8 Kiat Mendidik Anak ala Rasulullah SAW

Oleh: Udo Yamin Majdi

1. Menjadi Tauladan

Anak belajar dengan cara mencontoh. Apabila mereka mendapatkan contoh baik, maka mereka akan tumbuh dengan baik. Begitu juga sebaliknya, jika di sekelilingnya memberikan contoh buruk, maka anak akan memiliki karakter buruk.

“Aku menginap di rumah Bibiku, Maimunah.” Ibnu Abbas mulai bercerita. “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa bangun untuk shalat malam. Suatu malam, beliau bangun, kemudian berwudhu dengan wudhu ringan dari kendi digantung. Setelah itu, beliau shalat. Akupun berwudhu sama seperti wudhu beliau. Kemudian aku berdiri di samping kiri beliau. Namun, beliau menarikku dan meletakkanku di samping kanan beliau. Kemudian beliau shalat beberapa rakaat.”

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari itu, menegaskan bahwa Nabi sebagai pendidik, memberikan tauladan dan Ibnu Abbas sebagai anak didik menirunya.

Tak ada metode mendidik anak yang lebih baik dari memberikan tauladan. Sebab, memberikan tauladan baik, inilah yang menjadi kunci kesuksesan Nabi dalam mendidik umatnya.

2. Menasehati Tepat Waktu

Ada tiga waktu saatnya kita menasehati anak: dalam perjalanan, waktu makan, dan waktu sakit.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, Ibnu Abbas bercerita, “Aku di belakang Nabi SAW pada suatu hari. Beliau berpesan, “Wahai anak kecil….”

Dalam hadits lain riwayat al-Hakim dalam kitab Mustadrak (3/541) menegaskan bahwa perjalanan itu dilakukan di atas kendaraan.

Rasulullah SAW diberi hadiah seekor Bighal oleh Kisra. Beliau menungganginya dengan tali kekang dari serabut. Beliau membonceng Ibnu Abbas. Kemudian kendaraan itu berjalan. Tidak berapa lama, beliau menoleh Ibnu Abbas dan berseru, “Wahai anak kecil…!” Ibnu Abbas menjawab, “Labbaik ya rasulullah!” Nabi pun berpesan, “Jagalah agama Allah, maka Dia menjagamu…”

Adapun menasehati anak pada waktu makan, diceritakan oleh Umar bin Abi Salamah RA, dia berkata, “Aku masih anak-anak ketika berada dalam pengasuhan Rasulullah SAW. Tanganku bergerak ke sana kemari dalam nampan. Nabi bersabda kepadaku, ‘Wahai anak kecil, ucapkan basmalah, makan dengan tangan kanan, dan makanlah apa yang dihadapanmu.’ Sejak itu, begitulah cara makanku.”

Terakhir, menasehati anak waktu sakit. Ini berdasarkan sebuah hadits riwayat Imam Bukhari bahwa Anas RA berkata:

“Seorang anak Yahudi yang menjadi pelayan Nabi SAW sakit. Beliau dating menjenguknya. Beliau duduk di kepalanya dan bersabda kepadanya, “Masuk Islamlah kamu.” Di melihat kea rah bapaknya yang saat itu berada di sana. Si bapak berkata, ‘Turutilah Abul Qasim.’ Mak anak itu masuk Islam. Nabi SAW pergi sambil berdo’a, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari api neraka.’”

3. Bersikap Adil

An-Nu’man bin Basyir bersama bapaknya menghadap Rasulullah. Bapak an-Nu’man berkata, “Aku akan memberikan seorang budak kepada anakkku ini.”

“Apakah semua anakmu diberi demikian?” Tanya Rasulullah SAW.

Basyir menjawab, “Tidak!”

“Jangan engkau persaksikan kepadaku perbuatan jahat.” Ujar Nabi, lalu beliau bertanya, “Apakah engkau ingin semua anakmu berbakti kepadamu?”

Bapak Nu’man menjawab, “Iya!”

“Kalau engkau membedakan mereka, maka mereka tidak semuanya akan berbakti kepadamu.” Jawab Nabi.

Hadist riwayat Imam Bukhari dan Muslim ini dikuatkan dengan hadits Imam Ahmad, Abu Dawud, an-Nasai, dan Ibnu Hibban, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Berlaku adillah kalian terhadap anak-anak kalian, Berlaku adillah kalian terhadap anak-anak kalian, Berlaku adillah kalian terhadap anak-anak kalian.”

4. Menunaikan Hak Anak

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad RA bahwa Rasulullah diberi minum. Di kanan beliau ada anak kecil dan di kirinya ada orang dewasa.

“Apa kamu mengizinkan aku memberikan kepada mereka yang dewasa duluan minum?” Tanya Nabi.

