Model Kebijakan Rasulullah SAW dalam Ikhtiyar Menghadapi Wabah

Oleh:  Dr Uus Rustiman Lc.,M.Hum

Kata Wabah berasal dari bahasa Arab yaitu waba’. Dalam Kitab al-‘Ayn, waba’ diartikan sebagai tha’un, yaitu setiap penyakit yang umum. Misalnya, penduduk suatu daerah secara umum terkena wabah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V, Wabah diartikan sebagai penyakit menular yang berjangkit dengan cepat, menyerang sejumlah besar orang di daerah yang luas (seperti wabah cacar, disentri, kolera; epidemi.

Dikutip dari Was the Plague Disease a Motivating or an Inhibiting Factor in the Early Muslim Community, Abdul Nasser Kaadan MD, Ph.D Kepala International Society for History of Islamic Medicine (ISHIM) dan Mahmud Angrini MD sebagai pengajar di Health Institute of Aleppo , delapan wabah yang sempat terjadi pada masyarakat Muslim pada masa Nabi SAW dan Shahabat, antara lain ;

Pertama, Plague of Shirawayh.

Wabah ini dipertimbangkan sebagai kejadian epidemik pertama yang terjadi pada masyarakat muslim. Plague of Shirawayh terjadi pada 627-628 M di ibukota Persia. Nama wabah diperoleh dari Siroes, Raja Persia dari Dinasti Sassanian yang meninggal karena penyakit ini pada 629 M. Dalam kitab Tarikh al-Omam wal-Muluk dari Muhammad Al-Tabari dikatakan, wabah ini membunuh banyak warga Persia meski tidak ada pasti jumlah muslim yang meninggal. Bukti dan jejak terkait wabah ini sangat jarang, namun masyarakat Semenanjung Arab kemungkinan bisa melewati wabah ini.

Kedua, Plague of Amwas.

Sesuai namanya, Plague of Amwas awalnya menyerang sebuah desa kecil bernama Amwas yang terletak di Palestina atara Jerusalem dan Al-Ramlah. Wabah ini menyerang tentara Arab yang sedang berada di Amwas pada bulan Muharram dan Safar pada 638 dan 639 M. Plague of Amwas kemungkinan adalah bubonic plague berdasarkan catatan Jacob of Edessa.

Sebanyak 2.500 orang meninggal termasuk orang-orang dekat Rasullah SAW yaitu Abu Ubaidah, Yazid bin Abu Sufyan, Muaz bin Jabal dan puteranya Shurahbil din Hasanah, Al-Fadl bin Al-Abbas, Abu Malik Al-Ashari, Al-Hareth bin Hisham, Abu Jandal, Uwais Al-Qarni, serta Suhail bin Amr. Mengutip Al-Tabari, musuh Islam sempat mempertimbangkan penaklukan karena serangan wabah yang melemahkan kekuatan dan membuat panik.

Sebelum wabah sempat terjadi kelaparan parah, hingga tahun ini disebut Al-Ramadah. Di wilayah Suriah dan Palestina, banyak masyarakatnya yang terserang penyakit ini. Banyaknya serangan wabah dipengaruhi rendahnya daya tahan tubuh dan tikus yang terinfeksi bakteri penyebab penyakit. Tikus ini menyerang persediaan pangan dan bersarang dekat sumber air warga.

Ketiga, Plague of Kufah.

Wabah ini terjadi di Kufah pada 669 M di masa khalifah Muawiyah dari Bani Umayyah. Gubernur setempat Al-Mughirah bin Shubah dilaporkan keluar dari wilayahnya saat terjadi serangan wabah. Dia baru kembali saat serangan mulai reda dan meninggal karena penyakit tersebut pada 670 M. Serangan wabah bertepatan dengan kedatangan tentara Arab ke pesisir Asia melalui Bosphorus pada 668 M. Namun udara dingin, minim baju hangat, dan minimnya sarana lain mengakibatkan mereka terserang wabah serta disentri yang menghancurkan camp.

Keempat, Plague of Al-Jarif (the violent plague).

Jenis wabah ini menyapu Irak selatan lewat Basar seperti banjir kira-kira tahun 688-689 M. Dalam tiga hari sebanyak 70000, 71000, dan 73000 orang telah meninggal pada April 689 M. Kebanyakan korban meninggal pada harus keempat setelah terinfeksi. Masyarakat dan pemerintah kesulitan menguburkan jenazah, sehingga harus mencegah mayat jangan sampai dimangsa hewan buas.

Jenazah akhirnya dikumpulkan dalam satu tempat tertutup dan dikunci, yang diharapkan mencegah kedatangan binatang liar. Tidak ada data pasti asal dan tanggal serangan, yang kemungkinan diakibatkan wabah yang muncul beberapa kali. Penulis John bar Penkaye menyatakan wabah ini menjadi kejadian paling parah yang pernah dilihat selama hidup. Saking parahnya, penduduk di wilayah Irak utara keluar dari rumahnya demi berlindung dari wabah. Sayangnya, penduduk tersebut justru menjadi korban perampokan dan mengundang niat jahat lain. John ber Penkaye berharap tak perlu lagi melihat wabah serupa Plague of Al-Jarif.

Kelima, Plague of Fatayat.

Plague of al-Fatayat terjadi di Basrah, Kufah, Waset, dan Damaskus pada 706M. Diberi nama plague of fatayat karena kebanyakan korban yang meninggal adalah pelayan perempuan dan wanita muda. Tingginya angka kematian mengindikasikan wabah kemungkinan besar adalah bubonic plague.

Keenam, Plague of Al-Ashraf.

Sesuai namanya, korban wabah plague of Al-Ashraf kebanyakan adalah laki-laki dari kalangan bangsawan. Wabah terjadi di Irak dan Suriah pada 716 M selama pemerintahan Al-Hajjaj, gubernur Irak dari Bani Umayyah yang terkenal. Putera mahkota Sulaiman bin Abd Al-Malik dikabarkan meninggal karena wabah ini.

Ketujuh, Plague of 743-744 M.

Wabah ini dilaporkan membunuh 100 ribu orang di wilayah Mesopotamia dan 20 ribu jiwa tiap hari selama satu bulan di wilayah Bosrah dan Hawran. Wabah yang ternyata bubonic plague ini menyerang bersamaan dengan kelaparan seperti dijelaskan dalam Zuqnin Chronicle. Serangan wabah ditandai bengkak, sakit, dan luka pada kebanyakan kepala keluarga. Sayangnya karena wabah menyerang saat musim dingin, mayat tidak bisa dikuburkan sehingga dibuang di tempat umum.

Akibatnya mereka yang hidup berisiko terkontaminasi jenazah yang mulai membusuk dan kelaparan. Mereka yang punya makanan ternyata tidak bernasib lebih baik. Stok makanan mereka dimangsa tikus yang membawa wabah ini dan berdampak buruk pada manusia.

Kedelapan, Plague of Salam.

Serangan wabah terjadi di Basrah pada 750 M dan Damaskus pada 754 M. Serangan paling parah terjadi saat Ramadhan dengan tingkat kematian seribu per hari. Sekitar 70 ribu orang mati di hari pertama serangan dan jumlah yang sama meninggal di hari kedua.

Empat belas abad yang lalu, Rasulullah SAW telah menyampaikan berbagai isyarat kenabiannya tentang perkara-perkara yang akan terjadi di akhir zaman kepada para sahabatnya. Tentunya, isyarat ini menjadi pelajaran dan hikmah berharga bagi kita sebagai pengikutnya. Khusus berkenaan dengan turunnya wabah atau tha’un berjenis Covid 19 atau lebih dikenal dengan nama Corana yang sekarang tengah mewabah secara global, termasuk di negera kita adalah termasuk peristiwa wabah yang sudah dinubuwatkan oleh Baginda Nabi SAW. Bahkan Beliau SAW telah mengingatkan, sumber petaka itu berasal dari arah Timur, yaitu arah terbitnya tanduk setan atau tanduk cahaya matahari (HR Bukhari).

Secara geografis, arah Timur meliputi Benua Asia, Eropa Timur dan Rusia. terkadang dilihat dari jauhnya jarak ke Eropa. negara Arab, Israel dan Turki dikategorikan sebagai negara Timur Tengah atau kadangkala Timur Dekat. Sementara itu negara-negara Asia di sebelah timur India, disebut sebagai Timur Jauh.

Apabila dikaitkan dengan epidemi saat ini, isyarat Rasulullah SAW benar dan terbukti. Dimana wabah Covid 19 yang menyebabkan kematian masal dan meluas ini berasal dari arah Timur, yaitu kota Wuhan di Cina.

Pandemi COVID-19 memaksa pemerintah dan media massa untuk memberikan saran yang paling akurat dan bermanfaat bagi populasi dunia, karena penyakit ini memang mendunia. Para profesional perawatan kesehatan sangat dibutuhkan, dan begitu pula para ilmuwan yang mempelajari penularan dan efek pandemi.
Rasulullah SAW di samping isyarat nubuwahnya berupa petaka yang akan terjadi, juga memberikan isyarat berupa petunjuk atau solusi yang sejatinya harus menjadi pedoman umat dalam menghadapi petaka wabah penyakit tersebut.

Model kebijakan Nabi SAW ikhtiyar dalam menghadapi wabah tersebut, antara lain:

Pertama, Model Preventif ala Nabi SAW.

Di tengah berlangsungnya pandemi ini, maka upaya menyelamatkan diri adalah sesuatu yang diperintahkan dalam Islam. Secara spesifik, Rasulullah SAW pun memberikan contoh konkret sebagai upaya untuk menyelamatkan diri sebisa mungkin dari buruknya virus yang mematikan. Cara Nabi SAW ini, sekarang dikenal dengan istilah social fisic distancing, Lockdown, self isolation, dan stay at home.

Misalnya, sabda Nabi SAW, “Tha’un (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah SWT untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka, apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu keluar darinya.” (HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid).

Selain itu banyak berdiam di rumah pada waktu itu merupakan salah satu upaya pencegahan dari Nabi SAW untuk menghindari dan meminimalisasi penularan wabah. Karenanya, Rasulullah juga menganjurkan untuk isolasi bagi yang sedang sakit dengan yang sehat agar penyakit yang dialaminya tidak menular kepada yang lain. Hal ini sebagaimana hadis: “Janganlah yang sakit dicampurbaurkan dengan yang sehat” (HR Bukhari dan Muslim).

Kebijakan Model Preventif ala Rosululloh ini di amini juga oleh Pakar seperti ahli imunologi Dr. Anthony Fauci dan reporter medis Dr. Sanjay Gupta mengatakan bahwa kebersihan dan karantina yang baik, atau praktik isolasi dari orang lain dengan harapan mencegah penyebaran penyakit menular, adalah alat paling efektif untuk mengandung COVID-19.

Kedua, Model Kuratif ala Nabi SAW.

Umat disarankan mengonsumsi madu dan kurma berdasarkan pada hadits yang disabdakan Nabi Muhammad Saw. Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Saudara saya sakit perut”. Rasul menjawab, “Beri ia madu!” Hal ini dilakukan orang itu sampai tiga kali bolak balik menanyakan kepada Rasul SAW, jawabannya pun tetap madu dan madu” (HR Bukhari, no: 5684 dan Muslim, no: 5731).

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda: “Barang siapa yang sarapan setiap hari dengan 7 butir kurma ajwa’, maka tidak akan membahayakannya pada hari itu racun maupun sihir.” (HR. Bukhari, no: 5779 dan Muslim, no: 2047).

Ketiga, Model Spiritual Persuasif ala Nabi SAW.

