Home Berita Nasional Konferensi Masjid Indonesia, Resolusi 2019 Menuju Sejuta Masjid Berdaya

Konferensi Masjid Indonesia, Resolusi 2019 Menuju Sejuta Masjid Berdaya

540
0
SHARE

Wasathiyyah.com, Jakarta–Menuju konsolidasi sejuta masjid berdaya di Indonesia, inilah tema yang diusung pada acara acara Konferensi Masjid Indonesia 2018 yang digelar oleh Jejaring Masjid Titik Cahaya (JMTC) pada hari Jum’at (21/12/2018) di Istora Senayan Jakarta.

Di hadapan lebih dari 2.000 peserta dari utusan 900 masjid di Indonesia itu, ketua JMTC Rendy Saputra menceritakan proses munculnya gagasan berdirinya JMTC yang berawal dari obrolan dengan Pimpinan Ponpes Modern Munzalan Mubarakan Pontianak Ustadz Lukmanulhaqim dan ternarasikan dalam status facebook berjudul “800.000 Titik Cahaya.”

Dalam tulisan viral di medsos itu, Rendy menyebutkan bahwa masjid di Indonesia ini ada sekitar 800.000 masjid. Tapi gedung masjid yang sangat banyak tersebut, hanya terpakai 5 jam perhari. Muncullah ide pemberdayaan masjid sebagai aset umat.

Visi besar –masjid berdaya: masjid yang mampu melayani jamaah dengan baik, mendidik dan membekali jamaah, dan menghadirkan kesejahteraan di lingkungan hidup kaum muslimin– itu, tak ada artinya tanpa aksi. Oleh sebab itu, atas saran Ustadz Lukmanulhaqim, supaya menyelenggarakan Konferensi Masjid Indonesia (KMI).

Tujuan utama dari acara KMI tersebut, untuk menyamakan vibrasi tekad dari seluruh masjid di Indonesia, sehingga gerakan ini menjadi bola salju, semakin lama semakin besar, dan muaranya adalah masjid berdaya.

“Walaupun angka seribu-dua ribu masjid masih jauh dari total jumlah masjid yang berjumlah delapan ratus ribu, insya Allah langkah kecil ini adalah awalan dari gelombang besar kemakmuran masjid yang membawa manfaat bagi ummat.” ujar Rendy yang juga penggerak Serikat Saudagar Nasional (SSN).

Selesai sambutan dari ketua JMTC itu, pembawa acara Nirwana Tawil mempersilahkan Nurhayati Bakat untuk naik panggung. Owner Wardah ini mendapat penghargaan sekaligus berbagi pengalaman. Perempuan asal Padang dan tamatan pesantren Diniyah Putri itu bercerita tentang suka-duka membangun bisnis kecantikan. Namun berkat kesabaran, akhirnya bisnis ini menjadi nomor satu di Indonesia.

“Ini semua adalah min fadhlillah.” Ujar Nurhayati Bakat.

Acara berikutnya, dari pendiri sekaligus pengasuh Pondok Modern Tazakka, KH. Anang Rikza Masyhadi MA.. Alumni Universitas al-Azhar yang memiliki slogan Waqf is my lifestyle ini berbagi tentang pemberdayaan masjid melalui wakaf.

Masjid-masjid di Indonesia, menurut Anang Rikza, belum maksimal dan optimal mengelola infaq dan zakat, apalagi wakaf. Padahal dari segi nominal, wakaf akan lebih banyak dibandingkan infaq dan zakat. Kebutuhan fisik atau pengembangan sarana-prasarana juga lebih banyak, dan ini alokasi wakaf.

Lebih lanjut, beliau menegaskan kalau wakaf ini terkelola dengan baik, maka cita-cita membangun Indonesia dari masjid bukan sesuatu hal yang sulit. Beliau juga menerangkan, termasuk pengelolaan wakaf dengan baik, dengan cara mempermudah orang untuk berwakaf dengan menggunakan teknologi. Terinspirasi dari kisah Nabi Sulaiman memindahkan istana Ratu Bilqis, menurutnya teknologi yang ditemukan manusia saat ini, secara prinsipil seperti orang sholeh yang memindahkan istana Ratu Bilqis dalam mata berkedip.

