Home Berita Internasional Masjid Al Azhar Magnet Peziarah dari Seluruh Negara

Masjid Al Azhar Magnet Peziarah dari Seluruh Negara

356
0
SHARE
Masjid Al Azhar Kairo

Wasathiyyah.com, Cairo – Richard : “Dipenuhi dengan suasana religius dan kami merasakan aman dan tenang di dalamnya.”

– Sinan asal Sudan: “Pesannya bersifat universal dan saya telah membaca sejarah dan semua anak bangsa yang ada di dalamnya.”

– Muslim asal Checnya: “Tempat paling tenang dan paling indah untuk belajar.”

– Emilia asal Indonesia: “Kami merasa bahagia dan tenang belajar di tengah para pelajar asal Mesir di Al Azhar.”

Hussein Auadallah menulis:

Masjid AL Azhar adalah peninggalan dinasti Fathimiyah yang paling momumental dan bersejarah. Masjid ini bukan hanya masjid yang menjadi tujuan orang-orang datang untuk menunaikan shalat saja, melainkan menjadi monumen sejarah tertua di Mesir yang menjadi jejak pengaruh dinasti Fathimiyah. Nilai sejarahnya ini telah menjadikan Masjid Al Azhar sebagai tempat yang spesial di hati orang Mesir dan bahkan tujuan spesial bagi turis asing kapanpun mereka datang ke Mesir.

Setiap tahun pada tanggal tujuh bulan Ramadhan menjadi hari diperingatinya pembukaan masjid ini.  Dan, beberapa hari yang lalu, peringatan ke-1079 tahun pendiriannya dirayakan. Dewan Syaikh Al Azhar menyelenggarakan perayaan besar yang menarik minat banyak pengunjung dari seluruh dunia serta menyediakan jamuan berbuka puasa bersama untuk orang-orang yang berpuasa.

Redaksi Shautul Azhar bertemu dengan banyak pengunjung perayaan ini, mereka ada yang berasal dari Inggris, Korea, Afghanistan, India, Sudan, Uganda. Salah seorang pengunjung bernama Richard yang datang ditemani istrinya, berkata: “Kami mengunjungi Mesir setiap tahun dan untuk pertama kalinya kami beruntung bisa mengunjungi Masjid Al Azhar dan menyaksikan ini. Perayaan yang mempesona, kami memperhatikan integrasi budaya yang berbeda tanpa batas, kami tidak dapat membedakan orang Mesir dari yang lain, dan masjid Al-Azhar adalah mahakarya arsitektur yang luar biasa dan tidak kalah nilainya dari piramida-piramida. Di masjid ini kami merasakan kebahagiaan dan kenyamanan, penuh dengan nuansa spiritualitas di tengah keramaian dan kami merasa didalamnya aman dan tenang.”

Kemudian, redaksi juga bertemu dengan pengunjung bernama Murtadla Thayyeb, pria berusia 50 tahun asal Sudan. Ia mengungkapkan, “Kami mengunjungi Mesir setiap tahun selama 10 hari atau lebih, dan ini adalah kedua kalinya saya mengunjungi masjid al Azhar selama kunjungan saya tahun ini. Masjid ini adalah rujukan agama Islam terbesar bagi semua negara di dunia.”

Dia melanjutkan: “Saya telah menunaikan haji ke Baitullah dan umrah sebanyak dua kali. Dan Masjid Al Azhar secara spiritual mengingatkan saya kembali ke Mekah dan Madinah dengan para ulamanya, ketenangan, keindahan, dan nilai arsitekturnya. Semoga Allah melindungi Mesir dan rakyatnya serta Al Azhar dan tanah air kami.”

Muslim Bilal, mahasiswa di Universitas Al Azhar asal Chechnya mengatakan: “Saya mengunjungi Masjid Al Azhar setiap hari. Saya merasa nyaman dan tenang di dalamnya. Ini adalah tempat ibadah, tempat paling tenang dan paling indah untuk belajar. Universitas Al Azhar adalah lembaga ilmiah Islam terbesar di dunia yang menjadi rujukan ilmu serta tujuan belajar para pelajar dari berbagai negara untuk mempelajari ilmu-ilmu syariah, bahasa Arab, kedokteran dan kemanusiaan. Di koridor-koridor masjid ini pernah belajar para raja, sultan, presiden, para syaikh dan mufti Al Azhar, para menteri, duta besar dan para ilmuwan dari bagian lain dunia. Kami bangga belajar di sini.”