Hal yang sangat penting untuk kita ketahui, bahwa dalam kondisi musibah global ini, setiap manusia hendaklah sadar dan insyaf atas kealpaannya selama ini. Sebelum terlambat, segeralah ikuti petunjuk jalan yang lurus, yaitu beriman dan beribadah hanya kepada Allah SWT. Lebih-lebih bagi orang-orang yang beriman, di saat terjadinya petaka ini hendaklah memperbanyak ibadah, dzikir dan doa kepada Allah SWT. Dari Ma’qil bin Yasar RA, Rasulullah SAW bersabda: “Ibadah pada saat terjadi al-Harj (chaos) keutamaannya seperti orang yang hijrah kepadaku.” (HR. Muslim)

Betapa besar nilai suatu ibadah di saat situasi yang serba sulit, takut dan cemas. Analogi keutamaan ibadah yang dikerjakan pada kondisi yang penuh kesulitan dan kebingungan atau harj (chaos) itu laksana berhijrah kepada Rasulullah SAW. Imam an-Nawawi menyatakan, bahwa yang dimaksud dengan harj adalah fitnah dan praharanya urusan manusia. Keistimewaan ibadah di dalamnya, karena pada umumnya banyak orang yang melupakan dan mengabaikan urusan ibadah kepada Allah. Termasuk di saat terjadi harj, mereka lalai dan sibuk dalam menghadapi petaka yang tengah terjadi, kecuali sedikit saja golongan yang tekun, komitmen dan sungguh-sungguh dalam beribadah sebagai kewajiban seorang hamba kepada Tuhan-Nya

Dari ‘Utsman bin ‘Affan ra., ia berkata, Rasulullah Saw. bersabda, : “Tidaklah seorang hamba mengucapkan setiap pagi dari setiap harinya dan setiap petang dari setiap malamnya kalimat: Bismillahilladzi Laa Yadhurru Ma’asmihi Syai-un Fil Ardhi Wa Laa Fis Samaa Wa Huwas Samii’ul ‘Aliim (dengan nama Allah Yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatu pun yang membahayakan di bumi dan tidak juga di langit, dan Dialah Yang Maha Mendegar lagi Maha Mengetahui) sebanyak tiga kali, maka tidak aka nada apa pun yang membahayakannya.” (HR. Abu Daud, no. 5088; Tirmidzi, no. 3388; Ibnu Majah, no. 3388. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan, “Alloohumma Innii ‘Auudzu Bika Minal Baroshi Wal Junuuni Wal Judzaami Wa Sayyi-il Asqoom ” (artinya: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit kulit, gila, lepra, dan dari penyakit yang jelek lainnya).” (HR. Abu Daud, no. 1554; Ahmad, 3: 192. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaliy dalam Bahjah An-Nazhirin juga menyatakan bahwa sanad hadits ini sahih).

Dari Ibnu ‘Umar, dari bapaknya ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang melihat yang lain tertimpa musibah, lalu ia mengucapkan :“ Alhamdulillahilladzi ‘Aafaani Mimmab Talaaka Bihi, Wa Faddhalani ‘Ala Katsiirim Mimman Khalaqa Tafdhilaa “ (Artinya: Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan aku dari musibah yang menimpamu dan benar-benar memuliakanku dari makhluk lainnya), Kalau kalimat itu diucapkan, maka ia akan diselamatkan dari musibah tersebut, musibah apa pun itu semasa ia hidup.” (HR. Tirmidzi, no. 3431; Ibnu Majah, no. 3892).

Selain berikhtiar dan doa yang terbaik, penting juga kita mentadaburi QS al-Jumu’ah ayat 8. Bahwa yang namanya kematian, kemana pun manusia berlari, berlindung dan bersembunyi, maut akan tetap menjumpainya, baik di rumah, di pasar, di masjid, dan di mana pun. Dan bekal utama yang wajib kita jaga dalam situasi apapun pun adalah iman kepada Allah dan beramal saleh. Karena itulah yang menjadi bekal keselamatan sesungguhnya.

Dalam menghadapi berbagai kesulitan, termasuk fitnah akhir zaman ini, seorang ilmuwan Muslim, Ibn Sina juga pernah mengatakan, “Kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat, dan kesabaran adalah permulaan kesembuhan.”

Akhirnya, kita berusaha untuk meneladani Rasulullah SAW dalam menghadapi pandemi ini dengan mengikuti Model Kebijakan Rasulullah SAW dalam Ikhtiyar Menghadapi Wabah ini. Melakukan perlindungan yang terbaik dan saling berdoa, semoga semua selamat dari bahaya segala penyakit, khususnya wabah corona saat ini. Dan semoga badai wabah ini segera berlalu, dalam keadaan kita sehat wal’afiat.

Wallahu A’lam Bish Showab .

*) Dosen Tetap Sastra Arab Departemen Sejarah & Filologi Fakultas Ilmu Budaya Unpad.

Merayakan Pergantian Tahun dalam Perspektif Islam

Oleh: Dr. Muchlis M Hanafi, MA

Direktur Pusat Studi Al-Qur`an (PSQ) Jakarta dan Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur`an Kementerian Agama RI

Pendahuluan

  1. Pergantian tahun adalah momentum bersejarah, sehingga kedatangan tahun baru disambut gegap gempita. Pesta kembang api adalah yang paling banyak dilakukan di berbagai penjuru dunia. Tak terkecuali di Indonesia. Hanya saja, tak seperti biasanya, seiring dengan banyak bencana yang mendera bangsa ini, muncul seruan dari berbagi kalangan agar malam pergantian tahun diisi dengan kegiatan keagamaan. Mulai dari zikir bersama, sampai mendengarkan ceramah agama.
  2. Tradisi mengisi tahun baru dengan zikir bersama khas Indonesia. Amat jarang ditemukan di negara-negara lain. Tahun ini, Harian Republika sudah menyelenggarakan yang ke-18 kalinya. Setiap tahun menyelenggarakan. Mulanya hanya di Masjid Attin Jakarta. Tahun lalu (2018) di tiga kota; Jakarta, Bandung dan Yogyakarta. Seolah memberi pilihan kepada masyarakat, agar tidak merayakannya dengan sekadar pesta pora dan hura-hura. Banyak pihak mengapresiasi. Tetapi tidak sedikit yang mengkritik. Malam pergantian tahun dianggap tepat untuk ber-muhasabah, sambil mendekatkan diri kepada Allah Swt.
  3. Dalam khutbah awal tahun di Masjid Istiqlal beberapa tahun yang lalu, Imam Besar Alm. KH. Ali Mustafa Ya`qub, dengan lantang mengatakan, merayakan pergantian tahun di masjid dengan zikir bersama ‘bid`ah-sesat’, dan merayakannya dengan hura-hura seperti di Ancol ‘maksiat-kufur’. Dianggap bid`ah karena Rasulullah tidak pernah memberikan contoh zikir bersama di malam tahun baru. Argumen inilah yang paling sering mengemuka. Ada lagi yang mengaitkannya dengan perayaan orang kafir. Perayaan Natal dan tahun baru dianggap bagian dari tradisi keagamaan umat Kristiani. Merayakannya berarti turut membenarkan keyakinan Kristiani yang telah dianggap kufur dalam Al-Qur`an. Maka, mengucapkan selamat natal, apalagi mengikuti perayaan natal bersama, dan merayakan malam tahun baru haram hukumnya. Umat Islam, seperti dinyatakan dalam salah satu hadis Nabi, dilarang untuk ber-tasyabbuh (berlaku menyerupai) dengan orang kafir.
  4. Tulisan ini berusaha memaknai malam pergantian tahun dan menyoroti persoalan hukum yang biasa muncul di penghujung tahun, yaitu seputar ucapan selamat natal dan peringatan tahun baru masehi.

Pergantian Tahun Sebagai Sunnatullah

  1. Pergantian hari, bulan dan tahun adalah sunnatullah yang berlaku di alam raya ini. Ketetapan itu berlaku dari sejak terbentuknya alam semesta sampai kiamat tiba. Pergantian siang dan malam, di beberapa ayat Al-Qur`an digambarkan sebagai salah satu tanda kebesaran Allah. Allah berfirman:

إِنَّ فِي اخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَّقُونَ (6) [يونس: 6]

Sesungguhnya pada pergantian malam dan siang dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, pasti terdapat tanda-tanda (kebesaran-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa (QS. Yunus: 6).

  1. Pada tahun 1851, seorang ilmuwan, Foucalt, menemukan secara astronomi, bumi berputar pada porosnya sekali dalam sehari. Siang akan tampak di muka bumi saat salah satu bagiannya menghadap matahari. Sementara bagian bumi lainnya dalam keadaan malam gelap gulita. Siang dan malam datang silih berganti berdasarkan rotasi bumi di hadapan matahari. Selain itu bumi juga berputar mengelilingi matahari, sehingga terjadi pergantian musim dalam setahun (panas, gugur, dingin dan semi).
  2. Di siang hari yang terang benderang manusia dapat beraktifitas. Sedangkan malam hari adalah waktu yang tepat untuk beristirahat. Tidak terbayang kehidupan di muka bumi ini sekiranya Allah ciptakan siang terus menerus, atau malam berkepanjangan.

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ اللَّيْلَ سَرْمَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِضِيَاءٍ أَفَلَا تَسْمَعُونَ (71) قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ النَّهَارَ سَرْمَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِلَيْلٍ تَسْكُنُونَ فِيهِ أَفَلَا تُبْصِرُونَ (72) وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (73) [القصص: 71 – 74]

Katakanlah (Muhammad), “Bagaimana pendapatmu, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus-menerus sampai hari Kiamat. Siapakah tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Apakah kamu tidak mendengar?” (72)  Katakanlah (Muhammad), “Bagaimana pendapatmu, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus-menerus sampai hari Kiamat. Siapakah tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu sebagai waktu istirahatmu? Apakah kamu tidak memperhatikan?” (73)  Dan adalah karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, agar kamu beristirahat pada malam hari dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya. (74) Dan (ingatlah) pada hari ketika Dia (Allah) menyeru mereka, dan berfirman, “Di manakah sekutu-sekutu-Ku yang dahulu kamu sangka?” (QS. Al-Qashash: 71-74)

  1. Dengan bergantinya siang dan malam karena rotasi bumi dan pergerakan matahari dan bulan, kita mengenal bilangan tahun, termasuk hitungan hari, bulan dan musim dalam setahun.

وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ آيَتَيْنِ فَمَحَوْنَا آيَةَ اللَّيْلِ وَجَعَلْنَا آيَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِتَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا (12) [الإسراء: 12]

Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran Kami), kemudian Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang benderang, agar kamu (dapat) mencari karunia dari Tuhanmu, dan agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas (QS. Al-Isra: 12).

  1. Dengan hitungan itu manusia membuat sistem penanggalan/ kalender. Yaitu sistem yang ditetapkan untuk menghitung bilangan tahun, bulan dan hari. Di Indonesia, kita mengenal ada beberapa jenis penanggalan yang berlaku, yaitu Kalender Masehi, Hijriyah, Jawa, Cina dan kalender Saka yang dipergunakan oleh umat Hindu. Selain itu dunia juga mengenal kalender Mesir kuno, Persia, Suryani dan lainnya. Dari sederet ragam penanggalan yang ada di muka bumi, sistem Gregorian-lah yang saat ini paling jamak dipakai, meski eksistensi penanggalan lain berdasarkan tradisi kebudayaan dan keagamaan masih ada.
  2. Sistem ini terdiri dari hari yang dimulai Senin hingga Minggu, bulan Januari hingga Desember, dengan komposisi angka ganjil genap antara 31 dan 30. Juga adanya tahun kabisat yang angka tahunnya habis dibagi 4. Model penanggalan Gregorian sejatinya adalah penyempurnaan dari kalender Julian yang telah lebih dahulu dipakai. Keduanya sama-sama menggunakan perhitungan pergerakan matahari yang menggunakan kelahiran Yesus sebagai penanda dimulainya tahun pertama. Patokan itu umumnya memakai singkatan dalam bahasa latin Anno Domini (AD), Before Christ (BC), Masehi (M). Atau penyebutan lain yang dianggap lebih netral dari sisi religius: Common Era (CE).
  3. Setelah kurang lebih selama 16 Abad menjadi sistem Kalender Masehi, pada tahun 1582 M Ugo Buogompagni alias Gregorius VIII dibantu pakar matematika bernama Christopher Clavius dan pakar astronomi Lilio Ghiraldi alias Aloysius Lilius melakukan koreksi atas sistem Julian. Mereka menemukan bahwa peredaran Materi selama setahun itu berjumlah 365,242199 hari atau 365 hari 5 jam 48 menit 46 detik. Berbeda dengan sistem Julian yang menetapkan jumlah hari sebanyak 365,25 hari atau 365 hari 6 jam dalam satu tahun. Berbeda 11 menit 14 detik. Jika ditotal, dalam rentang waktu sejak sistem Julian ditetapkan hingga tahun 1582 M terdapat keterpautan sebanyak 17.000 menit atau 10 hari. Maka untuk menyiasati hal ini, tim yang dipimpin oleh Gregorius VIII ini melakukan koreksi dengan menghapus tanggal 5 Oktober hingga 14 Oktober 1582. Sehingga setelah tanggal 4 Oktober 1582 M yang jatuh pada hari Kamis itu ditetapkanlah hari Jumat tanggal 15 Oktober 1582 M. Maka khusus pada tahun 1582 M ini, bulan Oktober hanya berjumlah 21 hari. Sejak saat itu pula ditetapkan bahwa Tahun Kabisat adalah tahun-tahun yang jumlahnya habis dibagi empat.
  4. Sistim penanggalan dan perhitungan hari yang digunakan dalam kalender Masehi didasarkan pada ilmu astrologi yaitu ilmu tentang pergerakan benda-benda langit seperti matahari, bulan dan rasi bintang. Astrologi berasal dari Mesapotamia, daratan diantara sungai Tigris dan Eufrat, daerah asal orang Babel kuno (kini Irak Tenggara). Ilmu ini berkembang sejak jaman pemerintahan Babel kuno, kira-kira tahun 2000 SM.
  5. Kira-kira 1000 SM para ahli perbintangan di Mesir mempelajari benda-benda langit hanya untuk ramalan umum mengenai masa depan. Pengetahuan astrologi ini kemudian diambil alih suku bangsa Babel. Astrologi Babel-lah yang kemudian mengembangkan suatu sistem yang menghubungkan perubahan musim dengan kelompok-kelompok bintang tertentu yang disebut rasi atau konstelasi. Tetapi antara tahun 600 SM dan 200 SM, mereka mulai mengembangkan suatu sistem untuk menghitung penanggalan hari dan menggambar horoskop perorangan.
  6. Di masa kini, kalender Gregorian berdasar perhitungan matahari yang dikenal juga sebagai kalender Masehi dipakai secara umum di dunia internasional. Sistem penanggalan lainnya adalah kalender yang didasarkan pada pergerakan bulan, yang juga sering dikenal sebagai kalender Hijriah. Di Indonesia, acara-acara ritual berdasar penanggalan Jawa juga mengikuti kalender Hijriah ini. Ada juga komunitas yang masih memakai kalender Julian, misalnya Gereja Ortodoks Timur. Akibatnya, ada perbedaan tanggal perayaan Natal. Seperti ditulis oleh Fr John Ramzi dalam Coptic Orthodox Church Network, jika umat Kristen pada umumnya yang berpatok pada penanggalan Gregorian merayakan setiap tanggal 25 Desember, mereka yang berdasar penanggalan Julian merayakan Natal pada 7 Januari.

