Home Berita Internasional Fatwa Ulama Al Azhar tentang Keringanan Shalat Jumat dan Shalat Berjamaah Saat...

Fatwa Ulama Al Azhar tentang Keringanan Shalat Jumat dan Shalat Berjamaah Saat Pendemi Corona

629
0
SHARE

Wasathiyyah.com, Kairo – Dewan Ulama Senior (Haiah Kibar Ulama) Al Azhar Al Syarif Mesir mengeluarkan pernyataan atau fatwa terkait pandemi virus Corona baru atau Covid 19 di dunia. Fatwa ini dirilis pada hari Minggu (15/03) di Kairo, Mesir.

Dalam fatwanya Dewan Ulama Senior Al Azhar membolehkan keringanan untuk menunaikan shalat di rumah, tidak menunaikan shalat berjamaah di masjid. Dan, keringanan untuk tidak menunaikan shalat Jumat, namun tetap menunaikan shalat Dhuhur di rumah masing-masing.

Fatwa ini diambil atas pertimbangan untuk menjaga kemaslahatan hidup manusia karena kian merebaknya virus Corona di hampir seluruh negara di dunia dalam waktu yang relatif cepat.

Dalam fatwanya Dewan Ulama Senior Al Azhar juga menghimbau kepada orang-orang yang sedang sakit dan yang sudah berusia lanjut untuk tetap berada di rumah dan mengikuti arahan dari otoritas kesehatan setempat.

Lebih lengkapnya, berikut ini uraian terjemah fatwa Dewan Ulama Senior Al Azhar Al Syarif :

 

Fatwa untuk Umat Manusia

Tentang Keringanan Shalat Jumat dan Shalat Berjamaah Sebagai Antisipasi Virus Corona

Alhamdulillahi wahdah, washshalaatu wassalaamu ‘alaa man laa nabiyya ba’dah.

Berdasarkan keterangan yang berkesinambungan dari otoritas kesehatan tentang penyebaran virus Corona baru atau Covid 19 yang sangat cepat dan telah menjadi pandemi dunia. Juga berdasar pada hasil pemeriksaan medis yang terus berjalan , bahwa virus ini semakin berbahaya karena cepatnya virus ini menyebar dan mudahnya ia berkembang, sedangkan orang yang terinfeksi bisa saja tidak menunjukkan gejala apa-apa sehingga tidak diketahui apakah dia terjangkit atau tidak, akibatnya virus ini dapat tersebar ke tempat mana saja yang dia singgahi.

Di antara tujuan terbesar syariat adalah melindungi dan menjaga jiwa manusia dari berbagai bentuh bahaya dan musibah.

Oleh karena itu, Dewan Ulama Senior Al Azhar, atas tanggungjawabnya dalam urusan syariah, memberitahukan kepada seluruh pemangku kebijakan di berbagai wilayah, bahwasanya diperbolehkan secara syariat untuk meninggalkan shalat Jumat dan shalat berjamaah karena alasan kekhawatiran penyebaran virus Corona yang sangat beresiko bagi kehidupan individu manusia dan negara.

Dan telah ditetapkan pula bagi orang yang sakit dan lanjut usia untuk tetap berada di rumah dan tidak mengikuti shalat berjamaah dan shalat Jumat, sebagaimana instruksi yang ditetapkan oleh pihak berwenang di negara masing-masing.

Berdasarkan laporan dari otoritas medis, virus Corona telah mengakibatkan banyak jiwa menjadi korban. Data yang berhasil terhimpun sudah cukup untuk menarik kesimpulan bahwa virus ini sangat berbahaya karena tiga alasan : besarnya jumlah korban, penularan yang berlangsung cepat dan mudahnya perkembangbiakan virus.

Oleh karena itu, wajib hukumnya bagi para pemangku kebijakan di setiap negara untuk mengerahkan segenap usaha secara maksimal untuk menghentikan penyebaran virus ini. Para ulama yang mengerti duduk perkara kasus ini secara hukum, akan memahami kaidah berikut ini: “Apa yang dapat mendekatkan kepada sesuatu, maka akan ikut mengambil hukumnya.” Dan, bahwa kesehatan tubuh merupakan bagian dari tujuan terbesar syariat Islam.

Hadits yang mendasari keringanan untuk tidak menunaikan shalat Jumat dan shalat Jamaah secara syar’i akibat wabah penyakit adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:

“Sesungguhnya Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata kepada muadzin, ketika hujan, ”Apabila engkau mengucapkan أشهد أن محمداً رسول الله (dalam adzan), jangan engkau ucapkan حيَّ على الصلاة tapi ucapkanlah صلوا في بيوتكم (shalatlah di rumah-rumah kalian). Maka seolah-olah manusia mengingkarinnya, beliau berkata (Ibnu Abbas), ”Hal itu dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku (Nabi), sesungguhnya shalat Jumat itu wajib dan aku tidak ingin menyusahkan kalian, sehingga kalian berjalan menuju masjid dengan kondisi jalan yang berlumpur dan licin”. (HR Bukhari)

Hadits ini merupakan perintah untuk meninggalkan shalat berjamaah karena adanya hujan lebat yang membuat susah untuk berangkat ke masjid. Tidak diragukan lagi, bahwa keberadaan virus corona lebih membahayakan dibanding hujan yang deras. Dari hadits ini dapat disimpulkan bahwa keringanan meninggalkan shalat Jumat berjamaah karena wabah penyakit merupakan bagian dari syariat yang masuk akal dan benar dalam tinjauan ilmu fikih. Sebagai gantinya adalah melaksanakan shalat Zhuhur empat rakaat di rumah atau di tempat sepi.

