Home Berita Nasional Masih Soal WNI Mantan ISIS, MUI : Jangan Pukul Rata

Masih Soal WNI Mantan ISIS, MUI : Jangan Pukul Rata

137
0
SHARE
Kamp pengungsian Al-Hol di Hassakeh, Suriah yang menampung keluarga anggota militan ISIS. (Foto: Reuters)

Wasathiyyah.com, Jakarta – Polemik pemulangan WNI mantan ISIS masih mengemuka. Kemarin, Selasa (11/02) di Bogor, Menkopolhukam Mahfud MD menyatakan bahwa pemerintah tidak akan memulangkan WNI mantan ISIS demi memberi rasa aman kepada masyarakat Indonesia dari virus pemikiran ekstrimis dan terorisme.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) memberikan tanggapan atas polemik ini. Wakil Ketua MUI Muhyiddin Junaidi menuturkan, sebaiknya semua pihak tidak memukul rata tujuan WNI bergabung dengan ISIS.

“Terkadang mereka bergabung itu karena buku yang diterima itu salah atau tidak tahu apa yang sedang terjadi. Maka kita harus adil, jangan dipukul rata. Kalau anak-anak, masa kita larang (untuk pulang ke Indonesia),” kata dia di kantor MUI, Jakarta, Selasa (11/2).

Menurut Muhyiddin, jumlah WNI yang bergabung dengan ISIS itu masih lebih sedikit dibanding warga negara lain seperti Prancis dan Inggris yang bergabung ke ISIS.

Dia menambahkan, ISIS secara historis memang merupakan makhluk radikalis dan super-ekstremis yang dibentuk AS dan Israel.

“Jadi kita harus paham siapa mereka. Arsitek dan otak intelektualnya mereka. Program agenda kerja itu dari mereka. ISIS enggak pernah serang Israel. Tentara ISIS yang terluka dalam peperangan itu dapat pengobatan di Israel bukan di Saudi atau Libanon,” paparnya.

Oleh karena itu, Muhyidin memandang bahwa para WNI yang sudah terlanjur bergabung dengan ISIS tidak boleh dipukul rata. Bagi mereka yang memang ingin pulang tapi sudah terlanjur membakar paspor, itu boleh dipertimbangkan untuk dipulangkan namun tetap harus ada sanksi.

Muhyidin menambahkan bahwa ada di antara WNI yang berangkat ke sana itu karena ikut-ikutan atau karena tergiur dengan iming-iming uang yang jumlahnya fantastis.

“Kalau mereka yang enggak mau pulang itu lain lagi. Tapi bagi warga yang terpengaruh ikut-ikutan gabung karena mau dapat kerjaan atau dibohongi ya perlu kita tinjau lagi. Karena mungkin tergiur untuk mendapat uang lebih besar atau karena mungkin keterpaksaan,” ujar dia.

Muhyiddin mencontohkan sahabat Nabi Muhammad SAW yaitu Ali bin Abi Thalib yang memaafkan kelompok Khawarij padahal jelas mereka musuh utama.

“Jadi kalau mau menerima mereka, kita screening Anda mengapa ke sana. Sejauh mana loyalitas Anda kepada ISIS dan sebagainya. Mungkin kita perlu karantina, dan memberi pendampingan agar tidak berpikir radikal,” tambahnya.

“Menolak total pun tidak bagus karena tidak boleh kita menggeneralisasi. Kami yakin jumlah mereka itu minim, dibandingkan yang dari negara-negara lain,” tuturnya. (WST/RS/republika)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eight − eight =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.