Pergantian Tahun dan Fatwa Keagamaan

  1. Berdasarkan sejarah, pananggalan kalender Masehi telah dimulai sejak masa Babilonia, lebih dari 4000 tahun yang lalu. Mereka memulai penghitungan tahun baru dari permulaan musim semi, yaitu dari bulan Maret. Hal ini sangat erat kaitannya dengan musim dan pengaruhnya kepada tata kehidupan masyarakat. Awal musim semi disambut dengan perayaan sukacita karena dipandang sebagai mulainya kehidupan baru, setelah selama 3 bulan mengalami musim dingin.
  2. Kalender yang hanya terdiri atas 10 bulan itu kemudian berkembang menjadi 12 bulan. Adalah Raja Roma ke-dua, Numa Pompillus di tahun 717 BC yang menambahkan 2 bulan awal di kalender Romawi, yaitu bulan Januarius dan Februarius. Januarius adalah nama yang berasal dari nama dewa Janus. Dewa ini berwajah dua; menghadap kemuka dan kebelakang, hingga dapat memandang masa lalu dan masa depan. Oleh sebab itu, Januarius ditetapkan sebagai bulan pertama. Februarius diambil dari upacara Februa, yaitu upacara semacam bersih desa atau ruwatan untuk menyambut kedatangan musim semi. Maka Februari ditempatkan sebagai bulan kedua.
  3. Bilangan 12 bulan dalam setahun dikonfirmasi oleh Al-Qur`an dalam firman Allah:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ (36) [التوبة: 36]

Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa (QS. At-Taubah: 36).

  1. Berdasarkan uraian di atas diketahui penanggalan kalender Masehi yang berlaku sampai saat ini pada mulanya ditetapkan berdasarkan kebiasaan masayarakat pada saat itu. Penanggalan Masehi sangat dipengaruhi oleh tradisi astrologi Mesir kuno, Mesopotamia, Babilonia, Yunani, dan Romawi Kuno serta dalam perjalanannya mendapat intervensi Gereja. Atas perintah Kaisar Justinian, seorang Rahib Katolik, Dionisius Exoguus pada tahun 527 M ditugaskan pimpinan Gereja untuk membuat perhitungan tahun dengan titik tolak tahun kelahiran Yesus. Karena itulah, penanggalan ini menggunakan istilah Masehi (M) dan Sebelum Masehi (SM) yang merujuk pada kelahiran Nabi Isa a.s (Yesus), atau Mesias (Masehi). Masa sebelum kelahiran Yesus dinamakan masa sebelum Masehi. Semua peristiwa dunia sebelumnya dihitung mundur alias minus. Dengan sebuah gagasan teologis bahwa Yesus sebagai penggenapan dan pusat sejarah dunia. Tahun kelahiran Yesus dihitung sebagai tahun pertama atau awal perjanjian baru.
  2. Dari sini, pergantian tahun baru masehi dikaitkan dengan tradisi dan keyakinan umat Kristiani. Maka, keluarlah fatwa keagamaan yang mengharamkan ucapan selamat Natal, mengikuti perayaan Natal dan malam pergantian tahun. Di setiap penghujung kalender Masehi terjadi perang fatwa, antara yang membolehkan dan yang mengharamkan.
  3. Indeks Fatwa Global (al-Mu`assyir al-Âlamiy li al-Fatwâ/Global Fatwa Index) yang dikeluarkan oleh Unit Kajian Strategis Darul Fatwa Mesir pada tanggal 28 Desember 2018 menyebutkan, dari 3000 fatwa di internet yang dikeluarkan oleh lembaga resmi dan tidak resmi sebanyak 2% terkait dengan fatwa perayaan natal. Itu mendominasi fatwa terkait hubungan dengan non-Muslim hampir 70%. 35% dari fatwa tersebut dikeluarkan oleh lembaga resmi, sedangkan sisanya 65% dari lembaga tidak resmi. Fatwa keharaman ucapan selamat natal dan mengikuti perayaan natal sebagian besar bersumber dari kelompok salafi dan Ikhwanul Muslimin.
  4. Di negara-negara Barat dan non-Arab fatwa terkait itu didominasi oleh yang membolehkan ucapan selamat natal sebanyak 70%, dan yang mengharamkan sebanyak 30%. Sedangkan terkait hukum mengikuti perayaan natal, 90% mengharamkannya, dan 10% membolehkan. Terkait hokum mengikuti perayaan natal bersama, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa haram pada tahun 1981. Sedangkan ucapan selamat natal, KH. Ma`ruf Amin dan Din Syamsuddin sebagai fungsionaris MUI membolehkannya dalam rangka membangun toleransi umat beragama.
  5. Menurut Darul Fatwa Mesir, 90% fatwa haram mengikuti perayaan natal di Barat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain berpedoman pada fatwa lama dari Ibnu Taimiyah dan didaur ulang melalui berbagai media, termasuk media social. Kedatangan imigran gelap dari negara-negara Arab dan kelompok salafi ke beberapa negara dengan membawa pemahaman keagamaan ektrem turut berkontribusi dalam menyebarluaskan fatwa haram. Pada gilirannya fatwa tersebut mencederai hubungan Muslim dan non-Muslim di Barat, dan menyuburkan fenomena Islamophobia.

Hukum Mengucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru

  1. Fatwa haram mengucapkan selamat natal dan peringatan tahun baru umumnya merujuk kepada fatwa Ibnu Taimiyah dan Ibn al-Qayyim yang diikuti oleh ulama salafi-wahabi seperti Muhammad bin Ibrahim, Abdul Aziz bin Baz, M. Nasiruddin al-Albani, M. Shaleh al-Usaimin dan lainnya. Dalam kitab Iqtidhâ al-Shirâth al-Mustaqîm Ibnu Taymiyah mengatakan, ber-tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir dalam perayaan mereka berarti membenarkan kebatilan mereka. Secara lebih eksplisit, Ibn al-Qayyim dalam kitab Ahkâm Ahl al-Dzimmah mengatakan, mengucapkan selamat atas syiar-syiar kekufuran haram menurut kesepakatan ulama. Ucapan selamat Natal, meski pengucapnya selamat dari kekufuran tetapi termasuk haram. Itu sama saja dengan mengucapkan selamat atas sujud mereka kepada salib. Bahkan itu dosanya lebih besar di hadapan Allah dan lebih dimurkai daripada minum khamar, membunuh orang dan berzina atau sejenisnya. Yang memberkati dan mengucapakan selamat atas maksiat, atau bid`ah, atau kekufuran orang lain pantas mendapat murka Allah.
  2. Bin Baz dalam fatwanya (Majmû Fatâwâ wa Maqâlât Mutanawwi`ah 6/405) mengatakan seorang muslim tidak boleh mengikuti perayaan orang-orang kafir, termasuk Yahudi dan Nasrani, dan membantu mereka dalam bentuk apa pun. Itu bertentangan ajaran agama, dan termasuk kategori tolong menolong (ta`âwun) dalam hal perbuatan dosa dan permusuhan yang dilarang oleh Al-Qur`an (QS. Al-Maidah: 2).
  3. Menurut mereka, umat Islam tidak perlu ikut-ikutan perayaan mereka, sebab Allah telah mencukupkan mereka dengan dua hari raya; idul fitri dan idul adha. Ketika Rasulullah tiba di Madinah beliau mendapati penduduk setempat bermain dan bersenang-senang pada dua hari yang telah mereka lakukan sejak masa jahiliyah. Rasulullah menegur mereka dengan mengatakan, sesungguhnya Allah telah mengganti dua hari tersebut untuk mereka dengan yang lebih baik, yaitu hari idul adha dan idul fitri (HR. Abu Daud). Selain dua hari itu tidak ada lagi perayaan yang disyariatkan agama. Oleh karenanya, bagi mereka, jangankan perayaan natal dan tahun baru, peringatan bernuansa keagamaan seperti isra mi`raj, maulid Nabi, hijrah, fathu Makkah dan lainnya dianggap bid`ah yang terlarang karena Rasulullah tidak pernah mencontohkannya.
  4. Bagaimana bila malam baru diperingati dengan zikir dan doa bersama? Di situs islamqa.ar yang berafiliasi kepada paham salafi, pertanyaan tersebut dijawab dengan mengapresiasi niat baik mengisi tahun baru dengan zikir dan doa, sebagai ganti maksiat dan hura-hura. Tetapi niat baik itu tidak cukup menjadi alasan membolehkannya secara syariat. Dalam agama, sebuah amal diterima bila sesuai dengan ketentuan agama dari segi sebab, jenis, kuantitas, kualitas, waktu dan tempat. Dasar beragama itu mengikuti (ittibâ), bukan mengada-ada (ibtidâ`). Tradisi jahiliyah dan kebiasaan atau praktik orang-orang kafir sudah ada sejak masa nabi sampai saat ini. Meski demikian kita tidak menemukan perintah dari Nabi untuk melakukan ketaatan di saat orang lain melakukan kemaksiatan. Tidak ada pula pandangan ulama terkenal yang membenarkan itu.
  5. Berseberangan dengan fatwa haram, Darul Fatwa Mesir menyatakan tidak ada larangan dalam agama untuk memberikan ucapan selamat kepada nonmuslim dalam perayaan keagamaan mereka. Lebih-lebih bila ada hubungan silaturahim, kekerabatan, bertetangga, pertemanan, hubungan keraja dana lainnya. Bagaimana mungkin, di satu sisi Islam membolehkan seorang muslim laki-laki menikah dengan perempuan Ahlul Kitab (QS. Al-Maidah: 5) dan memiliki anak dari anaknya, tetapi di sisi lain melarang ucapan selamat pada perayaan keagamaan istri dan ibu dari anak-anaknya?
  6. Bila mencermati teks-teks keagamaan secara komprehensif dan memperhatikan konteknya perbuatan itu sama sekali tidak mencederai keimanan seseorang. Dan tidak ada bentuk pengakuan terhadap keyakinan mereka yang bertentangan dengan akidah Islam. Bahkan, ini termasuk kebajikan dan perlakuan adil yang dicintai Allah.

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (8) [الممتحنة: 8]

Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil (QS. Al-Mumtahanah: 8).

  1. Rasulullah pernah menerima hadiah dari nonmuslim, mengunjungi mereka yang sakit dan meminta bantuan mereka, baik dalam keadaan damai maupun perang, selama tidak ada niat tipu daya pada mereka. Semua itu dilakukan dalam rangka toleransi umat Islam terhadap mereka yang berbeda keyakinan. Lagi pula Allah tidak membeda-bedakan antara muslim dan non muslim dalam memberi dan menjawab pnghormatan. Mengucapkan selamat adalah bagian dari memberikan penghormatan yang diajarkan agama seperti pada firman Allah:

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا (86) [النساء: 86]

 

Dan apabila kamu dihormati dengan suatu (salam) penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (penghormatan itu, yang sepadan) dengannya. Sungguh, Allah memperhitungkan segala sesuatu (QS. Al-Nisa; 86).

