Home Berita Nasional SBY dan Prabowo Jadi King Maker TGB?

SBY dan Prabowo Jadi King Maker TGB?

1128
3
SHARE

Oleh: Udo Yamin Majdi

Saya sepakat dengan opini Tony Rosyid, bahwa Prabowo dan SBY sebaiknya mengikuti langkah Mahathir dan Anwar Ibrahim di Malaysia. Mengubur masa lalu, dan menatap kedepan demi bangsa. Menanggalkan ego partai dan bersama-sama melawan incumbent yang dianggap oleh sebagian rakyat harus dipensiunkan di 2019.

Menurut Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa itu, bertemunya dua jenderal ini, untuk berkoalisi. Gerindra-Demokrat. 73 kursi dan 61 kursi. Lebih dari cukup untuk usung capres-cawapres. Apalagi jika ditambah PKS 40 kursi dan PAN 49 kursi. Total 223.

Menurutnya, Gerindra usung Prabowo, Demokrat ragu. Gak ketemu negonya. Setidaknya hingga hari ini. SBY punya kalkulasinya sendiri. Nego terus dijajagi. Tapi tak mudah merubah pendirian SBY.

“Jika Gerindra tak dapat dukungan Demokrat, Gerindra harus merayu kembali PKS atau PAN. Atau dua-duanya. Tapi, terlalu mahal harga negosiasinya. Kedua partai itu minta cawapres. Di PKS ada Ahmad Heryawan dan Anis Matta, di PAN ada Zulkifli Hasan. Gerindra berat menerima formasi ini. Kemungkinan akan mentok juga.” Tulis Tony.

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa jika sana-sini mentok, Prabowo gak dapat tiket. Kursi Gerindra tak cukup untuk nyapres. Tak ada alasan bagi Gerindra kecuali merelakan Prabowo beristirahat. Menemani kawan lamanya, SBY. Dua bapak bangsa ini jika bersatu akan jadi kekuatan luar biasa. Cukup berada di belakang layar. Jadi King Maker.

Dua jenderal berpengalaman dan berpengaruh ini, jika legowo dan berendah hati menyatukan idealismenya, akan menaikkan eskalasi kekuatan oposisi. Keduanya jadi King Maker.

Buat siapa?

Di sini saya berbeda pendapat dengan Tony, beliau berpendapat kalau mau menang, pasangan Anies Baswedan-AHY bisa jadi pilihan. Orang menyebutnya ABAH, Anies Baswedan-Agus Harimurti. Pasangan yang tidak saja ideal, tapi juga rasional untuk keadaan sekarang. PKS dan PAN dimungkinkan bisa menerima.

Sedangkan menurut saya, kalau ingin menang, sebaiknya pilihan itu jatuh pada Tuan Guru Bajang (TGB) dan Anies Baswedan, disingkat TUAN. Saya mengajukan pilihan ini dengan 7 alasan:

Pertama, pasangan TGB-Anies ini menunjukan bahwa bukan hanya Prabowo saja yang legowo siap menjadi king maker, melainkan SBY juga. Prabowo merelakan pencapresannya diberikan kepada Anies, sedangkan SBY berlapang dada mengalihkan dukungannya dari Agus Harimurti (AHY) kepada Tuan Guru Bajang (TGB).

SBY harus menerima kenyataan bahwa berdasarkan rilis dari beberapa lembaga survei bahwa populeritas, elektabilitas, dan akseptabilitas TGB jauh lebih tinggi dibandingkan AHY.

Kedua, TGB dibutuhkan untuk menghentikan polarisasi antara dua kubu: Jokowi dan Probowo. Sudah saat ini anak bangsa ini move on dari dua kubu tersebut, dan TGB relatif diterima oleh dua kubu ini. Bukti bahwa TGB ini diterima oleh kelompok Jokowi, hasil rilis LSI Deny JA, bahwa TGB adalah cawapres terkuat menemani Jokowi. Sedangkan TGB diterima oleh kubu Prabowo, bisa kita lihat ‘rekam digital’ pernyataan Prabowo bahwa beliau mengagumi TGB.

Ketiga, PKS dan PAN, akan mengikuti kerendahan hati Prabowo-SBY lebih mendahulukan kemaslahatan masa depan bangsa dan umat dibandingkan kepentingan partai dan kepentingan politik 2019.

