Tanah Tuhan

Oleh: Syamsu Alam Darwis *)

Kyai Haji Arfah, di sore yang sejuk itu sedang menyeruput kopi kesukaannya di depan teras rumah, bikinan sang Istri. Sudah sebulan sang Kyai mengisolasi diri di rumah, sepulang dari Mesir, Negeri Para Nabi, mengisi ceramah dihadapan pelajar dan warga Indonesia. Kopi yang diseruput pun adalah kopi khas oleh-oleh dari Mesir, Qahwa Bil Bunduq, kopi robusta yang dicampur dengan kopi Arabika dan kacang Hazel Nut. Kyai Arfah hari-hari ini tidak lagi mengisi pengajian di Islamic Center Mataram atau menghadiri undangan khutbah Jumat dan pengajian di kampung-kampung,  beralih ke pengajian pagi online.

Sore itu, Kyai Arfah membuka-buka percakapan jejaring sosial WA di ponselnya, dan  membuka grup diskusi Mataram Beriman, grup pengajian di kota itu. Ada Farel, salah seorang jamaah yang rajin pengajian  langsung mengajukan pertanyaan. “Pak Kyai, apakah kita boleh menolak jenazah COVID-19, ?“

“Iya Saya baca itu,” jawab Kyai Arfah. “kabar perlakuan itu kita baca semua, sangat menyedihkan ada jenazah perawat dan warga lainnya yang terkena COVID-19 ditolak dimakamkan di lingkungan mereka,” Seru Kyai Arfah.

“Alasannya mungkin belum dapat ijin warga atau juga masih ada rasa takut kalau dimakamkan disana akan menularkan virus itu Pak Kyai,” seru Khadijah menimpali, salah satu jamaah keturunan Arab yang mukim di pesisir Pantai Ampenan.

“Begini,” Kyai Arfah mencoba menjelaskan.

“Islam memandang seluruh muka bumi ini adalah Tanah Sang Pencipta, Tanah Tuhan, tempat layak huni sekaligus tempat beribadah kepada Allah SWT, kita umat manusia ini hanya dititipkan bumi ini untuk kita makmurkan. Memakmurkan bumi ini dengan perbuatan amal-amal shaleh, menjaga keesaan Allah SWT dan berbuat baik antar sesama makluk,” ungkap Kyai Arfah.

“Nah, pengantaran jenazah ke tempat terakhir adalah salah satu amal kebaikan yang dianjurkan, apalagi jenazah yang akan dimakamkan ini sudah memenuhi standar protokol khusus kesehatan, jenazah dibungkus dalam kantong jenazah yang sangat rapat, lalu dimasukkan ke dalam peti, disemprot disinfektan untuk memastikan kondisi lebih steril, virus corona tidak mencemari tanah atau sumber air di sekitar pemakaman, selain itu petugasnya juga sudah dilatih khusus untuk pemakaman jenazah COVID-19 dengan benar dan aman” ujar Kyai meyakinkan.

Kyai Arfah berusaha menambahkan dengan mengambil contoh adanya jenazah yang terinfeksi COVID-19 dimakamkan di pemakaman Baqi’ Madinah, yang lokasinya persis di samping Masjid Nabawi. Jenazah itu dimuliakan, diperlakukan dengan sangat baik. Salat jenazah dilakukan di pemakaman, lima petugas penggotong dan pengubur jenazah berpakaian lengkap dengan alat perlengkapan diri (APD).

Kyai Arfah menerangkan agar lebih lengkap bagaimana perlakuan Baginda Rasulullah SAW kepada jenasah, siapapun itu, baik muslim ataupun non muslim. Suatu hari Rasulullah mendapati rombongan yang mengangkut jenazah lewat di hadapan beliau. Nabi pun berdiri menghormati. Sahabat beliau segera memberi tahu dengan nada seolah protes, “Itu kan jenazahnya orang Yahudi, mengapa kita harus berdiri” “Bukankah ia juga manusia?” sahut Rasulullah. “Kematian itu sangat menakutkan. Karena itu, apabila kalian melihat jenazah (apapun agamanya) yang sedang lewat, berdirilah sejenak (agar kalian ingat mati),” jawab Rasulullah kepada para sahabat.

Rasulullah menjawabnya dengan pertanyaan, “Bukankah dia manusia (nafs)?” Dengan jawaban semacam ini Rasulullah seakan mengingatkan para sahabat bahwa tiap manusia layak mendapat penghormatan, terlepas dari apa latar belakang sosial dan agamanya, bahkan ketika manusia itu sudah terbaring lunglai kaku menjadi mayat. Baginda Rasulullah memberikan contoh yang sangat apik. Nabi berdiri itu karena para malaikat juga berdiri saat ada jenazah yang hendak dikebumikan,  Nabi berdiri karena mengagungkan Allah Swt. yang telah mencabut nyawa manusia, dan Nabi berdiri saat jenazah Yahudi hendak dikebumikan itu karena Yahudi itu pun sama dengan manusia lainnya, manusia ciptaan Allah yang sama-sama harus dihormati dan dimuliakan di tanah peristirahatannya yang terakhir.

“Saudara-saudaraku, anggota grup yang mulia, kisah ini memberi keteladanan bagi kita semua, betapa agungnya kemanusiaan dalam Islam. Rasulullah meneladankan kepada umatnya tak hanya teguh di jalan tauhid tapi secara bersamaan juga ikhlas menghargai martabat manusia, apa pun latar belakangnya,” ungkap Kyai Arfah menutup penjelasan.

“Kyai, bagaimana kalau ada diantara kami yang ingin wakafkan tanahnya untuk pemakaman COVID-19,” Tanya Zaky kepada Sang Kyai.

“Barakallah,” Sergap Kyai Arfah spontan

“Mewakafkan harta yang dimiliki berupa tanah untuk kepentingan warga secara umum merupakan satu tindakan yang amat mulia, apalagi mewakafkan sebagai tanah pemakaman korban COVID-19, itu sungguh sangat mulia,” Ulas Kyai Arfah.

“Pak Zaky sebagai Calon Waqif bisa datang ke KUA terdekat, bawa KTP dan dokumen sah atas tanah yang dimiliki, di KUA ucapkan ikrar wakaf kepada nazhir (pengelola harta wakaf) dengan saksi Kepala KUA dan para penerima manfaat, selanjutnya Kepala KUA membuat akta ikrar wakaf dan surat pengesahan, salinan akta ikrar diberikan pada waqif dan nazhir, kemudian Nazhir melakukan pendaftaran atas tanah wakaf ke Badan Pertanahan Nasional (BPN),” jawab Kyai Arfah.

Kyai Haji Arfah menatap langit Mataram yang sudah mulai mendung, hembusan angin yang lirih dan semakin dingin. Hujan datang  membasahi bumi, Seketika itu Adzan Magrib berkumandang, Kyai Arfah pamit di grup sosial yang beroperasi 24 jam tiada henti itu untuk Salat Magrib berjamaah bersama keluarga. (WST/YNF)

*) Direktur Azkia Institute Jakarta.

Nilai-Nilai Al-Azhar, Menjaga Titipan Allah

Oleh: KH. Zainurrofieq, M.Hum

Eksotis. Inilah kesan pertama, saat kedua kaki saya melangkah di jalan tepi telaga. Mata saya termanjakan oleh ikan-ikan Mas menari diantara perahu dan rakit. Dada saya merasa lega, ketika menghirup udara di bawah pepohonan rindang. Cottage dan bangunan didesain khas Sunda. Inilah suasana surga tersembunyi yang berada 11 Km dari pusat kota Garut. Namanya Kampung Sampireun Resort dan SPA.

Di tempat itulah, para alumni Al-Azhar Mesir berkumpul. Momentum berharga ini, sangat berharga, terutama bagi saya. Sebab, pertemuan ini bukan sekedar silaturahim, temu kangen, atau acara biasa, melainkan ada ide, gagasan, dan amal dakwah wasatiyyah kami konsolidasikan.

Pagi itu, TGB M. Zainul Majdi selaku ketua Organisasi Internasional Alumni Al Azhar (OIAA) cabang Indonesia memaparkan kepada para hadirin, bahwa ada konsentrasi khusus kini dari Grand Syeikh Al-Azhar Ahmad Tayyib di Mesir dengan dibuatnya OIAA dan langsung diketuai oleh beliau, tiada lain adalah karena melihat para alumni-alumni Al-Azhar yang telah tersebar di seluruh antero negeri dan memiliki garapan dakwah masing-masing untuk mengokohkan wasathiyyaat al-Islam  (moderasi Islam). TGB juga mengingatkan beberapa nilai dasar dakwah Islamiyyah Al-Azhar Asy-Syarif dan upaya merealisasikannya dalam tatanan budaya ke Indonesiaan.

Selain TGB, hadir pula alumnus Universitas Al-Azhar Mesir jurusan Aqidah dan Filsafat  Dr. Abbas Mansur Tamam. Anggota Tim Ahli Kemenag ini, bersama-sama dengan timnya telah menyelesaikan proyek penerjemahan Al-Quran terbaru (2019) dan menyampaikan urgensi langkah kongkrit Azhari dalam ikut mendesign perkembangan ummat Islam di Indonedia disesuaikan dengan titah Ilahi yang ada dalam Teks Al Quran.

Menurut Dr. Abbas, ini kesempatan bagi Azhary untuk bersama pemerintah dalam mengawal dan menyuguhkan terjemahan Al Quran versi Kemenag tersebut. Melalui penyebaran Al-Quran ini, Azhary dapat menggelar kegiatan-kegiatan dalam rangka menjelaskan perubahan diksi terjemahan itu sekaligus mengokohkan nilai-nilai wasathiyyah.

Usulan Dr. Abbas tersebut, mendapatkan sambutan dari TGB M. Zainul Majdi. Apalagi dalam pertemuan ini hadir Bang Hensoe, Azhary yang bergelut di dunia penerbitan. Lahirlah kesepakatan untuk mencetak mushaf Azhary dan program Wakaf Quran.

Tidak ketinggalan wakil ketua OIAA Bang IKM (Ikhwanul Kirom), alumnus Al-Azhar Mesir dan sempat memimpin redaksi Harian Nasional Republika bersuara. Beliau menarasikan spirit dakwah Al-Azhar dalam langkah-langkah kongkrit, rencana pembuatan lembaga keuangan syariah (BPRS). Beliau menggambarkan perjalanan panjang kerjasama antara alumni Al-Azhar Mesir yang diprakarsai oleh TGB dengan alumni fakultas ekonomi UGM (YAHMI-HIK) dan kini berbuah prosesi akuisisi BPRS di wilayah Kabupaten Bandung Jawa Barat.