  1. Apalagi mereka hidup di tengah-tengah kita, bergaul dalam keseharian bersama kita. Dalam konteks ini, sangat relevan pesan Nabi, “jika nanti berhasil menguasai Mesir, perlakukanlah orang-orang Kristen Koptik dengan baik. Sesungguhnya mereka berada di bawah tanggungjawab umat Islam dan memiliki hubungan yang harus disambung”.
  2. Dalam pandangan Al-Qur`an, umat Islam mengimani nabi-nabi terdahulu, termasuk Nabi dan Nabi Isa, dengan tanpa mebeda-bedakan antara satu dengan lainnya (QS. Al-Baqarah: 285). Di saat mendapati orang-orang Yahudi di Madinah berpuasa di tanggal 10 Muharram (Asyura) dan mengetahui alasannya sebagai ungkapan rasa syukur atas diselamatkannya Nabi Musa dari kejaran Fir`aun, Nabi perintahkan umatnya untuk berpuasa seraya berkata, “kami lebih berhak memuliakan Nabi Musa daripada kalian”.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: لَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَجَدَ الْيَهُودَ يَصُومُونَ عَاشُورَاءَ ، فَسُئِلُوا عَنْ ذَلِكَ ، فَقَالُوا: هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي أَظْهَرَ اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَبَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى فِرْعَوْنَ ، وَنَحْنُ نَصُومُهُ تَعْظِيمًا لَهُ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «نَحْنُ أَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ» ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ (صحيح ابن خزيمة 3/ 286)

  1. Hal yang sama berlaku pada Nabi Isa. Rasulullah juga berkata, “saya lebih berhak (memuliakan) Nabi Isa, sebab tidak ada seorang pun nabi antara aku dan dia”.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” الْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلَّاتٍ، أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ، وَأَنَا أَوْلَى النَّاسِ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ، لِأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ بَيْنِي وَبَيْنَهُ نَبِيٌّ (مسند أحمد مخرجا (15/ 153)

  1. Dua pernyataan Rasulullah terkait apresiasi terhadap Nabi Musa dan Nabi Isa ditujukkan sebagai ungkapan rasa gembira atas dua peristiwa penting dalam kehidupan para nabi. Soal kebenaran waktu Nabi Musa diselamatkan pada hari Asyura, Nabi tidak mempertanyakannya. Itu terkait keyakinan mereka. Tetapi, peristiwanya sendiri mengajak untuk mengenang dan mensyukurinya. Demikian juga berlaku untuk hari lahir Nabi Isa. Terlepas dari kapan sebenaranya ia dilahirkan, peristiwa kelahirannya patut disambut gembira. Al-Qur`an telah memulainya dengan ucapan selamat atas kelahiran Nabi Isa dalam QS. Maryam: 33-34.

وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا (33) ذَلِكَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ قَوْلَ الْحَقِّ الَّذِي فِيهِ يَمْتَرُونَ (34) [مريم: 33، 34]

Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” Itulah Isa putra Maryam, (yang mengatakan) perkataan yang benar, yang mereka ragukan kebenarannya (QS. Maryam: 33-34).

  1. Peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan manusia patut dirayakan. Al-Qur`an memerintahkan untuk mengingat peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan sebagai bahan pelajaran (QS. Ibrahim: 5).

وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا مُوْسٰى بِاٰيٰتِنَآ اَنْ اَخْرِجْ قَوْمَكَ مِنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ وَذَكِّرْهُمْ بِاَيّٰىمِ اللّٰهِ ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُوْرٍ

Dan sungguh, Kami telah mengutus Musa dengan membawa tanda-tanda (kekuasaan) Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya), “Keluarkanlah kaummu dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah.” Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur (QS. Ibrahim: 5).

Penutup

  1. Hukum merayakan pergantian tahun yang dikaitkan dengan kelahiran al-Masih, termasuk ucapan selamat natal dan menghadiri perayaannya, adalah masalah khilafiyah yang selalu terulang setiap tahun. Tidak ada teks-teks keagamaan (Al-Qur`an dan hadis) yang secara tegas melarang atau memerintahkan untuk melakukannya. Masing-masing berargumen dengan dalil-dalil yang dipahaminya sebagai larangan atau kebolehan. Masalah ini berada dalam ranah ijtihad yang terbuka peluang benar atau salah, sehingga tidak sepatutnya menegasikan satu pandangan dengan lainnya.
  2. Fatwa ulama terkait hukum sebuah masalah lahir dari konteks tertentu. Dipengaruhi oleh situasi dan keadaan pada masanya. Fatwa haram terkait natal seperti dikemukakan Ibnu Taimiyah dan Ibn al-Qayyim atau ulama sebelumnya, boleh jadi lahir dalam situasi di tengah ketegangan hubungan antara muslim dan nonmuslim. Saat ini situasi telah berubah. Dalam konteks negara bangsa kita terikat dengan kewarganegaraan (citizenship/al-muwâthanah). Bahkan, kita juga telah menjadi warga dunia yang terikat dengan perjanjian-perjanjian internasional sebagai kesepakatan bangsa-bangsa. Dalam beberapa keadaan tertentu, seorang muslim yang hidup di tengah masyarakat majemuk agama dan budaya dituntut untuk menjalin hubungan baik dengan semua orang. Menghormati keyakinan umat lain dengan sekadar basa-basi mengucapkan selamat atau menunjukkan kegembiraan bersama adalah sebuah hal yang biasa. Tentu tanpa diikuti pembenaran terhadap keyakinan yang bertentangan dengan akidah kita.
  3. Jadi, siapa yang merasa tidak terganggu keyakinannya dan mengucapakan atau merayakannya sekadar basa-basi dalam rangka menjaga hubungan baik, silakan melakukannya. Bila dirasa akan menggoyahkan iman, atau tidak ada kepentingannya untuk berucap selamat, sebaiknya hindari. Banyak cara untuk tetap menjaga hubungan baik. Bagi yang merayakan malam pergantian tahun, hukum asal segala masalah terkait muamalah adalah boleh, selama tidak dilakukan dengan cara-cara yang haram dan maksiat. Demikian, wallahua`lam.

 

 

 

Belajar Optimis kepada Nabi Ya’qub As

Oleh: Udo Yamin Majdi

“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya. Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (QS. Yusuf [12]: 87)

Nabi Ya’qub terjatuh dalam jurang kesedihan. Sebuah jurang tak bertepi, sehingga membuatnya buta. Sebagaimana mata tak bisa menangkap cahaya, pikiran cucu Nabi Ibrahim ini, juga tidak bisa membayangkan apa yang terjadi kepada putranya, Nabi Yusuf As. Gelap.

Di tengah gulita itu, ada titik cahaya dalam hatinya. Ini menjadi jembatan antara ortu dan anak, bahwa Yusuf masih hidup. Dia yakin, anak kesayangannya pasti akan kembali. Namun, secara logika, dia tidak tahu: di mana, kapan dan bagaimana hal itu terjadi.

Cahaya itu bermana optimisme. Apakah optimisme ini meluncur di jalan tol?

Tidak! Selain tidak informasi sama sekali, anak-anaknya menganggapnya “tidak sehat.”

“Udahlah Pak, enggak usah diingatin terus. Ntar bapak kena penyakit berat. Badanmu kurus. Otakmu kacau. Akhirnya mati dalam kesedihan.” Kata salah seorang anaknya.

Orang tua Bani Israil itu menjaga optimismenya dengan menjawab, “Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak ketahui.”

Keturunan Abu al-Anbiya dari jalur Nabi Ishaq ini, seolah-olah ingin menegaskan bahwa mata air optimis itu adalah Allah SWT. Mata air inilah yang membuat hati penuh dengan keyakinan, bahkan berlimpah menjadi ombak kebahagiaan.

“Hai anak-anakku, pergilah kamu,” kata Nabi Ayub, “maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya.”

Akan tetapi, optimisme itu telah hilang dari hati dan otak anak-anaknya. Tak ada harapan. Bahkan, dengan sengaja bara semangat mencari itu, mereka siram dengan seribu satu dalih. Di bibir mereka muncul kata: “tidak mungkin!”

Di antara “tidak mungkin” dan “mungkin”, di sinilah optimisme itu berada. Bagi Yahuda dan saudara-saudaranya, tidak mungkin menemukan Yusuf, sebab jarak antara mereka memasukannya ke dalam sumur dengan permintaan bapak mereka, sudah sangat lama. Bertahun-tahun yang lalu.

Namun, bagi Ya’qub, sangat mungkin. Satu sisi, Allah memberikan isyarat bahwa Yusuf masih hidup. Di sisi lain, panca indranya membenarkan bahwa Yusuf telah tiada. Kekuatan sekaligus kelemahan berpadu. Inilah optimisme itu.

Optimisme berada diantara sombong dan putus asa. Orang sombong, merasa dirinya tidak memiliki kelemahan. Sebaliknya, orang putus asa merasa dirinya tidak memiliki kekuatan. Sedangkan orang optimis, merasakan keduanya: kuat dan lemah.

“Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah”, ini adalah sebuah kekuatan. Orang yang bertawakal kepada Allah sepenuh hati, bukan merasa tidak berdaya, melainkan merasa memiliki kekuatan sebab bersandar kepada Allah Yang Maha Kuat. Ini hanya dimiliki oleh orang beriman.

Berbeda dengan orang kafir, mereka hanya mengandalkan panca indera saja. Ukuran kebenaran, hanya sebatas apa yang mereka dengar, mereka lihat, dan mereka rasakan. Ketika informasi dari pacara indera ini mereka dapatkan, mereka pun sombong. Sebaliknya saat tidak ada, maka mereka putus asa. “Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.

Masalah yang dihadapi Nabi Ya’qub adalah besar: kehilangan anak. Namun dia mengajarkan kepada kita dua hal: pertama, mengadu kepada kepada Allah dan menyerahkan segala urusan kepada-Nya, dan kedua, terus berusaha tanpa henti mencari informasi tentang anaknya yang hilang.

Tawakal dan ikhtiar inilah yang membentuk sikap optimis sejati. Sudahkah kita optimis saat masalah menghadang kita?

Wallahu a’lam bish shawab.

===

Tulisan ini adalah “cuplikan” dari Kajian Tafsir Tahlily dalam acara Gerbang Surga (GERakan BANgun SUbuh beRsama keluarGA) di masjid Al-Hammad Pondok Pesantren Quran Terpadu (PPQT) Darul Fikri Garut, Ahad, 6 Januari 2019.

5 KIAT KELUAR DARI MASALAH

Oleh: Udo Yamin Majdi

Dalam hidup ini, kita sering dihadapkan dengan berbagai persoalan. Sampai suatu ketika, kita merasa seperti terjebak dalam gua. Dalam gua itu merasa gelap, kita butuh secercah cahaya. Namun sayang, pintu gua itu tertutup batu. Untuk menggeser batu itu, tidak mungkin, karena sangat berat. Begitu juga dalam hidup kita, terkadang kita dihadapkan pada masalah besar. Masalah tersebut lebih besar dari kemampuan kita. Kita coba mencari solusi, namun tak satupun dapat menyelesaikannya. Kita merasa buntu. Merasa, tak ada jalan keluar.

Betulkah tidak ada solusi?

Sebelum kita menjawab pertanyaan tersebut, alangkah baik kita merenungi hadis Nabi yang tercantum dalam kitab Riyadush Shalihin Bab Ikhlas karya Imam Nawawi.

Dari Abu Abdurrahman ‘Abdullah bin Umar bin Khattab r.a., ia menuturkan: Aku mendengar Rasulullah SAW bercerita:

Pada masa sebelum kalian, ada tiga orang yang berjalan-jalan sampai malam dan mereka bermalam di dalam gua. Tiba-tiba, setelah mereka masuk dalam gua itu, ada batu besar dari bukit runtuh dan menutupi pintu gua sehingga mereka tidak bisa keluar.

Salah satu dari ketiganya berkata, ”Kita tidak akan mampu keluar dari gua ini, kecuali kita berdo’a kepada Allah dengan menyebutkan amal-amal terbaik kita. Mudah-mudahan dengan itu, Allah mengeluarkan kita dari gua ini.”

Dan mereka pun akhirnya berdoa.

