Home Berita Nasional Ini Rekomendasi Hasil Ijtimak Ulama Alquran di Bandung

Ini Rekomendasi Hasil Ijtimak Ulama Alquran di Bandung

710
0
SHARE
Para peserta Ijtimak Ulama Alquran di Bandung

Wasathiyyah.com, Bandung — Ijtimak Ulama Alquran tingkat nasional yang diselenggarakan Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran (LPMQ) Kementerian Agama di Hotel El Royale, Bandung, Jawa Barat telah berakhir hari ini, Rabu (10/7/2019).

Acara yang digelar dari tanggal 8-10 Juli 2019 itu mengusung tema ‘Uji Sahih Terjemahan Al-Qur’an Edisi Penyempurnaan’.

Kegiatan tersebut menghasilkan sejumlah rekomendasi yang dibacakan salah seorang tim perumus kegiatan tersebut. Berikut isi rekomendasi Ijtimak Ulama Alquran di Bandung:

Ketetapan dan Rekomendasi Ijtimak Ulama Alquran Tingkat Nasional “Uji Sahih Terjemahan Al-Quran Edisi Penyempurnaan”

Bandung, 08-10 Juli 2019

Ijtimak Ulama Al-Qur’an Tingkat Nasional telah dilaksanakan selama tiga hari, dari tang¬gal 08 s.d. 10 Juli, di Hotel El Royale, Bandung, oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Badan Litbang dan Diklat, Kementerian Agama R.I. Ijtimak yang dibuka secara resmi oleh Menteri Agama R.I. ini mengusung tema “Uji Sahih Terjemahan Al-Qur’an Edisi Penyempurnaan” dan dihadiri oleh 110 peserta yang terdiri atas para ulama, pakar Al-Qur’an, pakar bahasa Indonesia, para saintis, akademisi, dan peneliti Al-Qur’an.

Setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dan dengan memperhatikan pengarahan Menteri Agama, Wakil Gubenur Jawa Barat, Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, dan para narasumber, serta menimbang pemikiran yang berkembang dari para peserta, Ijtimak Ulama Al-Qur’an menetapkan dan merekomendasikan hal-hal sebagai berikut:

Pertama, penyempurnaan terjemahan Al-Qur’an merupakan keniscayaan sebagai respons atas perkembangan dinamika persoalan umat dan bahasa Indonesia. Ada beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan dalam proses penyempurnaan ini, di antaranya:

1. Memperhatikan perkembangan dinamika dan kosakata Bahasa Indonesia.
2. Menjaga konsistensi dalam penerjemahan kata maupun kalimat Al-Qur’an, khususnya yang berpengaruh pada pemahaman ayat.
3. Mempertimbangkan karakteristik bahasa Al-Qur’an yang hammal zu wujuh (memiliki ragam makna/penafsiran) dengan memilih makna yang paling tepat sesuai dengan konteks kalimat atau konteks ayat.
4. Mengimplementasikan kaidah-kaidah tafsir dan bahasa Arab dalam penerjemahan.
5. Sedapat mungkin menghadirkan terjemahan Al-Qur’an yang ramah, khususnya terhadap penyandang disabilitas, gender, dan lain-lain.
6. Menambah subjudul dalam terjemahan Al-Qur’an edisi penyempurnaan untuk memudahkan masyarakat memahami tema-tema ayat Al-Qur’an.

Kedua, terjemahan Al-Qur’an memiliki keterbatasan-keterbatasan. Betapapun bagus dan sempurnanya, terjemahan Al-Qur’an tidak dapat sepenuhnya menghidangkan maksud Al-Qur’an secara utuh. Oleh karena itu, peserta Ijtimak mengimbau kepada masyarakat luas agar dalam memahami Al-Qur’an tidak hanya berpegang pada terjemahan Al-Qur’an, tetapi juga berpegang pada penjelasan ulama-ulama tafsir.

Ketiga, Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an perlu mempertimbangkan masukan dan saran para peserta ijtimak dalam penyempurnaan terjemahan Al-Qur’an sebelum diterbitkan.

Keempat, Kementerian Agama diharapkan terus berupaya meningkatkan pemahaman umat Islam terhadap kitab sucinya dengan menghadirkan terjemahan Al-Qur’an yang sahih dan mudah dipahami oleh masyarakat. Kehadiran terjemahan dan tafsir Al-Qur’an yang baik dan benar akan berkontribusi positif dalam memperkuat moderasi beragama di Indonesia.

Kelima, Kementerian Agama diharapkan terus berupaya melakukan terobosan-terobosan dalam menghidangkan pemahaman Al-Qur’an kepada masyarakat, seperti kajian terhadap tema-tema kealquranan yang aktual, penyusunan kamus istilah Al-Qur’an, dan penyampaian ajaran/ kandungan Al-Qur’an kepada generasi milenial dengan membuat film-film pendek yang menggambarkan kandungan ayat-ayat Al-Qur’an dengan pendekatan yang mudah diterima oleh generasi milenial. Diharapkan produk-produk yang dihasilkan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an ini bermanfaat dan dapat menjawab berbagai persoalan di tengah masyarakat.

Keenam, Kementerian Agama diharapkan menyediakan bahan-bahan bacaan tafsir dan ilmu-ilmu keislaman lainnya bagi para penyandang disabilitas.

Para peserta menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Kementerian Agama, dalam hal ini Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Badan Litbang dan Diklat, Kementerian Agama R.I. atas inisiasi penyelenggaraan Ijtimak yang membahas persoalan keagamaan, khususnya yang berkaitan dengan Al-Qur’an dan pemahamannya. Semoga segala kesungguhan yang telah dilakukan tercatat sebagai amal saleh di sisi Allah. Amin.

Bandung, 10 Juli 2019

Tim Perumus:
1. Dr. H. Muchlis M. Hanafi, M.A.
2. Prof. H. Dr. Rosihon Anwar, M.Ag.
3. Dr. H. Ali Nurdin, M.A.
4. Dr. H. Abbas Mansur Tamam, M.A.
5. H. Abdul Aziz Sidqi, M.A.
6. H. Deni Hudaeny AA., Lc., M.A.
7. Dr. Hj. Reflita, M.A.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eleven − 1 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.