Home Berita Timur Tengah KBRI Kairo Jawab Isu-Isu yang Berkembang di Kalangan Masisir Soal Penanganan Covid-19

KBRI Kairo Jawab Isu-Isu yang Berkembang di Kalangan Masisir Soal Penanganan Covid-19

174
0
SHARE
Salah satu gedung di KBRI Kairo Mesir

Wasathiyyah.com, Jakarta — Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kairo menjawab berbagai isu yang berkembang di kalangan mahasiswa asal Indonesia di Mesir (Masisir) terkait penanganan covid-19 yang menimpa Masisir.

KBRI Kairo menyampaikan ucapan terima kasih kepada sejumlah pihak yang mengutarakan masukan dan kritikannya yang membangun untuk kebaikan seluruh Masisir dan masyarakat Indonesia di Mesir.

Berikut respons KBRI Kairo seperti dilansir laman Kementerian Luar Negeri RI, Sabtu (18/7/2020).

 

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Kepada Seluruh Mahasiswa dan Pelajar Indonesia di Mesir (Masisir).

Mengikuti perkembangan dalam sepekan terakhir di kalangan masyarakat Indonesia khususnya mahasiswa dan pelajar Indonesia di Mesir, dapat disampaikan hal-hal sebagai berikut:
1. KBRI Cairo mengikuti dengan dekat aspirasi yang disampaikan Masisir melalui media sosial dan pemberitaan di beberapa media. KBRI menyampaikan terima kasih atas masukan dan kritikannya yang membangun untuk terus meningkatkan ikhtiar dalam memberikan yang terbaik kepada seluruh Masisir dan masyarakat Indonesia di Mesir.
2. Hingga 18 Juli 2020, jumlah WNI yang konfirmasi positif adalah 10 orang, dengan keterangan:
  • 2 orang sembuh (dari positif menjadi negatif);
  • 4 orang terkonfirmasi positif tanpa gejala, karantina mandiri di rumah isolasi di Mesir, kondisi stabil;
  • 4 orang terkonfirmasi positif tanpa gejala, dirawat di RS Darurat Wisma Atlit Jakarta.
Catatan: 
  • 1 orang dinyatakan negatif adalah pasien yang dirawat di RS Paru-paru Abbasiyyah. Hasil negatif keluar pada pagi ini 18/7/2020 setelah melakukan swab test pada hari Rabu 15/07/2020. Sedang menunggu surat keterangan negatif dari dokter rumah sakit. Ybs. diminta untuk karantina mandiri di rumah  selama 14 hari dan akan diberi resep obat untuk dikonsumsi. 
  • 1 orang dinyatakan negatif untuk yang sebelumnya terkonfirmasi positif tanpa gejala, hasil diketahui pada 17 Juli 2020. 
  • 1 orang terkonfirmasi PDP dirawat di RS Darurat Corona Wisma Atlit Jakarta. 
3. Berkenaan dengan 4 orang (3 pelajar Ma’had dan 1 mahasiswa) yang terkonfirmasi positif, dan nekat untuk terbang ke Indonesia, KBRI telah berkoordinasi dengan KBRI Abu Dhabi dan Pemerintah Pusat di Jakarta untuk tindakan lebih lanjut bagi keempat orang tersebut yang nyata-nyata telah membahayakan seluruh penumpang. 
Catatan: Sejak 14 Juli 2020 hingga detik-detik keberangkatan ybs 16 Jui 2020, KBRI terus menjalin komunikasi dengan Musyrif/Pengasuh asrama mereka,  dan juga melakukan komunikasi langsung dengan keempat orang tersebut untuk meminta mereka membatalkan penerbangannnya ke Indonesia. Dalam hal ini, kami tegaskan tidak benar bahwa KBRI dan Tim Medis KBRI mengijinkan keempat orang tersebut untuk terbang ke Indonesia. 
Perkembangan:
