka. Tidak ada implementasi dari mereka yang selama ini diberi kenikmatan duniawi.

Ajaran-ajaran Islam pun secara tidak sadar mulai ditinggalkan. Konsep hidup tolong-menolong dan tenggang rasa antar sesama tergantikan dan terkikis oleh egoisme pragmatis. Kearifan lokal yang ada di dalam budaya Indonesia terkubur oleh prilaku-prilaku “tamak” akibat mengutamakan kepentingan pribadi masing-masing. Tidak memandang lagi siapa kawan dan siapa lawan. Teman bisa jadi lawan, namun lawan sangat bisa menjadi teman baik.

Kisah Nabi Ibrahim a.s. yang memiliki binatang ternak yang tak terhitung jumlahnya, namun tidak pernah makan sebelum mengajak tetangganya atau siapapun yang terlihat olehnya untuk makan bersama, mungkin akan tinggal dongeng belaka. Pesan sosialnya tidak lagi sanggup melekat di benak umat Islam lantaran di dalam otaknya tidak lagi memiliki spase atau kuota untuk menyimpan data semacam ini.

Target hidup menjadi sangat singkat, yakni hanya sebatas kehidupan duniawi. Allah SWT pasti akan memberikan apapun sesuai dengan proposal dari mahluknya. Jika sang mahluk meminta kehidupan duniawi, maka Dia pasti kasih, dan pastinya sang mahluk hanya akan mendapatkan kehidupan duniawi semata. Dan apabila sang mahluk menginginkan kehidupan ukhrawi, maka Allah SWT pasti akan memberikannya, plus ditambahkan bonus berupa kehidupan duniawi tanpa ia minta.   “Seseorang tidak akan mungkin mati kecuali dengan izin Allah. Karena, hal itu benar-benar telah dicatat oleh Allah dalam buku yang mengandung semua ajal manusia. Barang siapa berharap kesenangan dunia akan diberi, dan barang siapa berharap imbalan akhirat akan diberi juga. Allah akan memberi imbalan kepada mereka yang mensyukuri nikmat.” (QS. Ali Imran [3]: 145)

Coronavirus ini adalah teguran Allah SWT bagi mereka yang melampui batas selama ini. Lupa akan nikmat Allah, bahwa nikmat itu hanya titipan dari Allah dan di dalamnya ada hak-hak orang lain yang harus ditunaikan. Teguran bagi mereka yang tidak peduli akan nasib saudara-saudaranya, dan rela melihat saudaranya menderita dan mengalami kesusahan. Teguran bagi siapapun yang mengedepankan unsur materi dalam setiap transaksinya. Wallahu a’lam.

 

 

 

 

Nasihat Ramadhan di Tengah Wabah

Oleh : Quraish Shihab

Bismillaahirrahmaanirrahiim. 

Saudaraku, Ramadhan kali ini berbeda dengan Ramadhan-Ramadhan sebelumnya yang telah kita lalui. Pada Ramadhan kali ini kita menjalankan ibadah dalam situasi di tengah wabah Corona yang baru kali ini terjadi, dan keadaan seperti sekarang merupakan keadaan luar biasa. Di luar perkiraan kita semua.

Ada banyak kebiasaan, tradisi di bulan Ramadhan yang biasanya kita rutin lakukan, ternyata tidak bisa kita lakukan kali ini. Meski di antara tradisi itu mengandung nilai kebaikan, namun dalam keadaan seperti sekarang, banyak tradisi kebaikan yang tak bisa kita lakukan. Tapi, yakinlah bahwa perbuatan atau amal yang mengandung kebaikan itu sangatlah banyak bentuknya.

Kita tentu menjalankan ibadah puasa. Kita shalat. Kita tetap tilawah Al Quran, tetap bersedekah dan berzakat. Namun, untuk sementara waktu kita tidak menunaikan tarawih berjamaah di masjid. Bahkan, untuk di banyak wilayah kita menunaikan shalat fardlu pun di rumah masing-masing.

