Home Editorial Jihad dan Hoaks

Jihad dan Hoaks

239
0
SHARE

“Jihad dalam Islam tidak identik dengan perang.” Demikian bunyi salah satu rumusan Deklarasi Pembaruan Pemikiran Islam pada tanggal 2-3 Jumadilakhir 1441 H/27-28 Januari 2020 M di Gedung Pusat Konferensi Al-Azhar, Nasr City, Kairo.

“Peperangan yang pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya”, masih dalam rumusan Deklarasi Al-Azhar tersebut, “adalah salah satu jenis jihad. Perang itu bertujuan untuk menolak serangan yang dilancarkan para agresor terhadap kaum Muslim, bukan untuk membunuhi orang-orang yang berbeda agama sebagaimana anggapan kaum ekstremis. Ketentuan agama yang tetap dalam Islam adalah haram hukumnya mengganggu orang-orang yang berbeda agama dan memeranginya selama mereka tidak memerangi kaum Muslim.” Ini termaktub dalam rumusan ke-10.

Adapun rumusan ke-11 bahwa yang berwenang menyatakan jihad perang adalah pemerintah yang sah dari suatu negeri berdasarkan undang-undang dasar dan hukum, bukan kelompok atau perorangan. Kelompok yang mengaku memiliki wewenang ini, merekrut dan melatih para pemuda untuk dijerumuskan ke dalam pembunuhan dan peperangan serta memotong leher adalah kelompok perusak di muka bumi serta memerangi Allah dan Rasul-Nya. Instansi yang berwenang (di bidang keamanan dan hukum) harus melawan dan menumpas kelompok-kelompok semacam itu dengan tekad yang kuat.

Namun di media sosial, saya sering menemukan postingan-postingan mengidentikan jihad adalah perang. Padahal makna jihad adalah segala upaya yang dikerahkan untuk mencapai tujuan Islam. Upaya-upaya itu bisa dalam bentuk fisik, pemikiran, waktu, tenaga, harta dan seterusnya. Dengan demikian, apapun profesi atau peran, bisa melakukan jihad.

Seorang guru membawa buku, seorang penulis memegang alat tulis, seorang sopir menyetir mobil, seorang nelayan memegang jala, dan seorang tentara memegang senjata, sesungguhnya mereka sedang berjihad dan alat-alat yang ada di tangannya adalah peralatan jihad.

Selain pemahaman salah terhadap makna jihad itu, ada juga seruan jihad perang oleh seseorang atau kelompok tertentu berseliweran di medsos. Lebih miris lagi adalah ternyata seruan jihad perang ini adalah kabar bohong, atau hoaks.

Hoaks atau berita bohong sudah menjadi hal yang sulit dihindari di era digital. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, membuat masyarakat sulit membedakan mana berita yang valid dan yang tidak.

Mengingat besarnya dampak buruk yang bisa ditimbulkan oleh hoaks, Al Azhar Al Syarif Mesir mengangkat persoalan ini. Para ulama, pemimpin dan cendekiawan Muslim dari 41 negara melahirkan rumusan ini: Hoaks adalah bahaya besar yang mengancam keamanan dan pembangunan masyarakat. Hoaks adalah kejahatan besar yang keharamannya disebutkan secara eksplisit di dalam agama. Pihak-pihak yang berwajib harus memburunya, mengungkapkan kepalsuannya, menjelaskan bahayanya, dan menetapkan sanksi hukum tegas kepada para penyebarnya.

Kembali dengan makna jihad di atas  — segala upaya yang dikerahkan untuk mencapai tujuan Islam—maka ketika kita menggunakan hp untuk memerangi hoaks, ini adalah bagian dari sebuah jihad.

Wallahu a’lam.

Garut, 31 Januari 2020

 

Udo Yamin Majdi

Pemred

 

 

  

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 + thirteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.