Home Editorial Catatan Akhir Tahun, Pesta di Tengah Bencana?

Catatan Akhir Tahun, Pesta di Tengah Bencana?

522
0
SHARE

Diantara gebyar akhir tahun 2018 dan bencana, ada suara nurani. Biasanya, dalam mengakhiri dan mengawali tahun, masyarakat berpesta pora. Pergantian tahun diiringi dengan petasan, kembang api, terompet, dan terkadang membunyikan klakson kendaraan secara bersama-sama. Akankah tahun ini masih kita lakukan?

Pertanyaan ini muncul, sebab dalam waktu yang bersamaan kita sedang berkabung atas korban tsunami Banten-Lampung. Sampai hari ini, setidaknya korban ada 431 orang. Ini belum kerusakan rumah dan fasilitas umum.

Tahun 2018 ini, bangsa Indonesia memang sedang diuji oleh Allah SWT. Berdasarkan data gempa di Pusat Gempa Nasional BMKG, tahun 2017 jumlah aktivitas gempa yang terjadi hanya 6.929 kali, dan tahun 2018, terjadi peningkatan jumlah aktivitas gempa yang drastis di Indonesia, yaitu 4.648 kejadian gempa tektonik. Artinya, tahun ini ada sebanyak 11.577 kali.

Itu gempa, belum tsunami. Selama tahun 2018, BMKG telah mengeluarkan peringatan dini tsunami sebanyak 2 kali: pertama, saat terjadi gempa Lombok 5 Agustus 2018, dan kedua, saat terjadi Gempa Donggala-Palu pada 28 Sep 2018. Sedangkan tsunami Selat Sunda yang diduga kuat dipicu oleh longsornya lereng (flank collapse) Gunung Anak Krakatau tidak ada peringatan dini. Dengan kata lain, tsunami tahun ini ada sebanyak 3 kali.

Gempa dan tsunami itu, telah meluluh-lantakan tempat tinggal, sawah, dan ladang dalam hitungan jam. Namun, untuk membangun kembali semua fasilitas dan tempat mencari nafkah itu, bisa berbulan-bulan, bahkan bisa bertahun-tahun. Pembangunan tersebut, tentu saja membutuhkan dana, baik itu dana dari pemerintah maupun dari masyarakat.

Andaikan di malam pergantian tahun, pemerintah dan masyarakat melakukan pesta. Uang yang keluar ratusan milyar. Dalam waktu yang bersamaan, masyarakat di Banten-Lampung, kelaparan tidak ada makanan, kehausan karena air tercemar sampah, kedinginan pakaian hilang, mengungsi di tenda sebab rumah rusak, dan merasa tidak aman khawatir ada tsunami susulan, maka cobalah Tanya dengan hati masing-masing: masihkah pesta pora harus kita lakukan?

Duka Lombok masih menganga dan sedih Donggal masih merintih, akankah kita menghambur-haburkan, atau justru uang itu kita pergunakan untuk membantu saudara seiman, senegara dan sebangsa kita supaya mereka kembali tersenyum?

Sekali lagi, diantara gebyar akhir tahun 2018 dan bencana, ada suara nurani. Masihkah nurani kita berfungsi?

Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

sixteen − 13 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.