Masyarakat dan umat akan semakin simpati kepada PKS, jika partai dakwah ini mengulangi kembali kenegarawananya seperti yang terjadi di Pilgub Jakarta, merelekana kadernya tidak maju dan mendukung Anies-Sandy, demi kemaslahatan bersama melawan Ahok.

Begitu juga PAN, terlihat keberpihakannya, dari pernyataan Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, bahwa TGB cocok jadi capres. Bahkan, dua hari lalu, Sekjen PAN Eddy Soeparno bahwa PAN membuka peluang bagi TGB untuk menjadi capres 2019.

Keempat, masih hangat di benak kita, kemaren (Selasa, 29/05/2018) Rapat Koordinasi Nasional Persaudaraan Alumni (Rakornas-PA) 212 merekomendasi 5 bakal capres dan salah satu nama yang terjaring adalah TGB.

Kita tidak bisa meremehkan gerakan dan alumni 212. Betul, yang hadir di Monas itu sekitar 7 juta orang. Namun, di belakang 7 juta itu, ada puluhan bahkan mungkin ratus juta lainnya.

Mengapa?

Berdasarkan survei kecil-kecil saya terhadap keluarga yang hadir dalam gerakan 212, ketika ada seorang teman yang sendirian hadir bersama rombongan, ternyata isteri, anak-anaknya, mertua, dan karib kerabatnya juga mendukung gerakan 212.

Bahkan saya mendatangi beberapa pesantren, ada tiga pesantren yang diasuh oleh ustadz penggerak 212, dan ketika saya tanya berapa jumlah muridnya, masing-masing berjumlah 10.000 orang. Lumrahnya, ketika ortu/wali menitipkan anaknya di pesantren, mereka percaya betul dengan arahan pimpinan pesantren. Nah, kalau ada 1.000 ustadz yang hadir dan mereka memiliki santri atau jamaah 10.000, maka berapakah jumlahnya?

Kelima, itu dukungan dari para ulama, belum dukungan dari masyarakat bawah. Misalnya, alumni Al-Azhar Mesir. Disinyalir, jumlah alumni Azhar ada sekitar 30.000 orang. Mereka mayoritas berkhidmah di masyarakat langsung, baik mengasuh pesantren, membina majelis taklim, mengelola jama’ah haji dan umrah, dan simpul-simpul lainnya.

TGB bukan sekedar alumni Azhar Mesir, melainkan juga sebagai Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) cabang Indonesia, meskipun secara organisatoris OIAA tidak terjun dalam politik praktis, namun para alumni Azhar Mesir di seluruh Indonesia telah sepakat menjadi relawan TGB.

Itu baru satu alumni. Belum dari alumni lainnya, misalnya dukungan dari alumni ITB. Ditambah, banyak sekali masyarakat lintas agama, lintas daerah, lintas profesi, dan seterusnya, mendeklarasikan diri menjadi relawan TGB. Ada BARET, ada TGBest, ada Saya TGB, ada sahabat TGB, aktivis pro TGB, dan yang lainnya.

Kelima, TGB dan Anies, dua sosoknya me-nusantara: nasionalis dan islamis. Selama ini ada yang membenturkan antara nasionalisme dan keislaman. Di dua pemimpinan muda ini, masalah ini sudah terselesaikan. Mereka berdua, tidak lagi membenturkan dua hal itu, melainkan menyatukannnya untuk membangun bangsa ini menjadi lebih baik.

Keenam, keduanya, TGB-Anies pengalaman yang sama menjadi gubernur, memiliki integritas, kredibilitas dan kapabilitas, dan bisa saling melengkapi, satu alumni Timur Tengah dan satu alumni Barat.

Dan terakhir, ketujuh, apabila pasangan TGB-Anies ini terjadi, maka menurut saya, poros ketiga tidak akan muncul.

Kehadiran poros ketiga ini, memang debatable, bagaikan dua mata pisau, bisa menguatkan atau sebaliknya melemahkan incumbent, sebab suara masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim akan terbelah.

Berbeda jika pasangan TGB-Anies maju, maka suara mayoritas umat Islam itu akan terkumpul kepada keduanya.

Yang namanya politik selalu dinamis, apakah pasangan TGB-Anies ini akan terwujud atau tidaknya, maka jawabannya wallahu a’lam.

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eighteen + one =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.