Home Editorial Hidup Berkah, Mati Abadi

Hidup Berkah, Mati Abadi

187
0
SHARE

Wasathiyyah.com — Wafatnya Dr. (HC). Ir. KH. Salahudin Wahid memberikan banyak pelajaran. Sampai hari ini, orang-orang masih membicarakan kebaikan, kontribusi, jasa, dan sisi baik Gus Sholah – panggilan akrab beliau.

“Gus Sholah bukan hanya sebagai pengasuh pondok Tebuireng, tapi juga pengasuh masyarakat Indonesia. Ini yang mencari penggantinya agak sulit, dia sederhana, tidak pamrih apa-apa, apalagi untuk dan kepentingan umat Islam dan bangsa Indonesia.” Kata Gus Mus –panggilan akrab KH Ahmad Mustofa Bisri saat menceritakan momen pertemuan terakhirnya dengan Gus Sholah.

Tidak hanya keluarga Tebuireng, NU, atau kaum Muslimin Indonesia yang merasa kehilangan, di kalangan non-muslim pun ikut berduka, bahkan melayat dan mengikuti proses pemakaman Gus Sholah. Meskipun beragama Kristen, tidak menghalangi Hotman Paris Hutapea untuk hadir bersama ribuan kaum Muslimin.

Meminjam istilah TGB –Tuan Guru Bajang Dr. M. Zainul Majdi– itulah kehidupan yang penuh berkah. Kehidupan penuh pengabdikan kepada Allah dan perkhidmahan kepada manusia. Dalam Bahasa hadis, orang yang paling bermanfaat kepada manusia.

“Sebenarnya,” kata Dr. Yusuf Qaradhawi dalam kitab Al-Waqt fi Hayatil Muslim, “Umur hakiki manusia bukanlah umur biologis atau kronologis sejak manusia lahir hingga mati, melainkan yang disebut umur hakiki adalah waktu-waktu yang tercatat di sisi Allah SWT telah digunakan untuk beramal sholeh dan kebaikan.  Karena itu, tidak mengherankan bila ada orang yang usianya melebihi seratus tahun, tetapi tabungan pahalanya di sisi Allah SWT nol, atau bahkan ada di bawah nol. Sebaliknya, ada pula yang wafat masih muda, bahkan baru saja menjalani masa mukallaf, tetapi tabungan pahalanya sangat banyak.”

Menurut husnuzon saya, Gus Sholah termasuk apa yang dikatakan ahli hikmah, “umur pendek, tetapi banyak hasilnya.” Inilah umur yang diberkahi Allah. Mengapa demikian?

Sebab, dalam hidupnya, Gus Sholah melaksanakan tiga amalan yang pahalanya tidak terputus meskipun pelakunya telah wafat. Dalam hadis riwayat Imam Muslim itu, Nabi Muhammad SAW bersabda, ”Apabila ‘anak Adam itu mati, maka terputuslah amalnya, kecuali (amal) dari tiga ini: sedekah yang berlaku terus menerus, pengetahuan yang d manfaatkan, dan anak sholeh yang mendoakan dia.”

Waktu saya berkunjung di Ponpes Tebuireng bulan lalu, saya menyaksikan gedung-gedung atas jasa Gus Sholah. Tahun 2008, sebagai pendiri beliau membangun Gedung-gedung Madrasah Mu’allimien Hasyim Asy’ari, tahun 2013 sebagai rektor beliau membangun Gedung-gedung Universitas Hasyim Asy’ari, tahun 2018 beliau mendirikan rumah sakit bekerjasama dengan Dompet Dhu’afa, beliau yang menggagas Gedung Meseum Islam Indonesia Hasyim Asy’ari, beliau mendirikan 12 cabang Pesantren Tebuireng, dan masih banyak lagi. Selama Gedung-gedung itu memberikan manfaat kepada manusia, maka pahala shadaqah jariyah ini akan terus mengalir kepada beliau.

Dalam hal memanfaatkan ilmu, tidak diragukan lagi. Pernah Gus Sholah diundang oleh orang yang bukan siapa-siapa bagi beliau. Beliau datang ke Bogor dengan biaya sendiri. Tidak mau dijemput. Tidak diambilkan air minum. Bahkan honornya tidak beliau ambil. Itu semua beliau lakukan, sebab tidak ingin menyusahkan siapapun.

Bahkan, di penghujung umurnya, meskipun dalam keadaan sakit setelah operasi, beliau masih meluangkan waktunya untuk membagikan ilmu lewat tulisan berjudul Refleksi 94 Tahun NU”. Begitulah ketulusan sosok Gus Sholah dalam mengamalkan dan membagikan ilmunya.

Adapun tentang mempersiapkan anak sholeh mendo’akan kedua orang tuanya, ini pula Gus Sholah lakukan. Bukan hanya anak-anak beliau saja yang beliau persiapkan untuk menjadi anak sholeh dan sholehah, melainkan juga pada keluarga Pesantren Tebuireng atau keturunan Hadlratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari.

Hal itu terlihat dari upaya Gus Sholah menunjuk KH Abdul Hakim Mahfud atau Gus Kikin untuk menjadi penggantinya. Ini bukan hanya sebatas suksesi kepemimpin di pesantren, melainkan upaya bagi beliau untuk melahirkan anak-anak dan cucu-cucu yang sholeh/sholehah yang akan mendoakan beliau.

Gus Sholah telah tiada, namun lewat gedung-gedung yang beliau bangun, ilmu-ilmu dan tulisan yang beliau bagikan, dan anak-cucu yang beliau persiapan, beliau tetap abadi.

Semoga kita bisa meneladani Gus Sholah: hidup berkah mati abadi.

Garut, 5 Pebruari 2019

Udo Yamin Majdi

Pemimpin Redaksi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

six − 2 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.