Tentu kita akan merasa kehilangan di saat bulan Ramadhan tapi tidak bisa melakukan itu semua. Namun, masih banyak kebaikan yang bisa kita amalkan dan akan diridhai oleh Allah selama kita mengamalkannya dengan ikhlas lillaahita’ala. 

Saudaraku, ada satu prinsip dalam agama kita yaitu bahwa menghindarkan kemadharatan atau keburukan itu lebih baik daripada mendatangkan kemanfaatan.

Memang sangat bagus kita berkumpul menjalin silaturahim dengan buka puasa bersama. Memang sangat dianjurkan kita melakukan itikaf di masjid. Demikian pula sangat bagus pelaksanaan Tarawih berjamaah di masjid.

Tetapi, di saat pandemi Corona seperti sekarang, kalau semua amal tersebut dikhawatirkan bisa menimbulkan dampak negatif akibat penularan virus yang tidak bisa kita jangkau dengan indera penglihatan dan hal tersebut sudah terjadi di banyak tempat, maka menghindari resiko negatif itu lebih baik daripada mengambil manfaat dari amal-amal tersebut.

Rasulullah Saw. bersabda, “Laa dharar walaa dhirar, tidak boleh ada hal yang memberi madharat kepada diri dan kepada orang lain.”

Atas dasar prinsip-prinsip dasar ini, menjadi pedoman bagi kita untuk dapat memilih apa yang lebih baik kita lakukan dan apa yang lebih baik kita tinggalkan di masa-masa pandemi Corona seperti sekarang.

Apalagi untuk amal-amal yang sifatnya sunnah. Tidak perlu memaksakan diri untuk melakukannya jika memang bisa menimbulkan madharat bagi diri sendiri atau orang lain. Karena, masih banyak amal alternatif yang sama-sama mengandung nilai kebaikan di hadapan Allah Swt.

Satu contoh, shalat di masjid adalah hal yang mulia dan ciri orang yang beriman. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw., “Jika engkau melihat seorang hamba yang selalu mengunjungi masjid maka persaksikanlah keimanannya.” (HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Hakim)

Setelah berkata demikian, Rasulullah Saw. lantas membacakan ayat,

{مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَنْ يَعْمُرُوا مَسَاجِدَ اللَّهِ شَاهِدِينَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ بِالْكُفْرِ أُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ هُمْ خَالِدُونَ. إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ}

Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain Allah, maka merekalah yang termasuk golongan orang-orang yang selalu mendapat petunjuk (dari Allah Ta’ala).” (QS. At Taubah: 18)

Namun, di waktu yang lain Rasulullah Saw. juga bersabda bahwa Allah Ta’ala memberikan lima keistimewaan kepada umatnya yang tidak diberikan kepada umat-umat terdahulu. Dan, salah satu keistimewaan itu dijadikannya oleh Allah seluruh tempat di muka bumi ini sebagai tempat untuk bersujud (shalat), kecuali tempat yang terdapat najis.

Artinya, seluruh muka bumi ini, baik di masjid, di tempat kerja, di rumah, merupakan tempat yang bisa dipergunakan untuk bersujud kepada Allah Swt. Jika kita maknai secara lebih luas lagi maka semua tempat di muka bumi ini bisa dijadikan tempat untuk mengabdi, beramal shalih sebagai wujud ketundukan kita kepada Allah Ta’ala.

Sebagaimana Tarawih. Rasulullah Saw. menunaikan shalat malam di bulan Ramadhan di masjid, hanya beliau lakukan pada tiga malam pertama saja. Selebihnya, beliau lakukan di rumah. Mengapa Rasulullah Saw. melakukan hal itu? Siti Aisyah ra. mengungkapkan bahwa beliau melanjutkan shalat malam di rumah karena khawatir umat menganggapnya wajib.

