Home Editorial Bukan Hanya Kegelisahan Gus Baha

Bukan Hanya Kegelisahan Gus Baha

1557
0
SHARE

Wasathiyyah.com – Transkrip ceramah berjudul “Curhat Gus Baha’: Kembalilah ke Tradisi Ulama, Indonesia itu Sekarang Jadi Kiblat” beberapa hari ini viral. Penduduk dunia maya, membahasnya. Pro dan kontra. Itu yang terjadi pada jama’ah fesbukiyah dan halaqah WhatsApp. Ada juga meresponnya lewat tulisan di media massa. Misalnya, KH. Imam Jazuli, Lc., M.A membuat opini berjudul “Gus Baha, Mohon Sampaikan Kebenaran dengan Santun dan Ramah!”

Sebenarnya, saya membaca transkrip itu sudah agak lama. Tepatnya, tanggal 23 Januari 2020 lalu. Saya mengapresiasi curhat Gus Baha itu. Sebab, saya merasakan kegelisahan Gus Baha, terutama ajakan beliau agar para anak-cucu Kiai atau ulama mau ngaji kitab.

Saya memiliki kisah, mirip apa yang diceritakan Gus Baha. Saya memiliki dua kakek, kakak-beradik. Kakek dari jalur suami bibi saya, adik bapak saya. Beliau berdua ulama. Satu alumnus Mesir dan satu lagi alumnus Mekah.

Saya waktu kecil, sering main di rumah mereka berdua. Desa kami memang bersebelahan. Di rumah itu, ada lemari besar penuh kitab. Setiap saya datang berkunjung, sering mereka berdua sedang membaca salah-satu kitab yang mereka miliki. Sendirian.

Dari segi Bahasa, beliau berdua, menurut saya luar biasa. Bahasa Arab dan Inggris, seolah-olah seperti Lampung, bagi mereka berdua. Selain itu, mereka menguasai Bahasa Belanda, Jepang, dan India. Saya masih ingat, ketika awal-awal muncul TV swasta, lalu ada film India, salah seorang kakek saya itu tertawa-tawa mendengar dialog dalam film meskipun mata rabunnya tidak membaca teks terjemahan. Sebab, beliau memang menguasai bahasa India.

Cuma sayang, saat beliau berdua wafat, tidak meninggalkan pesantren, jama’ah, atau lembaga pendidikan. Yang mereka wariskan adalah kitab-kitab turots. Mirisnya, kitab-kitab tersebut tidak tersentuh sama sekali oleh tangan manusia. Malahan termakan oleh rayap dan rusak karena cuaca.

Mengapa demikian? Sebab, tidak ada satu pun anak dan cucunya yang menguasai Bahasa Arab. Tidak ada anak dan cucunya, bisa membaca Arab gundul. Anak-cucunya tidak ada belajar di pondok pesantren. Jalur mantu pun, tidak ada yang melanjutkan tradisi membaca kitab. Bahkan, saya mencari-cari, siapa murid beliau berdua yang bisa membaca kitab-kitab itu. Juga tidak ketemu.

Tentu saja, kisah Gus Baha tidak semiris cerita keluarga saya tadi. Gus Baha mengajak para anak-cucu para ulama agar mengkaji kitab-kitab yang ditulis oleh kakek mereka. Anak-cucu yang Gus Baha temui juga masih beruntung, sebab pernah mondok, menguasai Bahasa Arab, dan masih melanjutkan pondok pesantren yang didirikan kakek mereka. Besar kemungkinan mereka ngaji kitab tidak dari nol.

Semoga kisah saya dan kegelisahan Gus Baha tidak terjadi. Seorang ayah atau kakek, harus berusaha menjadikan anak atau cucunya sebagai murid pertama. Seorang anak dan cucu, harus merawat tradisi ilmu orang tua dan kakek buyut mereka.

Nah, apakah Anda memiliki kisah dan kegelisahan yang serupa?

Garut, 6 Pebruari 2020

 

Udo Yamin Majdi

Pemimpin Redaksi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twenty − 20 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.