Home Berita Nasional Pilpres Usai, Pemuka Agama Imbau Masyarakat Hindari Permusuhan

Pilpres Usai, Pemuka Agama Imbau Masyarakat Hindari Permusuhan

243
0
SHARE
Indonesians stand next to a poster of Indonesia president candidates in front of a pooling center during the presidential election in Kuta on Indonesia's resort island of Bali on April 17, 2019. - Indonesia kicked off one of the world's biggest one-day elections, pitting president Joko Widodo against ex-general Prabowo Subianto in a race to lead the Muslim-majority nation. (Photo by SONNY TUMBELAKA / AFP)

Wasathiyyah.com, Jakarta — Ketua Bidang Kerukunan Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Yusnar Yusuf meminta masyarakat tidak bertikai seusai pesta demokrasi. Umat diharap kembali ke jalan Allah untuk menghindari permusuhan.

“MUI memberi naungan, tausiah, kepada umatnya senantiasa untuk jangan sampai konflik, karena konflik akan menimbulkan dendam dan itu dilarang Islam,” kata Yusnar.

Philip K Wijaya dari Persatuan Umat Buddha Indonesia (Per-mabudhi) berharap masyarakat kembali beraktivitas seperti sedia kala. Menurut Philip, siapa pun yang menang adalah yang terbaik bagi Indonesia dan merupakan saudara sebangsa.

“Kita semua telah melalui pesta demokrasi. Harusnya bersukacita memilih seorang pimpinan untuk membawa kita bangsa Indonesia menuju masa depan yang lebih sukses, terjaga kedaulatan kita,” ujar Philip.

Nyoman Udayana dari Parisada Hindu Dharma Indonesia juga meminta segala elemen masyarakat kembali merangkul persatuan. Seusai pemilu, dia berharap masyarakat kembali bersapa lagi seperti biasa sebagai tetangga dan saudara.

“Pemilu ialah suatu hak dan kewajiban bagi warga negara. Pascapemilu ini marilah kita semua bergandengan tangan bahwa kita semua tetap bersaudara. Kami kembali lagi pada swadharma, kembali. Petani kembali petani,” ucap Nyoman.

Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) Budi S Tanuwibodo meminta publik tetap berpikiran maju seusai pemilu. Publik diminta meneladani tujuh presiden sebelumnya yang sudah menjaga persatuan selama ini.

“Mengajak kita untuk mulai ada kesejajaran, otaknya maju hatinya juga maju. Teknologi maju, tapi peradaban kita mundur, ini yang tidak boleh. Bangunlah jiwanya, baru bangun badannya. Kalau ada kurang kesepahaman harus mengutamakan musyawarah mufakat, itulah ciri demokrasi Indonesia,” kata Budi.

Konferensi Waligereja Indonesia diwakili Agustinus Heri Wibowo meminta masyarakat kembali menjalankan kasih sayang sesama umat beragama seusai pemilu. Ia tidak mau seusai pemilu, umat beragama tidak saling mendoakan kembali.

“Berdoa dan membangun peradaban aktif. Kita sendiri aktor mengisi hidup ini dengan lebih semangat sehingga dunia dipenuhi cinta kasih,” tutur Agustinus.

Sekjen Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Gumar Gultom meminta pemuka agama membantu menenangkan situasi. Saat ini, peran serta pemuka agama sangat dibutuhkan untuk mengendalikan masyarakat.

Utusan Khusus Kepresidenan Syafiq Mugni mengingatkan demokrasi hanya persaingan sementara, bukan untuk peperangan yang berlarut-larut. (WST/YN/Mediaindonesia.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eight + thirteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.