Home Berita Internasional Panen Stroberi Kualitas Tinggi di Jalur Gaza, Begini Harapan Para Petani

Panen Stroberi Kualitas Tinggi di Jalur Gaza, Begini Harapan Para Petani

196
0
SHARE
Seorang petani sedang memetik stroberi di kebunnya di Beit Lahia, Jalur Gaza, Palestina.

Wasathiyyah.com, Gaza – Bertani di jalur Gaza memiliki tantangan tersendiri, tidak bisa diprediksi kapankah waktu panen terbaik. Tapi, bagi petani stroberi Akram Abou Khousa, kerja kerasnya selama bertahun-tahun di bawah tekanan dan pembatasan Israel, mulai membuahkan hasil.

Petani Palestina ini merayakan keberhasilan ekspor besar pertama stroberinya dari tanah Gaza ke pasar-pasar Teluk. Bisnis yang ia harapkan menjadi kompensasi bagi dirinya bersama rekan-rekan sesama petani di Gaza yang telah mengalami kerugian finansial bertahun-tahun lamanya akibat blokade Israel yang membatasi aktifitas warga termasuk kegiatan perdagangan.

“Selama beberapa tahun terakhir kami menghadapi kesulitan dalam hal pemasaran yang hampir terbatas pada pasar lokal saja. Ini memaksa kami untuk menekan harga secara signifikan yang berakibat pada kerugian besar bagi petani seperti kami sebagai akibat memburuknya situasi ekonomi di jalur Gaza,” ungkap Abou Khousa kepada Arab News.

“Musim ini mungkin berbeda dalam hal volume dan kualitas produksi,” pungkasnya.

Blokade yang dilakukan Israel setelah kemenangan Hamas dalam pemilihan legislatif kedua Palestina di awal 2006, telah menimbulkan kerugian besar bagi para petani stroberi serta menyebabkan area lahan pertanian menyusut menjadi hanya 450 dunum (111 hektar) pada tahun 2015.

Namun, Israel menambah tunjangan ekspor pada 2017, dan ini sedikit membangkitkan harapan bagi para petani untuk kesejahteraannya di masa depan.

Musim panen stroberi di Gaza dimulai pada awal Desember dan akan berlanjut hingga akhir Maret.

Tahun ini Abou Khousa menanam stroberi lebih dari delapan dunum (hampir 2 hektar) lahan di kita Gaza bagian utara, tepatnya di Beit Lahia. Tujuh dunum diantaranya dilakukan secara tradisional dan satu dunum lagi dilakukan penanaman menggunakan pot gantung.

Abou Khousa menceritakan, “Tren penanaman gantung telah meningkatkan laju produksi. Satu dunum yang dibudayakan dengan cara modern ini bisa memberi hasil buah tiga kali lipat lebih banyak dari penanaman secara tradisional.”

Tanah dan iklim di Beit Lahia memiliki karakteristik berbeda dengan lahan lainnya di Palestina. Sehingga lahan di Beit Lahia sangat cocok untuk budidaya stroberi dan menghasilkan buah berkualitas tinggi.

Stroberi kelas dunia dari Jalur Gaza. Besar, merah dan manis. (sahabatalaqsacom))

Pada awal Desember, Abou Khousa dan petani stroberi lainnya memulai proses panen dan berhasil mengekspor hasil panen mereka ke kota-kota di Tepi Barat. Kementerian Pertanian telah meminta sampel hasil panen dan menguji kualitasnya. Jumlah rata-rata truk pengangkut hasil panen ditentukan oleh otoritas Israel.

Harga satu kilogram stroberi lokal, biasanya pada awal musim, dihargai sekitar 10 Shekel (hampir $3). Tetapi secara bertahap harga tersebut akan menurun hingga di harga 4 Shekel pada puncak masa panen.

“Jika proses ekspor tidak berlanjut, kami bisa mengalami kemunduran dan kerugian besar,” ungkap Abou Khousa. Dia menunjukkan bahwa penjualan di pasar lokal tidak akan mampu menutupi biaya pokok produksi.

Dia mencatat bahwa pengalaman para petani di Beit Lahia dalam budidaya stroberi membuat mereka mampu memenuhi standar dan spesifikasi kualitas internasional yang ketat.

Musim stroberi juga bisa membuka ratusan lapangan pekerjaan setidaknya selama musim panen berlangsung. Hal ini tentu bisa membantu menekan angka pengangguran yang tinggi di jalur Gaza.

Menurut data dari Pusat Statistik Palestina angka pengangguran di jalur Gaza sebesar 53 % dan 67 % diantaranya merupakan kaum muda.

Juru bicara Kementerian Pertanian di Gaza, Adham Al Basyouni mengungkapkan, “Selama bertahun-tahun Israel telah mencoba memblokade produk-produk pertanian khususnya stroberi karena mereka tahu ini merupakan produk pertanian yang berbeda dan istimewa yang dikirim ke Tepi Barat dan pasar-pasar di Eropa dan Arab.”

Kesuksesan ekspor stroberi sebesar 8 ton ke Arab Saudi, UEA dan Bahrain menjadi pendorong utama bagi para petani dan geliat ekonomi di Gaza, kata Al Basyouni. Dan ia berharap hal itu jadi momentum untuk ekspor-ekspor stroberi selanjutnya serta untuk komoditi lainnya dari Palestina.

Stroberi diekspor melalui Kerem Shalom, satu-satunya jalur penyeberangan komersial di jalur Gaza. Kemudian, pengiriman berlanjut ke Yordania melalui Jembatan Raja Hussein. Barulah kemudian dari sana disebar ke pasar-pasar di kawasan Teluk.

Direktur Agricultural Cooperative Society di Beit Lahia, Mohamed Ghaben, mengatakan, “Stroberi Gaza memiliki kualitas tinggi dan bersaing di pasar internasional.”

Ada 1.700 dunum lahan stroberi yang dipanen pada tahun ini. Ada peningkatan dibanding tahun lalu yang seluas 1.100 dunum. Dia memperkirakan hasil panen tahun ini mencapai 5.000 ton dan setengahnya akan diekspor ke Eropa.

Budidaya stroberi di Jalur Gaza dimulai pada akhir tahun 1960an dengan percobaan di atas lahan seluas satu setengah hektar. Setelah terbukti berhasil, lahan perkebunan stroberi berkembang semakin luas secara bertahap hingga mencapai 2.500 dunum pada tahun 2005. (WST/RS/arabnews)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twenty − seven =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.