Narasi Bang IKM itu direspon oleh Saifurrahman Mahfudz, Azhary yang sebelumnya aktif di TAZKIA dan kini tengan menyelesaikan program doktoral di Australia jurusan Ekonomi Islam , sengaja hadir dari Melbore saking ingin kumpulnya sesama Azhari di Garut. Beliau mengapresiasi langkah-langkah “Menyuguhkan nilai dakwah Islam dengan program mengenyangkan perut ummat dulu” dan ini moderat (wasathy).

*  *  *

Suasana hening Kampung Sampireun itu bertambah sejuk saat TGB mempresentasikan materi syukur kepada peserta kegiatan tanggal 7-9 Januari 2020 di Sampireuen, asuhan Kang Udo Yamin Majdi dan Tim Golden Age Center, yaitu “Pesantren Wisata keluarga”. TGB menegaskan bahwa amalan syukur ini, tidak hanya terjadi dunia ini saja, melainkan juga di akhirat nanti.

Di penghujung materi TGB, dibuka sesi dialog dan berbagi pengalaman antar sesama peserta. Ortu Dr. Saifurrahan menceritakan mendidik anak-anaknya sehingga mereka menyelesaikan jenjang doktoral.

Kang Diding Nasiruddin yang mewakili sesepuh Paguyuban Alumni Al Azhar Mesir (PAAM) menambahkan bahwa diantar kesyukuran keluarga adalah mengerti dan faham bahwa anak-anak yang ada di rumah kita bukanlah pesanan keinginan kita kepada Allah, maka pantas jika realitasnya banyak tidak sesuai dengan keinginan kita misalkan, tapi lebih dari itu anak anak kita harus difahami hanya ssebatas amanah (titipan)dari-Nya.

Menyambut opini “titipan” itu, TGB menimpali dengan kalimat, “Implementasi dari pemahaman keluarga dan anak-anak kita adalah titipan, maka kita harus menjaga keutuhan titipan itu’. Anak-anak dititipan Allah pertamakali pada kita dalam kondisi Fitrah, yaitu kemurnian tauhid dan kesucianya ( HR, Bukhori dan QS. Ar-Rum [30]: 30), maka harus dikembalikan dalam keadaan fitrah pula.

Berarti kita harus pastikan ketika keluarga yang dititipkan Allah diambil kembali, harus kita pastikan mereka dalam kondisi tengah beriman Tauhid serta dalam kondisi jiwa yang suci, dan upaya-upaya maksimal menjaga kemurnian Tauhid dan kesucian jiwa adalah merupakan prasyarat pergerakan missi dakwah wasathiyyah kita.

Ijtihad politik, ekonomi, pendidikan dan semua bidang dakwah haruslah mengacu pada pertanggungjawaban “logika titipan” tadi. Semuanya titipan Allah SWT.

Semoga.

Garut, 9 Januari 2020

Belajar Dari Bangsa Habasyah

Oleh: KH. Zainurrofieq, M.Hum

“Sesungguhnya di negri Habasyah terdapat seorang raja yang tak seorang pun didzaliminya, pergilah ke negrinya, hingga Allah membukakan jalan keluar bagi kalian dan penyelesaian atas peristiwa yang menimpa kalian”. (Kitab Fathulbari, Vol 7 hal 189).

Wasathiyyah.com–Pada tahun kelima setelah kenabian atau tahun ketujuh sebelum Hijrah ke Madinah (Yastrib), Nabi Muhammad SAW memerintahkan sahabat-sahabat yang beriman untuk berangkat menemui Raja Najasi di Habasyah, sebagai upaya penyelamatan aqidah mereka yang terus mendapatkan terror dan perlakuan tidak baik dari kaum kuffar Quraish. Perjalanan tersebut dipimpin Utsman Bin Ma’zun.

Rasulullah SAW sendiri memang tidak mendapatkan perlakuan terlalu keji seperti para pengikutnya karna rasul dilindungi Allah swt dan secara politis dijamin pamannya yaitu Abu Thalib.

Taktik dan strategi Rosul sangatlah cerdik, dimana saat itu dua bangsa besar yang layak dimintain suaka adalah Persia dan Romawi, namun Rasul malah mengarahkan agar para sahabat menyebrangi laut merah menuju Habasyah.

Hal ini ditopang karena posisi kemoderatan Raja Najasi tidak seperti Raja Roma dan Persia yang sangat protektif dan absolut pada masyarakatnya, disamping secara kesan, bangsa Habasyah lebih meyakini bahwa orang Makkah masih memiliki kesucian dengan cerita kegagalan Abrahah (salah satu gubernur Habasyah) diserang makhluk angkasa ketika ingin mengancurkan Kabah.

Selain itu karna memang juga Raja Najasi berhasil memberikan jaminan kepada Rasulullah SAW untuk menjaga dan menghormati keyakinan kaum Muslimin.

Berkat penjelasan Jafar Bin Abi Thalib tentang posisi Nabi Isya dan Maryam dalam ajaran dan  keyakinan Islam, Raja Najasi berhasil mengusir orang Kufar Quraysh yang sempat membenturkan (mengadudomba) antara Islam dan Nasrani, bahkan karna hubungan yang baik tersebut akhirnya raja Najasi masuk Islam dan ketika meninggal dunia Rasulullah sempat mensolat gaibkan raja Najasi.

Diantara buah penyebaran Islam di Habasyah adalah masuk Islamnya sang legenda budak (hamba sahaya)  yang kemudian menjadi tukang adzannya rasulullah yaitu Bilal bin Rabah. Bilal terus didesak majikannya untuk kembali kedalam kekufuran tapi malah lantang mengumandangkan kalimat “Ahad…,  ahad…, Ahad…. dan penganiayaannya terus berlanjut sampai Abu Bakar terenyuh untuk memerdekakannya.

Alhamdulillah, sampai Rasulullah SAW dikabarkan pernah mendengar terumpahnya Bilal di Surga, saking mendapat posisi yang baik dalam sejarah dakwah Islam.

Dalam Athlas Hadits An-Nabawi, Syauqi Abu Khaliil menyatakan bahwa bangsa Habasyah ini dalam posisi sekarang adalah Negara Ethiopia, dengan batas utara Eritria, selatan Kenya, Barat Sudan selatan dan timor Djiboti.

Ethiopia adalah Negara daratan yang tidak memiliki laut dengan luas 1.104.300 km2. Di Etiopia ada Ancient City (kota tua) yang digambarkan sebagai “Cameleot of afrika” dan UNESCO menyebutnya sebagai keajaiban dunia ke delapan.

Diantara keunikaan Ethiopia juga adalah Negara tersebut tidak memiliki hari kemerdekaan karena memang tidak pernah dijajah bangsa lain dalam sejarahnya.

Pada tahun 2000, Ethiopia dinyatakan sebagai Negara termiskin ke 3 di dunia. PDB (Produk Domestik Bruto) nya perkapita saat itu cuman 650 dollar As, lebih dari 50 persen penduduknya hidup dibawah garis kemiskinan global. Ditambah wabah kekeringan dan busung lapar tahun 1983-85 sampai 400.000 jiwa meninggal karna kelaparan.

Namun secara mengejutkan, Word Bank menyebutkan dalam satu dekade saja Negara dengan berpenduduk 105.350.020 (tahun 2000) yang 43,55% nya berkepercayaan ortodok dan 33,9% muslimin itu mengalami kemajuan yang luarbiasa, bahkan menurut FSI (Food sustainability Index) sempai menduduki peringkat ke 12 sebagai Negara adidaya pertanian dan ketahanan pangan tepat satu tangga dibawah USA (urutan 11), pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan rata-rata 10,9 persen pertahun, dibandingkan negara tetangganya Nigeria hanya 2,1 persen. Ghana hanya 6,4 persen.

Seorang ahli ekonomi politik  Afrika dari Universitas of st. Andrew, Ian Tailor mengatakan bahwa model yang digunakan Etiopia adalah mirip dengan yang terjadi di China di awal-awal abad 21. Dan memang China telah melengkapi Addis Ababa dengan jalan lingkarnya senilai 86 juta dollar, persimpangan seharga 12,7 juta dollar, jalan raya seharga 800 juta dollar dan jalur kereta api senilai 4 milyar dollar AS. China juga tercatat membangun system kereta bawah tanah pertama dikota ini yang mampu mengangkut 30.000 penumpang perjam. AfDB (African Develofment Bank) memastikan Etopia akan memfokuskan pembangunan ekonominya pada jalur infrastruktur dengan belanja 89 juta Dollar Amerika, selain itu kini tengah membangun proyek yang sangat ambisius sedaratan Afrika yaitu bendungan Grand Renaisance yang akan mampu megeluarkan tenaga listrik 6000 mega watt untuk pemakaian industrialisasi, domestic dan ekspor. Sejak tahun 2000, kreditur china telah memberikan sejumlah dana sebesar 12,1 milyar dollar AS.

Pada 11 oktober 2019 lalu, negri yang tengah berlari mengejar ketertinggalannya ini kembali mengguncangkan dunia dengan raihan perdana mentri termudanya Abiy Ahmed Aly yang baru berusia 43 tahun meraih Nobel Perdamaian dari Ketua komite Nobel Norwegia Berit Reiss Andersen. Abiy merupakan praih Nobel Perdamaian ke seratus setelah menyingkirkan 301 nominator lainnya ( 223  tokoh indifidual dan 78 organisasi). Abiy dianggap sangat layak mendapat anugrah tersebut karna kerja nyatanya dan dalam tempo waktu yang sangat singkat.

Semboyannya yang diusung dalam bahasa Etiopia : “Medemer” (kebersamaan dan insklusivitas) telah menjadi saksi terselesaikannya konflik Islam Kristen, disamping dengan segala kebijakannya yang tergolong radikal ia mencoba memulihkan apa yang sedang dialami Negara. Membebaskan ribuan tahanan politik, mencabut keadaan darurat, mencabut segala control pemerintah pada media, memecat cabinet yang masuk dalam lingkaran masalah, serta reformasi ekonomi yang sangat berdampak pada percepatan hingga IMF menyatakan Etiopia sebagai Negara pertumbuhan tercepat di afrika tahun 2018.