Tarawih berjamaah di masjid baru dipopulerkan pada masa kekhalifahan Umar bin Khaththab ra. Ketika Umar melihat di masjid ada yang menunaikan shalat malam secara sendiri-sendiri. Maka, Umar berijtihad untuk menunaikannya secara berjamaah. Inilah tonggak awal pelaksanaan shalat Tarawih berjamaah di masjid.

Tentu kita tidak sedang membicarakan bahwa shalat Tarawih berjamaah di masjid itu buruk. Bukan itu. Melainkan kita sedang membicarakan situasi saat ini dimana wabah Corona terjadi di mana-mana dan penularannya seringkali tak terduga, bahkan kini ada istilah OTG atau orang tanpa gejala bagi pengidap Corona yang tidak menunjukkan gejala apa-apa, maka pelaksanaan shalat sunnah tarawih di masjid secara berjamaah menjadi lebih baik untuk ditinggalkan, dan diganti dengan Tarawih di rumah.

Bukankah shalat Tarawih di rumah pun bisa dilakukan secara berjamaah dengan keluarga. Dan, itu bisa kita jadikan kesempatan untuk meningkatkan keharmonisan keluarga. Disamping bisa saling nasihat-menasihati.

Jadi saudaraku, Allah tentu tidak pernah menjadikan suatu kejadian secara sia-sia. Selalu ada hikmah di balik setiap peristiwa. Termasuk kejadian wabah Corona ini. Salah satu hikmahnya adalah kita bisa lebih banyak waktu di rumah, lebih dekat dengan keluarga. Bisa lebih mengerti kondisi anak-anak, pasangan dan orangtua kita. Saling nasihat-menasihati di antara keluarga.

Mari saling menguatkan satu sama lain. Terus berdoa kepada Allah. Saling menularkan pesan-pesan kebaikan dan rasa optimis bahwa Ramadhan kali ini adalah Ramadhan yang istimewa di mana Allah pasti akan menolong hamba-hamba yang bertakwa kepada-Nya. Aamiin yaa Rabbal’aalamiin.[]

Disarikan dari https://www.youtube.com/watch?v=6H2Yb4kewiY

 

Rahasia Penggunaan Redaksi ‘Diwajibkan’ dalam Perintah Puasa

Oleh : Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia – New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School, Australia

Salah satu bentuk kemukjizatan Al-Qur’an adalah pilihan diksinya bukan saja tepat dan akurat, tapi juga mengandung hikmah. Allah itu Sang Maha Halus, sekaligus Sang Maha Penyayang, maka firman-Nya pun merefleksikan asma-Nya ini.

Sebagai contoh, pernahkah terpikir di benak kita kenapa perintah berpuasa diberikan dalam bentuk kalimat pasif (fi’il mabni majhul), yaitu “kutiba”?

  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ  

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan (kutiba) atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183).

Semua kitab tafsir, dari yang klasik semisal at-Thabari dan ar-Razi, sampai yang modern seperti al-Munir-nya Wahbah az-Zuhaili, mengatakan kutiba itu maknanya furidha (diwajibkan). Kata kerja aktifnya adalah kataba, yang menurut Ibn Qutaibah, maknanya bisa beraneka ragam di dalam Al-Qur’an. Tapi secara kebahasaan maknanya adalah menulis, sehingga kutiba asal maknanya adalah “dituliskan”.

Dalam tafsir at-Thabari, kata dituliskan ini menjadi wajib karena maksudnya telah dituliskan di dalam kitab lauh al-mahfuz.  Baik, sekarang kita paham kenapa kata kutiba diterjemahkan menjadi diwajibkan. Tapi sekali lagi pertanyaannya mengapa perintah puasa ini diberikan dalam bentuk kalimat pasif? Kenapa tidak langsung saja “Allah telah mewajibkan kamu berpuasa”? Apa hikmahnya?