Orang pertama bermunajat, ”Ya Allah, dulu saya memiliki orang tua yang sudah tua renta. Setiap hari setelah bekerja di kebun, saya selalu menyuapi mereka untuk minum susu. Tapi suatu hari, karena kejauhan mencari kayu bakar, saya terlambat untuk pulang ke rumah. Saya dapati kedua orang tua saya ternyata sudah tertidur. Saya tidak berani membangunkannya untuk minum susu sedang wadah susu sudah berada di tangan saya. Pada waktu itu, anak dan istri saya meminta susu, yang biasanya tersisa setelah orang tua saya minum. Tetapi saya menolaknya. Saya tunggui orang tua saya sampai mereka bangun waktu fajar datang. Akhirnya saya meminumkan susu untuk mereka. Ya Allah, sekiranya apa yang saya lakukan itu ikhlas karena mengharap ridho-Mu, maka bukakanlah pintu gua ini”. Dan batu yang menutupi gua itu, bergeser sedikit.

Orang kedua melanjutkan berdoa, ”Ya Allah, dulu saya memiliki sepupu yang sangat cantik, yang aku cintai. Pada suatu ketika tiba masa paceklik dan dia datang kepadaku untuk meminjam uang 120 dinar. Saya berkata padanya, ’Saya akan meminjamkan uang kepadamu, asal kau mau tidur denganku.’ Awalnya dia menolak. Tapi lama kelamaan dia terpaksa menerima karena dia sangat butuh uang itu. Akhirnya saya pun, sudah akan berzina dengannya. Tapi sebelum saya berzina dengannya, dia berkata, ’Bertakwalah kamu kepada Allah!’ Tiba-tiba saya mengalami ketakutan yang luar biasa. Saya memberikan uang itu kepadanya dan setelah itu saya berlari keluar sekencang-kencangnya. Ya Allah sekiranya yang saya lakukan itu ikhlas karena takut kepada-Mu, maka bukakanlah pintu gua ini.” Dan batu yang menutupi gua itu, bergeser lebih lebar.

Orang ketiga melanjutkan berdoa, ”Ya Allah, dulu saya memiliki seorang pegawai yang ingin saya berikan gajinya. Tapi tiba-tiba dia pergi entah kemana. Uang gaji itu kemudian saya belikan domba. Domba itu beranak pinak. Kemudian saya belikan unta. Dan unta pun juga beranak pinak menjadi banyak. Jumlah mereka hampir mencapai satu padang gembalaan. Setelah sekian tahun lama dia pergi, tiba-tiba pegawai saya itu datang. Dia berkata, ’Ya Tuan, saya kesini bermaksud meminta gaji saya dulu, yang belum sempat saya ambil karena suatu hal.’ Saya menjawab, ’Engkau lihat padang gembalaan yang penuh dengan kambing dan unta itu?’. Dia berkata, ’Ya, saya melihatnya.’  Kemudian saya melanjutkan, ’Itu semua adalah milikmu, gajimu sudah saya belikan kambing, unta dan beranak pinak. Maka ambillah!’ Dia pun mengambil semuanya tanpa bersisa. Ya Allah, sekiranya apa yang saya lakukan itu ikhlas karenaMu, maka bukakanlah pintu gua ini.” Dan batu gua itu bergesar lebih lebar lagi. Mereka bertiga pun akhirnya bisa keluar dari gua itu.

Dari hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim tersebut, ada banyak pelajaran yang dapat kita petik. Cerita dalam hadis ini, mengajarkan kepada kita cara atau kiat keluar dari masalah besar yang sedang kita hadapi, sebagai jawaban dari pertanyaan di awal. Setidaknya ada 5 kiat agar kita keluar dari masalah:

Kiat #1: Berdo’a kepada Allah SWT.

Do’a adalah senjata orang beriman. Do’a adalah inti dari ibadah. Ketika kita dihadapkan dengan masalah, berarti itu tanda Allah menginginkan kita dekat dengan kepada-Nya. Dia ingin kita beribadah kepada-Nya sungguh-sungguh. Dengan ibadah dan do’a ini, kita akan mengagungkan Allah SWT. Sehingga kita bisa berkata dengan diri sendiri, “Wahai diri, jangan katakan aku memiliki masalah besar, melainkan katakan aku memiliki Allah Yang Maha Besar!”

Dalam berdo’a ini kita harus memperhatikan adab-adab berdo’a sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Terutama kita harus menjaga makanan, minuman, serta pakaian dari hal-hal yang haram dan syubhat. Berdo’a dengan khusyu. Dan yakin Allah pasti mengambulkan do’a. Sebab, semua do’a kita ijabah oleh Allah, hanya saja ada yang segera, ada yang ditunda dan ada yang diganti dengan hal yang lebih baik.

Kiat #2: Bertawasul dengan hal disyari’atkan Allah dan rasul-Nya.

Tawassul adalah mengambil sarana/wasilah agar do’a atau ibadah kita dapat lebih diterima dan dikabulkan oleh Allah SWT. Dalam Islam ada 6 bentuk tawashul yang dibolehkan, yaitu: 1). Bertawassul dengan menyebut asmaa-ul husna (nama-nama Allah) yang sesuai dengan hajatnya ketika berdo’a (QS. Al-A’raf [7]:180); 2). Bertawassul dengan sifat-sifat Allah Ta’ala; 3). Bertawassul dengan keimanan kepada Allah Ta’ala (Qs.Ali-Imran[3]:193); 4). Bertawassul dengan ketauhidan kepada Allah. (QS.Al-Anbiya[21]:87-88); 5). Bertawassul dengan amal shalih; dan 6). Bertawassul dengan meminta doanya orang shalih yang “masih hidup”.

Dalam hadis di atas, merupakan contoh tawasul melalui amal sholeh. Orang pertama bertawasul dengan amal sholeh berbuat baik kepada kedua orang tua; orang kedua bertawasul dengan amal sholeh meninggalkan zina karena takut kepada Allah; dan orang ketiga bertawasul dengan amal sholeh menepati janji, menjaga amanah, dan memberikan haknya secara tulus kepada orang lain.

Kiat #3: Berbakti dan meminta do’a-restu kepada kedua orang tua.

Adakalanya masalah besar yang dialami seseorang, karena hubungannya dengan kedua orangtuanya tidak harmonis. Misalnya, ada seorang perempuan sangat ingin menikah, sebab umurnya sudah hampir baya. Setiap kali dia ingin menikah, selalu saja kandas, bahkan batal ketika dia dan calon suaminya menyepakati hari pernikahan. Kegagalan demi kegagalan selalu dia alami.

Suatu ketika dia curhat dengan seniornya. Seniornya yang telah menikah itu, bertanya, “Bagaimana hubunganmu dengan ibumu?” Perempuan itu tidak menjawab. Dia menangis. Selama ini memang dia telah melupakan ibunya, padahal ibunya masih hidup. Waktu itu pula dia menelpon ibunya minta maaf atas kealfaannya selama ini. Tak berapa lama, di hari itu juga, tiba-tiba ada teman lamanya menghubunginya, dan mengajaknya menikah. Mereka pun menikah dan dikarunia anak.

Mungkin, masalah besar yang kita hadapi, ada hubungannya dengan masalah kita dengan kedua orang tua. Bisa jadi, kita menyadari telah mengecewakan, menyakiti dan membuat ortu kita tersinggung, terutama kepada ibu. Oleh sebab itu, agar kita keluar dari masalah, hendaknya minta maaf kepada ortu dan minta do’a mereka. Sebab do’a ibu-bapak terhadap anaknya akan diijabah oleh Allah SWT. Bahkan terkadang, banyak orang salah alamat mencari sosok “keramat” dengan mengunjungi kuburan, padahal di rumah ada sosok “keramat” (mulia) yaitu ortu, terutama ibu. Bukankah surga itu berada di bawah telapak kaki ibu?

Kiat #4: Menjaga diri dari perbuatan maksiat dan berdosa.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah telah meneliti akibat kemaksiatan, menurutnya ada 22 akibat maksiat, diantaranya –yang berhubungan dengan pembahasan kita– : terhalangnya mendapatkan ilmu; terhalangnya mendapat rezeki halal; semakin jauh kepada Allah; semakin jauh dari orang sholeh dan membuat semua urusannya sulit atau bermasalah.

Tidak sedikit, orang yang melakukan maksiat dan perbuatan dosa ketika dihadapi masalah. Misalnya, ada yang bermasalah secara finansial atau keuangan, menyelesaikannya dengan cara korupsi, mencuri, menipu dan sejenisnya. Dia sangka itu akan menyelesaikan masalah, padahal sebaliknya menambah masalah. Ketika kita bermasalah, malah pilih solusi yang tanpa masalah.

Dengan kata lain, ketika kita memiliki masalah, berarti ada kemaksiatan atau perbuatan dosa yang telah kita lakukan mungkin itu tanpa kita sadari. Oleh sebab itu, ketika kita dihadapkan dengan masalah, cepat-cepatlah beristighfar dan bertaubat. Kita pergunakan waktu malam hari memperbanyak istighfar dan taubat kepada Allah SWT.

Kiat #5: Menepati janji, menjalankan amanah dan bersikap dermawan.

Selain telah kita bahas di atas, ada juga masalah itu muncul karena kita tidak menepati janji, tidak amanah dan tidak mau berbagi kepada orang lain. Bisa jadi, janji itu bukan kepada orang lain, melainkan kepada diri kita sendiri, misalnya kita berjanji melakukan sesuatu ketika kita meraih sesuatu, ini kita kenal dengan nazar. Atau amanah yang Allah berikan kepada kita, namun kita sia-siakan, misalnya Allah mengamanahkan kepada kedua orang tua untuk menjaga anak-anaknya, namun tidak diajaga secara baik. Begitu juga akar masalah itu bisa dari sifat pelit kita kepada orang lain, sehingga Allah berlepas tangan untuk membantu kita sebab Allah akan membantu seorang hamba selama hamba itu membantu orang lain.

Ada banyak ayat, hadis dan kisah tentang shadaqah yang membawa berkah, sehingga masalah seseorang teratasi. Ada yang sembuh dari penyakit kronis, karena rajin shadaqah. Ada yang terlepas dari lilitan utang, karena rajin shadaqah. Ada rizkinya bertambah, karena gemar shadaqah. Ada hubungan menjadi harmonis, karena shadaqah.

Semoga kita dapat mengamalkan 5 kiat tersebut dalam kehidupan kita, agar kita keluar dari masalah yang kita hadapi. Wallahu a’lam bish shawab.

8 Kiat Mendidik Anak ala Rasulullah SAW

Oleh: Udo Yamin Majdi

1. Menjadi Tauladan

Anak belajar dengan cara mencontoh. Apabila mereka mendapatkan contoh baik, maka mereka akan tumbuh dengan baik. Begitu juga sebaliknya, jika di sekelilingnya memberikan contoh buruk, maka anak akan memiliki karakter buruk.

“Aku menginap di rumah Bibiku, Maimunah.” Ibnu Abbas mulai bercerita. “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa bangun untuk shalat malam. Suatu malam, beliau bangun, kemudian berwudhu dengan wudhu ringan dari kendi digantung. Setelah itu, beliau shalat. Akupun berwudhu sama seperti wudhu beliau. Kemudian aku berdiri di samping kiri beliau. Namun, beliau menarikku dan meletakkanku di samping kanan beliau. Kemudian beliau shalat beberapa rakaat.”

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari itu, menegaskan bahwa Nabi sebagai pendidik, memberikan tauladan dan Ibnu Abbas sebagai anak didik menirunya.

Tak ada metode mendidik anak yang lebih baik dari memberikan tauladan. Sebab, memberikan tauladan baik, inilah yang menjadi kunci kesuksesan Nabi dalam mendidik umatnya.

2. Menasehati Tepat Waktu

Ada tiga waktu saatnya kita menasehati anak: dalam perjalanan, waktu makan, dan waktu sakit.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, Ibnu Abbas bercerita, “Aku di belakang Nabi SAW pada suatu hari. Beliau berpesan, “Wahai anak kecil….”

Dalam hadits lain riwayat al-Hakim dalam kitab Mustadrak (3/541) menegaskan bahwa perjalanan itu dilakukan di atas kendaraan.

Rasulullah SAW diberi hadiah seekor Bighal oleh Kisra. Beliau menungganginya dengan tali kekang dari serabut. Beliau membonceng Ibnu Abbas. Kemudian kendaraan itu berjalan. Tidak berapa lama, beliau menoleh Ibnu Abbas dan berseru, “Wahai anak kecil…!” Ibnu Abbas menjawab, “Labbaik ya rasulullah!” Nabi pun berpesan, “Jagalah agama Allah, maka Dia menjagamu…”

Adapun menasehati anak pada waktu makan, diceritakan oleh Umar bin Abi Salamah RA, dia berkata, “Aku masih anak-anak ketika berada dalam pengasuhan Rasulullah SAW. Tanganku bergerak ke sana kemari dalam nampan. Nabi bersabda kepadaku, ‘Wahai anak kecil, ucapkan basmalah, makan dengan tangan kanan, dan makanlah apa yang dihadapanmu.’ Sejak itu, begitulah cara makanku.”

