Home Berita Internasional Netanyahu Ngotot Caplok Tepi Barat, Ancam Warga Palestina Tanpa Kewarganegaraan

Netanyahu Ngotot Caplok Tepi Barat, Ancam Warga Palestina Tanpa Kewarganegaraan

350
0
SHARE
Peta rencana presiden AS untuk proses aneksasi Israel terhadap Tepi Barat. Peta ini didapatkan The New York Times dari Gedung Putih, beberapa data dikaburkan. Tampak garis perbatasan dan wilayah Palestina yang mengecil karena aneksasi. (Gambar : The New York Times)

Wasathiyyah.com, Yerusalem – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengatakan pada hari Kamis (28/05) bahwa warga Palestina yang tinggal di Lembah Yordan akan tetap berada dalam kawasan yang ia sebut sebagai ‘kantong’ setelah Israel berhasil mencaplok wilayah itu. Netanyahu menegaskan mereka tidak akan mendapatkan kewarganegaraan Israel.

Netanyahu berjanji akan terus maju dalam rencananya mencaplok Lembah Yordan di Tepi Barat yang diduduki, sejalan dengan rencana Timur Tengah Presiden AS, Donald Trump. Proses pencaplokan ini akan dimulai sesegera mungkin yaitu 1 Juli mendatang.

Pencaplokan Lembah Yordan dan pemukiman-pemukiman warga Palestina yang luas akan berakibat pada mustahilnya menciptakan solusi dua negara, Palestina dan Israel yang berdampingan, sebuah jalan tengah yang selama ini dianggap sebagai satu-satunya solusi dari konflik panjang yang telah berlangsung beberapa dekade.

Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Israel Hayom, Netanyahu mengatakan warga Palestina di Lembah Yordan, termasuk penduduk kota Jericho, akan tetap berada di bawah pemerintahan sendiri terbatas Palestina, dengan Israel memiliki kontrol keamanan secara keseluruhan.

“Mereka akan tetap menjadi daerah kantong Palestina,” katanya. “Anda tidak mencaplok Jericho. Ada satu atau dua kluster. Anda tidak perlu menerapkan kedaulatan atas mereka. Mereka akan tetap menjadi subyek Palestina, jika Anda mau. Tetapi kontrol keamanan juga berlaku untuk tempat-tempat ini.”

Palestina di Tepi Barat telah hidup di bawah kekuasaan militer Israel sejak perang 1967, ketika Israel merebut wilayah itu, bersama dengan Yerusalem timur dan Gaza. Palestina ingin ketiga wilayah membentuk negara masa depan mereka.

Rencana Trump akan memberikan negara Palestina terbatas negara bagian atas kantong-kantong yang tersebar yang dikelilingi oleh Israel jika mereka memenuhi daftar persyaratan yang panjang. Israel telah menyetujui rencana itu, sementara Otoritas Palestina, yang mengelola bagian-bagian Tepi Barat, dengan marah menolaknya dan memutuskan hubungan dengan AS dan Israel.

Netanyahu mengatakan bahwa jika Palestina menerima semua persyaratan dalam rencana tersebut, termasuk Israel mempertahankan kontrol keamanan secara keseluruhan, “Maka mereka akan memiliki entitas mereka sendiri yang didefinisikan oleh Presiden Trump sebagai negara.”

Berdasarkan perjanjian koalisi yang dicapai bulan lalu, Netanyahu dapat membawa rencana aneksasinya di hadapan pemerintah pada 1 Juli.

Otoritas Palestina mengatakan tidak lagi terikat oleh perjanjian yang ditandatangani dengan Israel dan AS, dan mengatakan telah memutus koordinasi keamanan dengan Israel. Yordania, sekutu dekat Barat dan satu dari hanya dua negara Arab telah berdamai dengan Israel, telah memperingatkan “konflik besar” jika Israel melanjutkan dengan aneksasi. (WST/RS/arabnews)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

thirteen + 18 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.