Home Berita Nasional Tabligh Akbar TGB di Masjid Raya Bandung Dihadiri 15 ribu Orang

Tabligh Akbar TGB di Masjid Raya Bandung Dihadiri 15 ribu Orang

1684
0
SHARE

Wasathiyyah.com, Bandung –Setelah kemaren menjadi khatib Jum’at di Masjid Raya Bandung, hari ini Sabtu (26/01/2019), Tuan Guru Bajang (TGB) Dr. M. Zainul Majdi, MA. kembali ke masjid di Alun-Alun Bandung ini, mengisi acara Tabligh Akbar dalam acara Jawa Barat Bermunajat  yang diselenggarakan oleh  Arus Informasi Santri Jawa Barat (AIS Jabar).

Ketua panitia Ahmad Faruk melaporkan bahwa acara yang dihadiri oleh perwakilan DKM, Majelis Taklim, pimpinan pesantren dan santri se-Bandung Raya dengan jumlah 15.000 orang.

“Jumlah peserta yang tercatat di panitia saat ini sebanyak 15.000 orang,” kata Faruk setelah menyampaikan 3 tujuan acara: menolak politisasi masjid, menolak berita hoax dan menolak radikalisme-terorisme.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pun, dalam sambutannya, membahas hoax. Tahun 2018, kata Kang Emil, ada 5.000 hoax beredar di internet. Oleh sebab itu, masyarakat Jawa Barat harus melawan hoax.

Dulu masyarakat kekurangan informasi, kata Kang Emil, tapi sekarang informasi berlimpah, sehingga masyarakat harus bisa memilah dan memilih. Dalam hadis disebutkan bahwa berbicara baik atau diam, dalam kontek zaman sekarang harus memosting hal-hal yang positif atau menahan postingan berkonten negatif.

Lebih lanjut, Kang Emil, mengajak masyarakat Jawa Barat, terutama para generasi muda, untuk selalu tabayun atau chek and re-check setiap kali menerima informasi.

“Mudah-mudahan pulang dari sini, kita menjadi generasi yang suka tabayun atau chek and re-check, sebelum menyampaikan pesan berantai kepada orang lain,” kata Kang Emil di hadapan peserta yang kebanyakan santri dan santriwati.

Tak jauh berbeda, apa yang disampaikan oleh TGB dalam taushiyahnya. Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) cabang Indonesia ini, menegaskan bahwa setiapkali menerima berita harus diuji kebenarannya. Bahkan tidak setiap yang berita benar harus disampaikan kepada orang lain. Misalnya, berita tentang aib orang lain, ini tidak boleh disebar meskipun berita itu faktual.

“Tidak semua berita yang benar harus kita sampaikan, apabila tidak maslahat, atau penuh mudharat. Misalnya berita aib atau kekurangan seseorang,”ujar TGB sebelum mengakhiri nasehatnya. (YNF/WST)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

3 × 3 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.