Terakhir, menasehati anak waktu sakit. Ini berdasarkan sebuah hadits riwayat Imam Bukhari bahwa Anas RA berkata:

“Seorang anak Yahudi yang menjadi pelayan Nabi SAW sakit. Beliau dating menjenguknya. Beliau duduk di kepalanya dan bersabda kepadanya, “Masuk Islamlah kamu.” Di melihat kea rah bapaknya yang saat itu berada di sana. Si bapak berkata, ‘Turutilah Abul Qasim.’ Mak anak itu masuk Islam. Nabi SAW pergi sambil berdo’a, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari api neraka.’”

3. Bersikap Adil

An-Nu’man bin Basyir bersama bapaknya menghadap Rasulullah. Bapak an-Nu’man berkata, “Aku akan memberikan seorang budak kepada anakkku ini.”

“Apakah semua anakmu diberi demikian?” Tanya Rasulullah SAW.

Basyir menjawab, “Tidak!”

“Jangan engkau persaksikan kepadaku perbuatan jahat.” Ujar Nabi, lalu beliau bertanya, “Apakah engkau ingin semua anakmu berbakti kepadamu?”

Bapak Nu’man menjawab, “Iya!”

“Kalau engkau membedakan mereka, maka mereka tidak semuanya akan berbakti kepadamu.” Jawab Nabi.

Hadist riwayat Imam Bukhari dan Muslim ini dikuatkan dengan hadits Imam Ahmad, Abu Dawud, an-Nasai, dan Ibnu Hibban, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Berlaku adillah kalian terhadap anak-anak kalian, Berlaku adillah kalian terhadap anak-anak kalian, Berlaku adillah kalian terhadap anak-anak kalian.”

4. Menunaikan Hak Anak

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad RA bahwa Rasulullah diberi minum. Di kanan beliau ada anak kecil dan di kirinya ada orang dewasa.

“Apa kamu mengizinkan aku memberikan kepada mereka yang dewasa duluan minum?” Tanya Nabi.

Anak kecil bernama al-Fadhl bin Abbas menjawab, “Tidak, aku tidak memberikan bagianku darimu kepada orang lain!”

Rasulullah SAW meletakan cawan di tangan anak kecil itu.

Dalam hadist lain, seorang anak menghadang Rasulullah SAW sebelum Perang Uhud. Anak itu merasa haknya diambil. Dia berkata, “Wahai rasulullah, engkau mengizinkan anak pamanku ikut berperang, sementara kalau aku bergulat dengannya, aku dapat mengalahkannya.”

Maka Nabi SAW mengizinkan dua anak muda itu bergulat. Anak itu menang. Tidak ada alasan lagi bagi Rasulullah SAW selain mengizinkan anak itu ikut berperang.

Ada banyak hadist menceritakan bahwa Rasulullah memberikan hak kepada siapapun, termasuk kepada anak kecil.

5. Mendoakan Anak

“Janganlah mendoa’kan keburukan atas diri kalian, janganlah mendoa’kan keburukan atas anak-anak kalian, janganlah mendoa’kan keburukan atas pembantu-pembantu kalian, janganlah mendoa’kan keburukan atas harta kalian, ketika bertepatan dengan waktu Allah menurunkan pemberian kepada kalian, sehingga doa kalian dikabulkan.” Sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Abu Dawud.

Imam Ghazali menceritakan bahwa ada yang datang kepada Abdullah bin Mubarak untuk mengadukan kedurhakaan anaknya.

“Apakah kamu pernah mendoakan keburukan atas anakmu?” Tanya Abdullah Mubarak.

Lelaki itu berkata, “Iya pernah.”

“Kalau begitu, engkau telah merusaknya.” Kata Abdullah bin Mubarak.

Dalam kitab hadits, banyak sekali hadits tentang Rasulullah SAW mendoakan anak kecil. Misalnya, dalam hadits Bukhari diceritakan Nabi mendo’akan Ibnu Abbas, “Ya Allah, ajari dia hikmah; ajari dia al-Quran, pahamkan dia masalah agama, atau ajari dia tafsir Quran.”

Di hadits lain, Anas bercerita, “Ummu Sulaim datang membawaku menghadap rasulullah SAW. Dia menutupi sekujur tubuhku dengan kerudungnya, separuh di atas, dan separo lagi di bawah.  Dia berkata, “Wahai rasulullah, ini anakku, Anas. Aku dating membawanya untuk menjadi pelayanmu. Maka do’akan dia.” Nabi berdoa, “Ya Allah, banyakan rezeki dan anaknya. Anas berkata, “Demi Allah, hartaku sangat banyak, anak-anak dan cucu-cucuku saat ini mencapai ratusan.”

6. Memberi Anak Mainan

Memberikan anak mainan ini cukup penting. Hal ini dapat kita lihat dari sikap Rasulullah SAW terhadap Aisyah, atau pengakuan Nabi terhadap mainan burung Pipit milik Abu Umair.

Dalam Musnad (1/445), Abu Ya’la dengan sanad sahih, menceritakan bahwa Al-Husain RA memiliki seokor anak anjing untuk bermain.

7. Membantu Anak untuk Berbakti dan Mengerjakan Ketaatan

“Semoga Allah memberi rahmat kepada orang tua yang membantu anaknya berbakti.” Sabda Nabi SAW dalam hadits riwayat Ibnu Hibban.

Di hadits lain, riwayat ath-Thabari dari Abu Hurairah bahwa rasulullah bersabda, “Bantulah anak kalian untuk berbakti. Barangsiapa yang menghendaki, dia dapat mengeluarkan sifat durhaka dari anaknya.”

Memilihkan anak sekolah terbaik, atau pengasuh yang baik, adalah salah satu bentuk membantu anak berbakti kepada ortunya.

8. Tidak Suka Marah dan Mencela

“Aku menjadi pembantu Rasulullah selama sepuluh tahu.” Kata Anas. Dalam hadits riwayat Ahmad ini, Anas melanjutkan cerita, “Tidaklah beliau memberiku perintah, lalu aku lama mengerjakannya, atau tidak aku kerjakan sama sekali, kecuali beliau tidak mencelaku. Apabila ada salah seorang keluarga beliau mencelaku, beliau bersabda, “Biarkanlah dia. Kalau dia mampu, pasti dia akan melakukannya.”

Dalam kitab Riyadhatu ash-Shibyan, Syamsudin al-Inbabi, menegaskan bahwa “Tidak boleh banyak mencela anak, sebab hal itu menyebabkan anak memandang remeh segala celaan dan perbuatan tercela.”

Demikian cara Rasulullah mendidik anak. Semoga kita bisa meneladaninya.

Wallahu a’lam bish shawab

Waktu Shalat Maghrib Apakah Benar Satu Waktu?

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:

وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عَمْرِوٍ – رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا – أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: ” وَقْتُ اَلظُّهْرِ : إِذَا زَالَتِ اَلشَّمْسُ, وَكَانَ ظِلُّ اَلرَّجُلِ كَطُولِهِ, مَا لَمْ تَحْضُرِ اَلْعَصْرُ, وَوَقْتُ اَلْعَصْرِ: مَا لَمْ تَصْفَرَّ اَلشَّمْسُ, وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلْمَغْرِبِ: مَا لَمْ يَغِبِ اَلشَّفَقُ, وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلْعِشَاءِ: إِلَى نِصْفِ اَللَّيْلِ,  وَوَقْتُ صَلاَةِ الصُّبْحِ: مِنْ طُلُوْعِ الفَجْرِ مَا لَمْ تَطْلُعِ الشَّمْسُ رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Waktu shalat Zhuhur jika matahari sudah tergelincir ke barat ketika itu panjang bayangan sama dengan tinggi seseorang, selama belum masuk shalat ‘Ashar. Waktu shalat ‘Ashar adalah selama matahari belum menguning. Waktu shalat Maghrib adalah selama belum hilang cahaya merah pada ufuk barat. Waktu shalat Isya adalah sampai pertengahan malam. Waktu shalat Shubuh adalah dari terbit fajar selama belum terbit matahari.” (HR. Muslim, no. 612)

Waktu Shalat Maghrib

Awal waktu shalat Maghrib adalah mulai dari matahari tenggelam. Hal ini disepakati oleh para ulama. Waktu akhirnya adalah saat cahaya merah di ufuk barat hilang.

Waktu Shalat Maghrib Apakah Benar Satu Waktu?

Dalam Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib karya Abu Syuja’ disebutksan, “Waktu shalat Maghrib hanya satu, dimulai saat matahari tenggelam. Lamanya sekadar azan, berwudhu, menutup aurat, iqamah, dan mengerjakan shalat lima raka’at.” Yang dimaksud shalat lima raka’at adalah shalat Maghrib tiga raka’at ditambah shalat sunnah ba’da Maghrib dua raka’at.

Dalil dari pendapat di atas adalah yang disebutkan dalam hadits Jibril karena ia pada hari pertama dan kedua mengerjakan shalat Maghrib di satu waktu. Hal ini berbeda dengan pengerjaan shalat lain yang dilakukan oleh Jibril. Demikian jadi alasan sebagian besar ulama Syafi’iyah. Inilah qoul jadiid dari Imam Syafi’i, yaitu pendapat ketika beliau di Mesir (Lihat Al-Iqna’, 1:198).

Yang pasti awal waktu shalat Maghrib adalah saat matahari tenggelam dengan sempurna. Sedangkan mengenai akhir waktu shalat Maghrib diperselisihkan oleh para ulama termasuk oleh ulama Syafi’iyah sendiri. Sebagian ulama Syafi’iyah berbeda dengan pendapat seperti Abu Syuja’ di atas. Mereka menganggap bahwa shalat Maghrib yang dilakukan oleh Jibril di satu waktu menunjukkan bahwa waktu tersebut adalah waktu fadhilah (utama). Menurut Imam Nawawi, waktu shalat Maghrib masih boleh hingga cahaya merah saat matahari tenggelam menghilang. Dalilnya adalah hadits ‘Abdullah bin ‘Amr,

وَوَقْتُ صَلاَةِ الْمَغْرِبِ مَا لَمْ يَغِبِ الشَّفَقُ

Waktu shalat Maghrib adalah selama cahaya merah (saat matahari tenggelam) belum hilang.” (HR. Muslim, no. 612). Inilah dalil yang menjadi alasan Imam Nawawi dan sebagian ulama Syafi’iyah lainnya yang lebih cenderung pada pendapat qodiim (yang lama, saat Imam Syafi’i di Irak) (Lihat Kifayah Al-Akhyar, hlm. 80 dan Al-Iqna’, 199). Pendapat inilah yang lebih kuat.

Juga perlu dipahami bahwa sebelum shalat Maghrib masih ada kesempatan untuk melaksanakan shalat sunnah dua raka’at. Dari ‘Abdullah bin Mughaffal Al-Muzaniy radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلُّوا قَبْلَ الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْن. ثُمَّ قَالَ صَلُّوا قَبْلَ الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْن. ثُمَّ قَالَ عِنْدَ الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاء. كَرَاهِيَةَ أَنْ يَتَّخِذَهَا النَّاسُ سُنَّةً

Kerjakanlah shalat sebelum Maghrib dua raka’at.” Kemudian beliau bersabda lagi, “Kerjakanlah shalat sebelum Maghrib dua raka’at.” Kemudian beliau bersabda sampai yang ketiga dengan ucapan yang sama, lalu beliau ucapkan, “Bagi siapa yang mau.” Hal ini beliau katakan karena tidak disukai jika hal tersebut dirutinkan. (HR. Abu Daud, no. 1281 dan Ahmad, 5:55. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Menyegerakan Waktu Shalat Maghrib

Disunnahkan untuk menyegerakan melakukan shalat Maghrib di awal waktu. Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu,

لاَ تَزَالُ أُمَّتِى بِخَيْرٍ – أَوْ قَالَ عَلَى الْفِطْرَةِ – مَا لَمْ يُؤَخِّرُوا الْمَغْرِبَ إِلَى أَنْ تَشْتَبِكَ النُّجُومُ

Umatku akan senantiasa dalam kebaikan (atau fitrah) selama mereka tidak mengakhirkan waktu shalat maghrib hingga munculnya bintang (di langit).” (HR. Abu Daud, no. 418 dan Ahmad, 5:421. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan karena adanya Muhammad bin Ishaq)

Semoga jadi ilmu bermanfaat, masih berlanjut mengenai waktu shalat pada edisi berikutnya. Wallahu waliyyut taufiq.