Abiy pun menyudahi konflik dengan Eritria yang sudah berlanjut 20 tahun dengan menandatangani deklarasi damai dengan Isaiah Afwerky.

Semboyan perdamaiannya yang terkenal dan dipajang di bangunan  museum adalah: “I Believe peace  is the affair of the heart,  peace is a labor of love”.

Bersyukur dipenghujung tahun ini, saya bisa menyertai para tamu Allah dan tamu Rasulullah bisa singgah di Addis Ababa (ibu kota Etiopia) telah  belajar dan melengkapi nilai-nilai ruh kesucian dalam membangkitkan kehidupan diri dan peradaban bangsa. Terima kasih pak Eka (marketing Air Etiopian), Getway Tour&Travel serta Mrs. Margarete (Guide Tour).

Bungabaru, 30 Desember 2019

Siti Aisah, Nenek 13 Cucu Wisudawan Tahfiz Alquran

EDI SUSILO, Surabaya

Jalan Siti Aisah masih tegap saat namanya dipanggil sebagai salah seorang wisudawan tahfiz Alquran dalam acara Majelis Pencinta Alquran di Ruang Shofa Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS) kemarin (22/9/2019). Anak tangga menuju podium dia tapaki dengan bergegas.

Siang itu, Aisah tidak hanya dipanggil karena menerima ijazah hafizah yang diselenggarakan Griya Alquran. Nenek 13 cucu tersebut juga dipanggil lantaran menerima dua penghargaan sekaligus dari panitia. Yakni, penghargaan sebagai wisudawan inspiratif dan hafizah tertua di antara 280 peserta.

’’Matur nuwun nggih, Nak…,’’ ucapnya saat menerima piala dan piagam dari panitia. Saat disanjung bahwa usahanya menghafal Alquran bisa menjadi teladan bagi generasi muda, Aisah hanya menjawab singkat.

’’Inggih,’’ tuturnya yang disambut tepuk tangan peserta lain. Setelah wisuda, didampingi menantu dan anak pertamanya, Syamsul Huda, Aisah keluar dengan wajah semringah. Gurat wajah tuanya tidak mengurangi semangat menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan wartawan dan pengunjung yang meminta foto. Kemarin Aisah bak ”artis” legenda. Yang tetap menarik di usia tua.

’’Saya terus menghafal sejak tiga tahun lalu,’’ ucapnya. Saat itu, usia nenek asal Desa Gelam, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, tersebut sudah 77 tahun. Bukan termasuk usia muda untuk urusan hafal-menghafal. Tapi, Aisah mendobrak itu.

Mula-mula juz 30 yang berisi surat-surat pendek dia hafalkan. Kemudian, mundur ke juz 29. Terakhir, Aisah melompat ke juz 1. Semuanya dia hafalkan dengan telaten. Tidak ada metode khusus yang dia praktikkan selama menghafal Alquran. Aisah masih menggunakan ilmu kuno. Setiap ada waktu luang, dia membuka Alquran dan menghafalnya. Begitu terus-menerus. Mulai pagi, siang, hingga malam menjelang tidur, ayat-ayat itu dia hafalkan. Dia membawa Alquran ke kamar, kemudian membacanya berulang-ulang.

Itu dilakukan kalau dia berada di rumah. Kalau lagi di luar, Aisah juga masih menghafal. Bedanya, hafalannya tidak dia baca keras-keras. Tapi, dia melantunkan secara lembut dalam hati.

Rahasia Aisah bisa menghafal Alquran, selain tekad, adalah fisiknya yang masih bugar. Mata kelabunya masih awas untuk mendaras Alquran meski tanpa kacamata.

Saat ditanya soal resep sehat di usia sepuh, Aisah hanya tertawa. Menampakkan gigi depannya yang tinggal tiga biji. Katanya, tidak ada rahasia khusus. Rutinitas yang dia jalankan sama dengan lansia pada umumnya. Banyak istirahat. Yang beda mungkin soal kemandirian.

Meski enam anaknya sudah mentas dan menjadi orang semua, Aisah tetap melakukan semuanya secara mandiri. Misalnya, mencuci pakaian. Dia melakukannya sendiri setiap hari.

Istri Asmadi Khudori itu punya alasan kenapa dirinya tetap mencuci pakaian dengan menggunakan tangan. Selain untuk olahraga, Aisah tidak percaya dengan hasil cucian mesin. ’’Nggak bersih kalau di-laundry. Nggak digerojok air berkali-kali,’’ kata Aisah, lantas tertawa.

Ketua Panitia Majelis Pencinta Alquran Ahmad Abdur Rokhim mengatakan, acara tersebut diadakan sebagai wadah silaturahmi pencinta Alquran. (jawapos.com)

Siapa Bilang Puasa di China Lebih Lama?

Wasathiyyah.com, Tianjin/Beijing – “Perasaan puasa di sini tidak seperti di Indonesia. Apalagi dibandingkan dengan waktu saya ‘mondok’ dulu,” tutur Yudi Hermawan.

Mahasiswa Tianjin University itu tiba-tiba teringat pada masa-masa menimba ilmu di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Jawa Timur, ketika diajak bicara tentang puasa Ramadhan.

Pelajar berusia 20 tahun itu lalu menggambarkan suasana bulan puasa di pondok pesantren dan kampung halamannya di Pulau Kangean.

“Di sana kalau puasa, suasananya ya benar-benar seperti puasa. Sepi, tidak banyak aktivitas warga,” ujarnya mengenang suasana Ramadhan di gugusan pulau di timur laut Madura itu.

Demikian halnya dengan di pondok pesantren, dirasakan sangat lama menantikan tabuhan beduk magrib bertalu-talu.

“Meskipun banyak aktivitas belajar dan mengaji, menunggu waktu maghribnya terasa sangat lama gitu. Nggak tahu ya kenapa?” ujarnya.

Berbeda dengan di China yang sudah dua periode Ramadhan ini dia jalani. Yudi mengaku sama sekali tidak merasa sedang berpuasa karena tidak terbawa oleh lingkungan di sekitarnya.

Sejumlah pelajar Indonesia sedang menunggu adzan Maghrib Masjid Dongdashi, Kota Tianjin, Minggu (19/5/2019)

“Puasa ya puasa saja. Bahkan orang lain tidak pernah tahu, kalau saya sedang tidak makan dan tidak minum,” kata mahasiswa Jurusan Administrasi Bisnis itu menceritakan pengalaman puasa di tengah lingkungan yang tidak berpuasa itu.

Begitulah sejatinya puasa karena sebagaimana Hadis Qudsi yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim bahwa semua amal ibadah anak Adam hanya untuk diri sendiri kecuali puasa yang hanya untuk Allah.

Aktivitas ibadah yang lain, seperti shalat, zakat, dan haji masih bisa dilihat oleh orang lain. Tidak demikian halnya dengan puasa, orang lain tidak tahu jika seseorang sedang menahan lapar dan dahaga sehari penuh.

Dalam beberapa tahun terakhir, bulan Ramadhan di belahan bumi bagian utara, termasuk daratan China, jatuh pada musim panas.

Itu berarti waktu edar matahari di China, terutama di wilayah utara dan timur laut, seperti Beijing, Tianjin, Shenyang, Changchun, dan Harbin, lebih lama dan lebih terik dibandingkan dengan di selatan.

Durasi waktu puasa di kota-kota tersebut relatif lebih lama dibandingkan dengan di wilayah selatan.

Sebagai perbandingan waktu Imsak di Beijing pada tanggal 21 Ramadhan 1440 Hijriah (26/5/2019) pukul 03.15 dan magrib pukul 19.34. Sementara di Kota Hangzhou, Provinsi Zhejiang, yang agak ke selatan, imsak pukul 03.26 dan maghrib 18.52.

Di China, semakin maju perjalanan bulan Ramadhan, semakin lama durasi waktu puasanya karena matahari terbit lebih dini, sedangkan waktu terbenam lebih lambat.

Dibandingkan dengan di Indonesia, tentu saja masa puasa lebih lama karena bisa jadi Yudi yang tinggal di Tianjin sudah imsak, sedangkan keluarganya di Indonesia bagian barat masih terlelap, apalagi adanya perbedaan waktu satu jam. Demikian halnya ketika keluarganya di Kangean sudah bersiap shalat tarawih, dia masih iftar.

“Tapi karena suasana di sini tidak lazimnya bulan Ramadhan, maka lamanya waktu puasa pun tidak terasa,” ujarnya.

Iftar Huimin

Kring…!!! Suara mirip bel pun berbunyi tepat pukul 19.34 (18.34 WIB) pada Sabtu (25/5/2019) diikuti doa sejenak seorang imam.

Belasan orang di beranda Masjid Changying membatalkan puasanya dengan seteguk air yang sudah disiapkannya.

Sementara beberapa orang lainnya, menikmati menu iftar di salah satu ruang takmir. Semua makanan, mulai dari semangka, aneka bolu, roti isi daging, bakpao, daging cincang campur jeroan sapi hingga bubur kacang merah tersaji di atas meja.

Umat Islam sekitar dan takmir mengitari meja saji. Sebagian ada yang duduk, sebagian lainnya berdiri, dengan satu tujuan melepas lapar dan dahaga yang ditahan hampir 16,5 jam di awal musim panas yang menyengat.


Sebagian Muslim beretnis Hui iftar dengan seteguk air di beranda Masjid Changying, Beijing, Sabtu (25/5/2019).

Beraneka macam penganan itu berasal dari warga yang tinggal di Changying, distrik urban yang banyak dihuni oleh umat Islam China beretnis Hui.

“Anda nanti boleh kok bergabung bersama kami,” kata Mao Yungling, takmir Masjid Changying mengajak ANTARA menikmati menu iftar.

Permukiman Muslim di Subdistrik Changying merupakan yang terbesar di Beijing dibandingkan dengan di Niujie yang memiliki masjid tertua.

Meskipun tidak menyandang ikon umat Islam China seperti Niujie, jumlah jemaah di Masjid Changying lebih besar.

“Jemaah tarawih saja bisa 400 orang setiap hari,” kata Mao yang sudah puluhan tahun mengabdi di Masjid Changying.

Pada saat shalat Id, pria berusia 76 tahun yang sudah pergi haji itu menyebutkan angka jamaah 700 orang.

“Tapi kalau Jumat bisa 1.000 orang yang shalat di sini,” kata Baiyu, salah satu imam di masjid yang dibangun masa Dinasti Ming (1368-1644) dan direkonstruksi pada masa Dinasti Qing (1644-1911).

