Home Berita Timur Tengah Ada Pemerkosaan karena Cara Berpakaian Wanita, Al Azhar dan Mufti Mesir: Itu...

Ada Pemerkosaan karena Cara Berpakaian Wanita, Al Azhar dan Mufti Mesir: Itu Alasan yang Dibuat-buat

149
0
SHARE
Ilustrasi

Wasathiyyah.com, Kairo — Dua Otoritas Keagamaan Tertinggi Mesir mengutuk pelecehan seksual dan pemerkosaan terhadap lebih dari 50 wanita yang dilakukan oleh seorang pria bernama Ahmed Bassam Zaki (22).

Otoritas Masjid Al Azhar dan Mufti Mesir menolak tindakan “pembenaran” kekerasan seksual dan pemerkosaan dengan menyalahkan cara berpakaian wanita.

Menurut kedua pihak tersebut, adalah hal yang tidak benar jika menyalahkan cara berpakaian para wanita dan membenarkan tindakan keji kekerasan seksual dengan alasan tersebut.

Pada akhir pekan lalu, mereka mengatakan, para wanita tidak boleh disalahkan atas kejahatan pemerkosaan dan kekerasan seksual.

Pernyataan itu bersamaan dengan dilakukannya penangkapan terhadap pelaku kejahatan seksual pada Sabtu (4/7/2020).

Melansir dari The National pada Sabtu (5/7/2020), setelah ditangkap, Ahmed Bassam Zaki (Ahmed) langsung diinterogasi dan seketika menjadi pembicaraan nasional dalam sepekan.

Para korbannya kemudian menceritakan pengalaman kekerasan yang dilakukan oleh pria itu di media sosial, yang ternyata juga diduga melakukan pemerasan.

Dalam unggahan cerita dari beberapa korban di media sosial diceritakan juga bahwa ada dugaan pelaku akan pergi Spanyol untuk menghindari kasus.

Para korban juga telah dipanggil ke pengadilan untuk memberikan keterangan rinci dan tuntutan terhadap kejahatan yang dilakukan mahasiswa itu kepada mereka.

Kabar terakhir dari televisi MBC, pelaku kejahatan itu akan dikeluarkan dari Barcelona University, sementara disebutkan bahwa ayah pelaku pada Sabtu (4/7/2020) menyatakan bahwa anaknya tidak bersalah.

Pakaian wanita tidak bisa jadi alasan

Majalah lokal, Sawt Al Azhar, ikut memberikan dukungannya terhadap perjuangan para wanita dalam menegakan hukum untuk tindak pelecehan dan kekerasan seksual.

“Diam atau melihat ke arah sebaliknya, ketika kejahatan itu menjadi ancaman bagi keamanan masyarakat dan mendorong pelanggaran,” tulis majalah itu, yang mencerminkan pandangan dan kebijakan Otoritas Al Azhar.

Fatwa yang dikeluarkan Dar Ifta Mesir soal pelecehan seksual

Kemudian dituliskan bahwa pakaian wanita bisa menjadi obyek yang dipersalahkan dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual.

“Pakaian wanita, apa pun itu, bukanlah alasan untuk menyerang privasi, kebebasan, atau martabat mereka,” ujar pernyataan itu.

Sebuah pernyataan terpisah dari Al Azhar menyerukan dukungan mereka bagi para wanita yang menuntut keadilan terhadap pelaku kejahatan dan mendesak anggota masyarakat untuk proaktif dalam menyikapi pelecehan atau kekerasan seksual.

“Menjadi pasif terhadap pelecehan tidak dapat diterima. Pelaku harus dibuat untuk berhenti dan diserahkan kepada polisi,” kata pihak Al Azhar.

Otoritas Mufti yang menjadi acuan keagamaan negara itu menyebut bahwa pelecehan dan pemerkosaan adalah “dosa besar” dan menyerukan kepada pihak berwenang untuk menindak “tegas” terhadap para pelaku.

Mufti Mesir juga menolak gagasan bahwa akar pelecehan seksual dan pemerkosaan terletak pada cara berpakaian wanita.

“Itu adalah alasan yang dibuat-buat,” kata pihak Mufti. (WST/YN/kompas.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

10 + 19 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.