 

Referensi:

  1. Al-Iqna’ fii Halli Alfazhi Abi Syuja’. Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al-Khatib. Penerbit Al-Maktabah At-Taufiqiyah, Mesir.
  2. Ghayah AlMuqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan pertama, Tahun 1434 H.Abu ‘Abdirrahman Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.
  3. Kifayah Al-Akhyar.
  4. Syarh Manhaj AsSalikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj.

Catatan:

Tulisan ini diolah Tim Redaksi dari berbagai sumber, terutama karya Muhammad Abduh Tuasikal

Waktu Sholat Ahsar

Kitab Shalat dari Manhajus Salikin karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di 

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:

وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عَمْرِوٍ – رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا – أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: ” وَقْتُ اَلظُّهْرِ : إِذَا زَالَتِ اَلشَّمْسُ, وَكَانَ ظِلُّ اَلرَّجُلِ كَطُولِهِ, مَا لَمْ تَحْضُرِ اَلْعَصْرُ, وَوَقْتُ اَلْعَصْرِ: مَا لَمْ تَصْفَرَّ اَلشَّمْسُ, وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلْمَغْرِبِ: مَا لَمْ يَغِبِ اَلشَّفَقُ, وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلْعِشَاءِ: إِلَى نِصْفِ اَللَّيْلِ,  وَوَقْتُ صَلاَةِ الصُّبْحِ: مِنْ طُلُوْعِ الفَجْرِ مَا لَمْ تَطْلُعِ الشَّمْسُ رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamberkata, “Waktu shalat Zhuhur jika matahari sudah tergelincir ke barat ketika itu panjang bayangan sama dengan tinggi seseorang, selama belum masuk shalat ‘Ashar. Waktu shalat ‘Ashar adalah selama matahari belum menguning. Waktu shalat Maghrib adalah selama belum hilang cahaya merah pada ufuk barat. Waktu shalat Isya adalah sampai pertengahan malam. Waktu shalat Shubuh adalah dari terbit fajar selama belum terbit matahari.” (HR. Muslim, no. 612]

Waktu Shalat Ashar

Awal waktu shalat ‘Ashar adalah ketika panjang bayangan sama dengan panjang bendanya. Demikian pendapat jumhur ulama yang diselisihi oleh Abu Hanifah.

Sedangkan mengenai waktu akhir shalat ‘Ashar terlihat saling bertentangan antara dalil-dalil yang ada.

Dalam hadits ketika Jibril mengimami Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, shalat pada hari pertama pada saat panjang bayangan sama dengan panjang benda. Sedangkan esoknya, pada saat panjang bayangan sama dengan dua kali panjang benda. Lalu dikatakan di akhir hadits bahwa batasan waktu shalat adalah antara dua waktu tersebut. Inilah yang disebut dengan waktu ikhtiyar menurut Syafi’iyah. (Lihat Al-Iqna’, 1:197)

Sedangkan dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Amr disebutkan “Waktu Ashar masih terus ada selama matahari belum menguning.”

Disunnahkan shalat ‘Ashar dilakukan segera mungkin pada awal waktu. Hal ini berdasarkan hadits Anas radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُصَلِّى الْعَصْرَ وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ حَيَّةٌ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melaksanakan sholat ‘ashar ketika matahari masih tinggi, tidak berubah sinar dan panasnya.” (HR. Bukhari, no. 550 dan Muslim, no. 621).

Hal di atas lebih ditekankan lagi ketika cuaca mendung agar tidak terjadi kesamaran dalam pengerjaan shalat ‘Ashar tersebut. Jika tidak malah dikerjakan di luar waktu atau dilakukan saat matahari telah menguning. Dari Abul Malih, ia mengatakan,

كُنَّا مَعَ بُرَيْدَةَ فِى غَزْوَةٍ فِى يَوْمٍ ذِى غَيْمٍ فَقَالَ بَكِّرُوا بِصَلاَةِ الْعَصْرِ فَإِنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ

Kami pernah bersama Buraidah pada saat perang di hari yang mendung. Kemudian ia berkata, “Segerakanlah shalat ‘Ashar karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang meninggalkan shalat ‘Ashar maka terhapuslah amalnya.” (HR. Bukhari, no. 553).

Referensi:

  1. Al-Iqna’ fii Halli Alfazhi Abi Syuja’. Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al-Khatib. Penerbit Al-Maktabah At-Taufiqiyah, Mesir.
  2. Ash-Shalah wa Hukmu Tarikiha. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Penerbit Dar Al-Imam Ahmad.
  3. Syarh Manhaj AsSalikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj.

Catatan:

Tulisan ini diolah Tim Redaksi dari berbagai sumber, terutama karya Muhammad Abduh Tuasikal

Jadwal Sholat Zhuhur

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:

وَالْأَصْلُ فِيهِ حَدِيثُ جِبْرِيلَ: أَنَّهُ أَمَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – فِي أَوَّلِ اَلْوَقْتِ وَآخِرِهِ, وَقَالَ: ” يَا مُحَمَّدُ, اَلصَّلَاةُ مَا بَيْنَ هَذَيْنِ اَلْوَقْتَيْنِ ” رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالنَّسَائِيُّ وَاَلتِّرْمِذِيُّ

وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عَمْرِوٍ – رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا – أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: ” وَقْتُ اَلظُّهْرِ : إِذَا زَالَتِ اَلشَّمْسُ, وَكَانَ ظِلُّ اَلرَّجُلِ كَطُولِهِ, مَا لَمْ تَحْضُرِ اَلْعَصْرُ, وَوَقْتُ اَلْعَصْرِ: مَا لَمْ تَصْفَرَّ اَلشَّمْسُ, وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلْمَغْرِبِ: مَا لَمْ يَغِبِ اَلشَّفَقُ, وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلْعِشَاءِ: إِلَى نِصْفِ اَللَّيْلِ,  وَوَقْتُ صَلاَةِ الصُّبْحِ: مِنْ طُلُوْعِ الفَجْرِ مَا لَمْ تَطْلُعِ الشَّمْسُ رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dalil tentang waktu shalat ini adalah hadits Jibril, ia pernah mengimami Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada awal dan akhir waktu. Lantas ia berkata, “Wahai Muhammad, shalat itu di antara dua waktu ini.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i, dan At-Tirmidzi) [HR. Abu Daud, no. 393 dan Ahmad, 1:333. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih]

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Waktu shalat Zhuhur jika matahari sudah tergelincir ke barat ketika itu panjang bayangan sama dengan tinggi seseorang, selama belum masuk shalat ‘Ashar. Waktu shalat ‘Ashar adalah selama matahari belum menguning. Waktu shalat Maghrib adalah selama belum hilang cahaya merah pada ufuk barat. Waktu shalat Isya adalah sampai pertengahan malam. Waktu shalat Shubuh adalah dari terbit fajar selama belum terbit matahari.” (HR. Muslim, no. 612)

Shalat pada Waktunya

Para ulama sepakat bahwa shalat lima waktu memiliki batasan waktu yang harus ditunaikan pada waktu tersebut. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS.  An-Nisa’: 103).

Waktu Shalat Zhuhur

Awal waktu shalat Zhuhur adalah waktu zawal, yaitu saat matahari bergeser ke barat. Waktu zawal ini adalah saat matahari condong dari pertengahan langit ke arah barat (Lihat Al-Iqna’, 1:196). Ketika seseorang memulai takbir sebelum zawal lalu nampak zawal setelah ia bertakbir untuk shalat atau di pertengahannya, maka shalatnya tidaklah sah. Demikian penjelasan dalam Al-Iqna’, 1:196.

Sedangkan waktu akhir shalat Zhuhur adalah saat panjang bayangan yang bertambah sama dengan panjang benda (selain panjang bayangan saat zawal). Akhirnya waktu Zhuhur, inilah dimulainya waktu shalat ‘Ashar. Inilah pendapat jumhur (ulama) yang diselisihi Imam Abu Hanifah, di mana beliau berpendapat bahwa akhir waktu shalat Zhuhur adalah saat tinggi bayangan sama dengan dua kali tingginya selain tinggi bayangan saat zawal.

Disunnahkan mengerjakan shalat Zhuhur di awal waktu. Dalam hadits Jabir bin Samurah, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى الظُّهْرَ إِذَا دَحَضَتِ الشَّمْسُ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat Zhuhur ketika matahari telah tergelincir ke barat (waktu zawal).” (HR. Muslim, no. 618).

Disunnahkan mengakhirkan shalat Zhuhur ketika cuaca begitu panas. Hal ini berdasarkan hadits lainnya,

إِذَا اشْتَدَّ الْحَرُّ فَأَبْرِدُوْا عَنِ الصَّلاَةِ، فَإِنَّ شِدَّةَ الْحَرِّ مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ

Apabila cuaca sangat panas, akhirkanlah shalat zhuhur sampai waktu dingin karena panas yang sangat merupakan hawa panas neraka Jahannam.” (HR. Bukhari, no. 536 dan Muslim, no. 615). Batasan mendinginkan (mengakhirkan) berbeda-beda sesuai keadaan selama tidak terlalu panjang hingga mendekati waktu akhir shalat (Lihat Shahih Fiqh As-Sunnah, 1:239).

Hisab pada Jadwal Waktu Shalat

Untuk penetapan waktu shalat, cukup dengan mengetahui keadaan, yang di mana bisa diketahui lewat ilmu hisab atau cara apa pun. Di dalam hadits tidak dipersyaratkan harus melihat keadaan matahari. Berarti dengan ilmu hisab pun bisa diperkirakan.

Untuk masalah melihat hilal disebutkan dalam hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا, وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا, فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ

Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah. Jika kalian melihatnya lagi, maka berhari rayalah. Jika hilal tertutup, maka genapkanlah (bulan menjadi 30 hari).” (HR. Bukhari, no. 1900 dan Muslim, no. 1080). Lihatlah di sini dipersyaratkan melihat, tidak dengan hisab.

Semoga bermanfaat, masih berlanjut mengenai waktu shalat pada edisi berikutnya. Wallahu waliyyut taufiq.

Referensi:

  1. Al-Iqna’ fii Halli Alfazhi Abi Syuja’. Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al-Khatib. Penerbit Al-Maktabah At-Taufiqiyah, Mesir.
  2. Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Minhaj As-Salikin. Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Abu ‘Abdirrahman Ahmad bin ‘Abdirrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.
  3. Shahih Fiqh As-Sunnah. Syaikh Abu Malik Kamal bin As Sayid Salim. Penerbit Al-Maktabah At-Taufiqiyah, Mesir.
  4. Syarh Manhaj AsSalikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj.

Catatan:

Tulisan ini diolah Tim Redaksi dari berbagai sumber, terutama karya Muhammad Abduh Tuasikal

 

Kapan Awal dan Akhir Sholat Shubuh?

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:

وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عَمْرِوٍ – رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا – أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: ” وَقْتُ اَلظُّهْرِ : إِذَا زَالَتِ اَلشَّمْسُ, وَكَانَ ظِلُّ اَلرَّجُلِ كَطُولِهِ, مَا لَمْ تَحْضُرِ اَلْعَصْرُ, وَوَقْتُ اَلْعَصْرِ: مَا لَمْ تَصْفَرَّ اَلشَّمْسُ, وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلْمَغْرِبِ: مَا لَمْ يَغِبِ اَلشَّفَقُ, وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلْعِشَاءِ: إِلَى نِصْفِ اَللَّيْلِ,  وَوَقْتُ صَلاَةِ الصُّبْحِ: مِنْ طُلُوْعِ الفَجْرِ مَا لَمْ تَطْلُعِ الشَّمْسُ رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamberkata, “Waktu shalat Zhuhur jika matahari sudah tergelincir ke barat ketika itu panjang bayangan sama dengan tinggi seseorang, selama belum masuk shalat ‘Ashar. Waktu shalat ‘Ashar adalah selama matahari belum menguning. Waktu shalat Maghrib adalah selama belum hilang cahaya merah pada ufuk barat. Waktu shalat Isya adalah sampai pertengahan malam. Waktu shalat Shubuh adalah dari terbit fajar selama belum terbit matahari.” (HR. Muslim, no. 612)

Waktu Shalat Shubuh

Awal waktu shalat Fajar (Shubuh) adalah mulai dari terbit fajar shadiq. Sebagaimana disebutkan dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Amr berikut,

وَوَقْتُ صَلاَةِ الصُّبْحِ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ

Waktu shalat Shubuh adalah mulai terbit fajar (shodiq).” (HR. Muslim, no. 612).

