Home Berita Internasional Mengenal Lebih Dekat Sang Guru Filsafat, Prof. Dr. Mahmud Hamdy Zaqzuq

Mengenal Lebih Dekat Sang Guru Filsafat, Prof. Dr. Mahmud Hamdy Zaqzuq

709
0
SHARE
Prof. Dr. Mahmud Hamdy Zaqzuq

Wasathiyyah.com, Kairo – Al Azhar Al Syarif mengumumkan wafatnya salah satu putera terbaiknya, Prof. Dr. Mahmud Hamdy Zaqzuq. Sang guru filsafat, pemikir, penulis produktif, pengajar dan menteri wakaf Mesir yang sebagian besar hidupnya diabdikan untuk ilmu pengetahuan. Beliau wafat pada Rabu, 1 April 2020, di Kairo pada usia 87 tahun.

Berikut ini biografi dari Prof. Dr. Mahmud Hamdy Zaqzuq, sang guru filsafat yang murid-muridnya sudah tersebar di berbagai negara, termasuk di Indonesia.

Biografi Prof. Dr. Mahmud Hamdy Zaqzuq

Diterjemahkan oleh: Muhammad Zainuddin Rz

Burung-burung berkicau, pepohonan menari, dedaunan melambai. Begitulah suasana bahagia di tengah terik siang hari itu tanggal 27 Desember 1933 M di Kampung Dhahrea, Distrik Syarbin, Provinsi Daqahlea menyambut kelahiran bayi mungil bernama Mahmud Hamdi Zaqzuq.

Tiada yang menyangka, bocah kecil itu akan terkenal namanya dari belahan Barat hingga Timur bumi. Pasalnya dia hanyalah anak yatim miskin. Ayahnya meninggal saat dia baru berusia tujuh tahun. Posisi pengasuh diambil alih oleh kakak kandungnya, Mutawalli Zaqzuq.

Kejeniusan Mahmud mulai nampak sejak belia dengan menghafal Al-Qur’an dan menjuari lomba tingkat nasional.

Mahmud mulai mengenyam pendidikan di Pesantren Al-Azhar Dimyath pada tahun ajaran 1946/1947 M. Selama menjadi siswa, ia sangat peka dan kritis dengan realita yang terjadi di sekitarnya, semua curahan hatinya tentang pengamatan permasalahan ia tumpah-ruahkan pada catatan harian. Kondisi negara kala itu memang tengah menghadapi fase-fase genting.

Para siswa Al-Azhar di Ibtida’i memiliki program-program unggulan, banyak dari mereka memiliki bakat, keahlian dan kecerdasan mengungkapkan perasaan dalam bentuk sya’ir. Sebagian berhasil menembuskan karya tulisnya di majalah ternama. Di antaranya Mahmud Zaqzuq yang menulis di Majalah Ar-Risālah tahun 1953 M dua artikel berjudul: “Al-Azhar dan Revolusi” dan “Iqtibāsdari Al-Qur’an”.

Tahun 1956 M, dia mulai memasuki bangku perkuliahan di Fakultas Bahasa Arab. Fakultas ini saat itu memiliki dua syu’bah: pertama, syu’bah Ilmu Bahasa dan Sastra. Kedua, syu’bah Ilmu-Ilmu Filsafat. Mahmud sendiri memilih jurusan kedua. Disana ia diajar langsung oleh seorang filosof besar Dr. Muhammad Al-Bahi.

Di luar jam belajar kuliah, Mahmud aktif mengikuti forum-forum yang diisi oleh para professor, sastrawan dan pujangga yang sering diadakan di beberapa universitas atau panggung di Kairo. Kairo saat itu terkenal dengan gudang para budayawan, penyair dan pemikir. Dia sering mendengar tokoh idolanya Abbas Al-Aqqod, Ahmad Husein Az-Zayyat dan penyair-penyair besar lainnya.

Pada tahun 1959 M, dia meraih gelar License dari Fakultas Bahasa Arab. Setahun berikutnya 1960 M, mendapatkan ijazah magister dan sertifikasi mengajar.

Perjalanan ke Jerman

Sejak lama, putera kampung ini menyimpan impian belajar di bawah Langit Eropa. Untuk mencapai impian ini, tentu dia harus memenuhi persyaratan menguasai bahasa Asing. Karena itu, sore harinya dia aktif mengikuti kegiatan ekstrakulikuler pelatihan bahasa Asing yang difasilitasi Al-Azhar mengajarkan Bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Indonesia, Urdu dan Bahasa Teluk.

