Home Berita Nasional LBM PBNU : Pembaharuan Pemikiran Islam Mesti Sentuh Masalah Lingkungan

LBM PBNU : Pembaharuan Pemikiran Islam Mesti Sentuh Masalah Lingkungan

185
0
SHARE

Wasathiyyah.com, Jakarta – Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Cabang Indonesia, Institute Ilmu Al-Quran (IIQ), dan Pusat Studi Al-Quran (PSQ) menggelar seminar tentang Pembaruan Pemikiran Islam di di Aula Intitut Ilmu Alquran (IIQ), Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu (19/2).

Hadir sebagai salah satu pembicara pada seminar ini Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU), KH Abdul Moqsith Ghazali. Ia menekankan bahwa salah satu bidang yang perlu mendapat perhatian serius dari para ulama yang mengusung pembaharuan pemikiran Islam adalah persoalan lingkungan.

“Kita tahu sumber daya alam kita kan makin terbatas, energi fosil kita semakin berkurang,” kata dia usai menghadiri seminar bertajuk “Pembaruan Pemikiran Islam” di Institut Ilmu Al-Quran di Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu (19/2).

Karena itu pula, lanjut Moqsith, PBNU dalam Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) di Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang Kabupaten Rembang, Jawa Tengah pada Maret nanti akan bicara soal pemanfaatan sumber daya alam yang berkeadilan.

“Tidak boleh generasi sekarang menghabiskan seluruh sumber daya alam, sehingga bisa tersisa untuk generasi yang akan datang. Jadi itu yang harus bijaksana dalam eksploitasi penggunaan sumber daya alam dan juga energi,” tutur dia.

Pembaruan pemikiran Islam, terang Kiai Moqsith, harus diuji untuk kepentingan kemanusiaan. Menurut dia, tidak ada artinya pemikiran yang canggih secara akademik tetapi tidak berkontribusi terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

“Batu uji dari pembaruan itu saya kira tak hanya di mimbar akademik tapi juga diuji dalam aspek koherensi rasional dan empirik, seberapa jauh memberikan dampak kepada masyarakat,” ucap dia.

Pembaruan pemikiran ini perlu dilakukan di bidang-bidang yang memang membutuhkannya. “Tergantung kebutuhan, kalau tidak dibutuhkan ya tidak diperlukan. Misal menyangkut ibadah mahdhah itu tak perlu pembaruan. Contohnya shalat, kan rukuk-nya tetap harus ke depan jangan ke belakang,” tutur dia. (WST/RS/republika)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

sixteen − eleven =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.