Sebagai area suburban di wilayah timur Beijing, Changying boleh dibilang daerah komunitas Muslim terpadu. Tidak hanya masjid, fasilitas pendukung lainnya pun, termasuk sekolahan, dibangun oleh pemerintah daerah kota setempat.

Warung dan rumah makan dengan beraneka macam makanan halal bertebaran di wilayah itu. Pasar tradisional berdampingan dengan pasar modern yang sama menyediakan beragam bahan makanan dan minuman bersertifikat halal.

Changying juga mudah dijangkau dengan kendaraan umum, seperti bus kota dan kereta bawah tanah (subway), dari pusat kota.

Beberapa apartemen di wilayah itu juga terlihat bernuansa Islam. “Boleh dibilang Changying ini kawasan halalnya Beijing, bahkan lebih besar dibandingkan dengan Niujie,” kata Riyono Utomo, warga negara Indonesia yang sudah 23 tahun tinggal di Beijing. (WST/RS/Antara)

 

Ramadhan di Damaskus

Oleh : Dadan Ali Murdani

Ramadhan kali ini di Suriah terlihat lebih tenang dan damai dibandingkan dengan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya pasca meletusnya Arab Spring delapan tahun lalu yang telah memporak-porandakan Suriah dengan perang sipilnya. Perang itu telah melumpuhkan keamanan dan ekonomi masyarakat setempat yang efeknya masih terus terasa bahkan hingga memasuki bulan Ramadhan seperti sekarang. Sehingga masyarakat Suriah pun tidak dapat memaksimalkan perayaan Ramadhannya sebagaimana umat muslim pada umumnya di belahan dunia lain.

Padahal beragam tradisi dan ritual ke ramadhanan sudah mendarah daging bagi masyarakat Arab lebih khusus lagi Suriah, sampai-sampai wilayah Syam ini dikenal dengan ‘kota yang tidak pernah tidur’ kala Ramadhan menjemputnya. Akan tetapi, itu semua kini tinggal cerita.

Suriah dengan ibu kotanya Damasksus tidak seperti dulu lagi. Tidak seramai dahulu kala. Bukan karena mereka enggan keluar dengan alasan faktor keamanan, namun mereka memang ‘dipaksa’ tidak keluar karena alasan ekonomi yang tak kunjung memihak.

Jalanan kota yang lebarnya lebih besar dari jalan-jalan di ibu kota kita, hanya menyisakan aspal panas yang sesekali saja digilas ban mobil. Ya, alat-alat transportasi sudah jarang terlihat, mengingat bahan bakar yang semakin langka dan mahal. Tidak aneh jika satu SPBU bisa di kerumuni oleh banyak mobil yang mengular sampai tiga kilo meter jauhnya.

Saat ini, Suriah juga mulai memasuki musim panas di mana waktu siangnya jauh lebih lama dibandingkan waktu malam. Artinya, penduduk di sini harus rela menahan lapar dari pukul 04:00 subuh sampai adzan Maghrib berkumandang pukul 20:00 waktu setempat. Namun meski demikian, masyarakat di sini sudah terbiasa menjalani puasa di tengah terik mentari yang semakin panas dengan tempo waktu siangnya yang semakin lama. Untuk yang tinggal di kawasan Damaskus mungkin sedikit lebih beruntung karena cuaca di kota ini terbilang cukup sejuk.

Guna menyemarakkan ramadhan di sini, pihak KBRI Damaskus selalu mengadakan  buka puasa bersama WNI dan mahasiswa setiap Kamis selama bulan Ramadan. Acara tersebut sudah menjadi tradisi di kedutaan yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi. Adapun mengenai pelaksanaannya hari Kamis, dikarenakan Kamis di Suriah dan juga dunia Arab lainnya merupakan akhir pekan sehingga bisa dimanfaatkan untuk bersilaturahmi antar sesama warga perantauan.

Setiap Kamis staff  KBRI bergantian menjadi panitia untuk acara buka bersama. Kehangatan suasana di KBRI setiap Kamis sejenak dapat mengobati pada suasana berbuka puasa di kampung halaman mereka di mana menu yang dihidangkan pun khas nusantara, sebut saja bakso, opor, gulai dan lain-lain.

Suriah juga cukup kaya dengan aneka kulinernya  seperti baba ganoush,  fattoush, sawarmma ful, madams kabab bil karraz hummus dan lainnya. Mungkin nama-nama ini masih asing di telinga Indonesia, untuk bisa membayangkannya,  sedikit kami berikan gambarannya. Baba Ganoush adalah campuran terong panggang yang dimasak bersama dengan minyak zaitun dan dibumbui tomat. Makanan ini biasanya digunakan untuk sambal roti. Sedangkan Sawarma, sejenis sandwich yang dilengkapi dengan irisan ayam atau daging kambing lalu dilumuri salad mayones dan mukhalal, sejenis acar, atau disebut tursi bagi orang mesir.

Yang berbeda dari kebiasaan masyarakat Suriah menjelang takjil adalah tidak ditemukannya tradisi buka puasa di jalanan. Tidak seperti negara-negara Arab lainnya semisal Mesir yang kerap kali menyediakan maidaturrahman (jamuan Tuhan) yang bisa  didapati di jalanan umum mana saja dengan tenda-tenda besar dan meja makan yg berjejer panjang. Di Suriah tradisi ini hanya dilakukan di dalam masjid saja.

Pun dengan ritual Tarawihnya. Di Suriah lebih khusus lagi di Damaskus, rakaat Tarawih diseragamkan sesuai dengan anjuran mayoritas ulama di negara ini yakni 23 rakaat. Sedang bagi yang ingin menjalankan 8 rakaat saja mereka diperbolehkan untuk meninggalkan barisan shalat lebih dulu.

Betapapun, Damaskus di kala Ramadhan tetaplah menjadi kota yang indah, kota penuh bersejarah yang jejaknya masih nampak hingga sekarang. Kota yang pernah menjadi panggung kolosal tentang perdamaian dan persaudaraan antar umat manusia.

Salah satu jejak tersebut bernama Al Jami Al Umawi atau masjid Umawiyah. Dahulunya, bangunan ini merupakan tempat peribadatan bangsa Aram dalam menyembah dewa Haddad. Kemudian, ketika agama Nasrani berkembang di Damaskus pada abad ke 4 Masehi, bangunan ini berubah menjadi gereja yang bernama gereja St. John the Baptist Basilica.

Berikutnya, saat Islam masuk ke Damaskus, untuk menjaga kerukunan hidup beragama, umat Nasrani membagi tempat ibadah mereka ini menjadi dua bagian, yang sebelah timur untuk gereja dan sebelah barat menjadi berfungsi sebagai masjid. Oleh karenanya, kedua menara di masjid ini tidak sama pada umumnya. Dua umat beragama beribadah di tempat yang sama, hanya dibatasi dinding pemisah saja.

Dari bangunan yang sama inilah umat Islam mengumandangkan adzan sebagai panggilan shalat, dan umat Nasrani membunyikan lonceng sebagai panggilan ibadah mereka. Hal ini berlangsung kurang lebih selama 70 tahun. Maka, tidak heran jika sampai sekarang umat Nasrani dari berbagai penjuru negara masih ada yang berdatangan ke masjid Umawi ini untuk berziarah. Di salah satu sudut masjid Umawi ini terdapat satu menara putih yang diyakini oleh sebagian umat Nasrani bahwa Almasih selaku juru selamat akan turun kembali ke dunia melalui menara tersebut pada akhir zaman. Hal yang mana diyakini pula oleh kaum muslimin bahwa nabi Isa as. akan turun kembali ke bumi sebagaimana disampaikan oleh nabi Muhamad Saw. dalam salah satu haditsnya.

Belum lama Suriah dilanda perah saudara yang begitu menyakitkan, sudah tidak terhitung lagi berapa korban yang berjatuhan karenanya. Perang memang tidak menyisakan apa-apa selain tangis pilu kesedihan. Namun, Ramadhan datang membawa secercah kesejukan di tengah sahara. Semakin hari, Suriah, khususnya Damaskus semakin terasa tenang dan aman. Masyarakat semakin merasa leluasa beraktifitas. Semoga Ramadhan tahun ini membawa hawa perdamaian bagi Suriah dan juga bagi negara-negara yang sedang berkonflik pada umumnya.[]

 

Tujuh Ramadhan, Haul Sang Kiai

Oleh Aguk Irawan MN.

Dalam suasana yang mencekam, di pondok Pesantren Tebuireng, tiba-tiba salah seorang cucu yang imut dan berwajah polos mendekat pada kakeknya. “Ka-kek…” Sang Kakek yang dipangil itu langsung menimpali.

“He’em, ada apa sayang?” Jawab Kiyai Hasyim sambil tersenyum. Tak lama kemudian cucu Kiyai Hasyim, bernama Abdurrahman itupun berbisik ketelinga kanan sang Kakek dengan manja, “Kakek ada tamu dari utusan Jenderal Soedirman dan Bung Tomo. Penting, katanya.”
Wajah Kiyai Hasyim berubah menjadi sedikit tegang. Tak lama kemudian ia pun mengatakan sesuatu kepada para santrinya.

“Kali ini ngaji ditunda. Kita lanjutkan setelah tamu pulang.” Tak lama setelah menutup kitabnya. Dua tamu yang terdiri dari laskar pejuang dari kelompok Hizbullah dan Sabilillah itu sudah menunggu di depan pintu ndalem Kiai itu langsung unjuk salam secara bersamaan.

“Assalammualaikum, Kiyai.”

“Wa’alaikumsalam,” jawab Kiyai Hasyim datar dan teduh.

“Rupanya ada tamu penting. Sudah lama menunggu?”

“Belum seberapa Kiyai, mungkin baru sepuluh menit yang lalu.”

“Kami berdua utusan panglima Besar Soedirman dan Bung Tomo.” Berhenti sesaat, kemudian salah satunya melanjutkan.

“Panglima Jenderal Soedirman dan Bung Tomo titip salam untuk Kiyai. Dan beliau terus memohon agar Kiyai meningkatkan doanya untuk laskar pribumi di medan peperangan.”

“Alaikuma salam warakhmatullah wabarakatuh…, sampaikan kembali salamku untuk mereka berdua.”

“Insyaallah Kiyai.”