– Hasil komunikasi KBRI dengan Pusat pada 18 Juli 2020, keempat org tsb saat ini berada di RS Darurat Corona Wisma Atlit. Mereka langsung dijemput ke pesawat saat kedatangan di Jakarta dan untuk seluruh penumpang lainnya dilakukan tindakan pemeriksaan lanjutan. 
4. Dalam kaitan itu, KBRI berharap kiranya Masisir sebagai Thullabuil Ilmi, Azhariyyin, yang berusaha Tafaqquh Fiddin sangat memahami makna Firman Allah “Barangsiapa yang membunuh satu nyawa, seolah-olah membunuh seluruh umat manusia, dan barangsiapa yang memelihara satu nyawa, seolah-olah memelihara nyawa seluruh umat manusia”. 
Selain itu, bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tha’un (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya.” (HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid).
Kiranya ilmu dan pemahaman agama ini tercerminkan dalam amaliyah sehari-hari, bukan hanya dalam muqarrar semata. 
5. Selanjutnya, untuk tabayun bersama, dapat disampaikan bahwa pada 9 Juli 2020, KBRI c.q. Satgas COVID-19 KBRI Cairo telah menerima Presiden PPMI, Sekjen, Wasekjen PPMI dan Bendahara PPMI. Dalam pertemuan tersebut dapat disampaikan pokok-pokok pembahasan sebagai berikut:
1) Penyediaan fasilitas isolasi mandiri bagi WNI di Mesir
  • Terkait hal ini, disepakati bahwa isolasi bagi Masisir yang memiiki gejala COVID-19, sedapat mungkin dilakukan secara mandiri di rumah masing-masing masisir. 
  • Satgas COVID-19 KBRI Cairo berusaha memberikan pemahaman kepada PPMI bahwa penanganan bagi pasien COVID-19 di Mesir seyogyanya menjadi kewajiban negara Mesir, sebagaimana kebijakan semua negara di dunia, termasuk di Indonesia. Hal ini sesuai dengan guidance WHO dalam penanganan warga negara dan ekspatriat dalam suatu negara. Setiap negara memiliki kepentingan untuk mencegah dan menghentikan penyebaran wabah, sehingga perlu memberikan layanan bagi semua warga, baik WN lokal maupun WNA.
  • PPMI menyampaikan bahwa penyediaan fasilitas isolasi secara khusus, dengan menyewa guest house dipandang tidak visible, karena terdapat resistensi dari pemilik guest house untuk dijadikan tempat isolasi mandiri bagi pasien COVID-19. Catatan: Dubes RI Cairo secara langsung sejak 2 bulan yang lalu juga berkomunikasi dengan PPMI untuk menyampaikan opsi ruang isolasi mandiri atas biaya KBRI. Namun hingga saat ini hal tersebut belum terlaksana. 
  • Dengan kondisi saat ini, yang dapat dilakukan adalah apabila salah satu penghuni di sebuah rumah masisir terkonfirmasi positif COVID-19, sekiranya memang kondisi rumah padat penghuni dan tidak dapat dkondisikan, akan dilakukan solusi, antara lain dengan memindahkan sebagian penghuni ke rumah lain, atau memindahkan WNI pasien COVID-19 ke tempat lain yang lebih kondusif, Dalam hal ini akan dilakukan penanganan case by case (disesuaikan dengan kondisi dan jenis kasus). 
  • Satgas COVID-19 KBRI dalam hal ini akan berkoordinasi dengan PPMI dan kekeluargaan terkait penyaluran paket bantuan vitamin dan obat-obatan serta logistik bagi WNI yang melakukan isolasi mandiri. 
