Home Editorial Musibah Hoax

Musibah Hoax

561
0
SHARE

Musibah Hoax

Musibah itu bernama hoax. Musibah gempa, tsunami, banjir, dan sejenisnya, hanya merusak sebagian tempat dan sesaat. Berbeda dengan musibah hoax, bisa merusak sebuah bangsa dan memakan waktu cukup lama. Apalagi di era digital ini, hampir setiap detik musibah hoax ini melanda dunia maya.

Betapa berbahayanya hoax ini, sampai Allah abadikan dalam Quran. Dulu, hampir saja Nabi Muhammad SAW dan kaum muslimin menjadi korban hoax yang diproduksi oleh Abdullah Ibn Ubayy Ibn Salul. Berita hoaxnya adalah Aisyah selingkuh dengan Shafwan.

Sosok Nabi saja hampir percaya dengan berita hoax. Namun Allah menyelamatkan Nabi dan umatnya, melalui surat An-Nur ayat 11. Firman Allah dalam surat ke-24 ini menegaskan bahwa berita yang tersebar itu adalah berita bohong atau hoax.

Mengapa Nabi hampir percaya? Sebab, yang namanya hoax atau al-ifk secara faktual memang terjadi. Hanya saja fakta itu “diolah” sehingga opini yang muncul kebalikan dari yang sebenarnya terjadi. Inilah pemutar-balikan fakta.

Dalam kitab al-Mufradat fi Gharibil Quran, Ar-Raghib al-Ashfahani menjelaskan bahwa mereka yang menggunakan lafazh al-ifki karena mereka meyakini hal tersebut adalah bentuk pemalingan dari hal yang benar menuju yang salah. Di sini, ada unsur kesengajaan memalingkan kebenaran menjadi kebatilan.

Bahwa Aisyah dan Shafwan jalan berdua sepulang dari perang Bani al-Mushthalaq adalah fakta. Namun alasan mereka berjalan berdua –yaitu Aisyah tertinggal dari rombongan sebab mencari kalungnya hilang sehingga keluar dari tandu sedangkan para petugas mengangkat tandu itu menyangka Aisyah ada dalam tandu, lalu Shafwan mendapat tugas dari Nabi sebagai “tim penyisir” sekaligus menjaga pasukan muslimin dari musuh yang membuntuti mereka, menjumpai Aisyah sendirian dan kemudian dia mengantarkan Aisyah pulang– dihilangkan oleh Ubayy Ibn Salul. Sebaliknya, dia membangun cerita, bahwa Aisyah menjalin hubungan mesra dengan Shafwan.

Begitu juga dengan hari ini. Betapa banyak berita secara fakta memang terjadi. Misalnya, wajah Ratna Sarumpaet (SR) babak belur memang faktual. Lalu ada yang menyebarkan berita ini bahwa RS dipukuli oleh orang yang tidak dikenal. Setelah berita ini heboh, sekelas Prabowo dan Amin Rais saja percaya. Namun tak lama kemudian, RS sendiri membuat pengakuan, bahwa wajah rusak bukan dipukuli orang, melainkan akibat operasi plastik. Dan masih banyak contoh hoax yang lainnya.

Itulah sulitnya kita membedakan mana berita benar dan mana berita hoax. Oleh sebab itu, siapa saja, apalagi kaum muslimin, harus kembali pada prinsip yang Allah tegaskan dalam surat Al-Hujarat ayat 6: “tabayun”.

Setiap menerima berita, sebelum dishare ke yang lain, harus menyelidiki kebenaran informasi itu (uji validitas). Jika tidak benar atau belum pasti kebenarannya, maka jangan disebar. Sebaliknya, jika berita itu benar, maka pertanyaannya adalah apakah berita ini bermanfaat atau justru ada mudharatnya? Nah, manakala tidak bermanfaat, maka jangan disebarkan. Jadi, sebarkan berita yang benar dan bermanfaat saja!

Sebagai media yang memiliki visi media saksi peradaban dan misi merekam peristiwa penting dan bermanfaat dalam bentuk tulisan, foto, video, audio, dan desain untuk mengokohkan manhaj wasathiyyat al-Islam di Indonesia, maka Portal Wasathiyyah berada di barisan media yang anti Hoax.

Semoga media ini membantu masyarakat dan pemerintah untuk menanggulangi musibah hoax.

Udo Yamin Majdi
Pemred

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

1 + 15 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.