Fajar sendiri ada dua macam yaitu fajar shodiq dan fajar kadzib. Pancaran cahaya yang menjulang seperti ekor serigala dan setelah itu masih terlihat gelap, ini yang disebut fajar kadzib (fajar pertama). Sedangkan cahaya yang mendatar horizontal di ufuk, ini yang disebut fajar shodiq (fajar kedua). (Lihat bahasan di Kifayah Al-Akhyar, hlm. 81 dan Al-Iqna’, 1:200).

Dalam hadits disebutkan,

الفَجْرُ فَجْرَانِ ، فَجْرٌ يُحْرَمُ الطَّعَامُ وَتَحِلُّ فِيْهِ الصَّلاَةُ ، وَفَجْرٌ تُحْرَمُ فِيْهِ الصَّلاَةُ (أَيْ صَلاَةُ الصُّبْحِ) وَيَحِلُّ فِيْهِ الطَّعَامُ

“Fajar ada dua macam: [Pertama] fajar diharamkan untuk makan dan dihalalkan untuk shalat (yaitu fajar shodiq, fajar masuknya waktu shubuh, -pen) dan [Kedua] fajar yang diharamkan untuk shalat shubuh dan dihalalkan untuk makan (yaitu fajar kadzib, fajar yang muncul sebelum fajar shodiq, -pen).” (Diriwayatakan oleh Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubro, no. 8024 dalam “Puasa”, Bab “Waktu yang diharamkan untuk makan bagi orang yang berpuasa” dan Ad Daruquthni dalam “Puasa”, Bab “Waktu makan sahur”, no. 2154. Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim mengeluarkan hadits ini dan keduanya menshahihkannya sebagaimana terdapat dalam Bulughul Marom)

Shalat Shubuh ini disunnahkan dilakukan di awal waktu. Di antara dalilnya adalah perkataan ‘Aisyah,

كُنَّ نِسَاءُ الْمُؤْمِنَاتِ يَشْهَدْنَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – صَلاَةَ الْفَجْرِ مُتَلَفِّعَاتٍ بِمُرُوطِهِنَّ ، ثُمَّ يَنْقَلِبْنَ إِلَى بُيُوتِهِنَّ حِينَ يَقْضِينَ الصَّلاَةَ ، لاَ يَعْرِفُهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الْغَلَسِ

“Para wanita mukminah dahulu pernah menghadiri shalat Shubuh berjama’ah di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengerudungi kepala dengan kain.  Kemudian mereka kembali ke rumah masing-masing ketika shalat telah selesai. Mereka tidak dikenali seorang pun karena keadaan masih gelap (pagi buta).” (HR. Bukhari, no. 578).

Hal di atas dikuatkan lagi dengan hadits berikut,

عَنْ أَنَسٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ – رضى الله عنه – قَالَ تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قُمْنَا إِلَى الصَّلاَةِ. قُلْتُ كَمْ كَانَ قَدْرُ مَا بَيْنَهُمَا قَالَ خَمْسِينَ آيَةً

Dari Anas, dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami pernah bersahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian kami berdiri untuk menegakkan shalat.” Aku (Anas) bertanya pada Zaid, “Berapa lama waktu antara makan sahur dan waktu shalat akan ditegakkan?” Zaid menjawab, “Sekitar (membaca) 50 ayat.” (HR. Muslim no. 1097). Jarak waktu antara selesai makan sahur dan masuknya waktu pelaksanaan shalat adalah sekitar membaca 50 ayat Qur’an, waktu seperti ini seperti lama waktu berwudhu. Ini menunjukkan bahwa shalat tersebut dilakukan di awal waktu Shubuh (Lihat Shahih Fiqh As-Sunnah, 1:249-250).

Semoga bermanfaat. Berakhirlah tentang waktu shalat.

Referensi:

  1. Al-Iqna’ fii Halli Alfazhi Abi Syuja’. Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al-Khatib. Penerbit Al-Maktabah At-Taufiqiyah, Mesir.
  2. Shahih Fiqh As-Sunnah. Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim. Al-Maktabah At-Taufiqiyah.
  3. Syarh Manhaj AsSalikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj.

 

Catatan:

Tulisan ini diolah Tim Redaksi dari berbagai sumber, terutama karya Muhammad Abduh Tuasikal

Batasan Waktu Shalat Isya

Dalam kitab Manhajus Salikin, Syaikh As-Sa’di membahas waktu shalat Isya dengan baik.

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:

وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عَمْرِوٍ – رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا – أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: ” وَقْتُ اَلظُّهْرِ : إِذَا زَالَتِ اَلشَّمْسُ, وَكَانَ ظِلُّ اَلرَّجُلِ كَطُولِهِ, مَا لَمْ تَحْضُرِ اَلْعَصْرُ, وَوَقْتُ اَلْعَصْرِ: مَا لَمْ تَصْفَرَّ اَلشَّمْسُ, وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلْمَغْرِبِ: مَا لَمْ يَغِبِ اَلشَّفَقُ, وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلْعِشَاءِ: إِلَى نِصْفِ اَللَّيْلِ,  وَوَقْتُ صَلاَةِ الصُّبْحِ: مِنْ طُلُوْعِ الفَجْرِ مَا لَمْ تَطْلُعِ الشَّمْسُ رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Waktu shalat Zhuhur jika matahari sudah tergelincir ke barat ketika itu panjang bayangan sama dengan tinggi seseorang, selama belum masuk shalat ‘Ashar. Waktu shalat ‘Ashar adalah selama matahari belum menguning. Waktu shalat Maghrib adalah selama belum hilang cahaya merah pada ufuk barat. Waktu shalat Isya adalah sampai pertengahan malam. Waktu shalat Shubuh adalah dari terbit fajar selama belum terbit matahari.” ([HR. Muslim, No. 612)

Waktu Shalat Isya

Para ulama sepakat bahwa awal waktu shalat Isya’ dimulai dari hilangnya syafaq. (Lihat Shahih Fiqh As-Sunnah, 1:244).

Dalil awal waktu shalat ‘Isya’ itu diterangkan dalam hadits shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Jibril,

وَصَلَّى بِىَ الْعِشَاءَ حِينَ غَابَ الشَّفَقُ

“Lalu beliau melaksanakan shalat Isya bersamaku ketika cahaya merah saat matahari tenggelam hilang.”

Syafaqadalah cahaya merah di ufuk barat saat matahari tenggelam. Syafaq ini adalah cahaya merah sebagaimana dipahami dari sisi makna bahasa, bukan cahaya putih (Lihat Al-Iqna’, 1:199).

Beda Pendapat tentang Waktu Akhir Shalat Isya

Para ulama ikhtilaf tentang waktu akhir shalat Isya’. Menurut ulama Syafi’iyah, akhir shalat Isya adalah sampai sepertiga malam. Ini disebut waktu ikhtiyar menurut Syafi’iyah. Alasannya disebutkan dalam hadits Jibril, pada hari kedua beliau shalat hingga sepertiga malam. Disebutkan dalam hadits,

وَصَلَّى بِىَ الْعِشَاءَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ

Lalu beliau shalat Isya’ hingga sepertiga malam.” Jika dikatakan sepertiga malam, maka waktu malam dihitung dari Maghrib hingga shubuh, sekitar ada 10 jam. Jika Maghrib jam 6 sore, maka sepertiga malam sekitar jam setengah sepuluh malam.

Sedangkan hadits lain menyebutkan waktu shalat ‘Isya’ hingga pertengahan malam sebagaimana dalam hadits,

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ  عَلَى أُمَّتِي لَفَرَضْتُ عَلَيْهِمِ السِّوَاكُ مَعَ الوُضُوْءِ ، وَلَأَخَّرْتُ صَلاَةَ العِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ

Seandainya tidak memberatkan umatku, tentu aku akan mewajibkan bagi mereka untuk bersiwak setiap kali wudhu, dan aku akan mengakhirkan shalat Isya’ hingga pertengahan malam.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 1:245, dishahihkan oleh Al-Hakim).

Pendapat yang memilih shalat Isya’ berakhir hingga pertengahan malam dipilih oleh Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarh Muslim.

Dalam Al-Majmu’, Imam Nawawi menyebutkan bahwa kebanyakan ulama berpegang dengan pendapat ini (Lihat Al-Iqna’, 1:200). Namun sekali lagi, waktu tersebut masih disebut waktu ikhtiyar, yaitu waktu penunaian shalat secara ada-an (di waktunya).

Sedangkan waktu jawaz (bolehnya) adalah hingga terbit fajar kedua (fajar shodiq, tanda masuk shalat Shubuh). Dalil pegangannya adalah hadits Abu Qatadah,

أَمَا إِنَّهُ لَيْسَ فِى النَّوْمِ تَفْرِيطٌ إِنَّمَا التَّفْرِيطُ عَلَى مَنْ لَمْ يُصَلِّ الصَّلاَةَ حَتَّى يَجِىءَ وَقْتُ الصَّلاَةِ الأُخْرَى

Orang yang ketiduran tidaklah dikatakan tafrith (meremehkan). Sesungguhnya yang dinamakan meremehkan adalah orang yang tidak mengerjakan shalat sampai datang waktu shalat berikutnya.” (HR. Muslim, no. 681).

Waktu jawaz ini adalah waktu masih dibolehkan shalat Isya’, masih dianggap ada-an (ditunaikan di waktunya) dan tidak terkena dosa bagi yang menunaikan ketika itu. Beda dengan ulama Hambali yang berpendapat bahwa penunaian shalat Isya’ setelah pertengahan malam adalah berdosa dan ini adalah waktu darurat menurut mereka.

Waktu darurat hanya dibolehkan bagi orang yang punya uzur seperti wanita yang baru suci dari haidh, orang kafir yang baru masuk Islam, seseorang yang baru baligh, orang gila yang kembali sadar, orang yang bangun karena ketiduran dan orang sakit yang baru sembuh. Orang-orang yang punya uzur seperti itu masih boleh mengerjakan shalat Isya’ ketika waktu darurat.

Sebagai bentuk ikhtiat kehati-hatian, sebaiknya kita mengerjakan shalat ‘Isya’ sebelum pertengahan malam. Ini waktu akhir shalat ‘Isya’ yang dianggap waktu ikhtiyar, disepakati oleh ulama Syafi’i dan Hambali. Pertengahan malam dihitung dari waktu maghrib hingga shubuh, sekitar jam sebelas malam.

Mengakhirkan Shalat Isya

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu malam mengakhirkan shalat Isya sampai tengah malam. Kemudian beliau menghadap kami setelah shalat, lalu bersabda,

صَلَّى النَّاسُ وَرَقَدُوا وَلَمْ تَزَالُوا فِى صَلاَةٍ مُنْذُ انْتَظَرْتُمُوهَا

Orang-orang shalat dan tidur, sedangkan kalian terus menerus di dalam shalat sejak kalian menunggu shalat tersebut.” (HR. Bukhari, no. 661)

Lima Faedah dari Hadits di atas:

  1. Hadits ini menunjukkan keutamaan menunggu shalat dan tidak cepat-cepat untuk melaksanakannya (menyegerakan iqamah).
  2. Shalat bersama imam dengan menunggunya lebih utama daripada seseorang lebih dahulu shalat kemudian tidur. Kata Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah, walaupun nantinya ia melaksanakan shalat sendiri atau berjamaah. Hal ini juga menunjukkan bahwa berjamaah itu bertingkat-tingkat.
  3. Selama menunggu shalat dihitung berada dalam shalat.
  4. Boleh mengakhirkan waktu shalat Isya. Bahkan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah shalat Isya di akhir waktu lebih afdal selama tidak memberatkan jamaah. Jika sampai memberatkan, lebih baik shalat Isya dimajukan waktunya. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali juga berpandangan dianjurkannya shalat Isya untuk diakhirkan.
  5. Waktu shalat Isya hingga pertengahan malam.

Referensi:

  1. Al-Iqna’ fii Halli Alfazhi Abi Syuja’. Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al-Khatib. Penerbit Al-Maktabah At-Taufiqiyah, Mesir.
  2. Kunuz Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Penerbit Dar Kunuz Isybiliyya. 13:352-356
  3. Shahih Fiqh As-Sunnah. Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim. Al-Maktabah At-Taufiqiyah.
  4. Syarh Manhaj AsSalikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj.
  5. Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan ketiga, Tahun 1427 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madarul Wathan. 5:68.

Catatan: Tulisan ini diolah tim redaksi dari berbagai sumber, terutama dari karya Muhammad Abduh Tuasikal