Home Berita Nasional Ulil Harap Agen Moderasi Harus Berani Tampil di Medsos

Ulil Harap Agen Moderasi Harus Berani Tampil di Medsos

132
0
SHARE
Ulil Absar Abdallah (tengah, depan) usai menjadi narasumber pada Pendidikan Instruktur Nasonal Moderasi Beragama (PIN-MB) di Ciputat. Acara yang diikuti dosen dan mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) ini berlangsung empat hari, 27-31 Desember 2019.

Wasathiyyah.com, Tangerang — Islam di berbagai belahan dunia sedang mengalami perubahan dan tantangan yang sangat serius seiring dengan menggejalanya revolusi digital. Cara beragama masyarakat kini mengalami perubahan luar biasa, yang tidak terprediksi sebelumnya.

Pesan ini diingatkan oleh intelektual muda NU Ulil Abshar Abdalla saat menjadi narasumber pada Pendidikan Instruktur Nasonal Moderasi Beragama (PIN-MB) di Ciputat. Acara yang diikuti dosen dan mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) ini berlangsung empat hari, 27-31 Desember 2019.

PIN-MB digelar oleh Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama. “Di era digital banyak orang yang merasa menjadi ahli agama, padahal baru membaca sedikit informasi. Meski begitu mereka berani tampil membuat konten-konten digital yang mempengaruhi publik. Banyak masyarakat yang belum bisa memfilter informasi sehingga mudah terpengaruh,” papar Ulil di Ciputat, Tangerang Selatan, Senin (30/12/2019).

Menyampaikan materi “Agama dan Beragama di Era Digital”, Gus Ulil memetakan dampak era digital terhadap cara beragama masyarakat. Salah satu yang paling terasa adalah runtuhnya otoritas keagamaan, pudarnya afiliasi terhadap lembaga kegamaan, menguatnya individualisme.

Selain itu, lanjut Ulil, pluralisme juga berubah menjadi tribalisme dan muncul gejala “tinkering”, yaitu: gejala mengutak-ngatik agama tapi tanpa dibekali dengan kompetensi.

Karena itu, Gus Ulil mendorong agar dosen, para cendekiawan, dan agen moderasi, terlebih yang memiliki latar belakang santri untuk tidak ragu tampil membuat konten di media sosial. Agen moderasi harus ikut berkompetisi dalam membentuk ruang ketokohan dan tidak ragu berani menonjolkan diri (asertif).

“Selama ini yang saya lihat santri masih terbelenggu dengan budaya tawadhu. Dalam konteks saat ini perlu ditinjau ulang,” katanya.

“Masyarakat harus diajak kembali untuk merujuk ulama-ulama yang kompeten sebagai sumber rujukan dalam beragama dan menghormati institusi kegamaan yang sudah teruji,” sambungnya.

Namun demikian, Gus Ulil tetap mewanti-wanti agar dalam bergaul di dunia maya, tetap mengedepankan etika dan akhlak.

“Jangan mengolok-olok pihak lain, termasuk tokoh-tokohnya. Meskipun berbeda pandangan harus tetap memberikan penghormatan. Misalnya jika oleh jemaahnya dipanggil dengan habib, kita harus memanggilnya dengan panggilan tersebut. Itu bagian dari etika,” tukasnya. (WST/YN/kemenag.go.id)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

four × four =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.