Menurut Ibn al-Jawzi, sebagian ulama telah menjelaskan bahwa bentuk pasif kutiba itu dipilih karena biasanya berupa kewajiban yang bersifat memberatkan manusia untuk menjalani kewajiban itu. Misalnya, selain ayat puasa, redaksi kutiba ‘alaykum (diwajibkan atas kalian) itu terdapat dalam ayat qishash (QS. Al-Baqarah: 178):

  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى  

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh…”

Ayat washiyat (QS. Al-Baqarah: 180):

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ

“Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf…”

Dan juga ayat perang (QS Al-Baqarah ayat 216):

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ  

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci…”

Ketentuan pada ayat-ayat di atas bersifat membebani dan menyusahkan untuk menjalaninya. Itu sebabnya Allah menggunakan kalimat pasif, di mana siapa yang mewajibkan ketentuan itu tidak disebutkan.

Kita tahu yang mewajibkan itu Allah, tapi karena kemahalembutan dan kemahapemurahan Allah, maka seolah Allah tidak menampilkan asma-Nya sebagai Dia yang memberi perintah langsung secara jelas dan tegas. Ada kedekatan dan sekaligus saling pengertian bahkan penghormatan ketika kalimat pasif yang digunakan. Ini hanya bisa disadari oleh mereka yang juga lembut hatinya.

Lantas kapan Allah menggunakan diksi aktif, yaitu kataba? Kita dapati dalam QS. al-An’am ayat 54:

  وَإِذَا جَاءَكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِنَا فَقُلْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ  

“Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: ‘Salâmun alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang….”

Allah telah menetapkan kewajiban atas diri-Nya sendiri, yaitu rahmah (kasih sayang). Diksi yang dipilih adalah kataba (kalimat aktif). Kata ini justru dipakai Allah ketika menetapkan kewajiban bagi Allah, dan tidak lain kewajiban itu berupa rahmah kepada kita semua.

Kesimpulannya, untuk kewajiban yang memberatkan hamba-Nya, Allah menggunakan redaksi pasif “kutiba ‘alaykum” (diwajibkan atas kalian) tanpa menyebut langsung siapa pemberi perintah. Terhadap diri-Nya sendiri, Allah menggunakan kalimat aktif “kataba ‘ala”, dan itu pun hasilnya berupa rahmah.

Dengan demikian baik kewajiban untuk kita maupun kewajiban yang Allah tetapkan sendiri untuk diri-Nya, entah menggunakan diksi aktif atau pasif, semuanya mencerminkan kemahalembutan dan kemahapemurahan Allah.

Subhanallah! Ini baru penjelasan dari pilihan diksi. Belum lagi bicara substansi perintah-Nya. Semoga penjelasan ini semakin menguatkan kita bahwa di balik kesusahpayahan kita menjalani perintah-Nya untuk berpuasa di bulan Ramadhan ini, ada kemahalembutan dan kasih sayang Allah kepada kita. (WST/RS/nuonline)

Hikmah dari Kesabaran Nabi Ayyub Ketika Sakit

Wasathiyyah.com — Allah memerintahkan Ayyub menjejakkan kakinya yang lemah ke tanah. Maka, dari tempat yang diinjaknya itu memancarlah mata air.

Ayyub dikenal sebagai seorang nabi. Dia mendapatkan ujian melebihi manusia biasa. Kisahnya tertulis jelas dalam ayat-ayat Alquran.Dalam surah al-Anbiya, Allah mengajak manusia mengingat kisah nabi tadi. Ketika mendapatkan cobaan berupa sakit parah, Ayyub berdoa, Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang.

Allah menjawab doa itu dengan memberikan kesembuhan. Keluarga yang semula meninggalkannya karena tak tahan melihat Ayyub sakit, dikembalikan. Bahkan, jumlah keluarganya makin banyak karena Allah menyayangi mereka (QS al-Anbiya: 83-84).

