Home Berita Internasional Survey Membuktikan Agama Sebagai Kompas Moral Masyarakat Arab

Survey Membuktikan Agama Sebagai Kompas Moral Masyarakat Arab

147
0
SHARE
  • Lebih dari 70 % masyarakat Arab merasakan bahwa negara mereka religius. Hasil survey YouGov Poll. 
  • Responden menyatakan bahwa agama berperan penting dalam menjaga standar moral masyarakat. 

Wasathiyyah.com, Dubai – Dunia Arab tetap religius. Ini terbukti oleh survey YouGov Poll yang mengungkap bahwa 72% responden yang menyatakan negara mereka sangat religius atau cukup religius. Dan 66% di antara mereka menyatakan taat dalam menunaikan ritual ibadah keagamaan.

Atas temuan ini, media Arab News bekerja sama dengan Arab Strategy Forum melakukan penelitian untuk mengukur pandangan masyarakat Arab dan mengetahui proyeksi mereka untuk masa depan wilayahnya.

Sebanyak 3.079 responden berbahasa Arab berusia 18 tahun ke atas dan tersebar di 18 negara di Timur Tengah dan Afrika Utara diwawancarai dalam penelitian ini.

Jumlah responden tertinggi yang menyatakan bahwa negara asal mereka sangat religius atau cukup religius ditemukan di Yaman yaitu sebesar 84% dan Yaman sebesar 84%.

Dr. Abdulkhaliq Abdullah, mantan ketua Arab Council for Social Sciences mengatakan bahwa temuan YouGov Poll sebesar 72% itu cukup mengejutkan. “Anda akan berharap bahwa di dunia Arab, wilayah dimana agama telah mengakar kuat, anda berharap ada lebih dari 72 persen responden yang menyatakan bahwa agama punya peran penting di sana. Saya malah mengharapkan pernyataan itu datang dari 90 persen responden” pungkasnya.

Terkait temuan 28% responden yang menyatakan bahwa negaranya tidak religius atau tidak cukup religius, maka Dr. Abdulkhaliq mengomentari bahwa ini angka yang signifikan. ia memandang angka ini sebagai indikasi kemungkinan bahwa generasi milenial di wilayah Arab saat ini mereka berpikir terbuka, global, atau mungkin saja mereka juga religius seperti generasi  tua hanya saja mereka tidak melulu memandang sesuatu dengan kacamata agama.

Tapi secara keseluruhan, hasil survey itu membuktikan bahwa mayoritas masyarakat Arab meyakini agama sebagai kompas moral. 62 % di antara mereka meyatakan bahwa mereka membutuhkan agama sebagai penjaga standar moral.

Mengomentari hal tersebut, Dr. Albadr Al Shatery, profesor ilmu politik di National Defence College Abu Dhabi, mengatakan bahwa masyarakat di wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA) harus merencanakan jalurnya sendiri, tidak dapat dan tidak boleh mengimpor model dari wilayah lain. “Islam akan tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari identitas kawasan”, tegasnya.

Ia menambahkan, “Perpisahan secara total dengan nilai-nilai agama bukan hanya sesuatu yang tidak mungkin, tapi juga tidak diinginkan. Masyarakat mendapatkan nilai moral dan pedoman hidup dari budaya dan warisan turun temurun”.

Apa yang dibutuhkan oleh wilayah ini menurutnya adalah negara sipil dan masyarakat agama. “Dengan kata lain negara tetap netral terhadap keyakinan beragama, sementara masyarakat menilai negara sebagai penjaga nilai-nilai keagamaan.”

“Kita perlu melindungi agama dari politik. Masyarakat dapat mengatur urusan keagamannya, sementara negara membantu mereka tanpa terlibat terlalu dalam kepada teologi atau teokrasi. Ini tentu bukan pemisahan agama dan negara. Ini adalah pemisahan fungsi kelembagaan : satu sebagai pemerintah dan satu lagi sebagai masyarakat.” jelasnya.

Sementara Mark Katz, pengajar ilmu politik dan pemerintahan di George Mason University, Virginia, AS, mengatakan bahwa angka-angka itu mengindikasikan bahwa masyarakat Arab masih melihat agama sebagai pembimbing mereka. Namun, mereka sekarang lebih skeptis perihal apakah pihak-pihak yang mengklaim dipandu oleh agama sebenarnya, atau apakah interpretasi agama pihak-pihak tersebut benar.

Survey yang dilakukan YouGov mengindikasikan adanya potensi sekularisasi di negara-negara responden, hal ini terbaca dari 37% responden terutama mereka yang tinggal di negara-negara yang relatif stabil dimana agama tidak menyatu dengan politik.

Beberapa negara dengan jumlah responden tertinggi mengatakan bahwa sekulerisasi akan memberi dampak negatif selama 10 tahun ke depan. Termasuk Aljazair, Mesir, Yordania, Kuwait, Libya, Qatar, Tunisia dan Yaman.

Namun, kombinasi 32% responden menyatakan netralitas pada sekulerasi dan menilai bahwa sekulerisasi punya dampak positif untuk 10 tahun ke depan. “Mereka memikirkannya secara positif, dan menariknya respon ini datang dari studi kasus di Irak dan Lebanon”, terangnya.

Ia melanjutkan, “Ini berita bagus untuk sekulerasasi yang selama ini selalu mendapat pandangan negatif. Ada 37% yang memandangnya secara positif karena kita sudah cukup dengan ekstrimisme.”

Sementara menurut Dr. Abdullah angka-angka tersebut mungkin merupakan cerminan dunia yang berubah dimana kemajemukan disambut secara terbuka. “Kita perlu melupakan persepsi negatif tentang sekularisme. Di Eropa, di Barat, Jepang dan Korea Selatan, sekularisme telah menjelma sebagai pilar kemajuan, kemakmuran dan stabilitas.”

Dr. Abdullah melihat angka-angka itu sebagai indikasi adanya perubahan persepsi negatif masyarakat Arab terhadap sekularisasi yang berlangsung selama beberapa dekade belakangan.

Sementara Nadim Shahedi, seorang koresponden dari Chatham House mengungkapkan bahwa di negara-negara regional dimana sekularisme diberlakukan, memiliki tingkat ekstrimisme agama yang paling besar.

“Dari 1920-an hingga 1940-an, ada masyarakat dan pemerintah liberal di Irak, Mesir, Suriah, dan di mana-mana,” katanya. “Dari akhir 1940-an dan awal 1950-an dan seterusnya, sekularisme brutal diberlakukan di negara-negara ini, semacam nasionalisme sekuler, termasuk partai Baath dan Nasserisme, dan pada waktu-waktu ini Anda melihat, secara historis, kebangkitan ekstremisme agama meningkat.”

Dia mengatakan negara-negara sekuler dan lembaga-lembaga yang menekan masyarakat religius akan menghasilkan ekstremisme, seperti yang telah terjadi di Turki yang pernah menjadi model sekularisme, tetapi sekarang kaum Islam-lah yang memegang kendali.

Namun, ia mengatakan bahwa sekularisasi berubah. Jika protes di wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara kita jadikan sebagai rujukan, “Ini hal yang baik secara keseluruhan,” katanya kepada Arab News.

“Ini adalah perubahan budaya yang mendalam dan perubahan generasi, meskipun saya tidak tahu ke mana arahnya. Tapi itu mengekspresikan ketidakpuasan terhadap keadaan saat ini. Fenomena ini mungkin mengarah kepada sesuatu yang lebih buruk. Tetapi, hanya waktu yang akan menjawabnya.” (WST/RS/arabnews)

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

fifteen + twenty =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.