Home Berita Internasional Pemuda Autis Palestina Tewas Ditembak Polisi Israel, Keluarga Sangat Terpukul

Pemuda Autis Palestina Tewas Ditembak Polisi Israel, Keluarga Sangat Terpukul

381
0
SHARE
Ibunda Iyad Hallak memeluk foto putera kesayangannya, pemuda autis Palestina yang tewas ditembak polisi Israel. (Gambar : arabnews)

Wasathiyyah.com, Yerusalem – Iyad Hallak, seorang pemuda Palestina berusia 32 tahun pengidap autisme, berjalan melintasi polisi Israel setiap hari untuk tiba di sekolah kebutuhan khusus di Kota Tua Yerusalem, pada Sabtu (30/05).

Saat itu, seorang polisi Israel meyakini bahwa Hallak bersenjata, kemudian menembaknya hingga tewas. Kematian Hallak meninggalkan kepiluan keluarganya dan memicu kemarahan yang meluas.

Ribuan pelayat berkumpul untuk pemakaman Hallak sementara media sosial ramai dengan tagar #PalestinianLivesMatter menggemakan kemarahan massa yang memiliki momentum yang sama dengan aksi protes massa terhadap kekerasan polisi dan rasisme di AS.

Hallak, berambut cokelat, bertubuh kekar dan berbahu lebar, terlihat sebagai sosok berperawakan mengesankan. Tetapi di balik fisiknya yang bugar, ia memiliki mental anak usia delapan tahun, menurut keluarganya yang berduka.

Hallak seorang lelaki yang sopan, menurut pamannya Oussama, Hallak adalah seorang yang senang berkebun yang antusias bersekolah.

Sabtu pagi di lingkungan Wadi El-Joz di Yerusalem Timur yang diduduki, ia menyeruput teh buatan ibunya, Rana, sebelum berangkat sekolah.

Rumah keluarga hanya berjarak 10 menit berjalan kaki dari Kota Tua, dan seperti biasanya Rana selalu menemani putra kesayangannya itu ke sekolah.

“Aku terus mengawasi di mana dia berada, kami selalu terkontak di WhatsApp,” ceritanya sembari mengenakan kerudung hitam, tangannya gemetar saat dia berbicara mengenang puteranya dalam suasana berkabung.

Pada Sabtu pagi, dia berjalan dengan gurunya menuju sekolah Elwyn Al-Quds, dekat dengan kompleks Masjid Al-Aqsa, ia telah belajar di sekolah itu selama enam tahun terakhir.

Tetapi ketika dia melangkah melalui lengkungan batu Gerbang Singa bersejarah Kota Tua, polisi menaruh curiga ketika dia meraih ponselnya di sakunya. Polisi itu mengatakan mereka yakin Hallak membawa senjata, mengingat serangan terhadap pasukan Israel relatif umum, dan memerintahkannya untuk berhenti. Tapi Hallak tampak panik.

Seorang juru bicara kepolisian mengatakan kepada AFP bahwa unit polisi yang berpatroli di sana melihat seorang tersangka dengan benda mencurigakan yang terlihat seperti pistol.

“Mereka memanggilnya untuk berhenti dan mulai mengejarnya dengan berjalan kaki. Selama pengejaran, petugas juga menembaki tersangka.”

Ayah Hallak, Kheiri, mengatakan kepada AFP bahwa, “Gurunya mengatakan kepada polisi bahwa dia berkebutuhan khusus dan meminta mereka untuk memeriksa identitasnya, tetapi mereka menjaga jarak dan menembaki Iyad.”

Hallak terbunuh dengan dua tembakan, menurut keluarga yang melihat tubuhnya pada hari Minggu setelah otopsi.

Orang tua Hallak, yang juga memiliki dua anak perempuan, saat ini menuntut penjelasan tentang kematian putra mereka, yang telah mereka rawat sekian lama dan melintasi jalanan secara damai melewati tempat di mana para polisi itu berjaga.

Polisi telah melakukan penyelidikan terhadap tersangka utama pelaku penembakan. Pengacaranya mengatakan bahwa kliennya mengira dia dalam bahaya nyata saat peristiwa terjadi.

Kerabat Hallak menuntut untuk melihat rekaman pembunuhan itu. Mereka menyadari bahwa Kota Tua dilindungi secara luas oleh kamera pengawas CCTV.

“Setiap pilar memiliki tiga kamera. Jika nyamuk lewat pun, mereka dapat melihatnya. Tapi mengapa mereka tidak memutar rekaman kejadian itu?” Ayah Hallak bertanya-tanya, sementara air mata menggenang di pelupuk matanya.

Gambar-gambar rekaman itu bisa menjadi bukti yang kuat sebagaimana rekaman ponsel yang merekam detik-detik kematian George Floyd, seorang pria kulit hitam tak bersenjata yang dibunuh oleh polisi di kota Minneapolis AS. Kematiannya telah memicu protes di seluruh Amerika bahkan hingga ke negara lain memprotes rasisme dan kekerasan polisi.

Kasus Hallak adalah tentang “pendudukan, bukan diskriminasi rasial,” kata kepala Daftar Bersama Arab-Israel, Ayman Odeh.

Ribuan orang turun ke jalan-jalan untuk mengantar pemakaman Hallak pada Minggu malam di Yerusalem Timur yang diduduki oleh Israel dalam Perang Enam Hari 1967 dan kemudian dianeksasi. (WST/RS/arabnews)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

1 × five =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.