Firman yang sama juga ditemukan dalam surah Shad ayat 41-44. Allah memuji nabi itu sebagai sosok penyabar.Meski diberikan cobaan yang sulit, dia tetap menjaga keimanannya.

Pada mulanya dia adalah hamba Allah yang mendapatkan banyak kenikmatan. Sang Pencipta menganugerahkan harta, keluarga, dan anak, kemudian Allah mengujinya. Dia kemudian mengambil semua kenikmatan itu. Badannya berpenyakit.

Orang-orang sekitar menjauhinya.Yang masih baik kepadanya hanyalah istri dan dua orang sahabat. Mereka sering mengunjunginya. Merekalah pelipur lara di tengah cobaan hidup yang menyakitkan.

Salah seorang dari keduanya memikirkan keadaan Ayyub yang telah diuji sekian lama. Ayyub menanggung itu selama 18 tahun dan Allah belum mengangkat ujian yang menimpanya. Terbersit di pikiran orang ini bahwa cobaan itu mungkin dikarenakan dosa besar yang pernah diperbuat.

Mulanya, dia hanya menyimpannya dalam hati, tetapi lama kelamaan dia pun menceritakan kepada rekannya yang lain. Lalu, rekannya ini mengatakan kepada Ayyub. Tentu saja, masalah ini membuat Ayyub sangat bersedih. Maka, dia menceritakan keadaannya secara terbuka dan menepis anggapan tersebut.

Sudah menjadi kebiasaan Ayyub jika pergi buang hajat, dia diantar dan dituntun oleh istri karena badannya yang lemah. Allah memerintahkan Ayyub menjejakkan kakinya yang lemah ke tanah.Maka, dari tempat yang diinjaknya itu memancarlah mata air. Allah meminta Ayyub agar minum dan mandi menggunakan air yang muncul tersebut.

Air itu menghilangkan penyakit di tubuhnya, lahir dan batin. Ayyub kembali sehat dan bersemangat pada saat itu juga. Kesehatan dan kekuatannya pulih seperti ia tidak pernah sakit.

Ayyub kemudian menemui istrinya dengan penuh semangat seperti sebelum dia diserang penyakit. Ketika melihatnya, sang istri tidak mengenalinya walaupun dia melihatnya seperti suaminya yang dahulu sehat walafiat. Dia bertanya kepadanya tentang suaminya, seorang nabi yang sakit-sakitan.

Dia menyebutkan apa yang pernah dilihat pada saat suaminya masih sehat dan kuat. Sang istri sama sekali tidak menduga kesembuhan datang begitu cepat.

Kebahagiaannya begitu besar ketika melihat nikmat Allah; kembalinya sang suami seperti sedia kala.Sebagaimana Allah mengembalikan kesehatan dan ke kuatannya, Allah juga mengem balikan hartanya yang hilang sebanyak dua kali lipat serta menganugerahkan anak- anak kepadanya dua kali lipat pula.

Nazar

Pada waktu sakit Ayyub pernah marah kepada istrinya. Dia bernazar, jika sembuh, dia akan memukulnya seratus kali. Setelah sembuh, Ayyub merasa berat memukul istrinya yang selama sakit begitu sabar merawatnya, tetapi dia juga merasa berat karena tidak menunaikan nazar kepada Tuhan.

Maka, Allah memberikan jalan keluar dan kemudahan. Dia memerin tahkan Ayyub agar mengambil seikat batang gandum dan memukul istrinya dengan itu satu kali pukulan. Dengan itu, Ayyub telah menunaikan janjinya. Allah berfirman untuk Ayyub, “Dan ambillah dengan tanganmu seikat rumput, maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah.” (QS Shad: 44).