Utsman Nortsani, presiden parlemen mahasiswa asing di Universitas Al Azhar, mengatakan: “Saya sangat tertarik menghadiri acara-acara penting seperti ini sebagai kontribusi bagi universitas kami ini yang telah berjasa mendidik dan membangun generasi selama lebih dari seribu tahun. Kami sangat salut pada para ulama yang senantiasa teguh melayani semua negara Islam dengan segenap pengajaran ilmiah, kebudayaan dan sastra. Serta kesungguhan mereka dalam menebarkan manhaj Al Azhar yang moderat selama berabad-abad lamanya untuk memberikan penerangan yang benar mengenai Islam. Bahkan jika kami selaku pelajar asing sudah kembali ke negara kita masing-masing, kami akan tetap memiliki hasrat untuk mengunjungi lagi Al Azhar laiknya sebagai kunjungan yang wajib untuk terus mengokohkan spirit ke-Azharannya.”

Mahasiswi asal Indonesia bernama Emilia binti Amrizal mengemukakan, “Ketika saya belajar di negara saya, saya mendengar banyak tentang Al Azhar dan para ulamanya. Al Azhar bagi kami adalah kiblat ilmu dan dasar bagi berbagai disiplin ilmu, khususnya ilmu agama. Kami merasa bahagia dan tenang berada di tengah-tengah mahasiswi asal Mesir ketika kami memasuki masjid Al Azhar. Banyak koridor di masjid ini yang digunakan secara efektif untuk kegiatan-kegiatan kajian dan para mereka sangat terbuka atas informasi kajian di tempat ini.”

Mohammed Sinan, seorang pemuda Sudan yang pertama kali berkunjung ke masjid Al Azhar mengungkapkan: “Kami menyaksikan di dalam masjid bersejarah ini ada pengunjung dari berbagai negara baik Asia, Afrika dan Eropa. Ini menegaskan bahwa pengaruh Al Azhar sudah mendunia sebagaimana cerita orangtua saya yang pernah belajar di sini, mereka menceritakan banyak hal tentang masjid ini termasuk kegiatan-kegiatan di koridornya secara jelas. Dan, ketika saya memasuki masjid ini, maka semakin jelaslah cerita itu karena saya bisa merasakan sendiri betapa syahdunya suasana di masjid ini dan saya akan menziarahinya setiap kali saya datang ke Mesir.”

Sementara seorang insinyur bernama Ahmed Hussein, berusia empat puluh tahun, membawa putrinya, Farah, untuk menghadiri acara peringatan masjid Al Azhar. Ia mengatakan: “Hampir setiap hari saya menunaikan shalat Ashar di masjid ini. Rumah saya sebenarnya dekat dari sini, bahkan lebih dekat ke masjid Husain. Tapi, saya merasa lebih utama menunaikan shalat di masjid ini. Saat berada di masjid ini, saya merasakan kenyamanan yang lebih besar. Saya sangat berterimakasih kepada para pihak yang berpartisipasi dalam restorasi terakhir masjid, karena masjid ini nampak lebih indah dan megah.”

Sarimba Farouq, mahasiswa asal Uganda, mengatakan, “Selama lebih dari satu abad, banyak sekali pelajar dari negeri kami yang belajar di Al Azhar. Banyak sekali lulusannya yang memiliki peran penting dan memotivasi generasi muda untuk belajar. Al Azhar memiliki kedudukan bergengsi di negeri kami. Kami sangat ingin mengunjungi Al Azhar dan membaca sejarahnya. Al Azhar berpengaruh besar bagi pemikiran para ulama kami. Saya bercita-cita menjadi ulama lulusan Al Azhar yang bisa membawa perbaikan di negeri saya melalui dakwah Islam moderat yang sesungguhnya.” (WST/RS/Sawtalazhar)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

20 − nineteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.