Home Berita Nasional Ternyata Adzan Bukan untuk Panggilan Shalat Saja

Ternyata Adzan Bukan untuk Panggilan Shalat Saja

148
0
SHARE

Wasathiyyah.com, Jakarta – Adzan selama ini selalu dikumandangkan di waktu shalat. Fungsinya untuk menyerukan kepada segenap umat Muslim untuk menunaikan shalat wajib. Namun apakah adzan dalam Islam dikumandangkan khusus hanya untuk shalat lima waktu?

Direktur Aswaja Center PWNU Jawa Timur, KH Ma’ruf Khozin, menjelaskan azan tidak hanya untuk memberi tahu waktu shalat. Ada beberapa riwayat hadis yang menunjukkan adzan dilakukan di waktu selain shalat.

Pertama, saat ada yang kerasukan setan. Dalilnya ialah hadis “Jika ada yang kerasukan jin atau setan maka kumandangkanlah adzan”.

Al-Hafiz al-Suyuthi memaparkan, hadis tersebut diriwayatkan an-Nasai dalam Sunan al-Kubra (No 10791) dan Abu Ya’la (No  2219). Kemudian, kitab Jami’ al-Hadis (14/279) karangan al-Hafiz al-Haitsami menguatkannya, bahwa para perawi dalam hadis itu adalah perawi hadis sahih.

Kedua, Kiai Khozin mengungkapkan, adzan juga dikumandangkan pada saat kesusahan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan al-Dailami, disebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib menyampaikan tentang Nabi Muhammad SAW yang melihat dirinya bersedih. Kemudian Nabi SAW meminta agar adzan dikumandangkan di telinga Ali bin Abi Thalib. “Suruh sebagian keluargamu azan di telingamu. Sebab itu obat bagi rasa sedih,” kata Nabi bersabda.

Ketiga, lanjut Kiai Khozin, Adzan juga dikumandangkan saat lahir bayi. Dalam hadis yang diriwayatkan Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi dari jalur Abu Rofi’, disebutkan, bahwa Abu Rofi’ melihat Rasulullah mengadzankan Hasan bin Ali dengan Adzan shalat, ketika Fatimah melahirkan. Hadis tersebut dinilai hasan shahih, sedangkan ulama Salafi menilainya dengan hasan sebagaimana dijelaskan dalam Irwa’ al-Ghalil (4/400).

Terhadap hadis tersebut, ulama Syafi’iyah melakukan ijtihad dengan metode qiyas, seperti diungkapkan dalam kitab Tuhfah al-Muhtaj (5/51). Kitab ini menjelaskan, bahwa terkadang dianjurkan adzan untuk selain salat.

Misalnya di telinga bayi yang lahir, orang susah, orang pingsan, orang marah, yang buruk perilakunya baik manusia atau hewan, ketika ada desakan pasukan, dan ketika tenggelam.

“Ada yang mengatakan ketika mayit diturunkan ke kubur, diqiyaskan dengan pertama kali lahir di dunia, namun saya membantahnya dalam kitab Syarah Ubab. Juga ketika kerasukan jin, berdasarkan hadis sahih. Demikian halnya azan dan iqamah di belakang musafir,” demikian penjelasan dalam Tuhfah al-Muhtaj (5/51).

Kiai Khozin menjelaskan, Ali bin Husain al-Ishabi (577-657 H), Abu Hasan, ahli fikih, ahli usul fikih, yang berkebangsaan Yaman, adalah yang pertama kali menganjurkan adzan terhadap orang yang memasukkan mayit ke liang lahat. Ini termaktub dalam kitab al-A’lam (4/280).

“Dari penjelasan Imam Ibnu Hajar al-Haitami sebenarnya kita tahu bahwa dalam internal Madzhab Syafiiyah ada perbedaan pendapat soal adzan ketika pemakaman ini,” tuturnya.

Bedanya, lanjut Kiai Khozin, dalam Mazhab Syafi’iyah hal itu diakui sebagai khilafiyah dalam ijtihad, karena memang ulamanya ahli ijtihad semua.

“Giliran ada golongan anti-mazhab dan tidak punya kapasitas ijtihad, tiba-tiba mereka mengatakan bahwa adzan ketika pemakaman tidak ada dalam syariat Islam,” ujarnya.

Kiai Khozin mengatakan, kalau hasil ijtihad dengan metode qiyas dianggap bukan bagian dari Islam, seharusnya batalkan juga ijtihad tentang zakat profesi karena tidak ada di zaman Nabi. “Juga jangan berzakat fitrah dengan beras karena diqiyaskan dengan kurma padahal Nabi mengeluarkan zakat fitrah dengan kurma. Dan masalah lain dalam perkembangan ijtihad,” tutur dia. (WST/RS/republika)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

2 × 2 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.