Imam Ahmad berpendapat bahwa dibolehkan memukul pendosa yang terancam hukuman, seperti pezina muhshan dan orang yang menuduh tanpa bukti, dengan pukulan seperti yang dila kukan Ayyub. Hal itu dilakukan jika yang bersangkutan sakit, sehingga ditakutkan akan celaka setelah dipukul.

Rasulullah telah memerintahkan para sahabat untuk memukul seorang laki- laki sakit yang telah berzina dengan sebuah janjang kurma. Di dalamnya terdapat seratus cabang. Cukup dengan sekali pukulan, hukum tadi sudah terlak sana.

Ayyub dikenal sebagai orang yang gesit, dermawan, humoris, serta jujur.Rasulullah dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Nasa’i dari Abu Hurairah bersabda, “Manakala Ayyub sedang mandi telanjang, sekelompok belalang dari emas jatuh kepadanya, maka Ayyub memunguti dan menyimpan di bajunya. Tuhan memanggilnya, ‘Wahai Ayyub, bukankah Aku telah membuatmu kaya seperti yang kamu lihat?’ Ayyub menjawab, ‘Benar, ya Rabbi, akan tetapi aku selalu memerlukan keberkahan-Mu. (WST/YN/republika.co.id)

Tiga Sikap Bijaksana Menghadapi Corona

Oleh : TGB Muhammad Zainul Majdi

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Saudaraku dimanapun berada, saat ini kita sedang menghadapi wabah yang luar biasa, Corona Virus (Covid 19). Banyak negara yang terjangkit, termasuk negara yang kita cintai ini, Indonesia.

Perkenankan saya pada kesempatan kali ini menyampaikan beberapa hal sebagai pengingat bagi diri saya dan saudara sekalian.

Pertama, fafirru ilallaah, mari kembali kepada Allah Ta’ala. Perbanyak doa kita. Doa keselamatan agar kita dijauhkan dari wabah ini. Agar Allah Swt. menyembuhkan yang sakit dan menjaga bangsa ini.

Kedua, Islam mengajarkan untuk taat kepada waliyul amri. Maka anjuran, seruan, pedoman yang dikeluarkan oleh pemerintah terkait dengan virus Corona (Covid 19) wajib untuk kita taati.

Berdiam di rumah untuk sementara waktu. Tidak keluar rumah kecuali untuk hal-hal yang darurat. Kalaupun keluar, jagalah jarak dengan orang lain. Selalu menjaga kebersihan diri, tempat tinggal dan tempat beraktifitas. Sesering mungkin mencuci tangan. Konsumsi makanan yang sehat.

Semua tuntunan dan pedoman dari pemerintah kita taati. Taat kepada pemerintah yang sah merupakan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Ketiga, kita diajarkan untuk taat kepada para ulama. Para ulama dunia, para ulama Al Azhar Al Syarif di Kairo, para ulama Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Mesir, Turki dan para ulama Indonesia melalui Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan anjuran, pedoman dan fatwa khususnya terkait shalat berjamaah di masjid dan shalat Jumat.

Dalam keadaan wabah seperti ini, dibolehkan untuk tidak melaksanakan shalat berjamaah di masjid dan tidak melaksanakan shalat Jumat. Bagi yang tidak melaksanakan shalat di masjid, maka shalatlah berjamaah di rumah bersama keluarga. Bagi yang tidak melaksanakan shalat jumat, maka shalat Dhuhur di rumah.

Fatwa-fatwa ini dikeluarkan oleh para ulama yang ahli dan pakar di bidangnya. Mereka adalah para ulama yang faqih, zuhud dan berkompeten. Mereka mengeluarkan fatwa dengan tujuan menghindarkan umat dari kemudharatan yang dapat ditimbulkan virus Corona ini.

Kita tahu bahwa salah satu tujuan dari syariah adalah hifdzunnafsi atau memelihara jiwa manusia. Maka, marilah kita ikuti dan taati fatwa-fatwa dari para ulama untuk keselamatan diri kita dan keselamatan orang lain.

