Home Editorial Menjadi Wasit

Menjadi Wasit

319
0
SHARE
menjadi wasit

“Dan demikian Kami telah menjadikan kalian, sebagai umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas kalian.” (QS. Al-Baqarah [2]:143)

Rasulullah tersedu-sedu. Hal ini, bermula ketika Nabi Muhammad SAW meminta Ibnu Mas’ud untuk membacakan Quran di hadapan beliau.

“Wahai Ibnu Mas’ud, tolong bacakan Quran kepadaku.” Sabda Nabi.

Sahabat itu balik bertanya, “Bagaimana mungkin saya membacakan Quran kepada Engkau, wahai Nabi. Bukankah Quran itu turun kepada Engkau?”

“Tidak apa-apa, saya ingin mendengar dari mulutmu.” Jawab Nabi.

Ibnu Mas’ud membaca surat An-Nisa. Nabi dengan khusyuk menyimak. Alunan ayat yang keluar dari sahabat muda itu, membuat rasulullah flow, bukan hanya mengingatkan beliau saat menerima wahyu itu dari malaikat Jibril, melainkan ayat itu mengajaknya berada di sebuah peristiwa, yaitu saat para saksi berdiri di hadapan Allah.

“Cukup…, cukup…, cukup…, wahai Ibnu Mas’ud…” Sela Nabi sambil berurai air mata.

Ibnu Mas’ud menghentikan bacaannya. Dia memandang Nabi. Dalam hati beliau, bertanya-tanya, apa yang membuat rasulullah menangis?

Sahabat itu baru sadar, setelah dia tahu, ayat terakhir yang dia baca. Ayat tersebut berbunyi, “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).”

Quran surat An-Nisaa ayat 41 berbicara tentang kesaksian.

Jika Nabi saja menangis, sebab menjadi saksi di hadapan Allah sangatlah berat, maka bagaimana dengan kita?

Dalam surat Al-Baqarah itu, dengan tegas Allah memberitahukan bahwa kita, sebagai umat wasathan, menjadi saksi terhadap sejarah kehidupan manusia.

Di era digital ini, kita dengan mudah menyaksikan berbagai peristiwa di muka bumi ini, lewat kemajuan di bidang ITC (information, tecnology dan communication). Bumi yang awalnya terasa begitu besar, namun akhirnya bagaikan kampung kecil. Hampir semua orang, bisa merekam berbagai peristiwa, dan membagikan kepada penduduk dunia lainnya.

Terjadilah keberlimpahan informasi. Tidak sedikit informasi itu berupa sampah berita, hoax, berita palsu, dan sejenisnya. Dari sinilah terjadilah perseteruan antar anak manusia. Perang informasi terjadi.

Di sinilah kehadiran media wasathiyyah sangat penting. Wasathiyyah dalam makna adil dan pilihan, ini harus menjadi wasit yang adil dan mampu memilih mana informasi yang baik dan mana yang buruk.

Portal Wasathiyyah hadir bukan hanya menjadi saksi peradaban manusia di muka bumi ini, melainkan juga menjadi saksi di hadapan Allah nanti. Media online ini berusaha merekam peristiwa penting dan bermanfaat bagi kehidupan manusia dalam bentuk tulisan, foto, audio dan video.

Semoga kehadiran portal ini, benar-benar menjadi wasit. Ketika anak manusia mulai melangkah secara ekstrim ke kanan dan ke kiri, maka portal ini ingin menawarkan jalan tengah. Inilah makna media wasathiyyah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

19 + 17 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.