Kedua tamu itu menceritakan kondisi terakhir di medan pertempuran, bahwa situasi sedang gawat dan darurat. Belanda telah melakukan perlawanan sengit, dan melibatkan tentara sekutu lebih dari 200.000 dengan senjata lengkap.

“Beliau meminta, jika situasi di Jawa Timur, khususnya di Jombang tak terkendali, Kiyai diminta mengungsi. Bung Tomo dan Jendral Soedirman sudah menyiapkan tempat khusus untuk Kiyai dan beberapa santri.”

“Menurut kabar yang saya terima, Tanjung Perak di Surabaya, dan kawasan Rejosari Malang sudah dikuasai oleh Belanda, lebih dari 1000 pejuang Hizbullah, Sabilillah dan TNI sudah gugur.”

“Rupanya sudah sedemikian genting,” kata Kiyai Hasyim sambil menahan sesak napas, mengelus- ngelus dada karena sangat kaget mendengar berita itu.

“Berapa lama kira-kira perang akan berlangsung?”

“Tidak tahu Kiyai, tapi kian hari, pusat perbentengan pribumi kian terpuruk. Pegunungan Malang sudah dikuasai penuh.”

“Masya Allah, Masya Allah, Masya Allah,” tiba-tiba kedua mata Kiyai Hasyim terpejam, dan tubuhnya sedikit bergetar. Tak lama kemudian tubuh renta itu menimpa cucu yang sedang duduk di pangkuannya.

“Kakek, Kakek?” kontan saja sang cucu cemas, sambil mencoba membangunkan tubuh kakeknya, tapi kakeknya belum bisa bangun. Matanya tetap terpejam. Anak itu panik, lalu menangis..“Eheh..ehe, Kakek…!!” Kedua utusan itu langsung mendekat pada Kiyai dan mencoba membangunkan Kiyai dari ketidaksadarannya. Badan Kiyai lemas, wajahnya pucat-pasi.

Salah seorang dari tamu itu kemudian memberitahu keluarga ndalem dan mengabarkan peristiwa itu pada para santri. Tidak sampai lima menit, ruang tamu itu sudah dipadati keluarga besar dan beberapa santri. Datanglah dokter Angka untuk memeriksa kesehatan Kiyai. Keluarga diminta untuk mengangkat Kiyai ke tempat tidur agar bisa beristirahat. Kiyai Hasyim diduga terkena serangan jantung.

Setelah semuanya terkendali, dua orang utusan itu pamit dan kembali bergabung ke medan pertempuran bersama TNI. Hingga tengah malam kondisi Kiyai Hasyim yang masih pingsan belum membaik. Sesekali sadar, dan saat itu ia sering menyebut-nyebut laskar Hizbullah, dan laskar Sabilillah, kemudian melafalkan wirid dan shawalat. Para santri dan kelurga yang hadir mendoakan kesembuhannya. Tapi Allah berkehendak lain, sekitar pukul 3 dini hari, ketika orang hendak melakukan sahur, Kiyai Hasyim menghadap kepada Allah, bertepatan dengan 7 ramadhan bertepatan dengan tanggal 26 Juli 1947.

Innalillahi wainnailaihi rajiun. Negeri berkabung saat hari-hari bercampur darah para pejuang, pertempuran terus memakan korban. Maka pada 30 Juli 1947, Nehru, Presiden India, dengan resmi meminta supaya aksi militer Belanda dimasukkan ke dalam agenda Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

Sanad Keilmuan

KH, Hasyim Asy’ari dilahirkan pada tanggal 10 April 1875 atau menurut penanggalan arab pada tanggal 24 Dzulqaidah 1287H di Desa Gedang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Ia putra dari pasangan Kyai Asyari dan Nyai Halimah, Ayahnya Kyai Asyari merupakan seorang pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ia anak ketiga dari 11 bersaudara. Dari garis keturunan ibunya, KH. Hasyim Asyari punya nasab kedelapan dari Jaka Tingkir (Sultan Pajang).

Setelah mengembara dari pesantren ke pesantren di Pulau Jawa, tepatnya usai mondok di Pesantren Darat, asuhan Kiyai Sholeh Darat. Ia sungguh beruntung, selain bertemu dengan santri lain seperti Kiyai Ahmad Dahlan (Darwis). Kiyai Munawwir. Kiyai Mahfudz Termasi dan lain sebagainya. Dari Kiyai Soleh Darat ini, sanad keilmuannya sampai ke Rasulallah dan para Empu di Tanah Jawa.

Di Hijaz, Ia berguru pada Syaikh Nawawi Al-bantani, Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syaikh Mahfudh At Tarmisi, Syaikh Ahmad Amin Al Aththar, Syaikh Ibrahim Arab, Syaikh Said Yamani, Syaikh Rahmaullah, Syaikh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As Saqqaf, dan Sayyid Husein Al Habsyi. Sementara di Jawa, melalui Kiyai Soleh Darat, ia mendapatkan ilmu keislaman yang sintesis dengan kearifan lokal, yang sandanya sampai ke Kanjeng Sunan Kalijaga, bahkan Empu Prapanca.

Cerita sanad-nya itu demikian; atas perintah gurunya, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga diperintah menyadur naskah Kemandalaan-Majapahit, Silakrama karya Empu Prapanca, hasilnya adalah Serat Dewa Ruci. Kitab ini kemudian diajarkan kepada Sunan Bayat, hasilnya Nitibrata. Diajarkan kepada Ki Ageng Donopuro hasilnya Swakawiku. Diajarkan kepada Kiai Hasan Besari hasilnya adalah Krama Nagara. Diajarkan kepada Kiai Anggamaya hasilnya adalah Dharmasunya. Dijarkan kepada Kiai Yosodipura I hasilnya Sana Sunu. Diajarkan kepada Kiai Katib Anom hasilnya adalah Wulang Semahan. Diajarkan kepada Kiai Shaleh Asnawi hasilnya adalah Dasasila. Diajarkan kepada Kiai Sholeh Darat hasilnya adalah Sabilul Abid. Diajarkan kepada Kiai Hasyim Asy’ari hasilnya adalah Adabul Alim wal Muta’alim.

Karena itu, tak mengherankan ada kedekatan subtantif antara ajaran Kiyai Hasyim Asyari dalam Adabul Alim wal Muta’alim dengan Empu prapacanca, dengan Kitab Silakrama, terutama titik temu ada dalam bab tiga, adab murid kepada gurunya dan bab dua (a), naskah Lontar Empu Prapanca.

Nasionalis Sejati

Kiyai Hasyim Asy’ari adalah ulama yang tidak mau sedikitpun tunduk kepada penjajah, baik Belanda atau Jepang. Tetapi, begitu kolonial ada kesempatan untuk mendesak, langsung ia menyerukan kepada umat untuk menghidupkan agama dan ukhuwah. Inilah salah satu tipikal Kiyai Hasyim dalam berpolitik.

Pada masa penjajahan itu, ia sering dibujuk Belanda untuk tunduk, namun selalu berhasil ditolaknya. Akibat sikapnya yang non-kooperatif terhadap Belanda ini, pesantren Tebuireng pernah dihancurkan Belanda.
Pada tahun 1913 intel Belanda mengirim seorang pencuri untuk membuat keonaran di Tebuireng. Namun ia tertangkap dan dihajar beramai-ramai oleh santri hingga tewas.

Peristiwa ini dimanfaatkan oleh Belanda untuk menangkap Kiyai Hasyim dengan tuduhan pembunuhan. Dalam pemeriksaan, Kyai Hasyim yang sangat piawai dengan hukum-hukum Belanda, mampu menepis semua tuduhan tersebut dengan taktis.

Akhirnya ia dilepaskan dari jeratan hukum. Belum puas dengan cara adu domba, Belanda kemudian mengirimkan beberapa kompi pasukan untuk memporak-porandakan pesantren yang baru berdiri 10-an tahun itu. Akibatnya, hampir seluruh bangunan pesantren porak-poranda, dan kitab-kitab dihancurkan serta dibakar. Perlakuan represif Belanda ini terus berlangsung hingga masa-masa revolusi fisik Tahun 1930an.

Pada sekitar tahun 1935, Belanda memainkan politik tipu muslihat. Gubernur Belanda bersikap melunak kepada pesantrennya. Pemerintah penjajah menawarkan bantuan. Tidak cukup itu, Belanda mengumumkan akan memberikan gelar Bintang Perak kepada KH. Hasyim Asyari atas jasanya dalam mengembangkan pendidikan Islam. Tetapi gelar kehormatan dalam bidang pendidikan dan bantuan itu ia tolak. Penjajah Belanda tidak putus harapan.

Untuk kedua kalinya Kiyai Hasyim Hasyim Asy’ari didekati dengan melakukan lobi-lobi melalui orang-orang suruhan Belanda Di antaranya ia pernah dianugerahi bintang jasa pada tahun 1937, tapi ditolaknya. Justru Kyai Hasyim sempat membuat Belanda kelimpungan. Pertama, ia memfatwakan bahwa perang melawan Belanda adalah jihad (perang suci). Belanda kemudian sangat kerepotan, karena perlawanan gigih melawan penjajah muncul di mana-mana.

Kedua, Kyai Hasyim juga pernah mengharamkan naik haji memakai kapal Belanda. Fatwa tersebut ditulis dalam bahasa Arab dan disiarkan oleh Kementerian Agama secara luas. Keruan saja, Van der Plas (penguasa Belanda) menjadi bingung. Karena banyak ummat Islam yang telah mendaftarkan diri kemudian mengurungkan niatnya. Masa awal perjuangan Kyai Hasyim di Tebuireng bersamaan dengan semakin represifnya perlakuan penjajah Belanda terhadap rakyat Indonesia.

Pasukan Belanda tidak segan-segan membunuh penduduk yang dianggap menentang undang-undang penjajah. Pesantren Tebuireng pun tak luput dari sasaran represif Belanda. Pada bulan Maret 1942, Pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang di Kalijati, dekat Bandung, sehingga secara de facto dan de jure, kekuasaan Indonesia berpindah tangan ke tentara Jepang.

Perlawanan Terhadap Jepang

Jauh hari sebelum kapal perang Jepang mendarat di Asia, Jepang sudah membuat propaganda yang menyebar ke telinga anak bangsa di seluruh tanah air tercinta. Slogan “Jepang adalah Cahaya Asia, Jepang Pemimpian Asia dan Jepang Pelindung Asia” merupakan propaganda yang sangat memberikan hawa baru bagi bangsa yang sedang terjajah.

