Home Berita Internasional Inilah Safron Afghanistan, ‘Emas Merah’ Terbaik di Dunia

Inilah Safron Afghanistan, ‘Emas Merah’ Terbaik di Dunia

246
0
SHARE
Petani wanita sedang memanen bunga Safron di sebuah perkebunan di propinsi Herat. Afghanistan.
  • Para petani Afghanistan yang sebelumnya menanam bunga Poppy, bahan baku opium dan heroin, kini menanam Safron.

Wasathiyyah.com, Kabul – Selama beberapa dekade Afghanistan sangat dikenal sebagai penghasil bahan obat-obatan terlarang. Tapi, pada beberapa tahun terakhir ini para petani telah beralih ke budidaya Safron yang jauh lebih menguntungkan dan kualitasnya telah mendapatkan predikat terbaik di dunia selama delapan tahun berturut-turut.

Negara yang sempat dilanda peperangan ini bisa menghasilkan delapan metrik ton Safron yang disebut oleh banyak pihak sebagai ’emas merah’. Di pasar lokal, satu kilogram Safron dijual $ 1.400, sedangkan di pasar global diperdagangkan seharga $ 4.000, kata pejabat setempat.

Sedangkan harga opium yang sebelumnya menjadi komoditi andalan para petani Afghanistan, harganya jauh di bawah Safron. Apalagi bahan opium juga menjadi komoditi perdagangan yang tidak sah.

Menurut seorang anggota Saffron Produsers Union, safron yang dibudidayakan di Afghanistan kualitasnya diakui sebagai nomor satu di dunia. Predikat ini disandang selama delapan tahun berturut-turut.

“Setiap tahun ada peningkatan dalam budidaya dan produktifitas Safron di Afghanistan. Hal ini menambah kuantitas dan kualitas Safron kami”, Kata Bashir Ahmad Rashidi, ketua Serikat Produsen Safron di kabul.

Menurutnya, Safron asal Afghanistan ini telah melalui pengujian kualitas, rasa dan warna di sebuah lembaga di Belgia. Pengujian ini membuat Safron Afghanistan terjaga kualitasnya sebagai yang terbaik di dunia.

Iran dan India telah menjadi produsen Safron peringkat pertama dan kedua di dunia dalam volume produksi. Afghanistan berada di posisi ketiga dengan kemampuan produksi sebesar 6,3% seperti diutarakan Akbar Rustami, juru bicara kementerian pertanian kepada Arab News.

“Kami berbicara tentang puluhan juta dolar penghasilan bagi para petani, pembudidaya dan dorongan besar bari perekonomian negara”, katanya.

Shafi Shamim, seorang ahli ekonomi mengatakan, “Safron Afghanistan telah mendapatkan ketenaran secara global. Dikenal sebagai ’emas merah’ dan ini menjadi salah satu komiditi ekspor utama negara.”

Dia mengatakan bahwa 23 dari 24 propinsi di Afghanistan yang sebelumnya menanam bunga Poppy, bahan baku opium dan heroin, sekarang menanam Safron. Dan, propinsi Herat menjadi yang terdepan.

Abdul Saboor Rahmani, Kepala Departemen Pertanian Herat, mengatakan bahwa propinsi itu menghasilkan tujuh ton Safron pada tahun lalu.

“Semakin banyak petani yang menanam Safron karena itu menguntungkan secara finansial. Tidak seperti bahan opium yang haram”, pungkasnya.

Bunga Safron yang kaya manfaat dan khasiat.

Hajji Ibrahim seorang pedagang Safron di Herat mengatakan bahwa hanya ada satu dari 15 distrik di Herat yang masih menanam opium, sementara sisanya sudah beralih menanam Safron. Selain karena faktor pendapatan, juga karena faktor ajaran Islam yang mengharamkan obat terlarang.

“Safron telah mengangkat nama Afghanistan di pentas pasar dunia. Para petani di Afghanistan kini telah beralih ke Safron”, kata Hajji kepada Arab News.

Para pejabat mengutarakan bahwa sektor swasta telah banyak membantu pula dalam membuka pasar hingga menembus Eropa dan Saudi Arabia.

Selain Safron, beberapa komoditi lainnya dari Afghanistan juga telah menembus pasar dunia sehingga mampu menggairahkan perekonomian negara itu. Seperti kacang pinus dan kacang-kacangan lainnya serta buah-buahan telah mendatangkan ratusan juta dolar untuk Afghanistan.

Seperti pada bulan lalu Afghanistan telah mencapai kesepakatan dengan Cina untuk pengiriman ribuan kacang pinus sebagai bagian dari kesepakatan dagang bernilai miliaran dolar di antara kedua negara itu. (WST/RS/arabnews)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

3 × 2 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.