Home Berita Internasional Tasnim Nazeer, Penyiar TV Berjilbab Pertama di Skotlandia

Tasnim Nazeer, Penyiar TV Berjilbab Pertama di Skotlandia

80
0
SHARE
Tasnim Nazeer, Penyiar TV Berjilbab Pertama di Skotlandia. Tasnim Nazeer mencetak sejarah dengan menjadi Muslimah berjilbab pertama yang menjadi penyiar televisi di Skotlandia.

Wasathiyyah.com, Edinburgh — Tasnim Nazeer mencetak sejarah dengan menjadi Muslimah berjilbab pertama yang menjadi penyiar televisi di Skotlandia. Tasnim mendapat kesempatan itu setelah berkarier 10 tahun di STV News.

Tasnim menceritakan kesempatannya jadi penyiar tak datang secara instan. Ia harus bekerja keras meyakinkan stasiun televisi tempatnya bekerja. Sebab selama ini banyak yang merendahkannya karena menggunakan jilbab.

“Saya bertemu orang-orang yang mengatakan dunia penyiaran bukan tempat bagi Muslimah, melainkan hanya untuk ras kulit putih seperti kita lihat setiap hari di layar kaca,” ungkap Tansim dilansir dari Middle East Monitor, Senin (24/8).

Tasnim menguatkan ilmu jurnalistiknya dengan pendalaman pada isu Timur Tengah, ketidakadilan, korupsi, dan kriminal. Walau demikian, tetap saja Tansim mendapat prasangka buruk dari rekan kerjanya.

Liputan pertamanya terbit di koran Sri Lanka ketika meliput bencana tsunami disana pada 2004. Tasnim memang lahir dari orang tua asal Sri Lanka.

Ia mendapat gelar master di bidang jurnalisme internasional. Sepanjang kariernya, Tasnim pernah bekerja untuk berbagai media seperti The Guardian, Aljazirah, The Independent, dan CNN.

“Diskriminasi sungguh terasa saat saya bekerja lepas di lembaga dimana tak ada ras kulit hitam atau orang Asia di dalamnya,” ujar perempuan berusia 34 tahun itu.

Tansim mengungkap pernah diminta membuka jilbabnya agar kariernya lebih mentereng di dunia penyiaran. Ia sempat kaget tapi coba bertahan pada prinsipnya.

“Mereka pikir saya akan terpengaruh ajakan itu. Saya tak tahu apa yang akan dikatakan tapi saya tahu ini bukan tempat saya jika mereka berideologi seperti itu,” ucap Tasnim.

Tasnim menyoroti media massa memang kurang mewakili keberagaman masyarakat. Hal itu dijadikan tantangan oleh Tasnim. Padahal jumlah Muslim di Inggris ditaksir enam persen dari populasi.

“Saya ingin mencapai posisi pekerjaan sambil mempertahankan identitas Muslimah,” kata Tasnim. (WST/YN/republika.co.id)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

13 + twelve =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.