Home Berita Internasional Kartun Nabi Muhammad Muncul Lagi di Prancis, Umat Diminta Tak Terprovokasi

Kartun Nabi Muhammad Muncul Lagi di Prancis, Umat Diminta Tak Terprovokasi

295
0
SHARE
(Gambar : extra.ie)

Wasathiyyah.com, Jakarta – Majalah satir asal Prancis, Charlie Hebdo, memuat ulang kartun Nabi Muhammad pada Rabu (2/9) untuk menandai dimulainya persidangan para pelaku penyerangan di kantor majalah tersebut di Paris pada 2015 lalu. Tak tanggung-tanggung majalah ini memuat ulang 12 kartun Nabi yang pernah diterbitkan harian Denmark pada 2005.

Charlie Hebdo edisi Rabu kemarin itu memuat sejumlah wawancara dengan keluarga para korban penyerangan tersebut dan artikel tentang sikap masyarakat tentang kebebasan berekspresi termasuk respon mereka terhadap karikatur Nabi Muhammad.

Pada tahun 2015 Charlie Hebdo menerbitkan kartun Nabi Muhammad yang memicu aksi protes dan berujung kekerasan di tahun yang sama. Kantor majalah itu diserang sekelompok orang yang menentang penerbitan kartun Nabi dan menyebabkan 17 orang tewas, 12 diantaranya berada di dalam kantor Charlie Hebdo.

Perbuatan Charlie Hebdo tahun 2015 itu memicu aksi protes di berbagai negara di dunia seperti Indonesia, Pakistan, Yaman, Jordania, Nigeria, Palestina, Suriah, Lebanon, Checnya, dan lainnya bahkan di Prancis sendiri. Sebagian dari aksi itu berujung menjadi kerusuhan.

Puluhan ribu orang memprotes Charlie Hebdo di Grozny, ibu kota Checnya pada Januari 2015. (gambar : nytimes)

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Muhyiddin Junaidi menegaskan bahwa MUI mengutuk keras penerbitan kartun Nabi oleh Charlie Hebdo dan tindakan-tindakan anti Islam lainnya di Eropa seperti penistaan terhadap Al Quran yang baru saja terjadi di Norwegia dan Swedia.

KH. Muhyiddin meminta umat Islam tidak terpancing oleh aksi provokasi ini, karena jika umat Islam terpancing maka umat sudah terseret oleh apa yang diinginkan oleh kaum Islamofobia.

Wakil Ketua MUI ini memaparkan alasan mengapa aksi islamofobia seperti masih terjadi di Eropa. Pertama, kelompok ekstrimis, rasialis dan nasionalis Eropa dan Amerika menganggap pertumbuhan muslim di sana cukup pesat dan bisa mengancam eksistensi mereka.

Alasan kedua, kaum ekstrimis di Eropa dan Amerika menjadikan isu imigran sebagai kambing hitam untuk menekan pemerintahnya agar mengeluarkan kebijakan yang memproteksi negaranya dari imigran asing, khususnya imigran dari Timur Tengah dan Afrika.

“Karena kebanyakan para imigran tersebut beragama Islam, dan yang ketiga, karena generasi ketiga para imigran yang tinggal di Eropa ini mereka sudah bisa bersaing dengan penduduk asli bangsa Eropa,” kata KH Muhyiddin kepada Republika, Rabu (2/9).

Ia menerangkan, generasi ketiga Muslim di Eropa ini banyak yang berpendidikan dan mendapatkan pekerjaan bagus. Oleh karena itu, ia menilai kaum ekstrimis Eropa takut terhadap umat Islam karena khawatir kesempatan kerja yang ada bagi mereka diambil alih oleh masyarakat Muslim.

MUI berharap pemerintah Indonesia memanggil duta besar Prancis untuk memberikan penjelasan dan juga duta besar Swedia dan Norwegia atas aksi penistaan Al Quran yang terjadi di kedua negara tersebut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Teuku Faizasyah dalam keterangan persnya kepada Republika mengatakan, “Indonesia mengecam keras publikasi karikatur oleh tabloid Charlie Hebdo yang melecehkan Nabi Muhammad SAW.”

Teuku mengungkapkan penerbitan karikatur Nabi Muhammad oleh Charlie Hebdo adalah tindakan provokatif yang melukai umat Islam di dunia, termasuk Indonesia. “Tindakan ini berpotensi menyebabkan perpecahan antar-umat beragama serta bertentangan dengan prinsip nilai dan demokrasi,” ujarnya.

Ketua PP Muhammadiyah KH Anwar Abbas menyesalkan majalah Charlie Hebdo menerbitkan kartun Nabi Muhammad Saw. Ia mengatakan wangat wajar jika umat Islam marah atas tindakan itu. Ia menegaskan bahwa kebebasan berekspresi tetap memiliki batasan, bukan berarti bebas menghina dan melecehkan keyakinan beragama orang lain.

Dewan Keimanan Muslim Prancis mengutuk sikap Charlie Hebdo yang kembali menerbitkan kartun Nabi Muhammad. “Kebebasan untuk menggambar karikatur dan kebebasan untuk tidak menyukainya (sama-sama) dilindungi, dan tidak ada satu pun hal yang membenarkan kekerasan,” kata Dewan Keimanan Muslim Prancis dalam cuitan di Twitter. (WST/RS/republika)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

seven − 5 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.