Home Editorial Tahun 2020 dan Move On

Tahun 2020 dan Move On

106
0
SHARE

“Jangan Anda pergi dari satu kondisi ke kondisi lain, sehingga Anda seperti keledai penggilingan yang berputar-putar, tempat yang ia tuju adalah tempat ia beranjak, alias jalan di tempat . Namun, pergilah dari kondisi apapun menuju Pencipta Kaeadaan (Allah Swt). “Sesungguhnya kepada Tuhanmu puncak segala tujuan”. (QS. An-Najm [53]:42). 

Pesan Ibnu Athoillah dalam kitab Al-Hikam ini, relevan kita renungkan di awal tahun 2020. Kita sudah satu minggu meninggalkan tahun 2019. Nah, apakah kondisi tahun lalu dengan tahun ini ada perubahan, atau tidak ada perubahan?

Sejatinya, masalahnya bukan pada berubah atau tidak berubahnya, melainkan pada “kondisi”, apakah menuju Allah atau tidak?

Bisa jadi, tahun 2019 kita memang mendekatkan diri kepada Allah, ini tidak perlu kita ubah, melainkan kita rawat. Ini kita sebut dengan istiqamah. Yang perlu kita ubah adalah ketika tahun 2019 melupakan Allah SWT, maka tahun ini kita mulai mengingat-Nya.

Orang yang mengingat Allah, hatinya tenang, lisannya terjaga, dan akhlaknya mulia. Orang yang mengingat Allah, senantiasa hati-hati melanggar rambu-rambu syari’at Allah, dan melukai perasaan manusia, bahkan hewan dan tumbuh-tumbuhan.

Sebaliknya, orang yang lupa Allah, bukan hanya melanggar aturan Allah SWT, melainkan lisan dan tindakan mereka sering membuat orang lain terluka, marah, dan sakit hati, bahkan mereka lupa dengan status, peran dan hakikat diri mereka.

Coba Anda perhatikan media sosial (medsos), ada sebagian orang setiap hari waktu mereka habiskan untuk “nyinyir”. Di mata mereka, tidak ada yang benar, selain mereka sendiri. Siapapun berbeda dengan mereka, mereka anggap salah. Mereka sangat peka melihat kesalahan orang lain, namun tidak mau mengakui kesalahan diri mereka sendiri.

Mereka tidak berubah, tahun 2019 lalu mereka nyinyir, tahun 2020 pun sama. Semua kejadian, bukan dikaitkan untuk mengingat Allah, agar semakin bertaqwa kepada-Nya, melainkan dikaitkan dengan pilihan atau afiliasi politik mereka.

Ada banjir, mereka kaitkan dengan politik. Ada longsor, mereka sambungkan dengan politik. Ada kecelakaan, mereka lihat dari politik. Ada kejadian apapun, baik di daerah, nasional, maupun internasional, mereka Analisa dengan politik.

Mungkin itulah maksud kalimat “pergi dari satu kondisi ke kondisi lain” atau seperti keledai penggilingan yang berputar-putar, tempat yang ia tuju adalah tempat ia beranjak, alias jalan di tempat”, dalam pesan Ibnu Athoillah di atas.

Hari ini mereka teriak-teriak, besok menuduh tanpa check and recheck (tabayun), hari ini mereka mengobar permusuhan, besok mereka merusak persaudaraan; hari ini membully atau mengolok-olok orang lain, besok mereka mencaci-maki atau menghina orang lain; hari ini mereka mencela, besok mereka memanggil dengan gelar-gelar buruk; hari ini mereka berburuk sangka, besok mereka menggunjing orang lain; dan begitulah seterusnya.

Tentu saja, kita tidak mau disebut keledai. Kita manusia. Punya otak. Bisa memilih. Apakah kita mau berubah atau tidak; mau move on atau tidak,  tergantung dengan kita. Perubahan ke arah lebih baik itu, kita kenal dengan istilah hijrah.

Ibnu Athoillah menulis, “Dengarlah sabda Rasulullah, “Siapa yang hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin diraihnya atau kepada perempuan yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya.” Pahamilah sabda Rasulullah ini dan perhatikan hal tersebut jika kau memiliki kecerdasan dan pemahaman.” 

Kuy, kita move on di tahun 2020 ini! Jangan seperti keledai, tidak move on!

Garut, 7 Januari 2020

 

Udo Yamin Majdi

Pemimpin Redaksi

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.