Home Berita Nasional TGB Tak Setuju Anggapan Menjalankan Ibadah di Indonesia Sulit

TGB Tak Setuju Anggapan Menjalankan Ibadah di Indonesia Sulit

390
0
SHARE
Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi

Wasathiyyah.com, Solo — Ketua Organisasi Internasional Alumni Al Azhar (OIAA) Cabang Indonesia Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi tidak setuju dengan anggapan menjalankan ibadah di Indonesia merupakan suatu hal yang sulit.

“Terlebih bagi muslim, ya itu tidak benar,” kata dia menjadi pembicara utama (keynote speaker) diskusi dan bedah buku ‘Ulama Bertutur Tentang Jokowi, Jalinan Keislaman Keumatan dan Kebangsaan’ di The Sunan Hotel Solo, Jumat (1/2/2019).

Dalam acara yang digagas Asosiasi Industri Permebelan Kerajinan Indonesia (Asmindo) dan dihadiri ribuan orang itu, TGB menegaskan bahwa Islam sangat lapang sebagaimana berislam di Indonesia.

“Dalam Alquran ketika Allah menyifatkan dakwah dari Rasulullah, Islam yang rahmatan lil alamin,” terang dia.

Mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) itu menjelaskan, Indonesia membuka ruang seluas-luasnya untuk masyarakat menjalankan agamanya.

“Kita lihat masjid-masjid di Indonesia memiliki ruang gerak yang bebas kok untuk berdakwah,” ungkapnya.

“Jadi beragama di Indonesia ini adalah ruang yang paling luas dibanding tempat di manapun yang ada di atas bumi,” tuturnya.

Bahkan, kata TGB, dakwah di Indonesia bisa dilakukan dengan leluasa, hal ini berbeda dengan negara Islam di kawasan Arab.

“Di Indonesia, pengeras suara masjid dapat untuk berbagai kegiatan Islam (syiar pengajian),” aku dia.

“Tetapi di Arab Saudi pengeras suara masjid hanya untuk panggilan salat lima waktu,” bebernya.

Ketua Dewan Tanfidziyah Nahdlatul Wathan itu melanjutkan, adapun di Mesir dirinya tidak pernah menemukan suara pengeras masjid untuk pengajian dan tabligh akbar.

“Suara pengajian bisa kita dengar di Solo, di Jakarta, di Lombok dan wilayah lain di Indonesia,” jelasnya.

Dalam bedah buku karya Mukti Ali Qusyairi itu, juga dihadiri narasumber lain yakni KH Dian Nafi (Pengasuh Ponpes Al Muayad), Siti Ruhaini Dzuhayatin (Majelis Pendidikan Tinggi Muhammadiyah/Staf Khusus Bidang Keagamaan Internasional Kantor Staf Presiden) dan KH Imam Aziz (Ketua PB Nahdlatul Ulama).(WST/YN/Tribunnews)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

20 − 5 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.