“Manfaatkan teknologi! Orang jahat aja menggunakan teknologi untuk berbuat jahat, lantas mengapa kita ingin berbuat baik tidak menggunakan teknologi, biar mempermudah orang berbuat baik?” Tanya alumni Pondok Modern Gontor dan aktivisi Muhammadiyah itu.

Acara semakin semarak ketika Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan Jogjakarta, Ustadz Muhammad Jazir ASP, berbagi ruh semangat Jogokariyan agar kemudian dapat terimplementasi di seluruh masjid di Indonesia. Beliau menceritakan kisah sukses Nabi Muhammad SAW membangun peradaban baru Madinah berawal dari tiga masjid, yaitu masjid Quba, masjid Nabawi dan masjid Bani Salamah.

Beliau juga memaparkan kisah para ulama menyebarkan Islam di Nusantara, bermula dari masjid. Tata ruang di seluruh wilayah Indonesia, titik nolnya adalah masjid. Tata ruang itu disebut catur gatra tunggal, empat gatra yang menyatu, yaitu pusat masjid, alun-alun, pusat pemerintah, dan pasar.

Dalam sebuah hadits, kata Ustadz Jazir, bahwa sebaik-sebaiknya tempat adalah masjid dan seburuk-buruknya tempat adalah pasar. Oleh sebab itu, ketika titik nol sebuah kota berpindah dari masjid ke pasar, maka ia akan menjadi kota terburuk di dunia. Sebab, kota dan masyarakatnya di bawah daulat pasar, tidak di bawah daulat masjid.

“Sejarah sudah membuktikan, bahwa peradaban itu lahir dari masjid. Ini bisa kita lihat, Yatsrib yang awalnya tidak beradab menjadi kota peradaban, dalam bahasa Arab, Madinah, ini berawal dari masjid. Madinah menjadi pusat cahaya, sehingga Madinah disebut Madinah al-munawwarah. Oleh sebab, itu kalau ingin mengelola masjid dengan baik, tirulah rasulullah, jangan tiru Jokokariyan, sebab kami pun belajar dari sirah nabawiyah.” Ujar Sang Legend Masjid Berdaya di Indonesia itu.

Sebelum sesi pertama selesai, pemberian “Penghargaan Saudagar Muslimah Inspiratif” kepada Suciati Saliman yang diwakilkan kepada putrinya. Beliau layak mendapatkan penghargaan sebab pengusaha muslimah yang memproduksi 100.000 ayam potong per hari ini telah sukses membangun masjid miniatur Masjid Nabawi.

Waktu ishoma tiba. Para peserta sholat Jum’at. Yang bertindak sebagai khatib, Ustadz Lukmanulhaqim. Dalam khutbahnya, beliau membahas tentang akhlaq nabi sebagai al-Quran berjalan. Bakda Jum’at, peserta makan siang.

Setelah itu, sesi kedua dimulai dengan presentasi dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan dilanjutkan dengan materi tentang pentingnya akuntabilitas Masjid guna menuju Masjid Berdaya dari Founder Institusi Akuntansi Masjid Indonesia, H. Ahmad Saekhu dan materi 9 Langkah Membangun Masjid Berdaya dari Rendy Saputra. Sesi kedua ini berakhir dengan presentasi dari Badan Wakaf Quran (BWQ dan kisah inspiratif dari pendiri Masjid Kapal Munzalan, Nurhasan.

Bakda Sholat Asar, puncak acara KMI, yaitu presentasi motivasi dari Ustadz Lukmanulhaqim. Sesi ini merupakan sesi internalisasi. Beberapa materi sebelumnya lebih kepada teknis, maka closingnya harus kembali kepada kalimat tauhid: laa ilaha illallah. Bukan how tapi why, bukan bagaimana mengurus masjid, melainkan mengapa mengurus masjid.

Alumni Gontor dan International Islamic University Malaysia itu berpesan agar resolusi 2019 adalah taubat “MSQ”, yaitu mengubah diri dengan cara mendekatkan diri ke masjid, sholat shubuh dan Quran. Menurutnya, tiga hal ini akan membuat perubahan diri para DKM sehingga menjadi penggerak dalam menuju sejuta Masjid Berdaya.

“Bapak-ibu, resolusi tahun 2019 ini, kita ganti kebiasaan, lebih fokus ke masjid, hidupkan sholat shubuh dan dekatkan diri dengan Quran.” Kata pemimpin Pondok Munzalan Mubarrakan berbasis Masjid itu. (WST/YNF)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

14 − 2 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.