Home Berita Internasional Potret Muslim dan Kristen Berbagi Tradisi Ramadhan di Kairo

Potret Muslim dan Kristen Berbagi Tradisi Ramadhan di Kairo

219
0
SHARE
Suasana buka puasa bersama di Distrik Mataria, Kairo. (Foto:akurat)

Wasathiyyah.com, Kairo – Umat Kristen di Kairo telah sejak lama berbagi tradisi bulan Ramadhan dengan tetangganya yang beragama Islam. Mereka terbiasa saling berbagi bahan makanan untuk berbuka puasa saat adzan Maghrib berkumandang.

Kawasan Shubra di Kairo memiliki sekitar 590.000 penduduk beragama Kristen menurut gubernur Kairo.

“Saya tidak makan di depan orang yang sedang berpuasa,” ungkap Yasmin Tadros, seorang Kristen, kepada Arab News. 

“Saya sudah diajari sejak kecil. Orang tua saya yang mengajari hal itu di rumah. Saya sudah terbiasa terlibat dalam banyak tradisi bulan Ramadhan bersama saudara-saudara saya yang muslim selama 20 tahun. Kami sudah terbiasa menyiapkan bahan makanan untuk berbuka puasa bersama di pinggir jalan. Kami sangat bahagia. Tapi, tahun ini karena ada wabah Corona, kami lebih berhati-hati,” cerita Yasmin.

Yasmin juga melanjutkan ceritanya bahwa teman-temannya yang muslim sejak dahulu pun terbiasa menghindari makanan dan minuman tertentu pada saat-saat bulan puasa umat Kristen.

Koeksistensi adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Mesir. Terutama di Shubra. Setiap bulan Ramadhan, dua komunitas agama sama-sama terlibat dalam tradisi Ramadhan dengan suka cita dan kasih sayang.

Magdy Aziz, pemilik sebuah toko grosir di Shubra Street, setiap Ramadhan menyumbangkan beras dan pasta untuk jamuan buka puasa bersama yang rutin diadakan di pinggir jalan dengan sebuah meja panjang.

Sedangkan tahun ini, dimana tradisi buka puasa bersama itu dilarang karena wabah Corona, Magdy tetap menyumbangkan beras dan pasta kepada warga miskin di Shubra.

“Saya melakukan hal itu benar-benar dari hati,” ungkap Magdy kapada Arab News. “Saya harap ada kebaikan yang dirasakan oleh semua orang, itu adalah cinta Tuhan,” pungkasnya.

Magdy mengungkapkan bahwa orang Mesir senang berbuat kebaikan dan saling terhubung satu sama lain di setiap kesempatan, terutama bulan Ramadhan. “Kadang saya menjual barang-barang di bulan Ramadhan setengah harga kepada semua orang.”

Magdy menceritakan bahwa hal ini sudah lama dia lakukan. Dan, setiap kali dia memberikan sumbangan atau memberikan diskon harga di tokonya, dia tidak pernah mengungkit bahwa ini sumbangan dari non-muslim untuk warga muslim, atau dari yang tidak puasa kepada yang puasa. Dia tak pernah menyinggung itu karena memang merasa tidak perlu. Semua berjalan alamiah begitu saja.

Grages Hanna, seorang akuntan yang tinggal di Shubra bercerita bahwa dirinya sudah terbiasa untuk menahan diri dari makan dan minum saat berada dengan teman-teman muslimnya saat bulan Ramadhan. Dan, diapun dapat merasakan syahdunya getaran Ramadhan terutama ketika adzan Maghrib berkumandang. Ia selalu bahagia menyaksikan orang-orang saling berbagi makanan dan minuman untuk berbuka.

Kepada Arab News Hanna mengungkapkan bahwa saat di kantor pun dirinya selalu berupaya bertukar sift sebanyak mungkin dengan rekan kerjanya yang muslim yang tidak bisa bekerja dengan kapasitas penuh karena sedang berpuasa.

Pastor Rafiq Greish, juru bicara Gereja Katholik di Mesir mengatakan bahwa umat Koptik diperintahkan untuk selalu bersikap toleran terhadap umat Islam yang sedang berpuasa di bulan Ramadhan. Gereja senantiasa menekankan kepada umatnya untuk bisa menyesuaikan diri tidak makan dan minum di siang hari di hadapan umat Islam.

Pastor Rafiq meyakinkan bahwa sebenarnya umat Koptik sudah lama memiliki kesadaran akan hal itu. Hanya saja pihak Gereja rutin mengeluarkan instruksi sebagai pengingat.

Greish mengatakan bahwa gereja-gereja menyalurkan bahan makanan pokok kepada keluarga-keluarga kurang mampu. “Gereja ingin terlibat dalam tradisi bersama umat Islam selama bulan Ramadhan.”

Mahmoud Abdel Hay, warga Shubra, 80 tahun, menceritakan bahwa selama hidupnya ia belum pernah melihat perkelahian antara seorang Muslim dan seorang Kristen selama Ramadhan. Abdel Hay, mantan guru di Shubra Industrial School, mengatakan bahwa tetangganya yang Kristen biasanya mengundangnya untuk berbuka puasa setidaknya satu kali dalam satu bulan Ramadhan. Tetangganya itu meminta maaf karena tidak bisa mengundangnya untuk berbuka puasa akibat wabah Corona. (WST/RS/arabnews)

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

sixteen + eight =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.