Home Berita Nasional Bayt al-Quran, Kedutaan Mesir dan OIAA Indonesia Menggelar Seminar Radikalisme

Bayt al-Quran, Kedutaan Mesir dan OIAA Indonesia Menggelar Seminar Radikalisme

674
0
SHARE
Dampak Pemikiran Radikalisme dalam Masyarakat dan Cara Menangkalnya

Wasathiyyah.com, Tangerang—Pesantren Bayt al-Quran yang berada di bawah Pusat Studi Quran (PSQ) bekerjasama dengan Kedutaan Besar Republik Mesir di Jakarta dan Organisasi Internasional Alumni Azhar (OIAA) cabang Indonesia menggelar Seminar Ilmiyah dengan tema “Atsaru tathorufil fikri fil mujtama’aat wa kaifa natadarokuhu” (Dampak Pemikiran Radikalisme dalam Masyarakat dan Cara Menangkalnya), Jumat (4/1/2019) di Perum Villa Bukit Raya Pondok Cabe.

Lembaga studi yang didirikan oleh Prof. Dr. Quraish Shihab, MA. itu, memiliki 7 program dan salah satunya Bayt al-Quran, yaitu program pasca tahfizh bagi para penghapal Quran 30 juz. An-nadwah al-ilmiyah atau Seminar Ilmiyah tentang radilkalisme ini, sudah dua kali diselenggarakan di Bayt al-Quran.

“Acara ini, udah dua kali, kita selenggarkan di Bayt Al-Qur’an,” ungkap manager program sekaligus pengajar pasca tahfizh Pesantren Bayt Al-Quran PSQ, Muhammad Arifin, MA kepada Wasathiyyah.com di sela-sela perbincangan sebelum acara dimulai.

Dalam brosur yang disebar sebelum acara, seminar ini diisi oleh 3 orang, yaitu Syeikh Mahmud Abdul ‘Aziz ‘Ads, Syeikh Muhammad Al-Husaini Faroj dan Dr. Muchlis M. Hanafi, MA. Namun yang hadir hanya 2 utusan dari Universitas al-Azhar Mesir, sedangkan sekjen OIAA cabang Indonesia berhalangan, sebab ada acara di Kementerian Agama.

“Duktur Muchlis tidak bisa hadir, sebab ada kegialan lain di Kamenag,” kata Muhammad Arifin, MA. yang menjadi pembawa acara sekaligus penerjemah.

Seminar ini mendapat apresiasi positif dari pembicara pertama, Syeikh Muhammad Al-Husaini Faroj. Menurutnya,  acara ini memiliki 2 tujuan: pertama, memberitahu dunia luar bahwa pemikiran-pemikiran radikalisme, tindakan-tindakan kekerasan itu sebenarnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan agama Islam. Sekalipun dari kalangan Muslim ada yang melakukannya, tapi juga dari kalangan non-muslim juga ada. Kedua, kita juga ingin menyampaikan pesan kepada dunia luar atau masyarakat luas bahwa syariat Islam diturunkan oleh Allah SWT bukan hanya untuk kedamaian dan kepentingan pemeluk agama Islam saja, tapi bahkan juga untuk umat manusia secara keseluruhan.

“Saya mendukung penuh acara ini, sebab inilah momentum bagi kita memberitahu dunia luar bahwa Islam tidak mengajarkan kekerasan dan perdamaian tidak hanya untuk kaum Muslimin, melainkan untuk semua manusia.” Kata Syaikh asal Mesir itu.

Selanjutnya, untuk menangkal pemikiran radikalisme ini, Syeikh Mahmud Abdul ‘Aziz ‘Ads memberikan tiga poin. Pertama, perlu membuka peluang bagi anak-anak muda untuk mengekspresikan pemikiran mereka lalu didisuksikan bersama dan diberi masukan ketika menemukan pemikiran-pemikiran keliru. Kedua, perlu memperluas ukhuwah dengan menerima orang lain dalam perbedaan. Ketiga, perlunya ada sanksi hukum, jika terjadi tindakan radikalisme.

“Kita haru harus banyak berdiskusi dengan para pemuda, memperluas ukhuwwah dengan orang berbeda dan ada sanksi bagi yang melakukan kekerasan,” ujar syaikh alumni Universitas al-Azhar itu. (WST/AH)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

3 − two =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.