  • Meski demikian, KBRI tegaskan tetap melakukan antisipasi penyediaan gedung khusus untuk isolasi mandiri jika kasus di Mesir terus meningkat. Pihak PPMI dalam hal ini menyampaikan usulan tempat isolasi mandiri di gedung asrama Al Azhar dan SIC. Berkenaan hal ini, Satgas sampaikan tanggapan bahwa sudah sejak lama Satgas menjajaki kemungkinan penggunaan gedung asrama Al Azhar, namun memang belum dimungkinkan oleh pihak Al Azhar hingga saat ini. Adapun SIC, kondisi saat ini tidak visible untuk digunakan sebagai tempat isolasi mandiri, ditambah lagi bahwa kemungkinan dalam waktu dekat akan difungsikan kembali untuk tempat belajar, jika Mesir telah membuka kembali sekolah-sekolah.  Terkait upaya penjajakan opsi gedung yang akan disewa sebagai tempat isolasi mandiri, dapat dimulai dengan inventarisir gedung-gedung yang dimiliki/disewa oleh kekeluargaan atau entitas Indonesia lainnya yang ada di Mesir, seperti gedung KMM. 
  • Penyediaan fasilitas ruang isolasi mandiri juga harus disertai dengan penyediaan perangkat lainnya yang mendukung untuk proses isolasi mandiri (seperti penyediaan petugas kesehatan, petugas kebersihan, penyediaan makanan dll).
Tindak lanjut:
  • KBRI telah menyampaikan kondisi Masisir yang terkonfirmasi positif kepada pihak Al Azhar dan mengkoordinasikannya pula dengan pihak Kemkes Mesir. Mengingat, sesuai guidance dari WHO, penanganan setiap pasien COVID menjadi tanggungjawab dari negara tempat lokus kejadian berlangsung, dalam hal ini Mesir. 
  • Pada 16 Juli 2020, KBRI Cairo juga telah menandatangani kontrak sewa dengan salah satu ormas Masisir untuk penggunaan tempat sekretariatnya sebagai tempat isolasi mandiri.  
  • KBRI telah berupaya menampung aspirasi Masisir untuk penggunaan SIC sebagai tempat isolasi mandiri. Namun hingga saat ini, masih terdapat resistensi dari sejumlah pihak yang terkait erat dengan SIC.  
2) Penanganan WNI suspected COVID-19
  • Disepakati untuk mengoptimalkan layanan Konsultasi Kesehatan Online (KKO).
  • Apabila terjadi kasus yang memerlukan rujukan pasien emergency, maka diarahkan untuk mengoptimalkan layanan 105 terlebih dahulu, sesuai arahan Kemkes Mesir. 
  • Perlunya edukasi terus menerus terhadap Masisir untuk menjaga protokol kesehatan dan bagaimana menyikapi jika ada WNI yang menjadi suspected COVID-19 atau menjadi terkonfirmasi positif tanpa gejala. 
  • Perlu sinergitas antara Satgas COVID-19 KBRI dengan PPMI dan kekeluargaan dalam penanganan kasus WNI pasien COVID-19. Satgas COVID-19 KBRI Cairo menegaskan pentingnya menjaga kerahasiaan pasien. Disampaikan pula anjuran agar sebisa mungkin tidak dilakukan pendampingan secara langsung ke lapangan. 
  • Dalam kaitan penanganan COVID-19 untuk Masisir, disampaikan pula oleh PPMI bahwa PPMI dan Kekeluargaan telah membentuk Satgas khusus penanganan COVID-19, yang diharapkan dapat bersinergi dengan Satgas COVID-19 KBRI Cairo.
3) Program Bersama di Masa New Normal
KBRI c.q. Satgas COVID-19 KBRI Cairo menyampaikan  pentingnya membangun sinergi antara KBRI dengan PPMI dan kekeluargaan mengenai program-program dalam menghadapi New Normal di Mesir. Satgas C-19 KBRI dalam hal ini mengajak PPMI dan seluruh kekeluargaan dan ormasi di Mesir untuk duduk bersama membahas teknis setiap program yang akan dikerjasamakan. 
4) Rencana Bantuan untuk Masisir
