Home Berita Internasional Al Azhar Puji Parlemen Mesir Pasca Tangguhkan Voting RUU Kontroversial

Al Azhar Puji Parlemen Mesir Pasca Tangguhkan Voting RUU Kontroversial

78
0
SHARE

Wasathiyyah.com, Kairo – Grand Syaikh Al Azhar Al Syarif, Prof. Dr. Ahmed Al Thayyeb memuji langkah parlemen Mesir yang menangguhkan pemungutan suara atas Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang lembaga fatwa negara atau Dar Al Ifta.

RUU tersebut menimbulkan kontroversi yang cukup besar akhir-akhir ini di Mesir, karena RUU tersebut diyakini akan mengganggu independensi institusi Al Azhar.

RUU ini rencananya dijadwalkan untuk diambil keputusan oleh parlemen pada hari Senin (24/08). Tetapi Ketua Parlemen Ali Abdel Aal mengatakan kepada anggota parlemen bahwa dia memutuskan untuk tidak memperdebatkan RUU tersebut.

Dalam pernyataannya hari Senin kemarin, Grand Syaikh Al Azhar mengapresiasi langkah ketua parlemen dan mengatakan bahwa, “Langkah itu memastikan tanpa keraguan bahwa Mesir akan selalu tetap menjadi negara yang menghormati konstitusi dan menghargai institusi nasionalnya yaitu Al Azhar.”

“Mesir di bawah kepemimpinan Presiden Abdel Fatah El Sisi selalu melestarikan institusi Al Azhar dan mendukung visi dan misinya dalam menyebarkan nilai-nilai moderasi dan toleransi,” tambah Grand Syaikh.

RUU yang memicu kontroversi di tengah publik Mesir itu dirancang oleh komite keagamaan parlemen, mengusulkan agar Dar Al Ifta berada di bawah pengawasan kementerian kehakiman, yang sebelumnya berada di bawah naungan institusi Al Azhar. RUU ini mendapat penentangan keras dari Al Azhar.

RUU tersebut juga menyoroti kewenangan Mufti Mesir, yaitu ketua Dar Al Ifta, tata cara pengangkatannya, masa jabatan, dan tata cara perpanjangan masa jabatan Mufti.

Al Azhar meyakini bahwa RUU tersebut berpotensi melahirkan otoritas independen di bawah kementerian kehakiman yang tidak dapat diawasi oleh Al Azhar.

Al Azhar memperingatkan bahwa pemberian otoritas yang dimiliki oleh kementerian kehakiman dan tidak berafiliasi dengan Al Azhar untuk melaksanakan tugas-tugasnya tersebut melanggar konstitusi dan independensi Al Azhar.

Sebelumnya, Grand Syaikh Al Azhar mengirim surat kepada Ketua Parlemen Ali Abdel Aal yang isinya adalah pernyataan keberatan atas RUU tersebut. Al Azhar mengecamnya sebagai tindakan institusional dan berpotensi melanggar independensi Al Azhar.

Dalam surat tersebut Grand Syaikh menyarankan kepada Ketua Parlemen agar dilakukan penyesuaian dan perbaikan dalam RUU tersebut sehingga tetap sejalan dengan konstitusi. Yaitu agar lembaga keagamaan Islam apapun di wilayah Mesir adalah bagian integral dari institusi Al Azhar, dan setiap keputusan dan kegiatan keagamaan berada dalam pengawasan Al Azhar.

Grand Syaikh juga sebelumnya mengingatkan Ketua Parlemen bahwa RUU tersebut melanggar kewenangan Dewan Ulama Senior Al Azhar yang selama ini berwenang memilih Mufti Mesir yang sekaligus pimpinan lembaga Dar Al Ifta. Oleh karenanya, Grand Syaikh menyarankan agar parlemen melibatkan Al Azhar dalam pembahasan RUU tersebut agar ditemukan jalan keluar terbaik. (WST/RS/ahramonline)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

four × one =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.