Japang datang, Belanda meradang. Konfrontasi tentara bermata sipit itu lawan Belanda, membuat sang penjajah kulit putih itu menyerah. Bala Tentara Jepang yang dipimpin oleh Imamura itu membuat Gubernur Belanda, Jenderal Van Starkenborgh bertekuk lutut saat ditangkap di Kalijati, Subang tanggal 8 Maret 1942.

Berita dari Kalijati itu kemudian menyebar ke seluruh pelosok Jawa bahkan nusantara. Anak bangsa Indonesia semakin yakin bahwa kemerdekaan semakin dekat, sehingga mereka semakin semangat meneriakkan pekik kemerdekaan.

Di Surabaya, sekretariat Nahdhatul Ulama menjadi semarak oleh orang-orang yang terlibat di kepengurusan. Gema tahlil membahana seiring geliat pengurus yang semakin tak sabar mendengarkan apa yang akan dititahkan Kiyai Hasyim Asy’ari.

Masyarakat pun semakin berduyun-duyun berkerumun di depan gedung tersebut. Sebab mereka tahu akan ada tausiyah akbar oleh sang Kiyai yang penuh kharima itu.

“Saudara-saudaraku,” seru Kiyai Hasyim Asy’ari di tengah-tengah tausiyahnya, “dalam kesempatan ini marilah kita merunduk sejenak, bertafakur dan tentu saja menyampaikan puja-puji kita kehadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah begitu banyak mencurahkan rahmat-Nya kepada kita. Salah satu caranya adalah dengan mendatangkan wasilah tentara Jepang untuk mengusir kompeni yang sudah bercokol selama kurang lebih delapan generasi. Kita patut bersyukur, dan salah satu cara syukur kita adalah dengan mengisi kesempatan baik ini untuk menata negeri sendiri, membangun pranata madrasah- madrasah untuk menyokong kecerdasan ummat, dan tentu saja kita tingkatkan hubungan baik ini dengan pemerintahan Jepang.”

Begitu seru Kiyai Hasyim di atas mimbar dengan suara semangat yang meluap-luap, meletup-letup. Sebuah sikap apresiasi kepada Jepang, sebagaimana yang telah ditunjukkan pula oleh pemimpin nasionalis sekuler di hampir semua daerah.

Tak ketinggalan Bung Karno dan Bung Hatta juga menyerukan hal yang sama. Hal ini,, baik langsung maupun tidak langsung, karena Jepanglah Belanda terusir dari pertiwi, dengan demikian Jepang mengurangi penderitaan rakyat yang sudah berabad-abad lamanya.

Akan tetapi, hari-hari belum genap satu bulan, harapan besar rakyat Indonesia untuk merdeka menjauh. Awal Juli 1942, Jepang yang pernah menjanjikan kepada Soekarno sebagai pemimpin GAPI untuk mengadakan kampanye publik dan membentuk pemerintahan yang sah dan berdaulat utuh di bawah kibaran bendera merah-putih, kini janji itu mereka khianati dan justru terganti dengan kebijakan yang sangat mengejutkan.

Persis pada tanggal 15 Juli 1942, tiba-tiba Jepang membuat kebijakan yang sepihak berupa larangan terhadap semua gerakan sosial dan politik. Pada tengah malam di hari itu, banyak pemimpin revelosioner yang awalnya satu barisan dengan Jepang ditangkapi.

Bahkan polisi Jepang (Kempetai) dengan begitu saja mengambil tindakan yang aneh pada pribumi. Makanan, pakaian, barang, dan obat-obatan menghilang dari pasaran. Karena sulit pakaian, banyak rakyat memakai celana terbuat dari karung goni. Hanya orang kaya saja yang punya baju yang terbuat dari kain. Itu pun kain seadanya, jauh dari layak.

Dampak dari kebijakan sepihak dan nyeleneh ini, rakyat pribumi pun sulit mendapat obat-obatan. Rumah-rumah sakit langka. Mereka yang menderita penyakit kudis, koreng, jumlahnya meningkat, karena sulit mendapatkan salep. Hampir saja tak ada anak- anak pribumi yang tidak berpenyakitan jenis ini. Karena kelangkaan obat, sementara jumlah penyakit yang mendera anak semakin banyak, jadilah pribumi membuat obat salep sendiri dari berbagai macam jenis tumbuhan, dan dipoleskan ke tempat yang sakit sebagai ganti perban.

Kelaparan melanda di mana-mana, dan karena tak kuat menahan lapar, banyak peibumi yang mengais makanan dari sisa makan orang Jepang. Saat itu tempat sampah menjadi tempat paling favorit bahkan orang berebut dengan cara ramai-ramai mengambil sisa makanan dari buangan makan orang Jepang. Dan kalau bukan rebutan makanan di tempat sampah, penjajah Jepang memerintahkan rakyat makan bekicot.

Banyak laki-laki Indonesia diambil dari tengah keluarga mereka dan dikirim hingga ke Burma untuk melakukan pekerjaan pembangunan dan banyak pekerjaan berat lainnya dalam kondis yang sangat buruk. Ribuan orang mati atau hilang. Tentara Jepang dengan paksa mengambil makanan, pakaian dan berbagai pasokan lainnya dari keluarga-keluarga Indonesia, tanpa memberikan ganti rugi.
Radio yang hanya dimiliki beberapa gelintir orang disegel. Hanya siaran pemerintah Dai Nippon yang boleh didengarkan. Kalau sampai ketahuan rakyat mendengarkan siaran luar negeri pasti akan dihukum berat. Orang akan bergidik bila mendengar Kempetai atau polisi militer Jepang.

Pada malam hari seringkali terdengar sirene kuso keho sebagai pertanda bahaya serangan udara dari tentara sekutu. Rakyat pun setelah memadamkan lampu cepat-cepat pergi ke tempat perlindungan. Di halaman rumah-rumah kala itu digali lobang untuk empat atau lima orang bila terdengar sirene bahaya udara. Ratusan ribu tenaga kerja paksa atau disebut romusha dikerahkan dari pulau Jawa ke luar Jawa, bahkan ke luar wilayah Indonesia.

Mereka diperlakukan tidak manusiawi sehingga banyak yang menolak jadi romusha. Jepang pun menggunakan cara paksa. Setiap kepala daerah harus menginventarisasikan jumlah penduduk usia kerja, setelah mereka dipaksa jadi romusha. Ribuan romusha dikerahkan ke medan pertempuran Jepang di Irian, Sulawesi, Maluku, Malaysia, Thailand, Birma dan beberapa negara lainnya.

Begitu banyak kebijakan aneh yang menyiksa pribumi dan dampak buruk ekonomi horisontal terus mendera silih berganti, tidak hanya terbatas pada kelangkaan makanan, standar kesehatan yang sangat rendah, kerja paksa, tetapi termasuk juga memperbudak para perempuan. Ribuan wanita Indonesia yang ditangkap dipaksa menjadi fujingkau atau yugun ianfu alias perempuan pemuas seks tentara Jepang.

Sekolah-sekolah juga dipaksa untuk tutup, dan buku serta kertas, pensil menghilang pula dari pasar. Akhirnya pribumi membuat buku tulis yang terbuat dari kertas merang. Pensilnya menggunakan arang, hingga sulit sekali menulis.

“Saudara-saudara, sekolahan dan madrasah tak boleh ditutup, sebab sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk mencerdaskan anak bangsa. Dan kita jadi sadarlah, ternyata orang kulit kuning, Jepang datang ke bumi pertiwi kita tidak hendak untuk membantu kita, tapi merebut kekuasaan dari Belanda untuk mereka sendiri!”

Begitulah seruan Kiyai Hasyim di mana-mana, dan seruan itu juga menjadi topik besar-besaran di Soeara Nahdlatoel Oelama. Lebih dari itu, Kiyai Hasyim di media basis NU itu juga menjelaskan bahwa motif Jepang bersemangat untuk menguasai benua Asia adalah karena kebutuhan atas sumber enegi minyak bumi. Karena saat itu geliat industri di Jepang mulai naik, sementara negara-negara Barat yang diwakili oleh Amerika mengembargo minyak ke Jepang.

Dada Kiyai Hasyim semakin miris saat tak lama kemudian Jepang menetapkan kebijakan untuk seikeirei, sebuah ritual atau upacara khas dengan cara membungkukkan badan ke istana kaisar pukul tujuh pagi. Hasyim melihat itu mirip rukuknya kaum muslimin, apalagi kiblatnya mengarah kepada Kaisar Jepang Tenno Heika, yang diyakini orang Jepang sebagai titisan Dewa.

“Saudara-saudaraku seiman dan sebangsa, membungkukkan badan serupa rukuk dalam shalat untuk menghadap ke Kaisar Jepang sebagai penghormatan, adalah bagian dari kemusyrikan. Karena itu haram hukumnya!” Teriak Kiyai Hasyim lantang.

Kiyai Hasyim Asy’ari juga memberikan fatwa haram teradap muslim pribumi untuk menyanyikan lagu kebangsaan “Kimigayo” dan mengibarkan bendera Hinomaru serta segala bentuk Niponisasi (serba Jepang). Hari berikutnya, Kiyai Hasyim menyerukan semua pribumi yang bekerja di Pabrik Gula yang saat itu dikuasai oleh Jepang, untuk mogok kerja hingga perekonomian nyaris lumpuh beberapa hari.

Tak berhenti di situ, Kiyai Hasyim juga menyiapkan kader-kader Islam militan, dari para santri untuk ikut terjun ke milisi Laskar Hizbullah dan Barisan Sabilillah yang diketuai oleh puteranya yang bernama Abdul Kholik. Begitu juga Sang Kiyai itu meminta dengan sangat agar setiap kaum muslimin bangsa ini di manapun berada bergabung bersama tentara Pembela Tanah Air (PETA), atau masuk gerakan Pandu Hisbul Wathan organisasi sayap Muhammadiyah. Akibat perlawananya ini,–sebagaimana yang kita tahu, –ia kemudian dimasukkan ke penjara dan disiksa, tetapi api perlawanannya, sedikitpun tak pernah padam.