Kekagumannya pada sang guru, Dr. Al-Bahi mendorongnya memilih belajar Bahasa Jerman yang dilatih langsung oleh native speaker. Dia bersungguh-sungguh dan tekun dalam kursus itu. Sehingga ketika diadakan seleksi lima orang untuk pertukaran mahasiswa ke Jerman, Mahmud terpilih menjadi yang terbaik dalam pemilihan itu. Dia pun berangkat menggenggam impiannya ke Jerman 14 Juni 1962 M bersama empat mahasiswa Al-Azhar Asy-Syarif lain.

Ini menyadarkan para pembaca semua betapa atensi para tokoh Al-Azhar dan fleksibelitasnya dalam mendorong pelajarnya untuk menambah bekal ilmu sebanyak-banyaknya ke belahan bumi manapun. Inilah Al-Azhar yang tidak pernah seharipun menutup diri dari mengkonservasikan warisan turats dan mengadopsi perkembangan-perkembangan zaman terbaru. Inilah salah satu faktor Al-Azhar tetap kokoh sebagai benteng pertahanan ilmu Islam.

Di Jerman, pertama kali Mahmud terdaftar di Marburg University. Tak lama kemudian, ia pindah ke Munich University, salah satu universitas ternama di Jerman. Disana ia mengambil konsentrasi Filsafat.

Sistem penilitian di sana, peneliti diperkenankan memilih sendiri dosen pembimbingnya. Maka Mahmud Zaqzuq memilih Prof. Reinhard Laut. Sang professor mengusulkan proyek penelitian “Metode Skeptisme oleh Rene Descartes dan Al-Ghozali” untuk tema disertasi. Dia setuju menggarap tema itu dan menjalin kesepakatan dengan penguji.

Karena Mahmud harus banyak merujuk pada karya-karya Al-Ghozali pada risetnya, sedangkan Prof. Reinhald tidak mengerti bahasa Arab, maka ia menyerahkan kepada Prof. Anton Butler, seorang orientalis kawakan sebagai pembimbing tambahan.

Dr. Zaqzuq akhirnya berhasil meraih gelar P.Hd pada Juli 1986 M dengan predikat Sangat Baik.

Dr. Zaqzuq dalam Menghadapi Isu Kenegaraan di Barat

Setelah Jerman mendeklarasikan dukungan untuk Israel tahun 1964 M, hubungan diplomasi anatar Mesir dan Jerman memburuk. Di Munich terdapat Forum Studi Komunitas Pelajar Arab. Saat itu, Dr. Zaqzuq dan Dr. Mahmud Fahmi Hijazi menerjemahkan artikel milik Haikal yang dipublish oleh Al-Ahram berjudul “bi shorāhah”.

Artikel ini berbicara blak-blakan soal hubungan antara Mesir dan Jerman. Forum Studi ini tak hanya berorientasi di bindang pendidikan, juga politik dan sosial. Walaupun kondisi demikian, pemerintahan Jerman tidak memutuskan beasiswa untuk pelajar Arab.

Come-Back ke Mesir: Jihad Ilmu dan Pena

Sebelum berangkat ke Jerman, Dr. Zaqzuz telah diterima bekerja di bagian Pusat Pengembangan Peradaban Islam di Majma’ Al-Buhūts Al-Islamiyyah. Sepulangnya dari jihad ilmiah di Jerman, dia mendapatkan jabatannya dimutasi sebagai pengajar di Madrasah Ibtidaiyah. Namun dengan kebijakan Syaikh Abdul Halim Mahmud, dia dikembalikan sebagai pegawai di Majma’ Al-Buhūts walau hanya magang yang tidak memiliki pekerjaan pasti.

Padahal kalau menetap di Jerman, prospek kariernya cukup prestisius sebagai dosen di Jurusan Orientaslisme, namun jiwa nasionalisme mendorongnya memilih kembali ke Tanah Air.

Tahun 1969 M, Fakultas Ushuluddin Al-Azhar Kairo dan Fakultas Dār Al-‘Ulūm mengumumkan pembukaan lowongan untuk dosen filsafat. Dia mendaftarkan diri dan diterima di kedua Fakultas itu. Dengan arahan gurunya Dr. Al-Bahi, beliau mengurungkan kesepakatan dengan Dār Al-‘Ulūm untuk fokus mengajar di Universitas Al-Azhar.

Tahun 1972 dipinjamkan ke Libia sebagai pengajar di Tripoli University, disana menetap empat tahun lalu kembali ke Mesir.