Para ulama fikih sepakat dan persoalan ini telah selesai dibahas, bahwa segala ketakutan yang berkaitan dengan nyawa, harta atau keluarga merupakan alasan yang sah untuk meninggalkan shalat Jumat dan shalat berjamaah. Hadits berikut ini sebagai landasannya; Diriwayatkan dari Abu Dawud dan Ibnu Abbas, Nabi Saw. bersabda,“Barangsiapa mendengar adzan dan tidak memenuhinya tanpa ada uzur yang menghalanginya, maka shalat yang dikerjakannya tidak akan diterima. Para sahabat bertanya, “apakah udzurnya ?” Beliau menjawab, ”Takut atau sakit.” (HR. Abu Daud)

Dan, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Auf, bahwasanya ia mendengar dari Nabi Saw., “Jika kalian mendengar tha’un di suatu negeri maka janganlah datang kepadanya, dan jika terjadi tha’un di suatu negeri yang kalian tinggal padanya maka janganlah keluar untuk lari darinya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Rasulullah Saw. juga melarang shalat berjamaah di masjid bagi orang yang memiliki bau badan tak sedap supaya tidak menganggu orang lain.

Sebagaimana Imam Bukhari meriwayatkan dari Jabir dari Abdullah ra. bahwa Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Siapa yang makan bawang putih atau bawang merah, hendaklah ia menjauh kami.” Atau beliau berkata, “Hendaknya dia menjauh dari masjid kami dan berdiam di rumahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Apa yang disebutkan dalam hadits-hadits di atas tergolong jenis bahaya yang kadarnya kecil, bisa diatasi dengan segera. Lantas, bagaimana dengan wabah yang penyebarannya sangat cepat dan menyebabkan petaka bagi manusia yang sulit dikendalikan. Kita memohon perlindungan kepada Allah dari marabahaya itu.

Ketakutan yang melanda saat ini terjadi karena penyebaran virus ini sangat cepat dan membahayakan. Terlebih, hingga saat ini belum ditemukan obatnya. Mengingat hal itu, seorang muslim akan dimaklumi/dimaafkan jika tidak mengikuti shalat Jumat atau shalat Jamaah.

Atas pertimbangan tersebut di atas, maka Dewan Ulama Senior Al Azhar memfatwakan: Diperbolehkan secara syar’i untuk meninggalkan shalat Jumat dan shalat jamaah untuk sementara waktu sebagai upaya antisipasi dan menghentikan penyebaran virus Corona.

Ketentuan Meninggalkan Shalat Jumat dan Shalat Jamaah

Pertama: Wajib hukumnya mengumandangkan adzan pada setiap waktu shalat, meskipun ada fatwa boleh menghentikan sementara shalat Jumat maupun shalat jamaah. Pada setiap adzan, muadzin diperbolehkan mengumandangkan “Shallu fi buyutikum (shalatlah di rumah kalian).”

Kedua: Bagi keluarga  agar menjalankan shalat secara berjamaah di rumah masing-masing, sampai ada informasi lebih lanjut terkait virus Corona. Pada dasarnya, shalat jamaah tidak mesti hanya dilaksanakan di masjid.

Ketiga: Wajib hukumnya untuk mengikuti arahan dari Lembaga Kesehatan terkait pencegahan penyebaran virus Corona. Juga wajib hukumnya mengikuti arahan dari lembaga yang ditunjuk pemerintah secara resmi, dan tidak menyebarkan berita bohong yang mengakibatkan orang lain merasa takut, cemas, dan khawatir.

Dewan Ulama Senior Al Azhar Al Syarif mengajak para ulama senior baik di wilayah Barat maupun Timur untuk terus menjaga shalat dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. dengan berdoa. Menguatkan para korban dan membantu mereka. Memperbanyak amal kebaikan dan kepedulian terhadap sesama, serta menjaga kesehatan masing-masing dari berbagai penyakit.

Semoga Allah Swt. segera mengangkat wabah Corona ini dan melindungi seluruh negara dan umat manusia dari wabah penyakit. Sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik Dzat tempat kita meminta pertolongan dan menggantungkan harapan. Allah pula sebaik-baik penjaga, dan Dialah Dzat Yang Maha Pengasih.

 

Dewan Ulama Senior Al-Azhar

Kairo, Minggu, 15 Maret 2020 M

(WST/RS/azhareg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 − three =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.