Home Berita Internasional Warga Palestina yang Tinggal di Gua Ini Tetap Diusir Israel

Warga Palestina yang Tinggal di Gua Ini Tetap Diusir Israel

306
0
SHARE
Ahmed Amarneh dan keluarganya tinggal di dalam gua, desa Farasin, Tepi Barat, Palestina. (Gambar : AFP)

Wasathiyyah.com, Tepi Barat – Rumah Ahmed Amarneh dengan pintu kayu dan ruang kamar yang beralaskan beberapa bantal, bukanlah tempat tinggal pertama yang mendapat pemberitahuan pembongkaran oleh Israel.

Tapi, rumah Amarneh ini mungkin jadi yang pertama tempat tinggal berbentuk gua yang mendapat ancaman penghancuran dari Israel.

Amarneh, seorang insinyur berusia 30 tahun, tinggal bersama orangtuanya, istrinya yang sedang hamil, dan putrinya yang masih kecil di desa Farasin, bagian utara Tepi Barat. Di wilayah ini Israel bersikeras melarang pembangunan rumah dan membongkar setiap rumah yang dibangun tanpa izin mereka.

“Saya mencoba dua kali membangun (sebuah rumah), tetapi otoritas pendudukan mengatakan kepada saya bahwa itu dilarang,” kata Amarneh kepada AFP.

Ahmed Amarneh bermain dengan putri kecilnya (Gambar : Aljazeera)

Kesepakatan damai Oslo 1990 memberikan Palestina hak pemerintahan di beberapa bagian Tepi Barat.

Namun, sekitar 60% Tepi Barat yang disebut sebagai Area C tetap berada di bawah kendali penuh Israel. Dan, desa Farasin berada di dalam area ini.

Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut bahwa Area C adalah bagian dari wilayah Palestina. Namun hal itu tidak menyurutkan langkah Israel untuk menguasai wilayah ini dan mendirikan pemukiman ilegal menurut hukum internasional.

Karena yakin akan terus mendapatkan gangguan dan pembongkaran dari Israel, maka Amarneh terpikir untuk menjadikan sebuah gua sebagai kediamaannya. Gua tersebut berada di kaki bukit yang tak jauh dari desa Farasin.

Ahmed Amarneh di dapurnya. Setiap hari khawatir pasukan Israel mendatangi rumahnya dan membongkarnya. (Gambar : Aljazeera)

Amarneh membayangkan gua itu akan ia jadikan sebagai tempat tinggal dengan konsep sederhana, alami, bahkan kuno. Dan, ia mengira bahwa Israel pun tidak akan mempermasalahkannya. Sementara otoritas Palestina (PA) mengizinkan dan mendaftarkan tanah gua itu atas namanya.

Amarneh yang cukup memiliki keterampilan pertukangan telah membuat menutup mulut gua dengan tumpukan dinding batu dan memasang pintu kayu sederhana di bagian tengahnya.

Dia pun menyekat ruang di dalam gua itu menjadi beberapa bagian ruangan. Ada kamar tidur untuk ia dan istrinya yang sedang hamil, ada dapur, ruang tamu, dan ruang tidur untuk putri kecil mereka. Bahkan ada ruang tidur untuk tamu.

Amarneh mengatakan kepada AFP bahwa ia sekeluarga sudah tinggal di gua itu selama satu setengah tahun. Tapi, di bulan Juli lalu ia menerima pemberitahuan dari Israel bahwa tempat tinggalnya itu akan dibongkar bersamaan dengan akan dibongkarnya 20 rumah warga desa Farasin lainnya.

Putri Amarneh bermain di ruang tengah rumah guanya. (Gambar : Aljazeera)

Cabang militer Israel yang bertugas menangani warga sipil di Tepi Barat, COGAT, mengatakan kepada AFP bahwa pemberitahuan pembongkaran dikirimkan ke beberapa kepala keluarga di Farasin karena rumah mereka dinilai ilegal dan tidak mengantongi izin yang diperlukan.

Amarneh mengatakan kepada AFP bahwa dirinya terkejut mendapatkan pemberitahuan itu. Ia terkejut jika Israel menyebut bahwa tempat tinggalnya ilegal, karena gua itu sudah ada sejak dulu, terbentuk secara alami, dan jelas bukan dirinya yang membuat.

“Aku tidak membuat gua itu. Gua itu sudah ada sejak dulu,” ujar Amarneh sambil meggendong putri kecilnya.

“Saya tidak mengerti bagaimana bisa mereka melarang saya untuk tinggal di dalam gua itu. Hewan saja dapat tinggal di dalam gua dan tidak diganggu. Jadi, biarkan saja mereka memperlakukan saya seperti hewan dan biarkan saya tinggal di gua,” kata Amarneh.

Penduduk Arab mendirikan desa Farasin pada tahun 1920, kata kepala dewan lokal Mahmud Ahmad Nasser. Desa ini ditinggalkan penduduknya selama perang Arab-Israel 1967, ketika kemudian Israel merebut Tepi Barat dari Yordania.

Namun, sejak 1980-an, penduduk yang dahulu pernah tinggal di Farasin, kembali ke desanya ini. Nasser menyebut populasinya sekitar 200 orang. Farasin tidak terlihat seperti sebuah desa pada umumnya. Karena rumah-rumah di Farasin berdiri sendiri-sendiri dengan jarak yang cukup jauh satu sama lain.

Otoritas Palestina secara resmi mengakui komunitas di desa Farasin sebagai bagian dari Palestina. Namun, saat ini otoritas Palestina belum dapat memberikan akses listrik ke daerah itu karena pandemi Covid 19.

Sedangkan COGAT disinyalir pada April lalu, akan menangguhkan pembongkaran yang sudah direncanakan disebabkan pandemi. Namun, menurut informasi dari kelompok aktivis HAM Israel B’Tselem, Israel telah membongkar 63 rumah warga Palestina pada bulan Juni.

Keluarga Amarneh bercengkrama. Mereka berharap bisa tinggal dengan tenang di dalam gua. (Gambar : Aljazeera)

Sekitar 450.000 orang Yahudi tinggal di Tepi Barat bersama dengan 2,7 juta penduduk Palestina.

Warga desa Farasin mengkhawatirkan kemungkinan datangnya buldozer-buldozer Israel secara tiba-tiba. Karena pada hari Senin kemarin sudah rumah warga yang mengalami pembongkaran seketika oleh COGAT.

“Tiba-tiba saja mereka (COGAT) datang dan mengatakan pada penghuni rumah bahwa mereka punya waktu satu menit untuk mengemasi barang-barang mereka,” kata Armaneh kepada AFP.

“Mereka tanpa rasa malu memerintahkan kami untuk keluar dari rumah dan meninggalkan desa,” ucap Armaneh seraya memendam rasa khawatir bahwa gua tempat ia tinggal bersama keluarganya akan menjadi target selanjutnya. (WST/RS/thenewarab)

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 × 2 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.