Diantara kelebihan lain Kiyai Hasyim Asy’ari adalah kemampuan menyampaikan keilmuan Islam dengan spirit nasionlisme dan kebangsaan, serta mampu membuat jaringan intelektual di seluruh Nusantara, terutama pulau Jawa. Jaringan intelektual pertama dimulai dari para santrinya yang tersebar di berbagai daerah untuk membentengi rakyat Indonesia dari pengaruh budaya asing seperti penjajah Belanda dan Jepang. Sebab, untuk membangun kekuatan bangsa Indonesia, diperlukan jaringan intelektual sebagai penggerak.

Bagi Kiyai Hasyim Asy’ari, para intelektual jangan sampai terpecah-belah dan dibiarkan untuk diadu-domba, tapi harus kokoh dalam persatuan. Karena, Indonesia akan lemah jika intelektualnya tercerai-berai. Untuk mewujukdan itu, iapun menjadi sosok penting dalam pendirian organisasi Nahdlatul Ulama pada tahun 1926, dan pada tahun 1944, beberapa tokoh Islam juga mengangkat Kiyai Hasyim Hasyim Asy’ari sebagai ketua MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) yang komponennya dari beberapa organisasi Islam di Indonesia.

Melalui dua ormas ini, nasionalisme dan ukhuwah Islam bangkit, sehinga cita-cita bangsa Indonesia meraih kemerdekaan, diantaranya dapat mudah terwujud. Maka, Presiden Soekarno lewat Keputusan Presiden (Kepres) No. 249/1964 menetapkan KH. Muhammad Hasyim Asy’ari sebagai Pahlawan Nasional

Wallahu’alam bisahwab.

Yogyakarta, 11 Mei 2019

Manusia dan Sejarah Masa Depan

Oleh : Saiful Bahri

Hari seperti biasanya, ketika pagi senyum anak-anak merekah menyambut. Mereka telah menyiapkan ucapan selamat ulang tahun dengan kreasi khas anak-anak. Tak lama, karena ada beberapa kesibukan masing-masing.

Kemarin adalah hari yang spesial, sekalipun kegiatan yang memberatkan dan tugas-tugas serta serasa seperti air bah yang mengguyur tanpa pernah tahu kapan berhentinya. Ada dua buku yang menjadi hadiah special hari itu. Keduanya karya seorang Guru Besar sejarah dunia yang relatif masih muda tapi produktif, sebut saja Yuval Noah Harari. Buku pertama berjudul Sapiens, a Brief History of Humankind yang sudah diterjemah lebih dari 20 bahasa. Buku kedua berjudul Homo Deus, a Brief History of Tomorrow. Juga sudah dicetak lebih dari 4 juta eksemplar.

Istri saya membawakannya sebagai hadiah spesial hari itu. Kami berdua berbagi, ia membaca buku pertama dan saya membaca buku kedua. Di beberapa kesempatan kami saling mendiskusikan isinya. Malam sudah larut, saya juga masih harus membuka-buka sebuah draft disertasi yang harus diujikan pagi ini secara tertutup, prodi memberi amanah untuk menjadi bagian dari anggota tim penguji. Tapi rasa penasaran yang tinggi membuat buku tersebut sulit dilepas begitu saja.

Alhamdulillah, hari ini semuanya bisa dilalui dengan lancar dengan bimbingan Allah. Buku Homo Deus pun selesai terbaca.

Kenapa saya penasaran dengan kedua buku tersebut, khususnya buku kedua?

Buku tersebut menerbangkan saya pada linimasa sejarah peradaban umat Islam di salah satu periode emasnya. Mengingatkan saya pada sosok Muhammad bin Ismail al-Bukhori (W. 256 H) seorang pakar hadis yang juga pakar sejarah. Beliau menulis at-Târîkh al-Kabîr, sebuah kompilasi sejarah manusia, yaitu para manusia perawi hadis Nabi Muhammad SAW. Tak lama setelah itu datang Abu Ja’far ath-Thabariy (W. 310), seorang pakar tafsir dan ilmu al-Quran menulis karya berisi sebuah sejarah manusia yang lebih lengkap. Ensiklopedi monumentalnya tersebut berjudul Târîkh ar-Rusul wa al-Mulûk yang membahas sejarah manusia sejak penciptaan hingga berbagai peristiwa yang terjadi di tahun 302 H, atau kira-kira 8 tahun menjelang wafatnya beliau.

Setelah itu ada Ibnu Katsir (W. 774 H) yang memiliki kemiripan dengan ath-Thabary. Pakar tafsir yang juga pakar sejarah tersebut menuliskan sejarah yang lebih lengkap dan tebal dari pendahulunya, magnum opusnya tersebut diberi judul Al-Bidâyah wa an-Nihâyah yang selesai ditulis pada tahun 768 H. Menariknya, Ibnu Katsir ternyata juga menuliskan sejarah masa depan (history of tomorrow), hanya saja perspektifnya sangat jauh mencakup berbagai alam (multiverse) menjangkau alam yang tidak diketahui seperti apa jauhnya. Dalam dua atau tiga jilid terakhirnya beliau menjelaskan sejarah berakhirnya dunia dan hari kebangkitan, berdasarkan sumber teks yang bisa dijangkaunya, ayat atau hadis atau atsar-atsar.

Itulah barangkali yang memantik penasaran saya, untuk segera menuntaskan Homo Deus, a Brief History of Tomorrow.

Harari yang setahun lebih tua dari saya itu, ternyata memiliki kepakaran sejarah yang sangat mumpuni. Data-data, analisis filosofis dan retorisnya sangat memukau sehingga secara tak sadar pembaca mungkin akan terbius dengan bangunan teori evolusinya yang sebagian pernah disampaikan oleh Darwin. Tak banyak yang saya ketahui dari buku Sapiens karena saya belum membaca buku tersebut, hanya tahu dari hasil diskusi beberapa bagiannya dari istri saya.

Dalam Homo Deus, Harari meneropong masa depan manusia dengan data-data kredibel. Ada perbandingan data kelaparan dan data obesitas yang memungkinkan untuk diperkirakan terjadi di tahun 2030. Dengan fasih ia juga mengupas sejarah Firaun dan pembangunan megabendungan danau buatan di Fayoum, saya seolah mengikuti kuliah Egyptology. Tak ketinggalan sejarah perang di masa lalu, termasuk perang salib dan perang-perang yang dianggap sebagai bencana kemanusiaan yang memilukan. Analisis-analisis berbagai revolusi di Rumania sampai di Mesir. Ia juga mengenang masa-masa mengenal internet dan mengoperasikan komputer di masa lalu, kemudian membandingkan dengan kondisi kekinian.

Saya juga membayangkan bagaimana aplikasi GPS Waze mendistribusikan informasi jalanan yang macet dan yang tidak kepada para penggunanya. Karena jalan alternatif yang tak macet bisa jadi akan berubah macet jika semua pengguna Waze diberikan informasi yang sama. Analisis yang smart.

Ia juga berbicara perkembangan pesat kecerdasan buatan dan robot cerdas. Undang-undang dan regulasi tentang binatang serta paradoksal tikus-tikus laboratorium. Analog-analog yang dibangun membuat pembaca (mungkin) akan berkerut untuk kemudian mengangguk-anggukan kepala membenarkan. Teori manusia dan agama misalnya, statemennya yang mengatakan bahwa agama menjadi faktor penting bagi manusia modern, mengalahkan kepercayaan manusia modern pada revolusi industri dan robot-robot yang sudah teruji secara nyata. Membandingkan kerja robot yang tak jarang dipaksa sampai energy terakhirnya, seperti produk industri, computer laptop dan sebagainya.

Harari menyebut, penganut agama-agama termasuk agama Islam, dulunya kreatif, namun kini menjadi reaktif. Saya mengernyutkan dahi sejenak dan melakukan pendekatan introspektif. Tidak salah. Itu memang terjadi. Bangunan opininya tentang radikalisme bisa jadi juga benar, tapi ada unsur lain yang luput dan tak disebutkan, seperti ketidakadilan dan kesewenangan misalnya.

Karena itu, kemudian saya berkesimpulan bahwa sekalipun ia berusaha obyektif, namun subyektifitasnya tetap saja tak bisa ditutupi. Apalagi tentang sejarah. Karena, memang sejarah yang dituliskan dan diwariskan selalu terikat dengan subyektifitas.

Jika ingin tahu subyektivitas yang saya maksud diantaranya, bukan sekedar tentang teori evolusi atau agama yang ditulisnya sebagai ranah netral dan menjadi kebebasan manusia untuk memilih sebebas-bebasnya. Namun, lihatlah tulisannya yang sebenarnya tak banyak, tapi cukup bisa dianggap membangun opini keberpihakan pada pembicaraan Jerusalem, terlepas siapa dia dan buku ini berbahasa asli apa, tapi sejujurnya saya tak tahu apakah ia seorang penganut zionisme atau bukan.

Saya mulai berpikir, apakah ketika saya mencoba memihak kepada Bangsa Palestina yang terjajah, tertindas oleh kesewenangan dengan data-data yang bisa diakses siapa saja berarti saya tak lagi obytektif?

Apakah ketika saya terbatas membantu atau bahkan tak bisa membantu saudara-saudara saya yang terdampak bencana di Lombok, Palu, Donggala, Banten, Lampung dan sebagainya saya juga kehilangan kepakaran saya?

Tetangga-tetangga saya yang sedang sakit atau saudara, teman dan kerabat yang memerlukan bantuan, saya juga masih terbatas mengulurkan tangan menebar optimisme dan kebaikan.

Hiruk pikuk pilpres dan pileg yang tak lama lagi membuat fanatisme brutal saya temui di mana-mana. Etika, kebesaran jiwa, kesantunan bahasa menjadi hilang seketika.

Apakah saya yang juga mendukung salah satu capres dan partai tertentu juga kehilangan kepakaran dan obyektifitas? Saya mencoba menjawab sendiri pertanyaan saya dengan membaca The Death of Expertise nya Tom Nichols. Justru bangunan keilmuan dan kepakaran pada akhirnya akan melahirkan keberpihakan. Jika suatu saat diposisikan untuk menengahi maka, keberpihakan tersebut tidak dinampakkan untuk suatu alasan atau tidak ditonjolkan untuk menjaga perasaan orang atau pihak yang dihadapinya.

Namun, kepakaran dan keilmuan akan mati bila digunakan secara brutal dan fanatik buta. Keduanya juga akan mati, bila dipupuk dengan keangkuhan, kesombongan dan ketamakan.

Ya Rabb, ampuni hamba yang terbatas memaksimalkan anugerah ilmu dan nikmat yang Kau berikan untuk memihak pada orang-orang dan siapapun yang harus dibela dan ditolong.

