Home Berita Internasional Terkait Kekerasan di India, PBNU Ingatkan Keteladanan Gandhi

Terkait Kekerasan di India, PBNU Ingatkan Keteladanan Gandhi

167
0
SHARE
Umat ​​Islam shalat di atap masjid yang sempat dibakar di New Delhi, India, Jumat, 28 Februari 2020.

Wasathiyyah.com, Jakarta – Kerusuhan di New Delhi, India, terlihat sudah dapat dikendalikan. Arabnews melaporkan bahwa warga muslim India sudah melaksanakan kembali shalat Jumat di masjid-masjid di timur laut New Delhi pada Jumat kemarin (28/02). Meski pada masjid-masjid tersebut terdapat sisa-sisa kerusakan bekas kerusuhan Selasa lalu.

“Jika mereka membakar masjid kami, maka akan kami bangun kembali dan beribadah di sana. Itu hak kami dan tidak ada yang bisa menghentikan kami untuk menjalankan ritual ibadah kami,” ujar Muhammad Sulaiman kepada Arabnews. 

Ia adalah satu dari 180 orang yang menunaikan shalat Jumat di atas puing masjid yang terbakar.

Kekerasan yang berlangsung di India mendapat sorotan dari warga dunia, tak terkecuali dari masyarakat Indonesia. PBNU melalui Ketua Harian Tanfidziyah Penguruz Besar Nadhlatul Ulama (PBNU), Robikin Emhas, menegaskan bahwa kekerasan tidak bisa dibenarkan, atas nama apapun.

“Apalagi kekerasan yang mengatasnamakan agama,” kata Robikin Emhas dalam keterangan resmi di Jakarta pada Jumat (28/2).

Ia menyinggung sosok kebanggaan India, Mahatma Gandhi, yang mengajarkan perdamaian. “Sebagai warga masyarakat dunia, saya merasa perlu mengingatkan ajaran dan semangat perjuangan tokoh kemerdekaan India, Mahatma Gandhi, yang anti kekerasan, suatu gerakan yang sepatutnya menjadi teladan,” katanya.

Robikin Emhas mengajak kepada masyarakat Indonesia khususnya untuk tidak terprovokasi oleh kerusuhan India yang menewaskan 38 orang dan melukai ratusan lainnya itu. Ia menghimbau masyarakat Indonesia merespon kejadian itu dengan sikap sebagai bangsa yang beradab dan berbudaya.

Kerusuhan di New Delhi, India, dipicu oleh Undang-Undang Kewarganegaraan atau CAA yang dianggap diskriminatif terhadap warga Muslim.

Sejak disahkan Desember 2019 lalu, UU tersebut telah memancing gelombang protes beberapa kali yang puncaknya adalah gerakan protes sejak Minggu hingga Selasa kemarin yang berujung bentrokan setelah pendemo yang didominasi warga muslim diserang kelompok massa ekstrim Hindu.

Dengan UU tersebut, pemerintah India dapat memberikan status kewarganegaraan kepada pengungsi beragama Hindu, Sinkh, Kristen, Budha, Jain dan Parsis dari negara-negara tetangga seperti Pakistan, Afghanistan dan Bangladesh. Tapi, tidak bagi pendatang beragama Islam. Hal ini menjadi alasan UU tersebut dianggap diskriminatif. (WST/RS/republika)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

one × 5 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.