– Selain bantuan masker kain yang sedang diupayakan saat ini, PPMI juga menyampaikan permintaan untuk penyediaan bantuan, untuk masing-masing kekeluargaan dan PPMI serta Wihdah untuk pendampingan WNI suspected COVID-19.  Menanggapi permintaan tersebut, KBRI menanyakan secara rinci kebutuhan yang konkrit. Menjawab pertanyaan tersebut, pihak PPMI menyampaikan perlu berkoordinasi dahulu dengan pihak terkait di masing-masing kekeluargaan. Sejauh ini KBRI mencatat indikasi kebutuhan antara lain:
  • 4 buah APD dan  4 buah face shield/kekeluargaan
  • Masker dan sarung tangan 1 box/kekeluargaan
  • Disinfectant dan hand sanitizer/kekeluargaan
– PPMI berjanji akan menyampaikan listnya kepada KBRI. Namun hingga 18 Juli 2020, KBRI belum mendapat informasi lebih lanjut dari PPMI. Meski demikian, KBRI telah menyiapkan proses administrasi penyediaan kebutuhan sesuai list identifikasi sementara, sembari menunggu kepastian dari PPMI. 
5) Pendataan Rumah WNI di Mesir
  • Disepakati pentingnya data lokasi rumah masing-masing Masisir untuk keperluan penanganan dan pencegahan COVID-19 di Mesir. 
  • Hal ini akan memudahkan, khususnya untuk proses penanganan pasien COVID-19, baik dalam kondisi perlu dirujuk ke RS ataupun isolasi mandiri. 
  • Selain itu, data tersebut juga bermanfaat untuk proses distribusi bantuan logistik dan bantuan sejenis lainnya. 
  • Teknis pendataan ini memerlukan waktu, namun dapat segera dimulai, koordinasi bersama antara KBRI dengan PPMI dan Kekeluargaan. 
6) Dana Sosial
– PPMI menyampaikan keluhan mengenai minusnya sumber dana operasional dan dana simpanan untuk keperluan mendesak yang biasa digunakan untuk keperluan pendampingan Masisir, seperti jika ada kasus Masisir yang perlu dirujuk ke RS dan perlu didampingi. PPMI menyampaikan sekiranya dimungkinkan mendapat dukungan dari KBRI. Menanggapi hal ini, Satgas COVID-19 KBRI menyampaikan kembali bahwa penanganan COVID-19 perlu terlebih dahulu mengoptimalkan layanan yang disediakan oleh Pemerintah Mesir melalui 105. Adapun dukungan anggaran KBRI dapat dimungkinkan sebagai opsi terakhir atau last resort dengan mempertimbangkan per-kasusnya dan dikeluarkan sesuai aturan penggunaan anggaran yang telah ditetapkan Pemerintah Pusat. Disampaikan pula bahwa tidak tertutup kemungkinan bagi KBRI untuk memberikan dukungan yang bersumber dari sumbangan mandiri staf KBRI sebagaimana yang sudah pernah dilakukan sebelumnya.  
7) PPMI Inisiasi “Iuran Dari dan Untuk Masisir”
Disampaikan oleh PPMI, bahwa saat ini sedang dibahas kemungkinan kewajiban iuran dari seluruh anggota PPMI, mengingat kesulitan finansial yang dialami PPMI dan kekeluargaan saat ini. Berkenaan dengan hal tersebut, Satgas sampaikan tanggapan bahwa hal ini pada prinsipnya sebuah inisiatif yang bagus, namun harus diperhatikan aspek sensitifitasnya bagi Masisir, terlebih di tengah masa sulit pandemi ini. Satgas juga menekankan pentingnya aspek akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan keuangan iuran tersebut.
6. Dapat disampaikan pula, bahwa KBRI juga akan menyesuaikan bantuan kepada seluruh WNI terdampak sesuai masukan dari para Masisir sekiranya memang dipandang distribusi yang selama ini kurang tepat. Untuk itu,dipersilahkan untuk menyampaikan masukan yang konkrit tentang bantuan yang diharapkan untuk dapat disampaikan. 