Ya Rabb, ampuni hamba yang menjadikan kesibukan sebagai tameng untuk berkarya dan menutupi ketidakberdayaan di tengah kehidupan yang makin dicengkram hedonistic.

Ya Rabb, tolonglah orang-orang lemah dan terzhalimi di manapun mereka berada.

 

Jakarta, 17.01.2019

Bertambah usia, berkurang umur

 

*Sumber : https://saifulelsaba.wordpress.com

Pagi di Negeri Al Fatih

Oleh : Teguh A. Deswandi

Saat pesawat ini berada di holding area, berputar sekian menit untuk menunggu antrian landing, kami sudah dapat menyaksikan gemerlap kota yang penuh dengan sejarah itu. Pijaran bola lampu di kota ini seperti ikatan tali tak berputus, menyambung dari satu distrik ke distrik lainnya. Walau pijarannya sedikit melemah, karena alam berada dalam spektrum warna biru muda, yang sesuai dengan frekuensi tiroid, artinya saat itu sudah masuk waktu Subuh, hingga pijaran lampu sedikit terbias oleh warna langit yang membiru.

Kami kembali meyakinkan diri, bahwa saat ini jasad kami berada di sebuah negeri yang pernah diceritakan Rasulullah Saw. Negeri futuristik yang menjadi kenyataan dari janji Rasul 14 abad silam, negeri yang memberikan jaminan keindahan alam dan mozaik Islamnya itu kini berada tepat dalam pijakan kaki. Tapak kami mulai menelusuri jejak Al-Fatih kala masuk di jantung Konstantinopel, kota yang dijanjikan Rasul bagi umat Islam ini, benar-benar membuat takjub. Bagaimana tidak, sejak bus bertolak dari bandara Attaturk, kami disuguhkan oleh indahnya panorama yang tiada henti.

Cuaca di bawah 7 derajat celcius, tidak membuat saya beserta traveller lainnya tertegun dengan keindahan alam yang tersaji, dirangkai bangunan dan lekukan geografis yang dikelilingi lautan, serta banyaknya peninggalan budaya dari setiap peradaban Romawi & Islam menambah cantik kota 1000 minaret ini, it’s an amazing city! Sangat detail, perancangan kota dengan situs-situs yang gagah berdiri ini menunjukan tiada ketimpangan antara infrastruktur dan aspek budaya, seimbang dan eksotik.

Di mulai dari Hippodrome kaki melangkah dengan sedikit basah oleh air akibat embun dan hujan rintik khas musim dingin di Istanbul. Energi dan aura yang terpancar, benar-benar melenyapkan kelelahan setelah terbang 11 jam lebih dari Jakarta. Berjalan riang, sesekali berdiam dengan gaya fokus pada kamera yang tertuju. Selfie, wefie dan foto bersama di setiap tempat dan situs yang teramat sayang untuk dilupakan.

Candaan Imron, seorang Tourguide berkebangsaan Turki berdarah Maroko membuat suasana hangat ditengah gigil yang menerpa. Perbedaan fisik dan karakter Imron dengan kami sangat jelas, selain lebih eye-catching, dia seolah tak merasakan kedinginan, dengan hanya menggunakan kaos dan jaket tipis berlengan pendek. Dia memiliki selera humor yang baik, karenanya, sangat mudah dan asyik berbaur dengan para traveller. Candaan dan keriangan Imron sedikit ‘melupakan’ bahwa kami sedang kedinginan. Sesekali candaannya garing, tapi di saat itulah justru candaan yang paling menghibur, karena mimik wajahnya yang sangat berkesan.

Pagi itu, di bawah rintik hujan, kami menelusuri komplek bekas pacuan kuda era Kekaisaran Romawi, saat ini bernama Sultanahmet Square. Taman komplek indah ini terletak dalam satu area dengan Basilica Cistern, Blue Mosque, Hagia Sophia dan disampingnya Istana Topkapi. 1 pilar dan 2 obelisk menambah background indahnya ber-wefie ria.

Di Sultan Ahmet Square ini juga terdapat sejumlah bangku taman yang bisa kita gunakan untuk istirahat dan bersantai sejenak setelah berkeliling area. Di setiap sudut, ada beberapa pedagang kacang turki dan jagung bakar meski dengan roda seadanya tetapi tidak merusak tatanan keindahan taman. Bahkan tidak jarang turis mancanegara senang berfoto dengan mereka, selain karena tampang penjual yang betah dipandang terutama bagi kaum hawa, gerobak rodanya pun sedikit unik. Tak heran kaum hawa paling banyak yang berburu foto dengan para pedagang, wisatawan pria pun ada, termasuk saya.

Terus berjalan, hingga sampai di sebuah German Fountain, ini adalah bangunan air mancur bergaya arsitektur neo-byzantine yang merupakan hadiah dari Kaisar Jerman Wilhelm II. Bangunan air mancur ini terletak di pintu masuk Hippodrome sebelah utara, persis di depan Masjid Biru. Rasanya saya berada pada era klasik yang melibatkan kolosal peran, tentunya dengan hiasan mozaik Arab yang teramat kental dan detail. Tanah yang saya pijak saat ini pernah dikuasai oleh 3 Kekaisaran besar saat itu, Romawi, Byzantine dan Ottoman. Sebuah sejarah yang mustahil terlupa dalam tinta emas lembaran Turki.

Berkunjung ke Negeri Al Fatih, seolah mengajarkan saya betapa kokohnya pasukan Muhammad Fatih, tak kenal lelah, tak pernah surut dari inovasi, terus bergerak, bergerak dan bergerak. Move to life, terus bergerak untuk keagungan kalimat Allah Swt. di bumi Utsmaniyyah. Percaya diri dan teguh dalam pendirian histori, bahwa mereka adalah pasukan terbaik yang pernah di-ikrarkan Rasulullah Saw. Melihat dan menyaksikan benteng besar dengan batasan laut dan pagar bukit tinggi, mampu ia taklukan, melawan kemustahilan para penguasa, bukan menjebol tirai rantai raksasa, tetapi mengangkat kapal perang melintasi bukit yang tinggi.

Masih banyak sesungguhnya cerita yang mengundang rasa di negeri ini, karena setiap pojokannya meliputi langkah para muslim sejati, dari janji sang Nabi.[]

 

Diam is Danger!

Oleh : Teguh A. Deswandi

“Diam itu emas”, demikian pepatah yang sudah lama kita dengar. Tetapi pada kondisi tertentu, malah ada ungkapan lain bernada canda, “Diam itu mem’bete’ kan”, atau “Diam itu membosankan”. Adigium ‘Diam itu emas’ lebih menunjukan pada saat interaksi yang kurang bermanfaat.

Ketika obrolan, atau candaan sudah mengarah ke perihal yang tidak jelas, maka Islam mengajarkan untuk berdiam diri. Baik lisan maupun tindakan, hal itulah yang menjadikan bahwa diamnya lebih mulia daripada sebatang emas. Karena dalam kesunyian diam-nya, ia akan berusaha menciptakan energi pikir yang bisa menghasilkan sesuatu lebih bernilai daripada nilai emas.

Baiklah, sekarang mari kita putar angle tulisan ini untuk kembali pada arah tema di atas. Ketika ‘diam’ itu berbahaya, ketika ‘diam’ itu seolah menghanyutkan dengan cara yang teramat lembut, bahkan nyaris tak terasa. Diam akan menjadi semacam malapetaka yang teramat dahsyat pada bangunan kokoh sekalipun.

Sesuatu yang tampak diam atau senyap, kerap membuat ribuan pertanyaan. Mengundang misteri yang sulit ditebak, melompat tak tentu arah, bisa juga muncul suatu hal yang tak pernah diperkirakan sebelumnya. Air yang diam, jangan dikira arus bawahnya tak melaju kencang, jiwa yang diam –pastinya- memiliki energi kuat untuk ‘meledak’ kapan saja secara tak terduga.

Diam tidak selamanya aman. Ia bisa menunjukan sinyal siaga untuk menghadapi gejolak selanjutnya. Gejolak yang tak pernah dipikirkan sebelumnya. Seorang anak akan sangat takut, ketika ayahnya hanya diam membisu, karena ia sulit menebak apa yang akan dilakukan sang ayah selanjutnya, apakah diam-nya tanda menyetujui apa yang ia lakukan, atau sebaliknya (?), dalam diam-nya mengundang riak pikir yang –sejatinya- menjadi alasan sang anak untuk berbenah, hingga result diam-nya itu menjadi energi positif yang luar biasa.

Misteri ‘diam’ akan naik bertahap, jika level diam itu terus berlanjut pada hal negatif, karena tiada yang peka terhadap proses diam itu, maka muncullah sebuah sikap yang lebih membahayakan, yakni mengacuhkan semua yang ada di sekitarnya. Acuh alias cuek adalah akibat dari bahaya diam yang tidak segera ditangkap sinyalnya.

Dalam Islam, yang paling ditakuti pada kehidupan ini, ketika Allah Swt., Dzat Maha Segalanya sudah mendiamkan makhluknya dalam kubangan kenistaan. Tiada teguran, atau bahkan seolah diacuhkan oleh Khaliq adalah malapetaka yang teramat besar dalam kehidupan manusia.

Jika diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari, baik dalam ranah keluarga maupun dunia kerja, maka diam dan acuh itu akan berakibat fatal pada keberlangsungan hidup komunitas itu. Jika seorang suami atau istri telah memberikan sinyal diam pada pasangannya, maka –sejatinya- pasangannya harus saling membahu untuk meredakan sinyal itu, agar tidak melangkah pada derajat ‘acuh’.

Pun demikian jika terjadi pada dunia kerja, jika atasan sudah merasa diam pada aspek yang awalnya begitu respek, maka tim harus segera peka untuk menangkapnya. Berusaha menghindari rasa pimpinan untuk menaiki level ‘diam’-nya ke tingkatan ‘acuh’ (don’t care) terhadap kualitas kerja yang terjadi.

Perlu kepekaan dan keterampilan dalam merespon ke-diam-an. Memilih diam ketimbang udapan atau perbuatan yang buruk, tentu diam itu akan menjadi emas. Tapi, membiarkan suatu masalah dengan cara diam, ini sejatinya menyalakan bom waktu yang bisa meledak sewaktu-waktu. Berbijaksanalah, karena segala sesuatu ada waktu dan alasannya, termasuk urusan diam.[]