Semoga Allah Subhaanahuwata’ala menjaga kita semua.

 

*Disarikan dari https://www.youtube.com/watch?v=Q6lHd5kukjc.  

 

Wabah Corona adalah Peringatan untuk Keangkuhan Manusia

Oleh : Quraish Shihab

Bismillaahirrahmaanirahiim. 

Dunia sedang dilanda oleh virus Corona. Kejadian ini janganlah dianggap sebagai siksa Ilahi. Tetapi, pandanglah kejadian ini sebagai peringatan. Dan, peringatan bisa menjadi nikmat jikalau kita dapat menghadapinya.

Pandanglah kejadian ini sebagai peringatan agar manusia tidak angkuh dan agar manusia merasakan kelemahannya di hadapan Allat Yang Maha Kuasa.

Kita sedang diuji. Ketaatan kita dalam menjalankan tuntunan agama sedang diuji. Salah satu diantaranya tuntunan agama menuntut kita untuk memelihara jiwa dan kesehatan kita.

Dalam konteks memelihara jiwa ini kita hendaknya dapat meneladani atau paling tidak mengikuti tuntunan mereka yang memiliki pengetahuan tentang kesehatan dan keselamatan jiwa. Dalam konteks ini adalah para dokter.

Agama Islam mendahulukan kemanusiaan atas keberagamaan. Oleh karena itu, tidak heran jika fatwa para ulama menyatakan bahwa shalat Jumat bisa ditinggalkan dan diganti dengan shalat Dhuhur di rumah manakala keadaan alam sedang tidak kondusif atau sedang tersebar wabah penyakit, demi menjaga keselamatan jiwa manusia.

Kita diuji untuk mengikuti tuntunan agama itu. Dan, apabila terjadi perbedaan pendapat menyangkut tuntunan tersebut, agama juga menyatakan ikutilah tuntunan yang dikeluarkan pemerintah karena itu merupakan jalan yang dapat menyelesaikan perbedaan pendapat.

Semoga Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Menyembuhkan, melindungi kita dari segala bentuk marabahaya. Dan, semoga wabah yang sedang melanda dunia kali ini segera sirna dan menjadi pelajaran bagi kita semua. Aamiin yaa Rabbal’aalamiin.[]

 

Disarikan dari https://www.youtube.com/watch?v=HgdnssnyBfc . 

 

Duka Bagi NU

Oleh: Ulil Abshar Abdalla (Intelektual Muda NU)

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun

Malam ini, saya membaca di laman Facebook banyak ucapan belasungkawa dan takziyah atas wafatnya Kiai Salahuddin Wahid atau dikenal sebagai Gus Sholah. Menderasnya ucapan belasungkawa ini menunjukkan betapa luasnya pengaruh Gus Sholah, dan betapa wafatnya sosok ini dirasakan sebagai kehilangan dan kesedihan oleh banyak orang.

Saya ingin mengingatkan beberapa hal penting tentang Gus Sholah — sekedar untuk “reminder” saja.

Pertama, wafatnya Gus Sholah adalah duka yang mendalam bagi NU, karena beliau adalah cucu Mbah Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Beliau wafat pada saat NU, jam’iyyah yang didirikan oleh kakeknya itu, sedang merayakan Harlah-nya yang ke-94.

Kedua, Gus Sholah adalah sosok yang saat ini menjadi pengasuh dan “menunggui” warisan besar Mbah Hasyim selain NU, yaitu pesantren Tebuireng. Pesantren Tebuireng adalah “kiblat”-nya pondok-pondok di lingkungan NU. Di sanalah banyak kiai Jawa belajar untuk menimba ilmu dari Maha Guru para kiai, yaitu Mbah Hasyim Asy’ari yang digelari sebagai Hadlratusy Syaikh — satu-satunya kiai di NU yang menyandang gelar ini. Banyak tokoh Betawi yang “nyantri” di Tebuireng, baik pada zaman Mbah Hasyim atau sesudahnya. Di pondok inilah, menurut kisah yang saya terima, Kiai Abdullah Salam (dan beberapa kiai lain) dari Kajen, Pati, pernah “mondok”. Kiai Abdullah adalah kiai pertama yang di-sowani Gus Dur setelah menjadi presiden.

