Home Berita Internasional Pembentukan Komite Tinggi sebagai Tindak Lanjut dari Deklarasi Persaudaraan Kemanusiaan

Pembentukan Komite Tinggi sebagai Tindak Lanjut dari Deklarasi Persaudaraan Kemanusiaan

207
0
SHARE
Imam Besar Al Azhar, Syaikh Ahmed Al Thayyeb dan Paus Gereja Katolik, Paus Fransiskus, pada penandatanganan dokumen persaudaraan kemanusiaan di Abu Dhabi.

Wasathiyyah.com, Cairo

  • Syaikh Mohammad bin Zaid : Pembentukan komite tinggi ini bertujuan untuk mengimplementasikan visi besar yang terkandung dalam dokumen persaudaraan kemanusiaan dan mengembangkan gagasan tentang toleransi, kerjasama, koeksistensi menjadi tindakan nyata.
  • Komite ini bersifat universal dan memiliki misi mencapai persaudaraan umat manusia.
  • Komite ini bertugas mengembangkan kerangka kerja fase lanjutan guna memastikan dokumen persaudaraan kemanusiaan dapat direalisasikan dengan baik.
  • Komite ini dapat menambah anggotanya dengan persetujuan di antara anggotanya sesuai dengan tujuan dan komposisi yang diperlukan.

Sebuah langkah lanjutan dari penandatanganan Dokumen Persaudaraan Kemanusiaan sudah dilakukan. Yaitu berupa pembentukan komite tinggi yang bertujuan untuk mengimplementasikan dokumen yang ditandatangani oleh Paus Franciskus dari Gereja Katolik dan Syaikh Ahmed Al Thayyeb, Imam Besar Al Azhar Al Syarif, di Abu Dhabi pada Februari 2019 lalu.

Komite ini terdiri dari Uskup Agung Miguel Angel Ayoso Guixot, Sekretaris Jenderal Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama; Dr. Mohamed El-Mahrasawy, Presiden Universitas Al-Azhar; Pastor Dr. Yoannis Lahdhi, Sekretaris Pribadi Paus Franciskus; Hakim Mohammed Mahmoud Abdulsalam, mantan penasihat Sheikh Al-Azhar, dan Yang Mulia Mohammed Khalifa Al Mubarak, Ketua Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Abu Dhabi; Dr. Sultan Faisal Al Rumaithi, Sekretaris Jenderal Dewan Tetua Muslim; dan Mr. Yasser Hareb Al Muhairi, penulis dan jurnalis Emirat.

Pada kesempatan ini, Sheikh Mohammed bin Zaid Al Nahyan, Putra Mahkota Abu Dhabi dan Wakil Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata UEA, mengatakan bahwa pembentukan komite ini bertujuan untuk mengimplementasikan visi besar yang terkandung dalam dokumen persaudaraan kemanusiaan dan mengembangkan gagasan tentang toleransi, kerjasama, koeksistensi menjadi tindakan nyata. Ini merupakan upaya untuk mempromosikan perdamaian  dan menyebarkan prinsip-prinsip persaudaraan dan hidup berdampingan secara damai antar umat manusia di seluruh dunia.

Komite ini bertugas mengembangkan kerangka kerja untuk fase selanjutnya guna memastikan realisasi tujuan Dokumen Persaudaraan Kemanusiaan. Serta untuk mempersiapkan rencana kerja, program dan inisiatif yang diperlukan untuk menjalankan ketentuan-ketentuan dokumen, dan menindaklanjuti implementasinya di semua tingkat regional dan internasional. Termasuk di dalamnya mengadakan pertemuan internasional dengan para pemimpin agama, kepala organisasi internasional, dan tokoh-tokoh terkait untuk memelihara, mendukung, dan menyebarluaskan gagasan di balik dokumen bersejarah ini untuk perdamaian dunia.

Seperti diketahui sebelumnya, Imam Besar Al Azhar Syaikh Ahmad Al-Thayyib dan Yang Mulia Paus Gereja Katolik telah melakukan pertemuan bersejarah di UEA pada 3-5 Februari 2019 dan menandatangani dokumen “Persaudaraan Kemanusiaan – Deklarasi Abu Dhabi” dan mengumumkannya kepada dunia dari ibukota UEA, Abu Dhabi.

Selain penandatanganan dan deklarasi, pertemuan yang berlangsung selama tiga hari itu juga diisi dengan berbagai acara pendukung, seperti pertemuan para pemuka agama Islam dari seluruh dunia yang juga turut dihadiri oleh Paus Franciskus. Kemudian, Paus Franciskus pun sempat mengadakan Misa kepausan yang diikuti oleh tak kurang dari 180 ribu orang baik yang berasal dari penduduk UAE maupun yang sengaja datang dari berbagai negara untuk acara ini.

Pertemuan tersebut juga diikuti media dari berbagai negara. 200 lembaga media internasional hadir meliput acara ini.

Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, dipilih sebagai tempat berlangsungnya deklarasi persaudaraan kemanusiaan karena dipandang sebagai negeri yang mampu menghadirkan kehidupan berdampingan yang damai di antara penduduknya yang memiliki latarbelakang perbedaan agama. Sehingga hal ini menyiratkan pesan bahwa toleransi dan perdamaian manusia dapat terjalin di negara yang memiliki komitmen terhadap nilai-nilai perdamaian.

Penandatanganan dan deklarasi dokumen Persaudaraan Kemanusiaan dan kegiatan-kegiatan yang menyertainya menjadi momentum bersejarah dan tonggak penting untuk mewujudkan dialog antaragama, toleransi dan perdamaian di antara semua orang dari semua agama dan kepercayaan di dunia ini. (WST/RS/azhareg)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two × 1 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.