Home Berita Nasional MUI Jelaskan Protokol Pencegahan Corona untuk Salat Idul Adha

MUI Jelaskan Protokol Pencegahan Corona untuk Salat Idul Adha

33
0
SHARE

Wasathiyyah.com, Jakarta — Hari Raya Idul Adha atau 10 Dzulhijjah jatuh pada 31 Juli 2020. Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menerbitkan fatwa nomor 36 Tahun 2020 tentang Salat Idul Adha dan Penyembelihan Hewan Kurban saat Wabah COVID-19.

Fatwa disusun guna mencegah penularan virus corona. Dalam fatwa tersebut tertulis sejumlah ketentuan.
Misalnya mengenai ketentuan pelaksaan Salat Idul Adha. Protokol pencegahan corona Salat Idul Adha sama dengan Salat Idul Fitri pada masa pandemi virus corona.
Ketentuan itu salah satunya apabila di kawasan penyebaran virus corona sudah terkendali dengan ditandai angka penurunan, maka Salat Idul Adha boleh dilaksanakan dengan cara berjemaah di tanah lapang, masjid, musala, atau di tempat lain.
Salat Idul Adha boleh dilaksanakan di rumah dengan berjemaah bersama anggota keluarga apabila berada di kawasan penyebaran virus corona yang belum terkendali.
Pelaksaan Salat Idul Adha baik di rumah atau di masjid harus tetap melaksanakan protokol kesehatan untuk mencegah terjadinya penularan virus corona.
Selain Salat, MUI juga menjelaskan fatwa soal kurban, MUI menyebut ibadah kurban tak bisa diganti dengan uang atau barang, jika ada warga yang tetap melakukan, maka itu dianggap sebagai shadaqah.
Fatwa juga mengatur soal tata cara penyembelihan hewan kurban. Pelaksanaan tersebut harus memperhatikan protokol kesehatan dan sebisa mungkin meminimalisir keramaian di lokasi penyembelihan.
“Fatwa ini dibahas dan ditetapkan untuk memastikan pelaksanaan Salat Idul Adha dan ibadah kurban sesuai ajaran agama dan tetap menjaga keselamatan, menjaga protokol kesehatan agar tidak berpotensi menyebabkan penularan COVID-19,” ujar Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Ni’am Sholeh, Jumat (10/7).
Berikut Ketentuan Pelaksanaan Idul Adha di Kawasan COVID-19:
1. Jika umat Islam berada di kawasan COVID-19 yang sudah terkendali pada saat 10 Dzulhijjah , yang salah satunya ditandai dengan angka penularan menunjukkan kecenderungan menurun dan kebijakan pelonggaran aktivitas sosial yang memungkinkan terjadinya kerumunan berdasarkan ahli yang kredibel dan amanah, maka shalat Idul Adha dilaksanakan dengan cara berjamaah di tanah lapang, masjid, musala, atau tempat lain.
2. Jika umat Islam berada di kawasan terkendali atau kawasan yang bebas COVID-19 dan diyakini tidak terdapat penularan (seperti di kawasan pedesaan atau perumahan terbatas yang homogen, tidak ada yang terkena COVID-19, dan tidak ada keluar masuk orang), shalat Idul Adha dapat dilaksanakan dengan cara berjemaah di tanah lapang/masjid/musala/tempat lain.
3. Shalat Idul Adha boleh dilaksanakan di rumah dengan berjemaah bersama anggota keluarga atau secara sendiri (munfarid), terutama jika ia berada di kawasan penyebaran COVID-19 yang belum terkendali.
4. Pelaksanaan shalat Idul Adha, baik di masjid maupun di rumah harus tetap melaksanakan protokol kesehatan dan mencegah terjadinya potensi penularan. (WST/YN/kumparan.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.