Home Berita Nasional Tanggapi Penghinaan Wapres, Sekjen PBNU Soroti Kebebasan Berekspresi

Tanggapi Penghinaan Wapres, Sekjen PBNU Soroti Kebebasan Berekspresi

268
0
SHARE
Sekjen PBNU, H. Ahmad Helmy Faishal Zaini. (Dok. Istimewa)

Wasathiyyah.com, Jakarta – Wakil Presiden, KH. Ma’ruf Amin mengalami penghinaan melalui sosial media berupa disandingkannya foto beliau dengan foto pemain film dewasa asal Jepang, Shigeo Tokuda.

Gambar kolase ini menyebar di laman Facebook atas nama Oliver Leaman S. Belakangan diketahui bahwa pengunggah gambar tersebut adalah Sulaiman Marpaung asal Tanjungbalai Asahan, Sumatera Utara yang sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh kepolisian.

Gambar tersebut sudah dihapus dari laman Facebook dan pengunggah telah memposting ucapan permohonan maaf atas perbuatannya. Namun, hal itu tidak bisa membuat pengunggah lolos dari proses hukum.

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, H. Ahmad Helmy Faishal Zaini mendorong terus agar kasus penghinaan terhadap Wapres yang sekaligus Mustasyar PBNU tetap diselesaikan secara hukum.

“Ini juga menjadi pelajaran bagi kita semua. Kebebasan berekspresi jangan dimaknai sebagai kebebasan yang anarkis. Kita tidak bisa melakukan penghinaan kepada seseorang dengan cara seperti ini,” kata Kang Helmy, sapaan akrabnya, Jumat (2/10).

Sekjen PBNU menggarisbawahi bahwa penghinaan terhadap pejabat dan petinggi negara kerap terjadi. Ia menekankan agar kejadian seperti itu tidak berlanjut dan menghimbau agar setiap warga negara lebih bijaksana dalam memaknai kebebasan berkespresi dan menggunakan sosial media.

Kasus penghinaan terhadap Wapres ini sudah ditangani pihak Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri. Pelaku sendiri sudah diamankan pihak kepolisian di kediamannya di Tanjungbalai Asahan dan langsung dibawa ke Jakarta.

Setelah dilakukan penelusuran, pelaku mengaku bahwa perbuatannya itu dilatarbelakangi rasa kesal terhadap statemen Wapres terkait K-Pop yang menurut pelaku tidak menginspirasi anak muda Indonesia.

Pihak Istana Wakil Presiden memberikan tanggapan atas hal ini melalui Staf Khusus Wapres RI, H. Masduki Baidlowi bahwa statemen Wapres itu dimaksudkan agar anak muda Indonesia bisa mengambil pelajaran dari kemajuan pesat yang dialami Korea Selatan. Pernyataan beliau tidak bermaksud merendahkan kreatifitas musik Indonesia.

Statemen Wapres mengenai K-Pop ini muncul kala beliau menghadiri acara peringatan 100 tahun kedatangan warga Korea di Indonesia.

“Pernyataan itu telah disalahpahami oleh sebagian kalangan. Ada penilaian Wapres tidak paham musik dan seolah Wapres merendahkan kualitas musik Indonesia di bawah Korea,” kata Masduki dalam keterangannya, pada Jumat (2/10).

Atas perbuatannya, pelaku pengunggah gambar kolase penghinaan Wapres ini dijerat pasal 45A ayat (2) juncto Pasal 28 ayat (2) dan Pasal 27 ayat (3) UU No 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU No 11 Tahun 2008 tentang ITE. Sejumlah barang bukti yang disita polisi dalam penangkapan adalah sebuah ponsel, akun facebook, dan SIM Card. Ia terancam hukuman bui 6 tahun. (WST/RS/nuonline)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

6 + eleven =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.