Anak kecil bernama al-Fadhl bin Abbas menjawab, “Tidak, aku tidak memberikan bagianku darimu kepada orang lain!”

Rasulullah SAW meletakan cawan di tangan anak kecil itu.

Dalam hadist lain, seorang anak menghadang Rasulullah SAW sebelum Perang Uhud. Anak itu merasa haknya diambil. Dia berkata, “Wahai rasulullah, engkau mengizinkan anak pamanku ikut berperang, sementara kalau aku bergulat dengannya, aku dapat mengalahkannya.”

Maka Nabi SAW mengizinkan dua anak muda itu bergulat. Anak itu menang. Tidak ada alasan lagi bagi Rasulullah SAW selain mengizinkan anak itu ikut berperang.

Ada banyak hadist menceritakan bahwa Rasulullah memberikan hak kepada siapapun, termasuk kepada anak kecil.

5. Mendoakan Anak

“Janganlah mendoa’kan keburukan atas diri kalian, janganlah mendoa’kan keburukan atas anak-anak kalian, janganlah mendoa’kan keburukan atas pembantu-pembantu kalian, janganlah mendoa’kan keburukan atas harta kalian, ketika bertepatan dengan waktu Allah menurunkan pemberian kepada kalian, sehingga doa kalian dikabulkan.” Sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Abu Dawud.

Imam Ghazali menceritakan bahwa ada yang datang kepada Abdullah bin Mubarak untuk mengadukan kedurhakaan anaknya.

“Apakah kamu pernah mendoakan keburukan atas anakmu?” Tanya Abdullah Mubarak.

Lelaki itu berkata, “Iya pernah.”

“Kalau begitu, engkau telah merusaknya.” Kata Abdullah bin Mubarak.

Dalam kitab hadits, banyak sekali hadits tentang Rasulullah SAW mendoakan anak kecil. Misalnya, dalam hadits Bukhari diceritakan Nabi mendo’akan Ibnu Abbas, “Ya Allah, ajari dia hikmah; ajari dia al-Quran, pahamkan dia masalah agama, atau ajari dia tafsir Quran.”

Di hadits lain, Anas bercerita, “Ummu Sulaim datang membawaku menghadap rasulullah SAW. Dia menutupi sekujur tubuhku dengan kerudungnya, separuh di atas, dan separo lagi di bawah.  Dia berkata, “Wahai rasulullah, ini anakku, Anas. Aku dating membawanya untuk menjadi pelayanmu. Maka do’akan dia.” Nabi berdoa, “Ya Allah, banyakan rezeki dan anaknya. Anas berkata, “Demi Allah, hartaku sangat banyak, anak-anak dan cucu-cucuku saat ini mencapai ratusan.”

6. Memberi Anak Mainan

Memberikan anak mainan ini cukup penting. Hal ini dapat kita lihat dari sikap Rasulullah SAW terhadap Aisyah, atau pengakuan Nabi terhadap mainan burung Pipit milik Abu Umair.

Dalam Musnad (1/445), Abu Ya’la dengan sanad sahih, menceritakan bahwa Al-Husain RA memiliki seokor anak anjing untuk bermain.

7. Membantu Anak untuk Berbakti dan Mengerjakan Ketaatan

“Semoga Allah memberi rahmat kepada orang tua yang membantu anaknya berbakti.” Sabda Nabi SAW dalam hadits riwayat Ibnu Hibban.

Di hadits lain, riwayat ath-Thabari dari Abu Hurairah bahwa rasulullah bersabda, “Bantulah anak kalian untuk berbakti. Barangsiapa yang menghendaki, dia dapat mengeluarkan sifat durhaka dari anaknya.”

Memilihkan anak sekolah terbaik, atau pengasuh yang baik, adalah salah satu bentuk membantu anak berbakti kepada ortunya.

8. Tidak Suka Marah dan Mencela

“Aku menjadi pembantu Rasulullah selama sepuluh tahu.” Kata Anas. Dalam hadits riwayat Ahmad ini, Anas melanjutkan cerita, “Tidaklah beliau memberiku perintah, lalu aku lama mengerjakannya, atau tidak aku kerjakan sama sekali, kecuali beliau tidak mencelaku. Apabila ada salah seorang keluarga beliau mencelaku, beliau bersabda, “Biarkanlah dia. Kalau dia mampu, pasti dia akan melakukannya.”

Dalam kitab Riyadhatu ash-Shibyan, Syamsudin al-Inbabi, menegaskan bahwa “Tidak boleh banyak mencela anak, sebab hal itu menyebabkan anak memandang remeh segala celaan dan perbuatan tercela.”

Demikian cara Rasulullah mendidik anak. Semoga kita bisa meneladaninya.

