Home Editorial In Memoriam: Mohon Doanya untuk Gus Sholah

In Memoriam: Mohon Doanya untuk Gus Sholah

485
0
SHARE

Itulah judul berita tadi malam, tapi tidak sempat saya upload. Mengapa?

Bakda Maghrib, meskipun badan deman, saya menyempatkan diri untuk menulis empat berita tentang hijab di www.wasathiyyah.com. Selesai memuat berita itu, tiba-tiba saya sangat ingin menulis berita tentang perkembangan kesehatan Dr. (HC), Ir. KH. Salahuddin Wahid, lebih dikenal dengan panggilan Gus Sholah.

Beberapa hari yang lalu, saya membaca berita, bahwa cucu KH. M. Hasyim Asyari itu masih sakit. Bahkan tanggal 16 Januari 2020, Portal Wasathiyyah memuat berita Gus Sholah menjalani operasi ablasi jantung.

Saya pun berselancar di google. Dari sebuah media harian mainstream, saya mendapat informasi bahwa kondisinya terus menurun.

“Mohon doanya untuk ayah kami semoga Allah SWT beri kekuatan, ketabahan, dan kesabaran dan yang terbaik,” kata Putra Gus Solah, Irfan Asy’ari Sudirman Wahid.

Saya pun mengumpulkan data. Saya mengolahnya menjadi berita. Namun ketika saya mau memuat tulisan itu, putra bungsu saya, Abdurrahman Vira El-Faqih ingin tidur. Minta ditemani. Berita itu saya pending. Jarum jam menunjukkan pukul 20.07 WIB.

Tengah malam, pukul 02.30 saya tergugah, Faqih bangun sebab mati lampu. Saya mencari HP untuk menyalakan senter. Ternyata HP mati. Low batre. Saya simpan HP itu di kasur.

* * *

Pagi ini, setelah isteri dan ketiga anak saya berangkat sekolah, saya baru mengecas HP. Saya beres-beres kamar tidur. Meskipun charge baru 3%, saya tetap menghidupkan HP. Ada pesan WA dari Tuan Guru Bajang, TGB. Beliau meminta saya membuat ucapan belasungkawa untuk Gus Solah. Saya langsung mengecek beberapa group, sudah beredar ucapan belasungkawa. Bahkan Portal Wasathiyyah, sudah memosting berita wafatnya tokoh bangsa itu. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raji’uun.

“Apakah keinginan saya membuat berita tentang Gus Sholah tadi malam, adalah firasat atas wafatnya beliau?” Saya bertanya dalam hati.

Wallahu a’lam. Yang jelas, ketika saya menulis berita tidak termuat berjudul “Mohon Do’a untuk Gus Sholah” itu, dalam benak saya bukan do’a belasungkawa atas kewafatan beliau, melainkan do’a supaya beliau cepat sembuh dan sehat selalu.

* * *

Wafatnya Gus Sholah, mengingatkan saya akan kejadian awal tahun 2020. Saya bersama pengurus Yayasan Al-Mashduqiyah Garut berkunjung ke Kampung Inggris Pare – Kediri. Di sana, santri kelas VIII SMPIT Al-Mashduqi Boarding School (AMBS) sedang homestay selama sebulan.

Seorang teman, alumni Al-Azhar Mesir datang berkunjung. Beliau masih keluarga besar Ponpes Tebuireng Jombang. Menurut penuturan teman itu, neneknya masih ada nasab ke Hadlrastus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, dan dari jalur KH. Baidhawi Asro. Teman saya ini berkhidmat di Unit Tahfiz Ponpes Madrasatul Quran Tebuireng Jombang Jawa Timur.

Melalui teman itulah, saya bisa menginjakkan kaki di Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, Museum Islam Nusantara, ziarah kubur keluarga besar KH. M. Hasyim Asy’ary, dan keliling di unit-unit pendidikan di bawah Tebuireng.

Sewaktu kami sholat di masjid, saya melihat poster biografi singkat Gus Sholah di dinding. Saya langsung memotretnya pakai HP. Terbetik dalam hati, ingin silaturahim kepada beliau. Karena keterbatasan waktu, maka keinginan ini tidak saya ungkapkan kepada teman.

“Mudah-mudahan, suatu saat saya kembali ke Tebuireng dan bisa bersilaturahim dengan Gus Sholah.” Kata saya dalam hati.

Ternyata tadi malam Allah telah memanggil beliau. Meskipun silaturahim itu tidak terjadi, namun doa menjadi jembatan antara saya dengan Gus Sholah.

Selamat jalan Gus, semoga Allah menyamputmu dengan senyuman dan pelukan hangat!

Garut, 03-02-2020

Udo Yamin Majdi

Pemimpin Redaksi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

6 + two =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.