Tahun 1980 lagi-lagi dipinjamkan ke Qatar, di sana ditetapkan sebagai wakil dekan Fakultas Syari’ah. Setelah kontraknya habis dan kembali ke negeri, tahun 1987 M ia ditetapkan sebagai dekan Fakultas Ushuluddin Kairo berdasarkan hasil voting suara para Profesor.

Selama menjabat sebagai Dekan, beliau menaruh perhatian besar mengembangkan perpustakaan, merintis majalah ilmiah fakultas, beliau juga memanfaatkan para ilmuan pendatang dari Eropa untuk menyampaikan kuliah dan mengorek informasi dari para orientalis. Tak heran di masanya, banyak ilmuan berdatangan dari Jerman.

Tak lama kemudian, turun keputusan menaikkan jabatannya sebagai wakil rektor Universitas Al-Azhar cabang Banat. Dua bulan kemudian diangkat sebagai Menteri Wakaf Mesir.

Menjabat Menteri Agama

Dr. Mahmud Hamdi Zaqzuq bekerja sebagai menteri wakaf selama lima belas tahun sejak tahun 1996 M. Sebenarnya guru beliau Prof. Reinhald tidak senang dengan jabatan ini, karena menurutnya muridnya ini lebih layak dengan kesibukan akademis.

Namun Dr. Mahmud menyimpan misi besar untuk memperbaiki besar-besaran kementerian wakaf.

Misi ini terlihat berbuah positif selama beliau menjabat, antara lain:

1.        Memperbaiki pengurusan masjid dan memperindah arsitekturnya.

2.       Penertiban dakwah dengan menerapkan sertifikasi resmi para da’i yang diatur UU No. 238 Tahun 1996 M.

3.       Pengembangan diri para imam baik dari segi keilmuan maupun tunjangan.

a.       Dari segi keilmuan mengadakan pelatihan pengembangan Imam dengan diklat dan perkumpulan di bawah naungan kementerian. Untuk mendorong peningkatan imam ini, sang menteri membuat sistem kenaikan pangkat dengan empat tingkatan.

b.      Dari segi tunjangan, sang menteri mengupayakan kenaikan gaji imam. Pada 2007 setiap imam digaji 100 LE perbulan, tahun 2009 naik menjadi 200 LE dan tahun 2010 bertambah lagi menjadi 250 LE.

4.      Mengembangkan dana wakaf dengan mengivestasikannya.

5.       Meningkatkan kinerja Al-Majlīs Al-A’lā li Asy-Syu’ūn Al-Islāmiyyah sebagai mimbar keilmuan dan pemikiran. Semua programnya ini terealisasi dengan apik. Di antaranya dengan merangkul semua masjid swasta di bawah pengurusan kementerian wakaf sejumlah 6000 masjid dalam setahun.

6.       Menjaga masjid dari upaya pengrusakan dengan UU No. 113 Tahun 2008 M pelarangan demonstrasi di lantai dan emperan Masjid. Kala itu marak dilakukan demonstrasi sampai menginjak kesakralan Masjid dengan sepatu, termasuk Masjid Al-Azhar. Bahkan keadaan memarah sampai penyerangan kepada pribadi Grand Syaikh Imam Al-Akbar Muhammad Sayyid Thanthawi.

7.       Memperbaiki pengelolaan harta pembayaran diyat narapidana yang serig dijadikan sasaran empuk oleh orang-orang yang tidak takut kepada Allah.

8.       Membangun perpustakaan umum di Masjid-Masjid besar.

9.       Memberi perhatian besar pada aspek pendidikan dan keilmuan dengan memperbanyak pengadaan seminar-seminar keilmuan, lebih spesifiknya Kantor Urusan Tertinggi  Urusan Islam mengadakan lima belas konferensi besar pertahun bertema: Islam dan Masa Depan Peradaban, Demografi Islam Abad ke-25, Resolusi Peradaban sebagai Kebangkitan Dunia Islam, Islam dan Perubahan-Perubahan Zaman, Pembaharuan Pemikiran Islam, Meneguhkan Identitas Islam di Dunia yang Berubah-Ubah, Masa Depan Umat Islam, Toleransi dalam Kultur Islam, Problematika Dunia Islam Era Globalisasi dan Solusinya, Rekonstruksi Keamanan Sosial dalam Persefektif Islam, Pembaharuan Pemikiran Islam, Maqāshid asy-Syarī’ah al-Islamiyah, Isu-Isu terkini dan Sakralitas dalam Agama dan Sejarah.

