Home Berita Nasional Rusak Kantor Pusat PII dan GPII, Polisi Diminta Stop Bertindak Represif

Rusak Kantor Pusat PII dan GPII, Polisi Diminta Stop Bertindak Represif

53
0
SHARE

Wasathiyyah.com, Jakarta – Demontrasi memprotes UU Omnibus Law sudah berlangsung beberapa hari di berbagai daerah termasuk di ibu kota, Jakarta. Terakhir, demontrasi berlangsung di Jakarta pada Selasa (13/10) dan berakhir dengan kericuhan.

Buntut dari kericuhan yang terjadi di sekitar bundaran Tugu Tani, Menteng, Jakarta Pusat, polisi melakukan penyisiran di sekitaran jalan Menteng dan salah satunya adalah kantor Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) dan sekretariat Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PB PII) yang beralamat di Jl. Menteng Raya 58 Jakarta Pusat.

Sayangnya tindakan yang diambil kepolisian terlampau represif sehingga menimbulkan kerusakan yang cukup berat di kantor dan sekretariat kedua organisasi tersebut.  Atas kejadian ini, baik pengurus PB PII maupun PP GPII sama-sama menyampaikan pernyataan keras mengecam tindakan aparat kepolisian yang membabi-buta.

“Kami dari Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam menyayangkan dan mengecam tindakan represif aparat kepolisian yang merusak kantor Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam (PP GPII) yang beralamat di JI. Menteng Raya Nomor. 58 Jakarta Pusat pada tanggal 13 Oktober 2020 pukul 21.30 malam hari,” demikian statemen PP GPII yang ditanda-tangani Ketua Umum Masri Ikoni dan Sekretaris Jenderal Ujang Rizwansyah, Selasa Malam (13/10).

Masri menyatakan pihaknya meminta Polri untuk mengevaluasi jajarannya karena tidak menjalankan protokol Polri dalam mengamankan aksi demontrasi. Ia juga meminta polisi segera melepaskan kader-kadernya yang ditangkap dalam peristiwa penyerangan aparat ke kantor PP GPII.

Senada dengan itu, Ketua Umum PB PII Husin Tasyrik Ma’ruf mengatakan, “Penyerangan Sekretariat Pelajar Islam Indonesia (PII) oleh pihak Kepolisian tidak seharusnya dilakukan oleh pihak kepolisian, terlebih dengan cara menggunakan cara yang represif. Dengan dalih apapun tindakan tersebut tidak dibenarkan, meskipun dengan dalih menindak masa yang berbuat kekerasan dan kerusuhan.”

Bahkan Husin menegaskan bahwa PB PII dan eselon di bawahnya tidak ada agenda demontrasi pada hari itu dan tidak ikut tergabung dalam demontrasi tersebut.

Husin pun mengecam keras tindakan aparat yang menangkap sepuluh orang kadernya yang saat itu sedang berada di sekretariat. Mereka diantaranya,

  1. Anja Hawari Fasya (Ketua Umum PW PII Jakarta)
  2. Moch Syafiq Lamenele (Ketua Umum PD PII Jakut)
  3. Miqdadul Haq (Bendum PD PII Jakut)
  4. Khaerul Hadad (Kastaff Teritorial Koorwil Brigade PII Jakarta)
  5. Lulu Bahijah Sungkar (Kastaff Adlog Koorwil Brigade PII Jakarta)
  6. Zaenal Abidin (Kader PII Jakut)
  7. Mahmud Saadi (Kabid PPO PW PII Jakarta)
  8. Agung Hidayat (Staff KU PW PII Jakarta)
  9. Asep Saefurrahman (PB PII)
  10. Julherman (PB PII)

(WST/RS/kanigoro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

9 − 1 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.