Wallahu a’lam bish shawab

Meraih Barakah Keluarga

Oleh Mohammad Fauzil Adhim

Bukan harta yang menyebabkan duka atau bahagia, tetapi jiwa kita. Bukan sempat yang menyebabkan kita mampu menjalin hubungan yang lebih erat dengan istri atau suami kita, tetapi selarasnya kondisi ruhiyah kita. Sebab sebagaimana diisyaratkan oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, ruh itu seperti pasukan. Mereka akan mudah bersatu dan cenderung mendekat dengan yang serupa. Sebaliknya akan mudah berselisih, meski senyum masih mengembang di wajah mereka. Hati gelisah, jiwa resah, ketenangan tak lagi kita rasakan dan pelahan-pelahan kita mulai mengalami kehampaan jiwa. Ketika itu terjadi, banyak hal tak terduga yang bisa muncul. Kita bisa mencari “jalan keluar” yang justru semakin menjauhkan satu sama lain, meski masih tinggal serumah, masih sama-sama aktif di kegiatan dakwah yang sama.

Maka ada yang perlu kita perhatikan. Bukan hanya bagaimana cara berkomunikasi efektif antara suami-isteri; bukan pula semata soal bagaimana kita memberi perintah yang menggugah kepada anak-anak kita. Lebih dari itu, ada yang perlu kita periksa, adakah ruh kita saling bersesuaian satu sama lain ataukah justru sebaliknya saling berseberangan. Boleh jadi kita bertekun-tekun dan saling melakukan kegiatan yang sama-sama penuh kebaikan, tetapi niat yang mengantarkan dan mengiringi berbeda, maka yang kita dapatkan pun akan berbeda. Sesungguhnya tia-tiap kita akan memperoleh sesuatu niat yang menggerakkan kita melakukan sesuatu.

Sama kegiatan yang kita lakukan, beda niat yang senantiasa menyertai, akan membawa kondisi ruhiyah kita pada keadaan yang berbeda. Itu sebabnya, meski sama-sama bertekun dengan kebaikan yang sama, keduanya dapat menuju tataran ruhiyah yang berbeda atau bahkan saling berseberangan.

Sesungguhnya tiap amal atau ibadah yang kita kerjakan, meski cara sama-sama benar sesuai yang digariskan, niat melakukannya dapat termasuk:

1. Ikhlas karena Allah & Hanya Berharap Ridha Allah
2. Ikhlas karena Allah, tapi Tujuannya Dunia (Syirik Niat)
3. Tidak Ikhlas
• Riya’ dan Tidak Mencari Dunia
• Riya’ dan Mengharap Dunia dari Amalnya
4. Tidak karena Allah, Tidak untuk Akhirat, Tidak Pula untuk Dunia

Hanya niat ikhlas karena Allah ‘Azza wa Jalla dan akhirat tujuannya yang dapat menjadikan hidup kita dan keluarga kita penuh barakah. Maka agar rumah-tangga berlimpah barakah, suami-isteri perlu saling mengingatkan untuk senantiasa meluruskan niat dan menjaga amalnya dari cara-cara yang bertentangan dengan tuntunan dienul Islam.

Inilah yang perlu kita renungi. Inilah yang perlu kita telisik dalam diri kita dan keluarga kita. Jika apa yang sepatutnya kita kerjakan telah kita penuhi, jika komunikasi sudah kita jalin dengan baik, teapi hati kita gersang meski tak ada perselisihan, maka inilah saatnya kita menelisik niat dan orientasi kita dalam beribadah, beramal dan menjalani kehidupan rumah-tangga.

Mari kita ingat sejenak ketika Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Katakanlah: “Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al-An’aam, 6: 162-163).

Tidak mungkin hidup kita –termasuk keluarga kita—hanya untuk Allah Ta’ala jika shalat dan ibadah kita saja bukan untuk Allah ‘Azza wa Jalla.

Sesudahnya, kita perlu periksa rezeki yang kita dapatkan, adakah ia penuh barakah atau justru sebaliknya tak ada barakah sedikit pun di dalamnya? Atas setiap rezeki yang barakah, bertambahnya membawa kebaikan yang semakin besar, dan berkurangnya tidak menciutkan kebaikan. Mungkin mata kita melihatnya berat, tapi ada ketenangan dan kebahagiaan pada diri mereka, meski mereka nyaris tak pernah bersenang-senang. Sebaliknya jika rezeki tak barakah, bertambahnya semakin menjauhkan hati mereka satu sama lain. Sedangkan berkurangnya membawa hati kita saling bertikai, meski tak ada pertengkaran, atau sekurang-kurangnya menyebabkan terjauhkan dari kebaikan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber: http://salinantulisanfauziladhim.blogspot.com/2012/03/meraih-barakah-keluarga.html