Home Berita Timur Tengah Syekh Azhar Komentari Klaim Sepihak Ethiopia Soal Nil

Syekh Azhar Komentari Klaim Sepihak Ethiopia Soal Nil

133
0
SHARE
Ahmad Al Tayeb

Jakarta — Syekh Al Azhar Al Sharif Prof. Dr. Ahmed Al-Tayeb mengomentasi klaim sepihak Ethiopia atas aliran Sungai Nil.

Pemerintah Ethiopia membangun megaproyek bendungan raksasa sungai Nil (Grand Ethiopia Renaissance Dam/GERD). Bangunan yang membendung sebagian Sungai Nil ini disengketakan tiga negara sekaligus, yakni Ethiopia, Mesir, dan Sudan.

Menurut Ahmad Tayeb, Pemerintah Ethiopia perlu menghormati hak historis masyarakat Mesir atas perairan Sungai Nil, yang merupakan urat nadi negara tersebut. Ia tetap menganjurkan perdamaian dan stabilitas dalam mengupayakan hak rakyat Mesir atas aliran air Sungai Nil.

Demikian disampaikan Syekh Azhar dalam jejaring media sosialnya yang dikutip wasathiyyah.com dari laman azhargraduates.org, Rabu (8/7/2020).

“Sungai Nil adalah jalur kehidupan Mesir, yang selalu dan terus menjadi pendukung perdamaian dan stabilitas untuk semua. Oleh karena itu, pembelaannya terhadap hak-hak rakyatnya untuk mendapatkan bagian airnya adalah tugas yang tak terbantahkan. Disamping menghormati hak Ethiopia untuk mengembangkan dan mengambil manfaat dari sungai, tetapi tidak ada yang bisa juga menyita hak historis rakyat Mesir terhadap perairan Nil ini,” ujarnya.

Ahmad Tayeb meminta komunitas Arab dan internasional mendukung upaya Pemerintah Mesir untuk mencapai solusi damai yang sesuai serta menjamin hak penuh atas airnya.

“Dalam masalah krusial ini, Sungai Nil akan selalu menjadi jalur kehidupan untuk kebaikan dan kedamaian,” harap mantan Rektor Universitas Al-Azhar ini.

Diketahui, Berdasarkan kesepakatan pada 1929 dan 1959 yang diteken antara Britania Raya sebagai kekuatan kolonial dan negara-negara di lembah Sungai Nil, Mesir berhak mendapatkan 55,5 miliar cm kubik air dari salah satu sungai terpanjang di dunia tersebut. Sementara itu Sudan mendapat bagian 18,5 miliar cm kubik, sedangkan Ethiopia tidak kebagian satu cm kubik pun.

Pada Mei 2010, lima negara hulu menandatangani perjanjian Cooperative Framework Agreement untuk mendapat bagian lebih besar. Ethiopia, Kenya, Uganda, Rwanda, dan Tanzania adalah 5 negara pertama yang meneken perjanjian itu, lalu disusul Burundi pada 2011.

Sungai Nil sendiri mengaliri 11 negara di Afrika, yakni Mesir, Ethiopia, Sudan, Uganda, Kenya, Tanzania, Burundi, Rwanda, Republik Demokratik Kongo, Eritrea, dan Sudan Selatan. (WST/YN/azhargraduates.org)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

19 − five =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.