Ketiga, wafatnya Gus Sholah langsung mengingatkan saya pada peristiwa sedih yang pernah menimpa ayahandanya, yaitu Kiai Wahid Hasyim. Kiai Wahid (Menteri Agama RI kedua setelah Kiai Masykur) wafat karena kecelakaan lalu-lintas di Cimahi, Bandung, dalam perjalanan untuk menghadiri acara NU di Sumedang, pada hari Ahad, 19 April 1953.

Kok ndilalah kersane Allah, Gus Sholah juga wafat pada hari Ahad. Kiai Wahid meninggal dalam usia yang masih sangat muda, 39 tahun. Gus Sholah wafat dalam usia 77 tahun.

Keempat, Gus Sholah adalah menantu Kiai Saifuddin Zuhri, ayahanda dari mantan Menag Lukman Saifuddin. Kiai Saifuddin juga pernah menjabat sebagai Menteri Agama pada era Bung Karno dulu. Bagi kami anak-anak muda NU generasi 70an dan 80an, Kiai Saifuddin selalu kami kenang melalui bukunya yang sudah klasik, “Guruku Orang-Orang Pesantren.” Gus Sholah menikah dengan Ibunyai Farida, puteri Kiai Saifuddin Zuhri.

Kelima, Gus Sholah, seperti kita tahu, adalah adik kandung Gus Dur. Di antara keenam putera Kiai Wahid Hasyim, tampaknya dua nama lah yang “cemlorot” dan muncul sebagai sosok yang bisa kita sebut sebagai tokoh bangsa, tokoh nasional, dengan pengaruh yang lintas golongan, kelompok, dan agama — yaitu Gus Dur dan Gus Sholah. Tentu saja corak dan model ketokohan dua sosok ini berbeda; tetapi dua-duanya adalah TOKOH BANGSA.

Di mata saya (dan saya tak kuasa menahan air mata saat menulis ini), baik Gus Dur dan Gus Sholah adalah hadiah Mbah Hasyim untuk negeri ini. Ya, HADIAH MBAH HASYIM. Dua cucu beliau ini telah menyumbangkan banyak hal untuk negeri ini. Kedua cucu beliau ini, dengan caranya masing-masing, telah “menyirami” dan merawat dua tanaman yang dulu disemai oleh Mbah Hasyim. Dua tanaman itu adalah NU dan Indonesia.

Sebelum wafat, Gus Sholah masih sempat menorehkan kontribusi penting: mengupayakan terbentangnya “jembatan komunikasi” antara dua ormas Islam terbesar di Indonesia: NU dan Muhammadiyah. Upaya ini beliau lakukan melalui kerjasama antara Pesantren Tebuireng yang diasuhnya dan Lembaga Seni Budaya dan Olah Raga PP Muhammadiyah untuk menggarap film “Jejak Langkah Dua Ulama”. Film ini berkisah tentang pendiri NU dan Muhammadiyah: Mbah Hasyim Asy’ari dan Kiai Ahmad Dahlan. Dan ndilalah kersane Allah juga, film ini, kalau tak salah, diluncurkan malam ini, Ahad, 2/2/2020, pada hari ketika beliau wafat.

Selamat jalan, Gus Sholah. Selamat bergabung di alam barzakh dengan Mbah Hasyim, Kiai Wahid, Ibunyai Sholehah, Ibunyai Aisyah dan Gus Dur. Kami, warga nahdliyyin, akan selalu mengenang panjenengan dalam doa-doa kami, dalam tahlil kami.

Pekalongan, 2/2/2020