Home Berita Timur Tengah Imam Besar Al-Azhar Ajak Dunia Kriminalisasi Aksi Anti-Muslim

Imam Besar Al-Azhar Ajak Dunia Kriminalisasi Aksi Anti-Muslim

42
0
SHARE
Ahmad Al Tayeb

Wasathiyyah.com, Jakarta — Imam besar Al Azhar Mesir Syekh Ahmad Al-Tayib menyerukan komunitas internasional mengkriminalisasi tindakan “anti-Muslim”, menyusul ditampilkannya gambar Nabi Muhammad di Prancis.

Ahmad Al-Tayib mengatakan, Al-Azhar dengan tegas menolak penggunaan sentimen anti-Muslim untuk mempengaruhi pemilih saat pemilihan umum. Dia juga mendesak Muslim bersikap tenang dalam menanggapi ujaran kebencian.

“Muslim harus bersikap tenang, legal, dan rasional dalam melawan ujaran kebencian dan mencapai hak-hak sahnya, mengikuti contoh Nabi Muhammad yang mulia, semoga Allah merahmatinya dan salam untuknya,” pesannya di tengah seruan di seluruh Timur Tengah untuk memboikot produk Prancis, dikutip dari Alarabiya, Kamis (29/10/2020).

Presiden Prancis, Emmanuel Macron melabeli pembunuhan guru Samuel Paty sebagai “serangan teroris kelompok Islam” dan menulis di Twitter dalam bahasa Arab awal pekan ini bahwa Prancis tak akan menyerah dan tak akan menerima ujaran kebencian.

Paty dibunuh pertengah Oktober lalu setelah menunjukkan kartun Nabi Muhammad saat mengajar di kelas membahas materi kebebasan berbicara. Dia dibunuh seorang remaja imigran Chechnya saat pulang mengajar.

pada Rabu menyerukan komunitas internasional mengkriminalisasi tindakan “anti-Muslim”, menyusul ditampilkannya gambar Nabi Muhammad di Prancis.

Ahmad Al-Tayib juga mengatakan Al-Azhar dengan tegas menolak penggunaan sentimen anti-Muslim untuk mempengaruhi pemilih saat pemilihan umum.

Dia juga mendesak Muslim bersikap tenang dalam menanggapi ujaran kebencian.

“Muslim harus bersikap tenang, legal, dan rasional dalam melawan ujaran kebencian dan mencapai hak-hak sahnya, mengikuti contoh Nabi Muhammad yang mulia, semoga Allah merahmatinya dan salam untuknya,” pesannya di tengah seruan di seluruh Timur Tengah untuk memboikot produk Prancis, dikutip dari Alarabiya, Kamis (29/10).

Presiden Prancis, Emmanuel Macron melabeli pembunuhan guru Samuel Paty sebagai “serangan teroris kelompok Islam” dan menulis di Twitter dalam bahasa Arab awal pekan ini bahwa Prancis tak akan menyerah dan tak akan menerima ujaran kebencian.

Paty dibunuh pertengah Oktober lalu setelah menunjukkan kartun Nabi Muhammad saat mengajar di kelas membahas materi kebebasan berbicara. Dia dibunuh seorang remaja imigran Chechnya saat pulang mengajar.

Sebelumnya Syeikh Ahmad Al-Tayib mengutuk pembunuhan tersebut. Dia mengatakan, menghina agama lain atas nama kebebasan berbicara dapat mengundang kebencian.

“Sebagai seorang muslim dan Syekh Al-Azhar, saya nyatakan bahwa Islam, ajarannya dan Nabinya tak bersalah atas kejahatan teroris yang kejam ini,” tegasnya saat berpidato di Capitol Square, Roma, di depan sekumpulan pemimpin agama dari Kristen, Yahudi, dan Buddha termasuk Paus Fransiskus dan Rabbi Prancis, Haim Korsia.

“Pada saat yang sama, saya tekankan menghina agama dan menyerang simbol-simbol sucinya di bawah panji kebebasan berekspresi adalah dobel standar intelektual dan undangan terbuka bagi kebencian,” lanjutnya, dikutip dari Times of Israel, Kamis (22/10).

Setelah pembunuhan itu, kartun Nabi Muhammad yang pernah dimuat dalam majalah satir Charlie Hebdo kemudian ditampilkan di gedung pemerintah dengan dalih kebebasan berekspresi.

Menanggapi hal itu, sejumlah negara Arab termasuk Kuwait dan Yordania, mendesak warganya memboikot produk Prancis. Sejumlah supermarket di negara Arab menarik barang-barang produk Prancis dari rak-raknya.

Pengguna media sosial di Arab Saudi juga menyerukan boikot Carrefour pada Minggu. Carrefour adalah jaringan supermarket asal Prancis. (WST/YN/merdeka.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

fourteen − twelve =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.