10.     Menerbitkan banyak ensiklopedia besar yang disusun oleh para Ulama besar, di antaranya:

a.      Ensiklopedia Spisesial Al-Qur’an: 900 halaman.

b.      Ensiklopedia Ilmu Hadits: 1051 halaman.

c.      Ensiklopedia Tokoh-Tokoh Pemikir Islam: 1211 halaman.

d.      Ensiklopedia Peradaban: 983 halaman.

e.      Ensiklopedia Pengaturan Syari’at Islam: 783 halaman.

f.       Ensiklopedia Sekte-Sekte dan Madzhab-Madzhab di Dunia Islam: 886 halaman.

g.      Ensiklopedia Thasawuf Islam: 808 halaman.

h.      Ensiklopedia Filsafat Islam: 1054 halaman.

i.       Ensiklopedia Aqidah Islam; 1235.

11.     Kementerian saat itu melakukan langkah nyata menyebarkan pemahaman Islam yang lurus. Majlīs al-A’lā li Asy-Syu-ūn Al-Islāmiyah sebagai ujung tombak menerbitkan banyak proyek signifikan:

a.       Terjemahan Ma’na-Ma’na Al-Qur’an ke Bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, Spanyol, Indonesia dengan dibagi secara gratis.

b.      Buku berjudul “Klarifikasi Islam Menjawab Serangan-Serangan Para Promotor Keraguan”, dalam 670 halaman.

c.       Buku-buku saku tentang pelurusan pemahaman yang keliru, sepertiMembongkar Terorisme, Salaf dan Salafiyah, Cadar, Khitan dan lainnya.

Kementerian Agama di bawah kendalinya juga melakukan program unggulan di antaranya:

1.        Membeli saham pabrik pembuatan karpet masjid di Damanhur, menjadi pusat pemroduksian karpert-karpet dengan kualitas tinggi.

2.       Menginvestasikan dana wakaf dengan membeli 50.000 are lahan di Uwainah Timur (bagian Barat Daya Mesir) dikelola dengan baik dan memberi pemasukan besar.

3.       Membangun Nur Mubarok Egypt University of Islamic Culture di Kazakhstan seluas 6000 m2 di Kota Besar Almaty.

4.      Menyelesaikan Rumah Sakit khusus pengobatan para Da’i estafet dari menteri sebelum beliau masih batu-batu pondasi. Di masa itu, rumah sakit ini termasuk rumah sakit termewah di Mesir.

15 tahun menjabat bukan waktu singkat, namun beliau menyelesaikan tugasnya dengan tangan yang bersih dan jiwa suci tanpa tersentuh satu kasuspun.

Karya-Karya

Cendikiawan besar ini produktif menyusun karya-karya ilmiah. Adapun Karya berbahasa Arab terhitung mencapai 29 buah kitab:

1.       Tamhīd li al-Falsafah (Pengantar Ilmu Filsafat)

2.       Al-Manhaj Al-Falsafi baina Al-Ghozāli wa Dīkart (Metodologi Filosofis Persefektif Al-Ghozali dan Rene Descartes)

3.       Al-Istisyrāq wa al-Kholfiyyah al-Fikriyyah li Ash-Shirā’ Al-Hadhōri(Orientalisme dan Keterbelakanagan Pemikiran dalam Konteks Pergulatan Peradaban)