7. Bantuan yang telah diberikan KBRI Cairo hingga 18 Juli 2020 adalah: 27.822 paket dengan keterangan sbb:
Logistik 6.539
Masker 7.391
Obat/Vitamin 13.886
APD Lengkap 6
8. KBRI mencatat aspirasi Masisir agar Pemerintah RI membiayai tes PCR. Namun jika masisir meminta hal ini untuk dilakukan, kiranya dapat mempertimbangkan biaya yang harus dipikul negara. Apabila dibuatkan simulasi setengah Masisir mengikuti PCR, maka akan memakan biaya:
4.000 org X EGP 2.500 = EGP 10.000.000 =626.821,70 USD. Bahkan jika hanya untuk 400 orang akan memakan biaya sekitar 1 milyar rupiah.
Sekali lagi perlu dipahami bahwa sesuai guidance WHO, penanganan pandemi di sebuah negara menjadi tanggung jawab pemerintah negara tersebut, baik untuk warga negara sendiri maupun ekspatriat.
9. Kembali disampaikan bahwa sebagai Azhariyyin, kiranya setiap masukan dan kritikan yang membangun dapat disampaikan dengan cara yang “hikmah dan mauizah” mencerminkan pemahaman kita terhadap pengajaran dan ketauladanan yang telah diberikan oleh para Sheikh dan Ulama Azhar tentang manhaj Azhary. 
10. Kita perlu pahami benar, bahwa tidak ada yang tidak terdampak akibat pandemi ini. Setiap individu, punya kewajiban untuk memerangi virus ini. Mari saling mendukung, bukan menjatuhkan. Mari menjadi bagian dari solusi untuk mengatasi pandemi ini. Tidak ada yang pasti saat ini, selain ketidakpastian. Tugas kita sebagai manusia yang diberikan kemampuan untuk beradaptasi untuk arif dan bijak menyikapi kondisi. “Bukankah Tuhan tidak memberikan cobaan kepada hamba-Nya selain hamba-Nya dapat memikulnya?”
​11. Hotline Satgas COVID-19 beroperasi 24 jam setiap harinya dan siap menerima laporan, pengaduan dan permintaan bantuan dari Masisir. Beredarnya tanggapan operator hotline atas permintaan bantuan logistik/konsumsi dari seorang ODP adalah inisiatif nurani kemanusiaan operator yang bersangkutan untuk memberikan solusi secara cepat dengan tetap menekankan penerapan protokol kesehatan. Satgas COVID-19 KBRI Cairo memantau secara intensif laporan yang disampaikan via saluran hotline, dan melakukan briefing, arahan dan juga teguran kepada operator hotline dalam menanggapi laporan/permintaan via saluran tersebut.

12. KBRI terbuka dengan seluruh komunikasi, baik melalui hotline ataupun komunikasi langsung melalui saluran pribadi dari seluruh jajaran staf KBRI, hingga pimpinan KBRI. Untuk itu, kami berharap, setiap kita memperbaiki diri, dan menjalin komunikasi dengan lebih baik, mengedepankan nilai-nilai kesantunan, sebagaimana yang diajarkan oleh agama dan para guru dan orang tua kita. 
Demikian penjelasan dari KBRI Cairo mengenai isu-isu yang berkembang terkait penanganan COVID-19 oleh KBRI Cairo di kalangan mahasiswa dan pelajar Indonesia di Mesir. Informasi penanganan COVID-19 di Mesir oleh KBRI juga secara reguler dimuat pada website dan media sosial yang dikelola KBRI Cairo.
Stay safe and stay healthy. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT, aamiin yaa Rabb. 
Wassalamu’alaikum Wr. Wb. 
 ​ Cairo, 18 Juli 2020
​  Satgas COVID-19 KBRI Cairo​. (WST/YN/kemlu.go.id)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

sixteen + 12 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.