4.      Ad-Dīn wa Al-Hadhōroh (Agama dan Peradaban)

5.      Haqōiq Islāmiyah fī Muwājahati Hamalāt At-Tasykīk (Sikap Islam dalam Menghadapi Para Pembuat Keraguan)

6.      Dirāsat fī al-Falsafah al-Hadītsah (Studi Filsafat Modern)

7.      Madhkol fī al-Falsafah al-Islamiyyah(Pengantar Ilmu Filsafat Islam)

8.      Muqoddimah fi ‘Ilmi al-Akhlāq

9.      Muqoddimah fī al-Falsafah al-Islamiyyah

10.    Al-Islām fī Mir-āti al-Fikr al-Gharbiy(Islam dalam Kaca Mata Pemikiran Barat)

11.    Al-Islām fī ‘Ashri al-‘Aulamah (Islam di Era Globalisasi)

12.    Al-Hadhārah Farīdhah Islamiyyah

13.    Al-Islām wa Qadhāya al-Hiwār

14.    Al-Islām wa al-Gharb

15.    Humūm al-Ummah al-Islamiyyah

16.    Al-Insān wa Al-Qiyam fī At-Tashowwur Al-Islāmi

17.    Tsalāts Rosā-il fī al-ma’rifati li al-Imām Al-Ghozāli: Tahqīq wa Dirāsah

18.    Al-Islām fī Tashowwurāt al-Gharb

19.    Al-Islām wa Musykilāt al-Muslimīn fīAlmania

20.    Al-Islām wa Qadhāya al-‘Ashr

21.    min A’lām al-Fikr al-Islāmi al-Hadīts

22.    Al-Islām wa Qadhāya al-Insān

23.    Maqāshid asy-Syarī’ah al-Islāmiyyah

24.    Mafātih al-Hadhārah wa Tahaddiyyat al-‘Ashr

25.    Al-Fikr ad-Dīni wa Qadhāyā al-Ummah al-Islāmiyyah

26.    Al-Muslimūn fi Muftaraq ath-Thuruq

27.    Al-Fikr ad-Dīni wa Qadhāya al-‘Ashr

28.    Ad-Dīn li al-Hayāh

Karya dan Terjemahan dalam Bahasa Asing:

1.        Berbahasa Jerman ada empat kitab:

a.       Studi Perbandingan Aliran Filsafat Al-Ghozali dengan Aliran Filsafat Descartes

b.      Mengenal Islam

c.       Isu-Isu Tentang Islam

d.      Islam dan Perbincangan Aktual

2.       Buku-buku beliau yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris:

a.       Sikap Islam Menghadapi para Promotor Keraguan Agama

b.      Memahami Tujuan dalam Pensyari’atan dan Urgensi Pembaharuan

c.       Peran Islam dalam Mengembangkan Pemikiran Filsafat

d.      Relasi Kulturan Dunia Islam dan Barat

e.       Perdamaian dalam Kacamata Islam

3.       Buku-buku beliau yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Prancis:

a.       Sikap Islam Menghadapi para Promotor Keraguan Agama

b.      Dialog Muslim dan Kristiani

c.       Dialog Tematik bersama Paus Vatikan

4.      Terjemahan ke Bahasa Caucasus:

a.       Sikap Islam Menghadapi para Promotor Keraguan Agama

b.      Islam dan Isu-Isu Aktual

c.       Terjemahan ke Bahasa Rusia, Thailand, Spanyol dan Indonesia:Sikap Islam Menghadapi para Promotor Keraguan Agama

5.       Terjemahan ke Bahasa Turki dan Indonesia: Orientalisme dan Keterbelakanagan Pemikiran dalam Konteks Pergulatan Peradaban

6.       Terjemahan ke Bahasa Bosnia: Studi Perbandingan Aliran Filsafat Al-Ghazali dengan Filsafat Descartes.

Selain itu, beliau juga mengalih-bahasakan buku berbahasa Jerman ke Bahasa Arab, di antaranya:

a.       Buku Pengantar Pemikiran Filsafat karya Buchinsky

b.      Tim Penerjemah kitab Sejarah Sastra Arab karya Bruckelman.

Penghargaan-Penghargaan

Dr. Zaqzuq dianugerahi banyak penghargaan atas berbagai prestasi gemilangnya, di antaranya:

1.       Penghargaan Negara atas jasa dalam Ilmu Sosial: 1997 M

2.       Bintang kehormatan dari Republik Jerman

3.       Bintang kehormatan Nomor 1 atas konstribusi pengembangan ilmu dan skill: 2014 M

4.      Penghargaan Internasional dari Presiden Tunis atas Konstribusi dalam Ilmu-Ilmu Islam: 2003 M.

Tergabung dalam kenggotaan di berbagai lembaga-lembaga keilmuan, di antaranya:

1.       Anggota Pusat Riset Islami

2.       Anggota Dewan Ulama Senior Al-Azhar Asy-Syarif

3.       Anggota Majelis Cendikiawan Muslimin

4.       Ketua Ikatan Filsafat selama 20 tahunan sampai sekarang

5.       Anggota Lembaga Intelektual Mesir

6.       Anggota Ikatan Penulis Mesir

7.       Anggota Pembina Akademi Eropa dalam pengembangan Ilmu dan Skill di Salzburg, Austria.

Dr. Zaqzuq memiliki banyak jam terbang menyampaikan kuliah di forum-forum keilmuan dan wawasan di kota-kota Eropa. Sampai sekarang konstribusi untuk umat tetap deras. Semoga Allah selalu memberikan kesehatan dan memanjangkan umurnya.

* Sumber: Biografi Prof. Dr, Mahmud Hamdi Zaqzuq oleh Prof. Dr. Ibrahim Hud Hud

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

fifteen − 11 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.